Se Anting

Se Anting
Bab 47


__ADS_3

Ketiga sahabat absurd kini menghabiskan waktu bersama pasangannya masing-masing. Jika raut kebahagiaan terpancar dari kedua pasangan yang sedang dilanda asmara, berbeda dengan pasangan satu ini. Jangankan berjalan bersama, sedikit melirik pun tidak. Seolah keduanya tak saling mengenal. Bahkan Tama maupun Indri enggan untuk memulai pembicaraan di antara mereka.


Tama menatap hamparan ombak yang saling berkejaran, menggelung, dan menabrak satu sama lain. Terasa tenang, ditambah keadaan pantai yang lumayan sepi semakin membuat nyaman. Namun tidak dengan Indri, ia akui berdua dengan Tama seperti ini membuat hatinya sedikit goyah. Jika ditanya apa ia mencintai Tama? Maka jawabnya iya.


Sedikit tidak rasa ingin memiliki itu ada, bahkan Indri tak memungkiri jika Tama adalah sosok sempurna bagi dirinya. Indri menghembuskan nafasnya perlahan berusaha menurunkan egonya.


Dialihkan pandangannya ke samping, terlihat Tama sedang melamun. Indri mendekati Tama, berdiri tepat di sebelahnya. Perlahan Indri merebahkan kepalanya di bahu Tama seraya menatap kedepan.


"Apa yang menjadi bebanmu Tam? Mengapa kau melakukan itu?" Indri memecah keheningan diantara mereka. Sementara Tama hanya mengangkat alisnya sebelah mendengar pertanyaan Indri padanya.


"CK! Come on, aku mendengar ucapanmu dan kak Raffa saat di balkon. Kau lupa jika kamarku ada di sebelahmu," decak Indri.


Acuh, Tama enggan membahas hal itu kembali. Menurutnya, itu privasi yang tidak harus ia bagi dengan orang lain. Ini tentang hatinya dimana cukup ia yang menyimpannya.


Melihat keterdiaman Tama membuat Indri berdecak kesal, tidak kah ia mau berbagi keluh kesah dengannya. "Cerita saja, mungkin itu bisa membantu meringankan bebanmu." Bujuk Indri.


"Tidak," Tama berdiri dan berjalan menuju pantai tanpa menghiraukan Indri yang memanggilnya.

__ADS_1


"Biarkan cinta kembali pada tempatnya, seiring dengan waktu." Ucap Tama dalam hatinya.


*


*


*


Dari warung tak jauh dari tempat Tama dan Indri, ke empat pasangan absurd asyik mengintip dari balik warung. Fyth, Anila, Raffa dan Davin memperhatikan setiap gerakan kedua pasangan tak akur tersebut.


Dengan kesal Fyth berdiri seraya berkacak pinggang menatap ketiganya, sementara yang ditatap hanya saling pandang satu sama lain.


"Iya, ada apa sayang?" Timpal Davin.


"Kak, aku akan bicara sama Timi, empat mata." Ucap Fyth sembari menatap Tama dari kejauhan.


"Kau yakin?" Ragu Raffa.

__ADS_1


"Iya." Fyth bukan orang bodoh yang tidak tahu jika Tama menaruh hati padanya. Namun Fyth sudah menganggap Tama sebagai kakaknya sendiri. Selama ini semua perhatian Tama yang di berikan kepadanya, hanya ia balas sebatas wajarnya saja.


"Tunggu!, Apa maksudnya ini?" Bingung Davin dengan situasi yang ada.


"Sayang, aku harus menyelesaikan sesuatu dan biarkan kakak datar itu menjelaskan semua padamu. Okey!," Dipeluknya Davin manja.


"Baiklah, asal...


"Terima kasih sayang, muach." Setelah mencium pipi Davin, segera Fyth berlari menuju tempat Tama berdiri. Belum sempat Davin menyelesaikan ucapannya, Fyth sudah pergi dari hadapannya setelah mencium pipinya.


"Kau nakal sayang," gumam Davin seraya tersenyum. Tak lama Davin mengarahkan pandangannya menuju Raffa dengan datar. "Kau berhutang penjelasan kepadaku Raf," tekan Davin.


"Santai bro, ayo sayang. Mari ikuti diriku." Raffa menggandeng tangan Anila sembari mengajak Davin menuju kursi santai pantai.


Seketika Tama terkejut saat dari kejauhan terdengar suara melengking memanggil namanya. Di lihatnya Fyth berlari ke arahnya berdiri dengan kaki bertelanjang tanpa alas.


"Timi...." Panggil Fyth kembali saat berada tak jauh dari tempat Tama berdiri. Mendengar si tengil memanggilnya Timi membuat seketika kesal.

__ADS_1


"Lihat saja, ku jitak nanti itu kepala. Menyebalkan sekali di tengil." Gerutu Tama. Sedangkan orang yang di bicarakan kini berjalan santai menuju penjual es degan tak jauh dari tempat Tama.


"Minum dulu buat isi tenaga lah, sebelum pembacaan muqaddimah ntar ke telinga si Timi." dengan cekikikan Fyth memesan minumannya.


__ADS_2