
Dirumah Sakit...
Jam 21.00 WIB.
Didalam kamar rawat inap rumah sakit yang satu ruangan didalamnya terdapat enam orang anak-anak. Ruangan itu adalah kelas tiga.
Terbayang, bagaimana sempitnya ruangan itu! Belum lagi suara tangis balita silih berganti!
Mau bagaimana lagi, ini yang bisa ku berikan untuk anak ku yang sedang terbaring lemah tidak berdaya! Dengan selang infus menempel ditangannya. Matanya masih menutup rapat, akibat merasakan sakit panas yang dialaminya.
Untung saja aku masih punya simpanan uang dan perhiasan diluar pengetahuan Abim. Itu semua ku simpan, karena hasil jerih payah ku dulu. Jika tidak habislah semua simpanan yang ku punya untuk anak-anak.
Untuk sementara ku pakai saja uang simpanan ku, untuk biaya berobat Aisyah yang masih tersimpan direkening.
Mungkin aku tidak akan pusing, jika fasilitas anak-anak tidak diminta oleh mantan suami ku. Tapi semua itu sudah terjadi. Hanya berdoa dan berharap, semoga Abim terketuk pintu hatinya!!
Flashback on.
Dua Minggu yang lalu..
Direstoran ..
Jam 19.00 WIB
Abim sudah menunggu ku untuk bertemu. Entah apa yang mau dibahas olehnya! Ia tidak menjelaskan sedikit pun.
Ketika aku datang, ku lihat wajah seorang lelaki yang sudah lama tidak bertemu. Sedang duduk sendirian. Memakai sweater hoodie berwarna putih. Tangannya sedang asyik memegang ponsel.
Aku berjalan mendekati tempat Abim duduk. Lalu mengucapkan. "Assalamualaikum. Maaf menunggu lama!"
"Gak apa-apa!"
Aku pun duduk disebelah Abim. Sedikit agak canggung, kini ku rasakan. Mulut ini terasa membisu, banyak yang ingin ku bicarakan. Tapi, tidak bisa mengucapkan kata-kata. Seperti berhenti seketika.
Jantungku juga berdetak kencang. Aku mulai sulit mengendalikan perasaan ku. Bagaimana tidak! Lelaki yang duduk dihadapan ku, pernah menjadi bagian dari hidup ku!
Tidak mudah melupakan seorang Abimanan yang dulu pernah menjadi suami ku. Butuh waktu untuk melupakan! Butuh waktu, bertahun-tahun lamanya. Ada luka yang harus terobati dulu.
"Ehmm.. Apa ada hal penting yang mau dibahas mas?"
"Iya! Bagaimana kabar anak-anak?" Tanya Abimanan, tanpa ada senyum diwajahnya.
"Alhamdulillah baik!"
"Saya kesini ingin meminta kartu asuransi, yang dulu saya pernah berikan sama kamu. Termasuk semua Kartu yang pernah saya berikan sama kamu?"
Deg..deg..
"Mak..maksudnya!" Tanya ku dengan rasa ingin tau.
"Kartu asuransi kesehatan, karena kita sekarang bukan suami istri dan kartu lainnya!"
__ADS_1
Untung saja aku membawanya dan selalu ku taruh didalam dompet. Sebenarnya memang setelah perceraian itu, ingin mengembalikkan kepada Abim. Tetapi Abim selalu menolaknya.
Ia selalu bilang akan tetap bertanggung jawab pada ku, tapi pada kenyataannya tidak!! Jatah bulanan anak-anak saja, tidak menentu!
"Ini!" Kata ku sambil memberikan kartu asuransi kesehatan.
"Cuma satu!"
"Satu, ya! Me..memang satu kan, mas! Lalu apa lagi! Untuk yang lainnya akan ku berikan nanti. Sekarang aku tidak bawa!" Jawab ku coba menjelaskan! Sebenarnya aku masih membawanya didalam dompet ku. Aku hanya ingin tau reaksi Abim.
Abim lalu membalasnya. "Kartu asuransi kesehatan anak-anak, mana?"
Betapa kagetnya, aku ketika mendengarnya apa yang dikatakan Abim. Sampai-sampai aku mengulangnya, takutnya aku salah dengar! "Apa! Apa! Apa!"
"Ya, aku minta fasilitasi anak-anak dicabut termasuk asuransi kesehatan anak-anak!"
Aku mencebikkan bibir tidak terima atas apa yang dikatakan oleh Abim. Aku bukanlah wanita bodoh yang bisa dibohongin terus menerus.
Perceraian suami istri jika terjadi, maka haknya akan dicabut oleh tempat Abim bekerja. Hak anak-anak tidak akan hilang karena sampai kapan pun, ia akan menjadi anak dari seorang Abimanan walaupun nantinya Abim menikah lagi dan mempunyai istri. Itu yang aku ketahui dari tempatnya bekerja. Karena aku pernah bekerja ditempat yang sama.
"Kamu yakin mas, mencabut asuransi anak-anak. Kamu tega.. kalau sampai itu terjadi.. kamu akan benar-benar menyesal!"
"Mas Abim gak akan menyesal, Manda!" Celetuk Reyna yang tiba-tiba datang dengan gayanya yang angkuh.
Aku kaget dan terus menatap wajah yang baru ku kenal. Ia adalah Reyna istri siri Abim.
"Cepat mana? Jangan pakai lama." Paksa Reyna yang meminta kartu asuransi kesehatan milik aku dan anak-anak!
"Tunggu apalagi! Udah selesai kan, sekarang lebih baik kamu pergi!" Ucap Reyna yang mengusir ku.
"Baiklah. Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!" Jawab keduanya bersamaan!
Flashback off
****
Dirumah sakit...
07.00 WIB..
Pagi ini, aku masih dirumah sakit. Bertemankan dengan pasien yang lain. sedangkan Aisyah masih tertidur, panasnya masih turun naik!
Aku terus berdoa agar sikecil cepat sembuh dan dapat beraktifitas lagi!
"Assalamualaikum!" Salam mama Atika dan Sisil yang baru datang.
"Waalaikumsalam! Sini ma!" Kata ku tersenyum!
"Ini bun, pakaian ganti bunda. Seusai sama yang disuruh bunda!" Ucap Sisil sambil memberikan tas kepada ku!
__ADS_1
Mama Atika mendekatkan dirinya kearah Asiyah yang sedang tertidur! Lalu mencium keningnya dan mengucapkan. "Cepat sembuh ya ndok!"
Lalu mundur perlahan.
Mata ku melihat kearah Sisil dan mengatakan. "Kak, semalam menginap dimana?"
"Dirumah uti! Bunda tenang aja!" Jawabnya.
Aku sedikit lega, biasanya Sisil susah sekali disuruh menginap! Tapi kali ini, ia mau!
"Ini, buat tambahan kamu disini! Siapa tau perlu!" Ucapny lalu tangannya memberikan beberapa uang didalam amplop.
Aku menangis, selalu saja merepotkan dan menyusahkan mama ku. Seharusnya aku bisa membahagiakan, tapi pada kenyataannya tidak bisa!
Aku menerima amplop dan menyimpannya ditas ku.
"Alhamdulillah, terima kasih ma! Nanti pasti aku kembalikan!"
"Jangan pikirkan itu! Yang terpenting kesembuhan Aiayah!"
Tidak lama tampak dua orang yaitu pak Rizal dan mama Ainun yang datang dan berdiri melihat keadaan Aisyah.
Aku, Sisil dan mama Atika bersalaman kepada mama Ainun dan pak Rizal.
Dan tanpa basa basi Ainun langsung bertanya kepada ku! "Kenapa, apa yang terjadi pada cucu ku?"
"Aisyah demam, ma! Sudah ditangani sama dokter!"
"Lalu kenapa dirawat diruangan yang sempit seperti ini! Manda kamu gimana sih! Bukannya asuransi Abim itu kelas dua?"
Deg..deg
Mama Ainun pantas menanyakan soal itu, karena memang aku belum memberitahunya tentang tindakan Abim yang meminta semua hak anak-anak!
Mata ku menatap wajah mama Ainun dan mencoba menjelaskan perlaham! "Ma, ini yang ku bisa berikan untuk Aisyah! Ketika pertma kali Asiyah harus dirawat! Dimana pun? Kelas berapa pun? Aisyah bagi ku yang terpenting mendapatkan perawatan demi keselamatannya!"
Mama Ainun dan pak Rizal tampak tidak mengerti apa yang ku katakan. Seakan-akan aku sengaja membiarkan Asiyah berada disini!
"Pindah saja kekelas dua! Biar agak legaan!" Kata pak Rizal buka suara.
Pak, ma! Maaf aku gak bisa pindahin Aisyah kekelas dua!"
Belum selesai berbicara, tangan mama Atika menarik tangan mama Ainun dan pak Rizal keluar ruangan agar apa yang mereka bicarakan tidak didengar oleh pasien sebelahnya!
"Ada apa sih bu, tarik-tarik tangan kami!" Tanya mama Ainun.
Mamaku mencoba memberi penjelasan tentang apa yang aku utarakan mengenai perawatan Aisyah! Karena mama Atika memang sudah mengetahui dari ku!
"Begini pak Rizal dan bu Ainun tolong mengerti apa yang dimaksud oleh Amanda! Amanda hanya bisa memberikan fasilitas kelas tiga! Karena itu biaya pribadi sendiri! Manda belum sempat mengurus BPJS anak-anak dan dirinya. karena seminggu yang lalu Abimanan baru meminta semua yang pernah jadi milik mereka."
Mama Ainun dan pak Rizal melonggo, mendengar apa yang dikatakan Atika. Tidak percaya akan kelakuan anaknya! Mungkin bisa jika aku saja yang dicabut karena tidak ada lagi haknya! Tapi ini anak-anak juga!
__ADS_1
bersambung..