Sebuah Keputusan

Sebuah Keputusan
Adlan


__ADS_3

Dirumah orang tua Bimo..


Jam 09.00 WIB


Pagi ini aku menginap dirumah orang tua Bimo. Karena kakek Aryan sedang sakit dan tidak ada yang menemani kakek. Ummi sama Abi sedang pergi umroh. Dirumah hanya ada Audy dan Adlan. Ummi tidak mempercayai begitu saja. Adlan dan Audy.


Sedangkan anak-anak berada rumah mama Atika. Mereka tidak mau ikut.


Sejujurnya aku merasa tidak nyaman dirumah ini, karena Audy dan Adlan kurang menyukai Ku. Tapi mau tidak mau aku harus tetap disini Samapi orang tua Bimo kembali.


.


.


Aku berjalan kekamar kakek Aryan. Lalu membuka pintu perlahan.


Kakek masih tertidur lelap diatas tempat tidur. Lalu aku berjalan mendekatinya.


"Kakek, ayo bangun! Ini aku."


Kakek membuka mata perlahan. Kemudian melihat ku dan memanggil nama ku.


"Amanda."


"Iya kek! Makan dulu yuk! Ini ku buatkan Soo ceker. Katanya kakek suka sekali."


Kakek mencium aroma SOP ceker yang begitu menggoda. Lalu kakek bangun dan duduk.


Aku mengambil piring yang berisi nasi, sayur sop dan berkedel kentang! Aku menyuapin kakek makan perlahan-lahan!


"Enak!" Ucap kakek yang merasakan rasa sayur sop dan perkedel kentang.


"Kalau enak, dihabiskan ya! Terus minum obatnya deh!"


Kakek menganggukkan kepalanya tanda setuju. Kakek terus menghabiskan makanannya tanpa sisa nasi dipiring. Setelah itu barulah kakek meminum obatnya.


****


Aku sedang berada didapur tiba-tiba saja terdengar suara langkah kaki mendekat kearah ku.


Aku tidak menengokkan kepala kebelakang, badan ku tetap fokus kedepan. Tapi sebuah sentuhan tangan mengenai tubuh ku.


Aku menengokkan kepala kebelakang dan ku lihat Adlan sedang berdiri dihadapan ku.


"Ada apa Adlan.?"


"Kamu ternyata cantik juga ya, walaupun kamu seorang janda. Pantas saja Bimo menyukai mu!?"


"Adlan, ada perlu apa kesini?" Tanya ku lagi yang mulai ketakutan akan kehadiran Adlan disini.


"Aku ..!"


Adlan semakin berjalan maju kearah ku. Ia semakin menjalankan niat buruknya pada ku. Aku yang berdiri dihadapannya, mencari sesuatu agar bisa menakuti Adlan dan Adlan bisa pergi dari hadapan ku.

__ADS_1


"Adlan mah apa kamu, cepat kamu pergi dari hadapan ku."


"Teriak saja. Semua orang sedang pergi. Disini hanya ada kakek tua itu."


Kini mata ku melihat pisau yang tergeletak dirak. Lalu aku berlari kearah rak dan mengambilnya.


"Adlan, mundur! Cepat pergi, jangan ganggu aku!!" Teriak ku dengan kencang dan tangan ku memegang pisau.


Adlan tetap nekat! Maju terus mendekat kearah ku. Aku mengarahkan pisau kearah Adlan yang berdiri selangkah lagi dihadapan ku.


Sialnya ..pisau berhasil dibuang oleh Adlan. Aku melawan dengan menendang dan memukul dengan kencang.


Semua usaha itu sia-sia. Adlan lebih kuat! Aku hanya seorang perempuan yang sudah sekuat tenaga melawan.


"Bik, kakek.. Tolong!!" Teriak dengan kencang. Tapi apa yang terjadi. Tidak ada yang mendengar. Lalu dimana Bik Ijah. Kakek juga tidak mendengar karena tertidur.


Adlan semakin nekad, ia berani menyentuh ku dan merobek baju ku. Karena Adlan sudah semakin kurang ajar kepada ku. Aku pun berlari menjauh darinya.


Mata ku melihat pisau yang tadi dibuang oleh Adlan dan sekarang tergeletak dilantai.


"Mau apa lagi dengan pisau itu."


"Gak akan, aku biarkan lelaki macam kamu. Adlan!! Menyentuh tubuh Ku. Lebih baik aku mengakhiri hidup ku."


"Lakukan saja kalau kamu berani." Tantang Adlan dan tidak takut dengan ancaman ku.


Aku memotong pergelangan tangan ku dengan pisau. Darah pun mengalir dengan deras. Seketika ku lihat Bik Ijah datang dan berdiri dibelakang Adlan.


"Diam, jangan cerita kesiapa-siapa. Sudah sana pergi." Bik Ijah pergi meninggalkan aku.


Adlan pun pergi!! Kini tinggal aku yang yang terjatuh kelantai dan mulai tidak sadarkan diri.


****


Dirumah sakit..


Jam 15.00 WIB


Perlahan-lahan aku mulai membuka mata. Melihat sekeliling, ternyata aku masih didunia ini. Ku kira aku akan pergi dari dunia ini setelah tidak sadarkan diri.


Ku lihat Bimo menemani ku dengan setia. Dia tersenyum kearah ku.


"Aku dimana mas?"


"Dirumah sakit." Jawabnya singkat!


"Kamu bukannya harus pergi mas, tetapi kenapa pulang."


Bimo mencoba menjelaskan kepada ku. "Entahlah .. aku sepertinya hari itu tidak bisa pergi dengan tenang. Lalu kembali kerumah. Ketika ku masuk kedalam, aku melihat mu yang sudah terbaring dilantai dan tidak sadarkan diri."


"Bik Ijah.. Adlan.."


"Tidak ada! Memangnya apa yang terjadi, katakan kepada ku?"

__ADS_1


"Adlan! Adlan! Mas yang mencoba untuk menyentuh tubuh ku. Dan dia juga yang merobek baju ku! Aku sudah coba untuk menakutinya dengan pisau atau apapun. Tapi dia tetap nekat! Sampai akhirnya aku nekat memotong pergelangan tangan dengan pisau."


Bik Ijah.. bik Ijah ada waktu aku melukai diri ku. Tapi dia tidak berani mas!" Kata ku bercerita dengan panjang dan lebarnya tentang apa yang terjadi mengenai ku.


"Sudah jangan menangis, aku percaya kepada mu, lelaki itu memang bejat. Dia akan berurusan dengan ku!" Kata Bimo dengan gerammnya.


Bimo memang kesal sikap Adlan yang semakin hari semakin tidak karuan. Ini bukan pertama kalinya ia mendengar dan melihat tingkah Adlan.


Tetapi karena orang tuanya dan adik semata wayangnya, Bimo masih menahan diri, asalkan Adlan tidak menyakiti siapa pun! Tapi kali ini tidak bisa ditoleransi lagi.


Seketika dokter datang. Hendak memeriksa ku.


"Bu, saya periksa dulu ya!"


"Maaf dok, bagaimana dengan kandungan saya?"


"Hamil!! Sayang kamu hamil?"


Bimo terkejut sekali ketika mendengar ku hamil. Mungkin Bimo belum melihat tes kehamilan yang ku selipkan ditas kerjanya.


"Iya, mas! Aku udah telah beberapa Minggu. Terus tadi pagi aku coba testpack dan hasilnya positif. Terus aku masukin kedalam tas kamu, biar bisa kejutan buat kamu! Tapi.. malah mas Bimo belum melihatnya!"


"Heehhe.. Ya ampun sayang maaf. Aku belum memeriksanya."


"Dokter tolong periksa kandungan Istri saya." Ucap Bimo Kepada Dokter!


Dokter kembali memeriksa bagian perut ku dan melakukan USG untuk melihat perkembangan janin ku.


"Selamat ya Bu. Usia kehamilan ibu memasuki enam Minggu. Kehamilan ibu masih rentang. Jadi sebaiknya ibu menjaga aktifitas ibu untuk keselamatan ibu dan bayinya."


"Terima kasih dok. Oh iya kapan istri saya boleh pulang?" Tanya Bimo yang merasa senang.


"Hari ini pak, kebetulan Bu Manda sudah membaik." Ucap dokter.


Memang Kondisi ku sudah membaik, hanya merasa sedikit pedih akibat luka dipergelangan tangan! Untungnya Allah masih melindungi aku dan bayiku. Kini hanya tinggal pemulihan saja!


****


Bimo sedang mengurus administrasi ku. Setelah selesai Bimo mencoba untuk menghubungi Harris untuk mengajak kakek Aryan kerumahnya.


Bimo tidak ingin meninggalkan aku dirumah besar itu bersama dengan Adlan. Apalagi sekarang aku sedang mengandung, Bimo semakin lebih berhati-hati dalam menjaga ku dan calon bayi ku.


.


.


Bimo kembali berjalan kekamar ku. Membuka pintu dan melihat ku yang sudah siap menunggu untuk pulang kerumah.


"Ayok sayang kita pulang kerumah."


Aku berdiri dan duduk dikursi roda. Bimo mendorong kursi roda sampai pintu keluar rumah sakit.


Diluar rumah sakit, mobil Bimo sudah menunggu pas didepan pintu keluar. Aku pun menaikinya. Perjalanan pulang yang begitu ditunggu oleh ku. Rasanya sudah tidak sabar untuk cepat sampai dirumah, merebahkan diri setelah kejadian tadi.

__ADS_1


__ADS_2