
Aku dan anak-anak pergi kerumah sakit dengan menaiki taxi online.
Dalam perjalanan kerumah sakit, perasaan ku semakin tidak karuan. Jantung terus berpacu dengan cepat. Memikirkan hal yang tidak-tidak.
Semoga saja hal yang buruk tidak menimpa mama Ainun.
Dirumah Sakit...
Taxi telah berhenti dipintu utama rumah sakit. Kami bertiga turun dan tidak lupa membayarnya.
"Bun, kita mau jalan kemana?" Tanya Sisil kepada ku!
"Sebentar ya."
Aku mengambil ponsel yang berada didalam tas. Kemudian melihat kembali isi pesan dari lek Ina.
"Kita tanya sama satpam disana ya?"
Aku berjalan menghampiri satpam yang diberdiri dipintu utama.
Setelah berada dihadapan pak satpam, aku pun bertanya. "Pak, maaf mau tanya ruang Mawar nomor empat belas dimana ya?"
"Lurus aja, belok kiri dan naik kelantai tiga. Ruang mawar disitu. Nanti tanya lagi aja."
"Baik pak. Terima kasih!"
Aku dan anak-anak berjalan sesuai arahan satpam tadi. Akhirnya kaki berhenti didepan ruang mawar. Masuk kedalam dan mencari kamar dengan nomor 14.
"Itu dia mah, kamarnya!" Ucap Sisil lalu berjalan mendekatinya!
Tok..tok..
Cekrekkk..
"Assalamualaikum!" Ucap bersamaan dan kami masuk kedalam.
"Waalaikumsalam!" Sahut pak Rizal yang sedang duduk!
Aku mencium tangan pak Rizal dan diikuti oleh kedua anak-anak!
Pak Rizal menangis ketika melihat kedua cucunya yang sudah lama tidak berjumpa.
"Lihat nenek!" Ucap pak Rizal dan tangannya menunjuk pada mama Ainun!
Mama Ainun terbaring lemah tak berdaya! Wajahnya terlihat pucat, tubuhnya sudah kurus sekali. Terpasang selang oksigen dihidungnya!
Aku memang sudah lama sekali tidak mengunjunginya. Karena kesibukan ku dengan keluarga baru ku.
"Maaf kan aku, ma! Karena sudah lama tidak mengunjungi mama sama bapak!! Mama cepat sembuh, disini ada anak-anak! Ayok ma, buka matanya!" Ucap ku pelan agar mama mau membuka mata! Tapi usaha ku sia-sia, mama masih saja tidur.
"Pak, apa yang terjadi sama mama?"
"Mama sebenarnya sudah sakit lama, tapi tidak pernah dirasa oleh mama! Mama tetap kuat menahan sakitnya, sampai bapak tidak tau kalau mama sakit!"
Pak Rizal terdiam sesaat, sepertinya pak Rizal tidak tega melihat istrinya sakit. Air matanya menetes akibat tidak tahan melihat penderitaan istrinya itu.
"Pak, mama sakit apa?"
"Kanker stadium lanjut! Mama awalnya periksa keklinik, hampir beberapa kali! Diagnosa hanya penyakit maag, tapi tak kunjung sembuh akhirnya dokter nyaranin untuk periksa kedokteran kandungan! Mama memberanikan diri untuk periksa kedokter kandungan. Hasilnya batu ginjal."
Pak Rizal berhenti sejenak untuk mengatur napasnya yang mulai lelah menceritakan penyakit istrinya! Tangannya mengambil segelas air putih yang ada dimeja! Lalu meminumnya!
Setelah dirasa cukup baik, akhirnya menceritakan kembali tentang mama Ainun.
"Setelah ketahuan penyakit batu ginjal. Mama dirawat untuk melakukan pengobatannya dirumah sakit yang lebih besar. Tapi setelah melakukan perawatan dirumah sakit besar dan melakukan beberapa tes hasilnya tidak ada batu ginjal!! Kemudian bertemu lagi dengan dokter kandungan hasilnya adalah kanker rahim stadium lanjut!!"
Aku membelalakkan mata karena terkejut mendengar penyakit mama yang ganas. Jantung ku berdebar kencang dan kaki ku lemas seketika.
__ADS_1
"Mama sudah dirawat disini berapa lama, pak?"
"Mama sebelumnya sudah dirawat dirumah sakit di Bogor lalu karena ketahuan penyakitnya ganas maka pindah ke Jakarta. Disini sudah dua Minggu tapi kondisinya makin makin mengkhawatirkan!"
"Mama bisa bangun kan pak?"
"Tiba disini, kondisi mama seperti itu."
"Bun, kapan kita pulang?" Tanya Aisyah yang sudah tidak betah lagi!
"Sebentar ya sayang!"
Cekrekkk..
Lek Ina dan om Sugi masuk kedalam ruangan. Kemudian kami saling bersalaman dan menguatkan satu sama lain akan keadaan mama Ainun.
"Terima kasih kamu dan anak-anak mau datang menengok mbak Ainun!" Ungkap lek Ina pada ku, yang berdiri dekat mama Ainun yang sedang terbaring lemah.
"Sama-sama lek!"
"Lek, mau bicara kita bisa bicara diluar!"
"Bisa."
Aku dan lek Ina berjalan keluar ruangan dan diikuti oleh kedua anak-anak!
Saat diluar ruangan, aku dan lek Ina duduk berdekatan. Kemudian wajah lek Ina tampak begitu serius sekali!
"Manda, mbak Ainun pingin sekali ketemu sama Abim, kamu dan anak-anak! Sekarang kamu dan anak-anak sudah ada disini! Berarti tinggal Abim! Bisa tolong kamu temuin Abim dengan mamanya! Itu permintaan mbak, sewaktu kondisinya masih baikan!"
"Waktu kapan, aku pernah bertemu dengan mas Abim! Coba nanti aku cari tau lagi sama tetangga sebelah rumah!"
"Bukan apa-apa Manda, takutnya mbak Ainun gak ada umur!"
Hiks..hiks..hiks..
Lek Ina menangis tersedu-sedu, memikirkan nasib kakaknya!
"Ya lek, aku akan berusaha untuk mencari mas Abim nanti!"
Tiba-tiba saja tangan Aisyah menyenggol-nyenggol tangan ku.
"Bun!" Panggil Aisyah kepada ku yang sudah tidak betah berlama-lama disini!
"Kenapa neng! Udah gak betah ya?" Tanya lek Ina karena melihat Aisyah sudah tidak sabar.
"Bentar, bunda mau ajak kong makan dulu!"
"Kalau makan, mas Rizal. Lek selalu bawain dari rumah. Kalau nemenin jaga, sama om Sugi tiap malam." Sela lek Ina.
"Bun, ayok.."
Kami semua akhirnya masuk kedalam ruangan. Bapak sedang tidur, karena terlalu lelah. Sedangkan om Sugi sedang duduk sendirian sambil membaca majalah.
"Om, aku sama anak-anak mau pulang dulu. Jika ada kabar tentang mama Ainun, tolong segera beritahu aku."
"Ya! Tengok mamanya ya! Kalau ketemu Abim tolong beritahu!!"
"Ya om!" Sahu ku lalu mencium tangannya.
Aku dan anak-anak, akhirnya pamit kepada lek Ina dan pak Rizal. Tidak terasa sudah setengah jam aku disini, hati pun semakin sore.
.
.
Aku dan anak-anak meninggalkan rumah sakit dengan menaiki taxi online untuk sampai kerumah.
__ADS_1
Perjalanan sore hari begitu macet. Karena berbarengan dengan orang pulang kerja.
"Bun.." Panggil Aisyah!
"Hemm!" Jawab ku yang hanya berdehem.
"Macet, lama!"
Aisyah memang tidak sabar. Apalagi harus berlama-lama ditempat yang tidak ia sukai. Aisyah lebih senang jika berada dirumah! Dalam perjalanan ada saja keisengan yang dibuat olehnya untuk menghilangkan kejenuhan!
Sedangkan Sisil sudah merasa gerah dengan sikap adiknya.
"Diam dek! Bunda..."
"Kalian berdua bisa diam gak? Nanti kalian bunda turunin!!"
Sopir taxi online itu hanya tersenyum melihat keduanya yang saling menganggu satu sama lain!
.
.
Suara adzan magrib berkumandang, tapi kami bertiga masih didalam taxi. Kemacetan membuat kami bertiga harus telat sampai dirumah.
"Bun, bagaimana?" Tanya Sisil.
"Kita berhenti didepan aja ya pak!"
"Kenapa Bu, kan belum sampai?"
"Iya pak, mau sholat magrib terlebih dahulu! Didepan ada masjid!"
"Siap bu!" Sahutnya.
Mobil akhirnya berhenti dipinggir jalan untuk menurunkan kami bertiga. Aku membayar taxi online tersebut dengan uang tiga puluh lima ribu rupiah. Kemudian berjalan masuk kemasjid untuk melaksanakan sholat magrib.
****
Selesai sholat kami bertiga berjalan keluar masjid.
"Bun, kita pulang naik apa?" Tanya Aisyah!
Dert ..dert..
Belum sempat menjawab pertanyaan Aisyah, aku langsung mengangkat panggilan dari Bimo.
"Assalamualaikum, mas!"
"Waalaikumsalam! Lagi dimana sayang?"
"Lagi dimasjid, belum sampai rumah!" Kata ku!
"Cepat pulang dan hati-hati ya! Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!" Jawab ku dan menutup panggilan telepon tersebut!
Tiba-tiba mata ku fokus pada satu orang yaitu Abimanan tiba-tiba saja, aku melihatnya! Tapi sayang, ia berada jauh diseberang jalan.
"Kalian berdua tunggu disini!" Perintah ku, lalu langkah kaki berjalan untuk menyeberang jalan dimana ada Abimanan.
Tapi sayang, ketika aku sampai disana! Abim sudah tidak ada! Mata ku terus mencari, tetap tidak bisa menemukan sosok Abimanan!
Mas, kamu dimana? Kembalilah kepada bapak sama mama! Mereka butuh kamu, mas! Batin ku.
...Happy Reading...
Jangan lupa like, rate, fav dan koment
__ADS_1
Hadiah dan vote juga boleh
...Terima kasih...