
...فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْراً يَرَهُ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرّاً يَرَهُ...
“ Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula “ (QS. Al Zalzalah :7-8)
...🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵...
Distadion Olahraga..
Pagi ini hari libur ku. Aku sudah berada distadion olah raga. Kembali berjualan nasi kuning dan minuman.
Kali ini aku hanya mengajak Sisil, sedangkan Aisyah sedang pergi undangan bersama mama Atika dirumah kerabatnya.
.
.
.
.
Suasana stadion pagi ini begitu ramai. Banyak orang berjualan dan berolah raga atau hanya sekedar berjalan-jalan sambil menikmati udara pagi.
Aku berharap stadion yang ramai ini juga membawa keberuntungan buat ku. Dagangan ku laris manis. Batin ku penuh harapan!
"Bu, nasi kuningnya dibungkus dua ya!" Kata pembeli yang baru datang.
"Iya mbak, tunggu sebentar ya. Saya buatkan."
Kemudian kedua tangan ku dengan cekatan membungkus nasi kuning itu sampai selesai.
"Ini mbak semuanya enam belas ribu."
Pembeli perempuan itu memberikan uang enam belas ribu rupiah yang dikeluarkan dari dompetnya.
Tak lama ada pembeli lagi yang memesan dua kopi hitam yang diminum disini.
Aku pun langsung membuatnya.
****
Di Bandung..
Keesokan paginya...
Bimo baru saja selesai melakukan sholat Dhuha. Lalu ia keluar kamar. Memandangi suasana kota Bandung yang sejuk dari tempatnya berdiri.
Menghirup udara pagi, membuat hatinya merasa tenang dan damai. Ia tersenyum terus sendirian, pikirannya kembali mengingat tentang kebersamaan yang singkat dengan ku.
Dari kejauhan Harris terus memperhatikan Bimo yang sejak tadi tersenyum. Langkah kakinya maju perlahan mendekati Bimo.
Bimo masih saja tidak sadar kalau Harris mendekatinya. Lalu ia mempunyai ide untuk mengangetkan Bimo dengan cara meledakkan balon yang tergeletak dilantai.
Harris berjalan dengan pelan, tangan kiri memegang balon dan tangan kanannya memegang jarum. Ia bersiap akan meledakan balon pas disamping telinga Bimo.
Dooorrr..
Balon pun meledak pas didekat telingga. Bimo pun kaget hingga ia meloncat.
Harris tertawa terpingkal-pingkal akibat melihat ulah Bimo yang kaget.
Bimo pun menggelengkan kepalanya karena melihat tingkah Harris yang menyebalkan.
"Gak ada kerjaan lain, selain iseng pada ku."
"Habis dari tadii senyum-senyum aja sendirian."
Seketika jantung Bimo berdebar kencang memikirkan pujaan hatinya. Entah kenapa, ia pun tidak mengerti.
Perasaan cemas yang ia rasakan semakin menjadi. lalu Bimo berkata dalam hatinya. Semoga kamu baik-baik saja Manda! Semoga kamu dapat melewati semua ujian ini!
"Bimo, ada apa? lagi mikirin apa sih?" Kata Harris yang terkejut.
"Manda. Semoga dia baik-baik saja."
__ADS_1
Harris terkejut ketika mendengar suatu nama yang asing baginya. Ia kira perempuan yang disukai oleh Bimo adalah Latifa. Tapi pada kenyataannya berbeda.
Bimo pun meminta Harris agar cepat pulang ke Jakarta. Ia ingin memastikan bahwa semuanya baik-baik saja.
****
Distadion olahraga...
Ketika sedang asyik berjualan. Datang beberapa orang preman yang bertampang sangat menyeramkan. Awalnya ia hanya meminta nasi kuningku beberapa bungkus saja. Tapi lama kelamaan, ia meminta uang. Kalau mereka bilang uang keamanan.
.
.
Ku lihat wajah Sisil yang sudah sangat takut.
Aku tidak mau jika berurusan panjang juga dengan preman itu, maka aku memberikan lima puluh rupiah kepadanya.
Tapi apa jadinya. Preman itu tidak mau menerima pemberian ku. Karena kurang banyak.
"Apa ini! Cepat berikan lagi." Kata salah satu preman bertubuh tinggi dan berambut panjang
Deg..deg..
Ya Allah tolong lindungilah kami. Batin ku.
Kali ini aku benar-benar takut. Takut para preman itu berbuat nekat!
.
.
.
.
.
Sedangkan dari kejauhan, tampak Reyna yang sedang melihat ku bersama para preman.
Lama kelamaan Reyna akhirnya mengingatnya.
Ehmm... itu kan Manda. Lalu itu .. preman. Kasihan sekali nasib kamu! Ucap Reyna pelan.
Reyna tersenyum puas melihat semua yang terjadi pada ku ...
.
.
.
.
.
.
.
Sedangkan disini pada preman masih saja menganggu ku dan Sisil.
"Ayok mana uangnya! cepat! Jangan diam aja."
Preman itu tidak sabar, ia menarik tas ku dan mengambil semua uang yang ada didalam tas ku.
Aku menarik tas ku kencang, tapi apa yang terjadi. Semua isi uangnya telah diambil Padahal itu bukan hasil jualan ku saja. Ada dua uang dua ratus ribu, sengaja ku bawa kedalam tas ku. Karena aku berniat untuk membelikan sepatu buat Sisil nantinya.
Sisil mendekat pada ku, memegang tangan ku dengan kencangnya.
Pedagang yang lain tidak ada yang berani membantu ku. Mereka hanya melihatnya dan terdiam.
"Awas, kalau berani macam-macam!" Kata preman.
__ADS_1
Satu persatu para preman pun mulai pergi dan menjauh. Tersisa hanya satu preman yang berjalan paling terakhir.
Tangannya menyenggol bakul nasi kuning, Spontan bakul nasi pun tumpah.
Tapi apa yang terjadi, preman itu mengatakan. "Tidak sengaja." Kemudian ia berlalu saja pergi menjauh.
.
.
"Bunda nasinya udah tumpah! Bagaimana ini?"
Tanya Sisil yang seluruh tubuhnya terasa gemetar!
"Ya sudahlah kak, tidak apa-apa!"
Aku pun membereskan semua barang-barang ku untuk dimasukan kedalam satu wadah yang besar untuk ditaruh di motor!
Tidak mungkin juga aku melanjutkan berjualan. Karena semua nasi telah tumpah.
"Mbak, tidak apa-apa!" Tanya seorang pedagang yang mendekati ku.
"Tidak apa-apa, pak hanya duit saya yang diambil dan nasinya pun tumpah."
"Memang begitu mbak. Tidak ada yang berani melawan."
"Disini tidak ada polisi ya, pak. Ya... untuk mengawasinya saja!"
"Ada tapi tidak tiap hari berpatroli disini. Tapi Anehnya kalau ada polisi, mereka itu tidak muncul."
Aku hanya tersenyum mendengarkan apa yang dikatakan oleh pedagang itu, sambil membereskan semuanya.
Akhirnya selesai juga merapikan semuanya.
Aku dan Sisil berniat akan segera pulang!
"Pak, kami permisi pulang." Kata ku yang hendak menaiki motor!
"Ya mbak, hati-hati ya!"
"Assalamualaikum!" Kata ku.
"Waalaikumsalam. Jawabnya.
Aku pun langsung menyalakan mesin motor. Ku pakai helm pada kepalaku. Kemudian berlalu pergi meninggalkan stadion.
Dalam perjalanan menuju rumah, aku terus berpikir untuk tidak akan mencoba berjualan disana lagi.
Aku tidak mau nantinya, sesuatu yang buruk menimpaku atau anak-anak ku ketika ikut bersama ku.
Dan yang terjadi kali ini, cukup yang pertama dan terakhir! Setelah itu aku akan mencoba cara lain untuk berdagang!
.
.
"Bun." Panggil Sisil.
"Ada apa, kak?"
"Hari ini, kita rugi ya. Gak ada hasilnya! Yang ada malah rugi."
Aku pun menjawab sambil mengendarai motor ku. "Belum rezekinya. Sabar ya kak!"
"Iya, bun."
.
.
.
Akhirnya perjalanan ku sampai, dirumah. Hari ini aku belum mendapatkan rezeki yang lebih baik dari penjualan ku kali ini.
__ADS_1
Tapi aku tidak akan putus asa. Aku akan tetap semangat untuk mencari rezeki untuk kedua buah hati ku.