Sebuah Keputusan

Sebuah Keputusan
Usaha Bimo


__ADS_3

Dirumah mama Atika...


Bimo dan Harris sudah berada dirumah mama Atika. Mereka berdua sengaja datang kerumah mama Atika.


Perasaan cemas yang melanda Bimo, tidak puas kalau hanya sekedar lewat telepon. Ia ingin memastikan ku baik-baik saja.


.


.


Arif kebetulan sedang libur dan tidak kemana-mana, jadi bisa bertemu dengan mereka berdua.


Diruang tamu, Harris, Bimo dan Arif sedang menikmati minuman yang dibuatkan oleh mama Atika sambil berbincang.


"Ada apa mas Bimo, mampir kesini jauh-jauh dari Bandung langsung kesini!" Tanya Arif.


"Maaf Rif! Mas Bimo gak bisa bohong sama Arif. Jujur mas, menaruh hati pada kakak Arif."


Bimo berkata terus terang pada Arif. Apa yang dirasakannya adalah benar. Walaupun terlalu cepat.


"Mak..maksud mas Bimo! Mbak Manda!" Kata Arif tidak percaya bahwa lelaki yang sedang berhadapan dengannya menaruh hati kepada kakaknya. Lelaki yang baik, Sholeh dan temannya dalam mengaji.


Memang Arif mengenal Bimo sebagai guru pembimbingnya. Arif dulunya adalah lelaki yang malas sholat bahkan dalam segi agama, ia masih jauh. Tapi semenjak mengenal Bimo. Arif dalam soal agama, semakin hari semakin lebih baik.


"Iya! Apakah kamu marah Rif!"


"Maksud mas Bimo, marah! Ya enggaklah mas, aku malah bahagia. Aku akan membantu mas supaya bisa lebih dekat dengan mbak Manda."


"Ehemm..." Suara berdehem dari Harris yang merasa dicuekin oleh mereka berdua.


Keduanya menengokkan kepalanya kearah Harris. Harris hanya tersenyum menatap keduanya.


.


.


.


Mama Atika tidak sengaja mendengar obrolan Arif dan Bimo ketika sedang menghampiri mereka diruang tamu. Mama Atika sudah mengenal Bimo cukup lama. Jadi tau bagaimana sifat dan karakter Bimo.


Ketika mama Atika datang, suasana menjadi hening. Bimo menghentikan obrolannya.


"Kok sepi! Tadi dari dalam mama dengar obrolan kalian serius sekali. Ayok ada apa?"


"Ehmm... gak ada apa kok, ma!" Jawab Arif.


"Bim, ajak temannya makan. Mama masak enak."


Mama Atika sengaja memasak banyak ketika mengetahui Bimo dan temannya datang. Bukan hanya Bimo, siapa saja yang datang berkunjung kerumahnya. Mau teman atau saudara, mama Atika selalu menyuruh tamunya untuk menikmati makanan yang dimasak olehnya.


"I-iya ma, terima kasih!" Jawabnya sambil menunduk malu.


Bagi Bimo ini bukan yang pertama kalinya, ia disuruh makan dirumah mama Atika. Sudah sering kali, jauh sebelum mengenal ku.


Mama Atika kemudian masuk kedalam lagi untuk menyiapkan semua makanan dimeja makan.


"Mas Harris, mas Bimo ayok makan dulu." Ajak Arif, kemudian ia berdiri untuk mengajak Arif dan Bimo makan.


"Ehmm.. nanti aja, Rif!"


"Rif, Bimo gak akan makan sebelum ia bertemu dengan Manda."


Harris terkekeh, ia senang bisa menggoda Bimo yang sedang jatuh cinta.


"Aaaaaawww." Teriak Harris karena kakinya diinjak oleh Bimo.


"Sakit tau Bim."


"Maaf Rif, Harris jadi buat ribut!"


Harris mendelikan matanya, ketika mendengar perkataan Bimo yang memojokkannya. Tapi Harris tidak marah.

__ADS_1


"Nyantai aja lagi. Mas Bimo bentar ya, aku masuk dulu." Kata Arif kemudian ia berjalan masuki ruang sebelahnya. Disana ada Widya istrinya.


Arif menyuruh Widya untuk menghubungi ku melalui ponselnya. Widya mengerti maksud Atif, ia pun segera melaksanakan apa yang disuruh Arif.


Arif, kembali keruang tamu untuk menemui Bimo dan Harris.


****


Jam 13.00 WIB


Setelah selesai sholat Dzuhur, Harris dan Arif kembali keruang tamu. Sedangkan Bimo masih melanjutkan untuk berdzikir.


Diruang tamu, Arif dan Harris masih sibuk berbincang. Mereka asyik membahas apa saja. Tiba-tiba saja keduanya mendengar suara salam dari arah luar.


"Assalamualaikum!" Ucap salam ketika memasuki rumah mama Atika.


Aku datang bersama Sisil. Sedangkan Aisyah masih main dirumah tetangga mama Atika. Aku dan Sisil melangkah masuk kedalam.


"Waalaikumsalam." Jawab bersamaan.


"Mbak, masuk sini!" Kata Arif.


Sisil masuk dan bersalaman dan mencium tangan Arif dan Harris.


"Mbak kenalin ini mas Harris temannya sekaligus asisten pribadinya mas Bimo."


Harris memajukan tangannya kedepan untuk bersalaman dengan ku. Tapi aku hanya menganggukkan kepala. Aku tidak ingin bersentuhan dengan lelaki yang bukan muhrimnya. Untuk menjaga statusku dari fitnah.


"Amanda." Kata ku pelan.


"Oh ini yang namanya Manda." Kata Harris sengaja, agar didengar oleh Bimo yang masih didalam kamar.


"Maaf mas, Arif. Aku kedalam sebentar. Kalian lanjutkan saja mengobrolnya."


Aku lalu kedalam untuk menemui mama Atika. Saat hendak kedalam, Bimo tiba-tiba saja keluar dari kamar. Kami berdua saling berhadapan.


"Ehmm.. maaf mas Bimo!" Aku yang berdiri pas didepan Bimo lalu menggeserkan kaki ku kesamping kiri.


"Tidak apa-apa. Apa semua baik-baik saja?"


"Syukurlah, kalau kamu baik-baik saja."


"Maaf mas, aku permisi mau kedalam." Kata ku dengan tidak menatap wajah Bimo dari dekat.


Aku melangkahkan kaki kembali masuk, sedangkan Bimo berjalan terus keruang tamu!


Didalam, aku bertemu dengan mama Atika dan Widya. Keduanya sedang menonton tv acara kesukaannya. Mereka berdua begitu dekat sekali. Seperti bukan mertua dan menantu.


Aku pun ikut duduk dengan keduanya. Membicarakan apa saja. Sampai akhirnya mama Atika menanyakan tentang hasil dagang ku hari ini!


Aku binggung harus menjawab apa? Apa aku ceritakan atau tidak, tapi aku tidak mau mereka menjadi cemas.


.


.


.


.


Dari luar terdengar suara Arif memanggil ku.


"Mbak!"


Lalu aku bangun dan berjalan kearah ruang tamu. Sisil sedang duduk diantara mereka, padahal Sisil tadi sedang duduk didepan sambil bermain game diponselnya.


"Ada apa Rif, panggil mbak." Sahut ku pelan.


"Iya Rif, ada apa kakak kamu dipanggil?"


Mama Atika menyusul dan bertanya juga pada Arif. Kenapa Arif memanggil ku.

__ADS_1


"Begini, ma! Tadi kakak cerita sama aku bahwa mbak Manda habis terkena musibah."


"Apa? Yang benar itu, ndok? Kenapa?" Ucap mama Atika kaget.


Bukan hanya mama Atika dan Widya yang kaget. Bimo yang mendengar juga kaget. Pasalnya saja, barusan ia bertanya pada ku. Bahwa aku baik-baik saja. Tapi kenapa Arif bilang bahwa aku terkena musibah.


"Manda, apa yang dikatakan Arif itu benar?" Kata Bimo yang wajahnya menatap ku dengan penuh tanda tanya.


"Iya, apa yang dikatakannya Arif. Memang benar! Uang ku diambil oleh preman, saat aku sedang berjualan. Nasinya juga tumpah akibat disenggool oleh preman. Terus kita pulang lagi."


"Astaghfirullah allazim. Kenapa kamu gak cerita, Manda saat aku tanya." Kata Bimo yang merasa cemas akan keadaan ku. Ternyata apa yang dikhawatirkan Bimo semua terbukti.


"Aku hanya tidak mau membuat yang lain cemas!"


"Ya Allah ndok. Kenapa cobaan terus menimpa kamu! Yang sabar ya ndok, gusti Allah pasti kasih kebahagian buat kamu."


"Amiin ma! Aku dan Sisil juga tidak apa-apa ma?"


"Tapi bun, aku nggak jadi beli sepatu. Uangnya kan diambil preman." Celetuk Sisil tiba-tiba. Padahal Sisil sudah senang akan dibelikan sepatu, tapi keinginannya harus tertunda dulu.


"Kak, itu namanya belum rezeki. Kamu sabar ya, nanti bunda pasti belikan buat kamu."


Hati Bimo tersentuh, ia semakin kagum akan kesabaran ku. Menghadapi masalah dengan sabar. Dalam benaknya muncul keinginan untuk membelikan sepatu buat anak-anak ku. Tapi ia binggung bagaimana cara mengatakannya? Apakah nantinya aku menolak atau tidak?


"Ya bun." Jawab Sisil pelan.


"Mama Atika mendekati Sisil yang sedang duduk. Lalu mengatakan. "Jangan sedih nanti uti belikan. Kakak atau adek mau apa, nanti tinggal bilang sama tante Widya atau om Arif."


"Ya kan om Arif dan tante Widya."


Mama Atika menolehkan kepalanya kearah Arif dan Widya. Keduanya mengangguk kepala. Memang sejak saat berpisah dengan ku. Kebutuhan anak-anak kadang dibelikan oleh Widya atau Arif.


Aku tidak pernah meminta walaupun aku kekurangan. Terkecuali disaat kebutuhan benar-benar mendesak seperti biaya rumah sakit atau sekolah. Itupun dengan meminjam.


'Siap uti." Jawab Widya dan Arif keduanya pun tersenyum.


"Udah siang nih, dari pada bersedih sebaiknya, kita makan siang dulu." Ajak mama Atika.


Semuanya lalu bangun dan berjalan kearah meja makan. Aku, Widya dan mama ikut membantu menyiapkan semuanya.


"Kak, coba tolong panggil adek dirumah tante Siska." Suruh ku dan diikuti oleh Sisil. Langkah kakinya dengan cepat memanggil Aisyah.


.


.


"Bunda." Panggil Aisyah sambil berlari masuk kedalam setelah disusul oleh Sisil untuk pulang.


"Ya nak! Ayok makan dulu!"


Aisyah pun masuk kedalam rumah.


"Om Bimo!" Teriak Aisyah ketika melihat Bimo sedang duduk. Lalu berjalan mendekat dan mencium tangan Bimo.


Bimo tersenyum dan mencubit pipi Aisyah yang lucu. Kemudian berkata. "Dari mana aja, manis?"


"Main!"


"Aisyah kok salaman cuma sama om Bimo saja, kan ada om Harris!" Ucap mama Atika yang melihat kedekatan Aisyah dengan Bimo.


Aisyah terdiam sebentar lalu matanya melihat Bimo. Bimo menyuruhnya untuk berkenalan dengan Harris.


Aisyah lalu menuruti kata Bimo. Langkah kakinya bergeser kearah Harris dan mencium tangan Harris!


"Aisyah."


Aisyah berkenalan dengan Harrish. Harris melihat gadis kecil yang lucu dan imut. Pintar sekali ia mengambil hati. Pantas saja Bimo sangat menyayangi Aisyah. Karena Sisil dan Aisyah adalah anakku.


"Harrish. Itu nama om!"


Setelah berkenalan dengan Harrish, Aisyah duduk didekat Bimo. Kemudian semuanya menikmati makan siang bersama dengan penuh kegembiraan!

__ADS_1


Kebersamaan yang tidak disangka-sangka oleh Bimo. Walaupun duduk berjauhan, Bimo merasa lega. Diam-diam Bimo terus memperhatikan ku dan tanpa ku sadari.


...Happy Reading...


__ADS_2