
...Kerinduan...
...Ayah di mana engkau berada...
...Di sini aku merindukan mu...
...Mengiginkan untuk bertemu...
...Merindukan akan belaian mu...
...Kasih sayang mu selalu ku rindukan...
...Engkau selalu hadir dalam mimpi ku...
...Mimpi yang begitu nyata bagiku...
...Menginginkan engkau besar...
...Tampa engkau di sisiku...
...Tampa engkau yang menemani Hari-hari ku...
...Karya: Niki Ayu Anggini...
...”""""""""""""""""""""""""""...
Dirumah ..
Jam 06.00 WIB
Setelah sholat shubuh bersama anak-anak, aku dan Bimo pergi untuk berolah raga bersama. Kami semua pergi kestadion yang dulu aku pernah berjualan. Tapi kali ini, aku kesana untuk berolah raga. Kami pergi dengan menaiki mobil Bimo.
Distadion....
Matahari pagi belum menampakkan sinarnya, suasana orang berolah raga masih terlihat sepi. Yang ramai hanya orang yang menjajakan dagangannya.
Aku dan Bimo berlari kecil, diikuti oleh anak-anak berlari dibelakangnya. Aisyah dan Sisil berlari sambil tertawa. Mereka berdua begitu senang.
Satu puteran stasion sudah cukup. Mengeluarkan banyak keringat yang basah dibaju. Sekarang waktunya untuk sarapan pagi.
Bimo mengajak anak-anak untuk memilih menu sarapan pagi. Aisyah ingin nasi kuning, Sisil maunya bubur ayam.
Bimo pun berkata .."Gak mungkin kan kalau kakak kesana terus adik kesana! Pisah dong? Ayok sepakati kita mau makan apa?"
"Ehmm.. ya udh Abi, kita makan bubur ayam aja!" Sahut Sisil yang mengalah.
"Yeeeayyy .." Teriak Aisyah yang kegirangan dan meloncat-loncat!
Kami semua berjalan menuju tukang bubur ayam yang berada di sebrang jalan. Dengan hati-hati Bimo menuntun anak-anak untuk menyebrang.
Sampai ditukang bubur, aku memesan empat porsi bubur ayam dengan sate ati ampela.
Bapak tukang bubur membawa empat mangkuk bubur ayam keatas meja. Kami berempat menikmati sarapan bubur ayam dengan lezatnya dan tidak lupa membaca doa sebelum makan.
Bubur terasa nikmat karena bubur ayamnya dimakan selagi panas, ditemanin dengan sate ati ampela dan sambal yang begitu pedas. Minumnya teh panas. Ehmm... begitumenggoda rasanya!!!
"Bun, jangan makan sambal terlalu banyak!" Kata Bimo yang melihat ku makan sambal begitu banyak.
__ADS_1
"Iya mas." Jawab ku dan melanjutkan makannya hingga habis.
.
.
Sarapan pun selesai, Bimo akhirnya membayar semua bubur yang dipesan kepada bapak penjual bubur ayam.
"Ini pak, ambil aja kembaliannya." Ungkap Bimo yang memberikan uang lima puluh ribu rupiah.
"Terima kasih pak." Jawab bapak penjual bubur ayam.
Kami semua berjalan kaki untuk sampai kearah parkir. Jaraknya lumayan dekat.
Sampai diparkiran, kami semua masuk kedalam mobil. Kemudian Bimo menyalakan mesin mobil dan melajukan mobilnya kearah rumah.
Dirumah ..
Jam 10.00 WIB
Setelah sampai anak-anak mandi untuk membersihkan diri dari keringat yang melekat ditubuh mereka. Setelah itu Aisyah pergi bermain kerumah temannya! Kalau Sisil sudah asyik dengan ponselnya. Ia akan berjam-jam menghabiskan waktu dengan bermain ponsel.
Aku dan Bimo membereskan rumah. Kerja sama yang kompak dilakukan kami berdua. Padahal aku bisa mengerjakan sendiri. Tapi Bimo memaksa.
****
Jam 14.00 WIB
Bimo dan aku sedang duduk bersama, berbincang-bincang mengenai rencana kami kedepannya.
"Aku mengerti kekhawatiran mas Bimo mengenai masalah rumah. Memang rumah ini kepunyaan Abim. Sampai saat ini mas Abim tidak mempermasalahkan soal rumah ini. Tapi disini ada hak anak-anak yang mas Abim perhatikan."
Bimo pun membalasnya. "Jangan khawatir, soal rumah. Kalaupun Abim tidak mempermasalahkan soal rumah dan akan tetap menjadi hak anak-anak. Aku hanya minta kalau kita tetap pindah. Rumah ini kita kontrakan aja! Uangnya bisa kamu simpan ditabungan atas nama mereka berdua. Aku hanya tidak ingin ada omongan di belakangnya, aku harap kamu mengerti!!"
"Iya mas, terserah kamu aja! Kemana pun aku akan ikut kamu!"
"Kalau aku terjun dari bukit, apa kamu mau ikut?"
"Haaaa."
Aku terkejut ketika Bimo mengatakan itu. Tapi apa Bimo malah tertawa dengan terpingkal-pingkal.
Ketika asyik berduaan, Aisyah datang dengan berlari dari arah luar. Aisyah mendekat dan duduk ditengah kami berdua.
Dengan napas yang terengah-engah, Aisyah mencoba menjelaskan kepada ku dan Bimo.
"Bun, ambil minum buat adek!" Suruh Bimo yang melihat Aisyah dengan napas yang terengah-engah karena habis berlari.
"Enggak usah Bun, aku gak apa-apa!"
Aisyah mengatur napasnya untuk memulai pembicaraannya. Setelah napasnya sudah tidak lagi terengah-engah, Asiyah mulai mengatakannya..
"Jadi begini, bunda ..Abi!" Katanya dan mulai menceritakan semuanya ketika sedang bermain.
Flashback on
Ketika Aisyah bermain dirumah Lulu. Disana juga ada teman yang lainnya. Ada Khanza, Ika, dan Naura.
__ADS_1
Mereka semua awalnya bermain bersama-sama dengan bermain boneka dan masak-masakan. Lama-kelamaan permainan mereka semua berganti menjadi ibu, bapak, kakak dan adik.
Semuanya tampak masih asyik bermain bersama. Sampai akhirnya ada salah seorang temannya bernama Khanza yang menanyakan sesuatu pada Aisyah.
"Ais, sekarang kamu udah punya ayah ya?"
Aisyah pun membalas perkataan Khanza. "Bukan ayah tapi Abi. Abi Bimo!!"
"Ais, itu kan sama aja! Mau Abi atau ayah! Sama aja kali!!" Balas Lulu.
Aisyah tetap pada pendiriannya, bahwa Abi dan ayah itu berbeda baginya. Dengan suara lantang Aisyah berkata. "Ayah ku Abim, tapi pergi gak tau kemana!! Abi ku, Abi Bimo, tapi sayang dan perhatian banget sama aku dan kakak. Bisa ngajarin aku belajar, bisa sholat bareng. Beda sama ayah!!"
Semuanya menatap Aisyah dan mendengarkan Aisyah bercerita panjang lebar mengenai sosok ayah Abim dan Abi Bimo. Menurutnya itu lah perbedaan antara ayah dan Abi.
"Ais, emang Abi Bimo itu bagaiman?" Tanya Naura yang ingin tau tentang sosok Abi Bimo.
"Samalah kaya ayah kalian! Sayangnya bukan main!!"
"Tapi kan, itu bukan ayah kandung kamu. Nanti kalau Abi sama bunda punya adik bayi. Kalian pasti dilupakan." Kata Naura yang tau karena pernah mendengarkan cerita dari orang tuanya.
"Sok tau kamu, Naura." Sela Lulu pada Naura yang berkata seperti itu.
Aisyah yang mendengar perkataan Naura menjadi diam. Padahal tadinya ia sangat bersemangat menceritakan soal Abi Bimo pada teman-temannya.
Aisyah tidak melanjutkan pembicaraannya. Aisyah membereskan semua mainan miliknya dan dibawa pulang.
Sebelum pergi Aisyah berpamitan untuk pulang kepada teman-temannya.
Flashback off.
Aku dan Bimo mendengarkan cerita Aisyah ketika bermain tadi. Raut wajahnya hanya tampak kelelahan sehabis berlari.
Bimo menjelaskan apa yang diceritakan oleh Aisyah barusan.
"Dek, adek memang bukan anak kandung abi. Tetapi rasa sayang dan perhatian Abi sama adek dan kakak sama seperti anak kandung abi. Gak akan berbeda walaupun nantinya Abi punya anak dari bunda. Jadi adek atau kakak gak perlu merasa bahwa Abi ini bukan abi kandung kalian atau merasa gak enak!"
Aisyah yang mendengarkan kembali tersenyum dan memeluk tubuh Bimo dengan eratnya!
"Satu hal lagi! Bagaimana pun sikap ayah Abim terhadap kakak sama adek. Abi mohon kalian berdua harus tetap hormat sama ayah Abim. Kalian gak ..."
Bimo belum menyelesaikan perkataan, tapi Aisyah sudah memotong pembicaraan Bimo.
"Engak mau, sampai kapan pun! Aku gak mau maafin ayah! Ayah Abim jahat!" Kata Aisyah yang marah dan masuk kekamar sambil membanting pintu kamar dengan kencang!
Brakkk...
Sisil yang mendengar Aisyah membanting pintu, lalu berteriak. "Adek, bisa pelan gak sih tutup pintunya!!"
Aisyah duduk disudut kamar. Ia menangis tapi hanya mengeluarkan air mata tanpa bersuara. Rasa kecewanya sudah tidak terbendung lagi. Disaat ia membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari seorang ayah. Ayahnya malah pergi entah kemana?
Bersambung..
...Happy Reading...
Like, rate, fav dan koment
...Terima kasih...
__ADS_1