
Keesokan harinya,
Dengan langkah gontai Raffa menggandeng tangan Anila menuju restoran yang berada di lantai bawah hotel. Untuk pertama kalinya penampilan Raffa kacau, lingkaran mata hitamnya terlihat serta muka kusutnya begitu tercetak jelas. Bahkan Anila tak berani berbicara pada Raffa, karena ia tahu apa yang menyebabkan laki-laki yang berstatus suaminya kemarin ini seperti setrikaan lecek.
Namun mau bagaimana lagi, ia juga tak ingat jika tamu kebangsaan bulanannya datang. Jika saja adik ipar tengilnya tidak mengingatkan lewat hadiah special, mungkin ia dan Raffa akan sama-sama kecewa saat mereka benar-benar terbawa nafsu.
"Sayang, maaf untuk yang semalam," sesal Anila dengan memberanikan diri mengawali pembicaraan.
"Sudahlah tak apa," masam Raffa.
"Aku lupa sungguh, untung bontot mengirimkan peringatan lewat hadiah spesial."
"Iya, SPESIAL." Ucap Raffa dengan menekankan kata spesial. Dimana Anila hanya dapat tersenyum kecut mendengar ucapan Raffa.
CK!, Mengirimkan peringatan lewat hadiah pembalut. Menyebalkan, gerutu Raffa dalam hati.
Begitu lift terbuka, Raffa segera menarik tangan Anila keluar dari lift. Raffa sendiri memilih diam kembali tanpa kata, ia malas membalas masalah semalam. Bahkan ia bisa memastikan jika nanti adik beserta para sepupunya akan menertawakannya. Huft, Raffa menghela nafasnya sebelum memasuki restoran.
"Ada apa sayang?" Tanya Anila saat melihat Raffa berhenti di depan pintu restoran.
"Sayang, aku pasti akan di ejek mereka." Manja Raffa dengan tatapan imutnya.
"Di ejek kenapa?" Bingung Anila, ada-ada saja dengan tali rafia ini.
"Karena kita gagal," cemberut Raffa.
"Gagal apa?"
"Iya aku tak jadi transfer,"
"Astaga, kau ini bicara apa sayang? Aku nggak ngerti," Gemas Anila.
__ADS_1
Ahh, dasar ikan nila. Masak iya aku bilang gagal produksi, gumam Raffa dalam hatinya. Tanpa menjawab lagi, Raffa segera membawa masuk Anila lalu menuju meja dimana semua orang telah menunggu kehadiran mereka berdua.
"Pagi semua," sapa Raffa lesu, lemah, letih.
Semua tertawa melihat ekspresi Raffa, mereka mengira jika penampilan Raffa kacau karena kelelahan semalam. Berbeda dengan gadis tengil satu ini, siapa lagi jika bukan Fyth. Melihat wajah suram kakaknya, sontak ia menyemburkan minumannya ke wajah Tama lalu tertawa terbahak-bahak tanpa memperdulikan tatapan heran semua orang.
"Hahaha..." Gelak tawa Fyth, sedangkan Raffa menatap horor adik tengil tak berakhlaknya itu.
"Wóy bontot, lue kira Mbah dukun main sembur aja." Sungut Tama kesal.
"Hahaha, aduh-aduh sorry Timi. Habis gue ngakak lihat wajah kak Raffa, mirip cucian belum ke peras. Gara-gara gagal nyetak gol," Ledek Fyth yang mengundang tawa semua orang. Namun tidak dengan para orang tua yang mengerutkan keningnya tak mengerti.
"Sayang, maksudnya gimana?" Tanya Mommy Nathalie penasaran.
"Jadi mom, hahaha. Bentar mom, aku masih pengen ketawa."
Dirasa cukup tertawanya, Fyth berdehem dan mulai bercerita tanpa melihat ekspresi Anila yang sudah menunduk malu akibat ke absurdan adik iparnya itu, "Ehem, jadi gini mom. Aku ngasih hadiah khusus buat kakak ipar kan, terus kak Raff aku suruh buka hadiahnya sebelum mereka unboxing mom." Ujar Fyth.
"Iya sayang, apa hadiahnya sih bikin penasaran." Sahut Mommy Zilia.
"Hadiahnya...
Belum Fyth menjawab, sebuah telapak tangan menutupi mulutnya. Siapa lagi pelakunya jika bukan Raffa, sungguh sial ia hari ini, pikirnya.
Tak terima di bekap Fyth berontak, lalu menatap iba ke arah Davin. "Sayang," gumamnya tidak jelas. Bukannya menolong justru Davin terkekeh melihat kerukunan kakak beradik itu.
"Maaf sayang, aku tak ikut-ikutan." Kata Davin seraya mengibaskan satu tangannya, membuat Fyth membulatkan matanya kesal.
Karena terlampau kesal, akhirnya Fyth menggigit telapak tangan Raffa. "Aduh, kau itu shio anjing ya." Kesal Raffa seraya mengibaskan tangannya akibat gigitan Fyth.
"Syukurin, mana bau lagi tangannya" cibir Fyth. Tak terima dengan ucapan adik semata wayangnya itu, Raffa menjepit kepala Fyth dengan ketiak seraya menyentil keningnya.
__ADS_1
Ctak!
"Aaahhh, aduh... Kak Raf, lepasin ih... Jorok ah," berontak Fyth. Yang lainnya? Justru tertawa terpingkal-pingkal melihat aksi kocak keduanya.
*
*
*
Jika para orang tua lebih memilih menghabiskan waktu bercengkrama di restoran hotel, justru para kawula muda ini lebih memilih menghabiskan waktu mereka berjalan-jalan. Tujuan mereka saat ini ialah pantai, awalnya para laki-laki tak menyetujui rencana ke pantai mengingat cuaca hujan tak menentu. Namun dengan seribu satu alasan jitu ala gadis tengil, mau tak mau keputusan deal mereka ambil.
Di kursi belakang berisi Tama dan Leon, sementara ditengah ada Anila, Fyth, serta Indri. Kemudi dipegang oleh Raffa dengan Davin duduk disampingnya. Perjalanan hanya membutuhkan waktu satu jam, karena pantainya tak jauh dari hotel.
Selama perjalanan para gadis asyik bergosip ria, sedangkan para laki-laki harus memasang telinga sebagai pendengar yang baik.
"2 Minggu lagi si ciez nikah ya katanya?" Tanya Anila, yang di jawab anggukan kepala oleh Fyth.
"Masak sih? Cepat banget," kata Indri.
"Nggak cepat sih, kayaknya dah nggak sabar anuh." Ucap Fyth yang mendapat toyoran kepala dari belakang. Siapa lagi jika bukan Tama pelakunya. Fyth membalikkan kepalanya menghadap belakang seraya melotot tajam, namun Tama mengacuhkannya.
"Terus kamu kapan nyusul, adik ipar ku yang lucu." Lanjut Anila dengan senyum sejuta gulanya.
"1 bulan lagi, ya kan sayang..." Ucap Fyth seraya meminta persetujuan dari Davin.
"Iya sayang," kata Davin dengan lembut sedikit melirik ke arah calon istrinya itu.
"Tuh kan," cengir Fyth.
"Aku nggak ditanya nih," sela Indri dengan cemberut.
__ADS_1
"Enggak," jawab kompak Anila dan Fyth lalu tertawa terbahak-bahak. Indri semakin mengerucutkan bibirnya.