
Keempat pria kini gusar, bagaimana mungkin mereka ke dapur untuk memasak. Sedangkan mereka tidak bisa memasak tahunya hanya berkas-berkas saja. Tama memutar otaknya hingga ide cemerlang muncul seketika.
"Bagaimana jika kita pesan online saja?" Tawar Tama. Belum ketiganya menjawab, suara Mommy Nathalie kembali terdengar. "Jangan sekali-kali kalian pesan antar, jika ketahuan habis kalian." Teriak Mommy Nathalie dari atas lantai dua.
Sontak ke empat pria itu menelan salivanya masing-masing, tahu saja apa yang akan direncanakan, pikir mereka masing-masing. Lama berfikir tak menemukan jalan, akhirnya mereka memutuskan untuk terjun langsung ke dapur memasak.
"Raff, kenapa kita tidak pakai gul-gul saja untuk mencari cara memasak omelette?" Tanya Davin.
"Kau benar Vin, cepat cari tahu segera," mendengar persetujuan semua, sontak Davin mengeluarkan ponselnya untuk mencari resep membuat omelette.
"Ini cara paling praktis sepertinya," ucap Davin dengan menunjukkan resep kepada ketiganya.
"Baik, kita pakai resep ini saja. Kalau begitu anak-anak silahkan kalian selesaikan, dad ada panggilan meeting." Giliran daddy Barack yang menunjukkan ponselnya.
__ADS_1
"Tidak bisa dad, kita harus masak dulu." Tolak Raffa.
"Sorry son, ini panggilan meeting para investor luar negeri. Jika daddy tidak hadir, mana mungkin meeting akan jalan. Sudah Daddy pergi dulu, kalian lanjutkan." Daddy Barack beranjak menuju ruang kerjanya begitu saja, meninggalkan ketiga pria tampan itu diam terbengong masing-masing.
Raffa yang tersadar lebih dulu segera menyadarkan keduanya untuk memulai masak. Sungguh nasib terparah seorang Raffandra Aura Pratama yang harus rela turun ke dapur jika bukan karena adiknya. Nasib sungguh nasib.
Ketiganya bagi tugas secara adil, jika Raffa bertugas menggoreng maka Davin memotong isian omelette dan Tama mengocok telurnya. Keributan tak terelakkan ketika Tama salah memecahkan telur, bagaimana tidak, Tama memasukkan sekaligus isi telur beserta cangkangnya. Sementara Davin lebih parah, karena memotong isian omelette tak beraturan. Ada yang ukuran besar, ada yang kecil bahkan ada yang panjang dan pendek. Raffa mengacak sebal rambutnya, susah sekali memasak.
Bermodal aturan resep dari gul-gul, akhirnya mereka bertiga mengulang sesuai tahap-tahap yang di tunjukkan. Hampir dua jam ketiganya memporak-porandakan dapur, mungkin saat ini bukan lagi dapur namun dapur ambruk. Sisa bahan terletak dimana-mana. Entah bagaimana reaksi Mommy Nathalie saat melihat dapur kesayangan seperti area hutan terlarang, tak berbentuk sudah.
"Apa itu tidak gosong kak?" Tanya Tama saat melihat rupa dari omelette yang agak hitam.
"Nggak lah tam, pasti si bontot suka. Kalo goreng omelette ya gini. Contoh aku di masa depan saat kau sudah memiliki istri." Ucap Raffa jumawa.
__ADS_1
Tama diam tak menjawab, hanya bergidik ngeri melihat bentukan omelette ditangan Raffa. Ia tak yakin jika si bontot akan suka. Sedangkan Davin sibuk menghias plate yang akan mereka gunakan untuk menaruh omelette-nya.
Lama berkutat di dapur kini ketiganya mendudukkan tubuhnya di meja makan seraya meletakkan kepalanya di atas meja.
"Lelah sekali, rupanya memasak lebih melelahkan di banding meeting selama berjam-jam dengan para klien," keluh Raffa.
"Kau benar Raf, rasanya tubuhku remuk."
"Letih dan lemah." Imbuh Tama.
"Benar, sekarang tinggal panggil si bontot serta Mommy," ucap Raffa.
"Kau saja yang panggil kak, aku lelah."
__ADS_1
"Aku juga Raf, malas sekali jika harus naik tangga."
"Ada lift kenapa naik tangga, dasar dudul." Raffa beranjak meninggalkan keduanya menuju lift untuk menjemput sang ratu beserta putrinya. Keduanya hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mereka lupa jika dalam mansion terdapat lift.