
Suatu pagi disebuah jalan menuju puncak. Iring-iringan motor melewati sepanjang jalan kearah puncak.
Abim sedang pergi bersama teman-temannya, untuk menghilangkan kepenatan selama seminggu beraktifitas. Rutinitas pekerjaan dan masalah rumah tangganya terkadang menguras pikiran dan emosinya.
.
.
.
.
Masalahnya dengan bu Mujiasih pemilik kontrakan sudah terselesaikan. Abim memilih untuk meminjam dipinjaman online.
Belum lagi masalah Reyna yang meminta dipertemukan dengan orang tuanya dan meminta dinikahkan secara hukum negara, membuatnya pusing!
Ditambah lagi dengan masalah pekerjaan yang tidak ada akhirnya!!!!
Akhirnya Abimanan menyetujui untuk pergi bersama teman-temannya, tanpa mengajak Reyna.
****
Perjalanan yang jauh, berbelok-belok, serta kemacetan membuat mereka harus singgah disebuah warung kecil dipinggir jalan.
Mereka semua duduk dan memesan minuman. Ada pisang goreng dan tahu isi mereka juga menyantapnya.
Sambil beristirahat mereka semua tidak lupa untuk mengabadikan momen kebersamaan mereka. Lalu diunggah disosial media milik mereka masing-masing. Termasuk Abim juga begitu.
Setelah setengah jam beristirahat, dirasa cukup oleh mereka. Akhirnya mereka semua melanjutkan perjalanan.
.
.
.
.
Dalam perjalanan, tiba-tiba saja motor yang dikendarai Abim tergelincir, sehingga menyebabkan Abim terjatuh.
Bruuukkk... "Aaaaaaa.."
Abim terjatuh dan terhempaskan jauh dari motornya berada.
"Berhenti, Abim! Woiii.. Abim jatuh!" Teriak salah seorang temannya yang melihat Abim terlebih dahulu!
Semuanya berhenti, dan turun dari motornya masing-masing! Satu persatu berlari mendekat kearah Abim terjatuh.
Tampak pemandangan yang menyeramkan. Abim sudah tidak sadarkan diri! Darah melekat pada tubuh Abimanan.
Sontak teman-temannya meminta bantuan pada orang yang melintas, agar Abim segera mendapatkan perawatan!
Untung saja, ada sebuah mobil yang melintas dan berhenti mau menolongnya. Abim segera dibawa kerumah sakit terdekat untuk diselamatkan!
Semuanya ikut serta mengantar Abim kerumah sakit dengan mengendarai motornya masing-masing!
Liburan membawa bencana bagi seorang Abim, sungguh naas nasibnya kini!
.
.
.
.
Dirumah Sakit ..
Jam 11.35 WIB
Abim tiba dirumah sakit terdekat. Ia segera mendapat pertolongan dari dokter!
Sedangkan teman-teman Abim menunggu diluar ruangan!
Teman-teman Abim tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada pemuda yang telah melintas dan menolong Abim membawanya kerumah sakit.
"Terima kasih, mas..?" Kata Genta dan bersalaman pada lelaki itu!
"Bimo!" Sahutnya sambil tersenyum dan ikut bersalaman.
__ADS_1
"Kami mengucapkan terima kasih mas, karena sudah membantu kami! Semoga Allah membalas kebaikan mas Bimo!" Ucap Ferdy.
"Amiin... Oh iya maaf saya mau pamit dan semoga temannya lekas sembuh. Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!" Jawab bersamaan.
Bimo pun meninggalkan mereka semua dan kembali melanjutkan perjalanan.
Setelah Kepergian Bimo, teman-teman Abim masih menunggu. Perasaan panik dan cemas melanda semua temannya yang melihat kecelakaan tersebut!
Menceritakan tentang sebab Abim kecelakaan!
"Bagaimana Abim, kecelakaan ya?" Tanya Ferdy salah seorang teman Abim.
"Kok bisa? Padahal jalanan gak licin!" Sahut Genta heran.
"Aku gak jauh dari Abim, pas dibelakang Abim! Abim gak ngebut, pelan mengendarainya! Kok bisa?" Ceplos Agung tidak percaya kalau Abim bisa jatuh dan tergelincir!
Ketika mereka sedang berbincang, dokter pun keluar ruangan! Semua orang mendekat kearah dokter!
Dokter pun berkata! "Siapa keluarganya disini?"
"Kami semua temannya dok, keluarganya tidak ada! Jadi cerita sama kami saja, dok!" Jawab Ferdy!
"Baiklah! Kondisi pasien kritis! Pasien harus segera dibawa kerumah sakit yang lebih besar!" Ungkap dokter menjelaskan kondisi Abim.
"Baiklah dok, kami akan menghubungi keluarga pasien!" Sahut Genta!
Setelah menjelaskan semuanya, dokter kembali masuk kedalam.
Sedangkan teman-teman Abim, berusaha menghubungi orang tua Abim dan Reyna untuk memberitahukan kondisi Abim yang sebenarnya.
.
.
Ferdy, berhasil menghubungi Reyna. Sedangkan orang tua Abim juga berhasil dihubungi oleh Agung.
Dan atas persetujuan orang tua Abim. Abim akhirnya dibawa kerumah sakit yang sama dimana Aisyah dirawat.
Perasaan lega tampak diwajah teman-teman Abim, karena berhasil menghubungi keluarga.
.
.
.
.
.
Setelah satu jam menunggu akhirnya Abimanan berhasil dibawa memakai mobil ambulans menuju rumah sakit pusat di Jakarta.
Teman-teman Abim, masih setia menemani Abim. Dengan mengikuti menggunakan motor mereka dan berjalan dibelakang mobil ambulans.
Orang tua Abim sudah menunggu dirumah sakit, menanti kedatangan anak semata wayangnya. Begitu juga Reyna, yang tidak mau ketinggalan untuk bertemu Abim sekaligus dengan mertuanya.
.
.
.
Satu jam menunggu kedatangan Abim. Akhirnya Ambulans tiba dirumah sakit yang dituju. Para suster segera membawa Abim untuk mendapat perawatan.
Semua temannya Abim, masih setia menunggu Abim. Mereka semua, juga sudah bertemu dengan Reyna dan orang tua Abim.
Agung menceritakan semua yang menyebabkan Abim kecelakaan.
Mama Ainun tidak bisa menahan tangisannya. Ia menangis kita mendengar Agung bercerita. Mama Ainun memang sangat membencinya, bahkan sampai berkata-kata yang tidak-tidak. Tapi hati seorang ibu mana yang tega melihat darah dagingnya terluka, walaupun dirinya telah disakiti dan dikecewakan. Apalagi ini adalah anak kandungnya. Anak semata wayangnya!!
Sedangkan Reyna yang berdiri didekat mama Ainun mencoba untuk menangkannya! Tetapi ditolak oleh mama Ainun.
.
.
Dokter keluar dari ruangan. Menceritakan tentang kondisi Abim kepada orang tua Abim!
__ADS_1
Bahwa kondisi Abim sungguh memprihatinkan dan harus segera dioperasi dibagian kepala karena mengalami benturan yang sangat hebat dan menyebabkan luka yang lebar, agar tidak terjadi pendarahan yang cukup hebat!
Orang tua Abim menyetujuinya. Pak Rizal pun segera mengurus administrasinya menggunakan asuransi yang dipakai ditempat Abim bekerja ditemanin oleh Genta.
Sedangkan yang lain menunggu dan menemani mama Ainun.
****
Jam 18.35 WIB.
Abim sudah masuk ruang operasi. Teman-teman, orang tua Abim dan Reyna masih menunggu dengan setia diruang tunggu operasi!
Perasaan cemas dan khawatir melanda mereka semua. Apalagi Reyna yang semakin khawatir dengan kondisi Abim. Ia sangat takut akan kehilangan Abimanan. Karena semua keinginannya belum terwujud.
.
.
.
Sudah hampir dua jam lebih menunggu. Operasi belum juga selesai. Mama Ainun berjalan kesana kemari. Memikirkan keadaan anaknya.
"Mama, bisa duduk gak. Bapak tuh pusing, lihat kamu mondar mandir gak jelas." Ungkap pak Rizal.
"Cemas pak! Kondisi Abim bagaimana ya. Kok lama banget!"
.
.
Tiba-tiba saja keluar dokter dan suster. Menjelaskan kondisi operasi Abim yang telah berjalan lancar dan sudah dapat dipindahkan keruang rawat.
Abim pun dipindahkan keruang rawat kelas satu. Atas permintaan mama Ainun. Walaupun terjadi selisih bayar karena asuransi hanya memfasilitaskan untuk kelas dua.
Mama Ainun tidak mempermasalahkannya, yang terpenting anaknya mendapatkan perawatan!
Mama Ainun juga tidak lupa mengabari sanak saudaranya, bahwa Abim kecelakaan.
Begitu juga dengan ku yang sudah mendapat kabar bahwa Abim kecelakaan, dari pertama Abim tiba. Namun, aku belum menjenguknya!
.
.
Ketika teman-teman Abim hendak berpamitan dengan orang tua Abim dan Reyna, yang semuanya berdiri diluar ruangan ruang rawat.
Tiba-tiba saja Bimo melintas dihadapan teman-teman Abim.
Ferdy pun memanggilnya sambil berteriak. "Mas Bimo."
Spontan saja Bimo yang mendengar langsung menolehkan wajahnya kearah mereka. Lalu tersenyum dan menyapa mereka semua! "Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!" Ucap bersamaan.
"Mas Bimo ngapain disini?" Tanya Genta heran dan melihat mas Bimo dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"Saya disini lagi mau jenguk teman anak saya. Dirawat dirumah sakit ini juga! Lalu kalian kenapa ada disini?"
"Kami membawa teman kami kesini dan sudah mendapatkan perawatan yang lebih baik. Oh ya mas kenalkan ini orang tua Abim! Pak ..Bu kenalkan ini mas Bimo, orang yang menolong Abim dan membawanya kerumah sakit." Ungkap Agung.
Bimo pun berjabat tangan dengan kedua orang tua Abim.
"Terima kasih nak Bimo, karena sudah menyelamatkan anak saya, Abimanan!" Kata pak Rizal.
Abim.. sepertinya nama itu tidak asing ditelinga ku. Batin Bimo.
"Sama-sama pak! Kita memang sudah seharusnya saling tolong menolong! Maaf saya tidak bisa berlama-lama disini!"
"Baiklah. Sekali lagi terima kasih." Ungkap mama Ainun.
"Assalamualaikum!" ucap salam Bimo.
"Waalaikumsalam!" Jawab mereka bersamaan.
Setelah kepergian Bimo, semua menatap kagum Bimo. Apalagi mama Ainun dan Reyna.
Kalau mama Ainun membayangkan, kalau seandainya Abim seperti Bimo, mempunyai sikap sopan dan santun dalam bersikap dan bertutur kata! Pastilah ia sangat bangga.
Sedangkan Reyna memandang kagum karena penampilannya yang wibawa dan tampan. Ia sampai tidak berkedip memandang kagum seorang Bimo!
__ADS_1