Sebuah Keputusan

Sebuah Keputusan
Abim vs Bimo


__ADS_3

Setelah Bimo menceritakan tentang siapa aku kepada orang tuanya. Ummi meminta waktu untuk lebih mengenal siapa aku lebih dekat! Bimo pun mengerti akan kekhawatiran ummi, karena memang ummi dan abi belum mengenalnya.


****


Sedangkan pak Rizal sudah empat hari dirawat, kondisinya berangsur membaik. Pak Rizal setiap malam ditemanin oleh istrinya. Sesekali keponakannya dan adik dari mama Ainun datang menengok pak Rizal.


Kalau aku tidak bisa datang setiap hari. Karena aku bekerja. Sesekali aku mampir setelah pulang kerja.


Seperti hari ini, setelah bekerja aku sengaja mampir kerumah sakit.


Dirumah sakit...


Aku berjalan sendirian melewati lorong rumah sakit. Berjalan perlahan sambil membawa buah-buahan ditangan kanan ku.


Ketika akan akan menaiki lift kelantai tiga. Aku bertemu dengan Bimo, Arif dan anak-anak. Tidak menyangka kalau mereka semua bisa ada disini!


Aisyah dan Sisil mencium tangan kanan ku. Mereka berdua tampak senang sekali padahal ini hanya kerumah sakit. Tapi hebohnya anak-anak tidak bisa dipungkiri lagi ketika hanya diajak keluar rumah saja. Mereka senang sekali.


"Bunda!" Panggil Aisyah sambil tersenyum kearah ku!


"Kok kalian berdua bisa ada disini?"


"Aku yang meminta mereka ikut, maaf tanpa seizin kamu! Biar pak Rizal bersemangat lagi dan cepat sembuh!"


"Iya mbak! Enggak apa-apa kan!" Timpal Arif!


"Iya enggak apa-apa!"


Pintu lift terbuka, akhirnya kami semua masuk dan menuju lantai tiga. Sampai dilantai tiga, kami masuk semua.


Cekrek...


"Assalamualaikum!" Ucap salam bersamaan saat kami semua masuk keruangan.


"Waalaikumsalam!" Kata mama Ainun dan menengokkan wajahnya kearah belakang.


Mama sangat terkejut ketika melihat anak-anak datang. Peluk dan cium untuk Aisyah dan Sisil membuat mama Ainun meneteskan air mata!


Pak Rizal hanya bisa melihat suasana haru tersebut! Ia tidak menyangka bahwa anak-anak akan datang.


"Manda, terima kasih! Ini jadi obat kangen buat mama sama bapak kepada Abim." Ucap Ainun air matanya tetap mengalir!


Dari hari pertama pak Rizal dirawat memang sama sekali Abim belum datang. Padahal aku sudah beberapa kali mengirim sebuah pesan kepadanya. Bahkan telepon pun sudah tidak terhitung. Hanya supaya Abim tau kondisi orang tuanya!


"Iya ma, ini semua idenya mas Bimo yang mengajak anak-anak kesini dan kebetulan sekali anak-anak juga mau!"


Mama memandang sosok Bimo! Memang sejak mengenalnya Bimo adalah pemuda yang baik. Pantas saja anak-anak menyukai Bimo.


"Terima kasih nak Bimo!"


"Sama-sama!" Jawab Bimo singkat!


Ketika semuanya asyik mengobrol, Sisil berbisik kepada ku.


"Bun, kakak haus. Beli minum yuk!"


"Ada apa kak, kok bisik-bisik sama bunda." Tanya mama Ainun.


"Ini ma!! Kakak haus, minta beli minum! Sekalian kita mau pamit ma! Maaf kalau gak bisa lama-lama!"


Mama pun mengiyakan dan Kami semua akhirnya pamit kepada pak Rizal dan mama Ainun.


****


Saat aku dikantin untuk membeli minum. Sisil dan Aisyah sedang bersama Bimo berdiri tidak jauh dari ku. Sedangkan Arif pergi ke toilet.

__ADS_1


Tiba-tiba saja ada sosok lelaki yang mendekati ku dan menarik tangan ku dengan cepat.


Aku mengikuti arahnya, karena tangan ku ditarik. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena dia membelakangi ku.


Lelaki itu berhenti dan melepaskan tangan ku. Kemudian membalikkan badannya kearah ku. Kami berdua saling berhadapan.


Aku terpenganga ketika melihat sosok lelaki yang tidak asing lagi. Dia adalah Abim.


"Mas, akhirnya kamu datang juga! Mama sama bapak sudah lama mengharapkan kedatangan kamu!"


"Kenapa kamu bawa anak-anak kesini? Ini tuh rumah sakit! Bukan mall, yang seenaknya kamu bawa anak-anak begitu saja!"


Abim berkata seperti itu karena Abim melihat anak-anak sedang bersama Bimo. Abim marah melihat kedekatan anak-anak pada Bimo. Sedangkan pada dirinya tidak!


"Mas, anak-anak disini bukan tanpa alasan. Lagian tumben-tumbennya kamu peduli sama anak-anak. Padahal selama ini kamu gak peduli kan?"


Abim mengerutkan dahinya ketika mendengar perkataan yang terlontar dari mulut ku. Abim binggung harus mencari alasan apa lagi supaya melarang anak-anak dekat dengan Bimo.


"Aku bilang karena aku peduli sama mereka."


"Maaf mas, dari pada kamu sibuk ngurusin anak-anak mendingan kamu tengok bapak. Bapak sama mama butuh kamu."


Aku pun langsung berjalan hendak meninggalkan Abim, karena minuman yang ku pesan pasti sudah jadi. Lagi pula aku enggan berlama-lama bersama Abim.


Tapi tangan Abim dengan cekatan membawa ku kehadapannya.


Aku berdiri begitu dekat dengannya dan saling berhadapan!


Spontan aku langsung memberontak dan mendorongnya. Kemudian aku berlari menjauh darinya.


Aku bersembunyi dibalik tembok. Menjauh darinya.


Dertt.... derrrtttt


Suara dering ponselku berbunyi, aku langsung mencoba mematikannya karena itu panggilan masuk dari Abim.


Menarik kedua tangan ku. Hingga sakit kurasakan dipergelangan tangan.


"Lepaskan mas, kita bukan muhrim lagi!" Kata ku dan mencoba melepaskan tangannya.


"Jawab aku Manda, ada hubungan apa kamu sama dia?"


"Mau ada hubungan atau tidak! Itu bukanlah urusan kamu! Kamu bukanlah suami ku lagi! Paham!"


"Aku akan bawa anak-anak ikut bersama ku. Tidak akan ku biarkan anak-anak ikut sama kamu?"


"Mau bawa anak-anak! Kemana aja kemarin.... kenapa baru sadar sekarang. Pura-pura peduli atau apa?" Kata ku kesal karena Abim sudah keterlaluan.


Abim berhenti berjalan, karena mendengar kata-kata ku. Lalu ia berdiri dihadapan ku.


"Manda, kamu yang menyebabkan aku jauh sama anak-anak! Kamu yang menginginkan kita berpisah. Ingat.. aku gak pernah sama sekali menginginkannya!"


"Cukup mas, aku capek ngeladenin kamu!"


Aku pun pergi berlari meninggalkan Abim, tapi Abim terus mengikuti ku. Disaat yang bersamaan Bimo sedang mencariku.


"Manda!" Panggil Bimo ketika melihat ku dengan napas yang terengah-engah!


"Mas!"


Aku sedikit lega karena Bimo menemukan ku. Kemudian aku berjalan mengikutinya sambil terus menengok kebelakang, takutnya Abim masih mengikuti ku!


Arif melihat ku dengan tatapan penuh tanda tanya, ia melihat seluruh baju yang ku kenakan basah dengan keringat.


"Mbak, apa semuanya baik-baik saja?"

__ADS_1


"Nanti saja ku ceritakan, ayok kita pergi!"


Dengan perasaan was-was aku akhirnya masuk kedalam mobil dan diikuti oleh yang lain.


****


Dalam peejalanan Kami semua menyempatkan untuk mampir diresto untuk membeli makanan untuk dirumah.


.


.


Setelah selesai membeli makanan diresto kami semua hendak melanjutkan perjalanan. Mobil Bimo berhenti karena ada mobil yang menghadang. Bimo pun turun dan melihatnya. Aku dan Arif turun dari mobil.


Kami bertiga berhadapan dengan Abim. Abim sangat nekad. Begitu beraninya memberhentikan mobil Bimo.


"Aku ada perlu sama Manda dan anak-anak!"


"Silahkan kalau ada perlu, tapi sebaiknya jangan disini! Kita bisa bicara sambil duduk dan minum kopi!" Sahut Bimo pelan.


"Dengar ya, saya ada perlu sama ibu dari anak-anak saya!"


"Mas, kita gak ngelarang mas mau ketemu sama anak-anak, tapi tolong yang sopan bahasanya dan gak usah pakai amarah!" Sahut Arif sabar!


"Bagaimana enggak marah, kalau kalian semua terus menghasut anak-anak untuk jauh sama ayahnya sendiri."


Abim semakin ngaco, kata-katanya semakin tidak terkontrol. Ia berkata-kata tanpa dipikir terlebih dahulu. Rasa cemburunya melihat aku dan anak-anak yang semakin dekat dengan Bimo.


"Ayo, mas! Kita cari tempat ngobrol yang enak sambil ngopi-ngopi." Bujuk Bimo.


Tapi Abim tetaplah Abim. Ia tidak bisa menahan emosinya dari dulu. Abim berjalan mendekati anak-anak.


Aku yang melihatnya dengan cepat, mencegah Abim untuk melihat anak-anak secara paksa.


"Bunda!" Teriak Sisil kencang memanggil ku.


Sisil tidak berhasil membawa adiknya keluar dari mobil, karena Abim terlebih dahulu mengendongnya keluar mobil.


"Mas, hentikan. Kamu mau bawa anak-anak kemana? Jangan gi*a kamu!"


Abim tetap nekad membawa Aisyah pergi walaupun berteriak. Ia memasukan Aisyah kedalam mobil.


Tapi itu semua dicegah oleh kami bertiga. Bimo dan Arif memaksa Abim untuk melepaskan Aisyah.


Bukkk..


Abim memukul Bimo dengan kencangnya.


Arif yang coba menahan Abim untuk berhenti agar tidak memukul Bimo malah dirinya terdorong kebelakang dan terjatuh.


Bimo tidak membalas pukulan dari Abim! Bimo masih bersabar dan mencoba untuk berbicara.


'Bim, tenang. Semuanya gak perlu pakai emosi. Sabar!" Ucap Bimo berkali-kali untuk menenangkan Abim.


"Sebaiknya kalian berdua gak usah ikut campur!" Balas Abim.


Tapi naas pukulan tetap mendarat di pipi Bimo.


Aku yang melihatnya tidak tega membiarkannya. Arif pun melawan dan coba membalas berkali-kali.


Hingga sampai pada saatnya Abim mulai lelah dan menghentikan pukulannya sendiri.


Abim akhirnya meninggalkan mereka semua tanpa membawa anak-anak.


Dengan luka lebam diwajah Arif dan Bimo, ini sudah membuktikan bahwa Abim tidak pernah bisa bersikap sabar dan menahan emosinya.

__ADS_1


Abim bukannya peduli pada orang tuanya malah sibuk mengurusi urusan ku yang bukan lagi haknya.


...Happy Reading...


__ADS_2