Se Anting

Se Anting
Bab 93


__ADS_3

"Aduh, perut gue mules." Ujar Raffa seraya keluar masuk ke dalam toilet. Membuat Leon, Tama menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Raffa terutama Davin sang calon pengantin.


"Woy Raf, yang harusnya grogi kan si dolphin. Kenapa jadi lue yang keluar masuk toilet." Ucap Leon gemas melihat Raffa.


"Tahu lue bang, dimana-mana manten-nya yang gugup. Ini malah sebaliknya," imbuh Tama.


"Kalian mana ngerti sih, ini adalah bentuk kepedulian gue sama adik tengil gue. Sebagai kakak, wajar gue gugup karena takut entar si dolphin salah sebut pas ijab gimana? Kan kasihan adik gue." Ucap Raffa enteng tanpa dosa dan beban, bahkan tak menghiraukan bagaimana tajamnya tatapan Davin yang kini siap menyemburkan asap naganya. Belom jadi kakak ipar sudah menyebalkan, walau nanti akan jadi. Mungkin ia harus menambah stok kesabaran nantinya saat menghadapi sikap menyebalkan Raffa itu.


"Woah, mana mungkin si dolphin salah sebut bang. Orang dari dulu yang di ingat cuma si tengil,"


"Justru itu, takutnya ntar malah gini. Saya terima nikah dan kawinnya si tengil, kan berabe kalo salah sebut begitu." Ucap Raffa ngasal yang dihadiahi toyoran kepala oleh sang calon pengantin.


"Sue, kagak bakal gue sebut begitu. Gue udah latihan kali." Bela Davin pada dirinya sendiri. Ia tak terima mendengar alasan konyol kakak ipar sekaligus sahabat satu ini. Mana mungkin tega dirinya menyebut calon istrinya dengan sebutan si tengil. Bisa-bisa jatah malam asyik kandas di tengah jalan. Oh tidak bisa,,


"Siapa tahu aja lue khilap." Ucap Raffa sekenanya membuat ketiga jantan di dalam kamar itu sontak membulatkan matanya ingin menelan Raffa saat itu juga.


"Habis nikah kenapa kakak gue jadi menyebalkan ya? Gue udah nikah biasa aja tuh." Gumam Tama yang di setujui oleh Leon dan Davin.


"Hey, ini bukan menyebalkan. Kalian saja yang tidak mengerti, dengan menikah hidup kalian akan lebih berwarna." Ucap Raffa dengan senyum malu-malunya.


"Sekaligus malu-maluin iya!" Ujar ketiganya kompak lalu tertawa terbahak-bahak. Sementara Raffa mendengus kesal melihat ketiganya, menyebalkan. Pikirnya.


Di sebuah kamar, terlihat Fyth masih di bantu oleh Tante Feni memakai gaunnya dengan hidung yang sudah kembang kempis meladeni ucapan si bontot. Untung stok kesabarannya tinggi, jika tidak bisa dipastikan otaknya takkan mampu meladeni si bontot ini.


"Tante, kenapa diam lagi sih. Nggak asyik ah," ucap Fyth dengan muka menyebalkannya, sementara Tante Feni diam fokus untuk merias. Fyth mencebikkan bibirnya kesal, mencoba meraih ponselnya di atas meja rias depannya. Namun diurungkan saat melihat Anila, Indri, Cieciez, Alysa dan Cinta masuk ke dalam kamarnya.


"Wow, lihatlah calon pengantin ini. Cantik sekali," puji Anila saat melihat tampilan Fyth dari cermin. Tentu saja hal itu membuat Fyth tersenyum senang karena di puji oleh kakak iparnya itu.


"Benarkah aku cantik?" Ucap Fyth memandangi wajah serta tampilannya dari atas sampai bawah.

__ADS_1


"Iya kak. Cantik banget," ucap Alysa menyetujui ucapan istri kakak sepupu itu.


"Siapa dulu yang rias, Tante Feni gitu loh." Sahut Tante Feni dengan gaya coolnya, dimana membuat yang lainnya memutar bola matanya malas. Walau sesungguhnya mereka akui jika riasan Tante Feni luar biasa sekali.


"Narsis nih Tan, mentang-mentang lah." Fyth mencebikkan bibirnya mendengar ucapan Tante Feni.


"Tahu nih Tan, lagian kita percaya kok kalo riasan Tante Feni ini tiada duanya." Sahut Indri.


"Sudahlah, bicara dengan kalian membuat saya cepat tua nanti. Habisin stok kesabaran," dengus Tante Feni.


"Tante kan emang udah seumuran Bibi Nathalie." Ucap Cinta dengan polos mengundang gelak tawa yang lainnya karena secara tidak langsung mengatakan jika Tante Feni sudah tua.


"Huh, dasar." Sebal Tante Feni lalu keluar dari dalam kamar Fyth karena tugasnya sudah selesai.


Setelah Tante Feni keluar, Fyth dan yang lainnya segera mendudukkan tubuh masing-masing di sofa. Mereka sibuk mengobrol bersama dan bercanda tawa ria.


"Saya terima nikah dan kawinnya Fythania Aurora Pratama binti Barack Pratama dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Dengan satu tarikan napas, Davin berucap secara lantang.


"Bagaimana para saksi?" Tanya penghulu.


"SAH"


Sorak kebahagiaan memenuhi seluruh ballroom hotel, banyak teriakan dari para saudara dan sahabatnya menggoda Davin.


"Sah juga akhirnya, untung kagak salah baca dengan nama si tengil." ucap Raffa yang disambut gelak tawa lainnya.


"Sold out sudah si dolphin." Sahut Leon.


"Akhirnya, bisa rasakan juga ritual ay-ay." Imbuh Tama.

__ADS_1


"Tinggal si Indri ini, kapan lue nikahi dia ikan lele." Tanya Raffa dengan muka menyebalkan, Leon sampai mendelik tajam mendengar Raffa memanggilnya ikan lele. Ayolah, ini banyak tamu undangan, mau di taruh mana mukanya yang tampan itu nanti.


"Ck, jangan nyebelin lue tali rapiah. Panggil dengan nama gue." Ketus Leon.


"Kagak bisa, lidahnya kaku." Ucap Raffa enteng tanpa dosa. Sementara Leon hanya mencebikkan bibirnya tanpa menimpali ucapan Raffa kembali.


"Semua sudah nikah, tinggal lue yang belom." sahut Tama.


"Tunggu aja tanggal mainnya." smirk Leon yang memiliki rencana tersendiri untuk pernikahannya nanti.


"Jangan lama-lama, biar kita bisa segera liburan bareng-bareng ntar." kata Raffa pada Leon.


"Tunggu saja, cerewet sekali." cebik Leon sebal.


"Terserah lah, gue mau nemuin ayang dulu lah. Mau ajakin makan sepiring berdua." Raffa bangkit dari duduknya pergi mencari istrinya Anila.


"Senior bucin" ucap kompak Leon dan Tama, dimana Raffa hanya mengangkat bahunya acuh mendengar ucapan keduanya.


"Iri bilang bos!"


Kini Davin telah sah menyandang status sebagai seorang suami. Senyum tak luput dari bibirnya, semua orang turut merasakan bahagia.


Dari arah pintu ballroom, Fyth diapit oleh Mommy Nathalie dan Mommy Zilia. Tak lupa Anila dan Indri yang berjalan di belakang mempelai di ikuti Cieciez, Alysa dan Cinta.


Penampilan Fyth begitu memukau hingga menghipnotis semua orang yang melihatnya. Begitu pula Davin, yang tak berkedip saat menatap gadis yang sudah sah menjadi istrinya itu mulai saat ini. Hingga senggolan Daddy Barack menyadarkan Davin agar menyambut istrinya itu.


"Malah melamun, jemput istrimu itu." Ucap Daddy Barack dengan tatapan tajamnya seolah mengintimidasi Davin karena berhasil mengambil putrinya sebagai istri.


Mendapat tatapan tajam dari mertuanya membuat Davin gelagapan seketika, lalu menyengir lebar. Davin mengulurkan tangannya menyambut Fyth lalu menuntunnya untuk berdiri di depannya. Davin membaca doa di puncak kepala Fyth lalu mencium keningnya, "Cantiknya istriku," bisik Davin di telinga Fyth membuat sang empu menunduk tersenyum malu-malu. Fyth segera meraih punggung tangan Davin untuk salim.

__ADS_1


Kedua mempelai segera duduk didepan penghulu lalu menandatangani buku nikah keduanya, sembari mendengarkan petuah dari penghulu tentang tugas suami dan istri dalam membina rumah tangga.


__ADS_2