
Pagi itu Aisyah dan Vano kembali melaksanakan tugasnya dirumah sakit. Sedangkan kong Rizal ditemani oleh kak Sisil dirumah sakit.
Disaat istirahat dikantin bersama dengan temannya, ada seseorang yang mencari Aisyah.
"Maaf bisa bicara dengan Aisyah."
"Aku Aisyah. Anda siapa?" Tanya Aisyah dengan melihat wajah seorang perempuan yang bermata sipit.
"Saya Mey adiknya Koko Vano. Bisa kita bicara berdua." Ungkap Mey.
"Kalau gitu aku pindah dulu kesana."
Arini yang sedang bersama Aisyah lalu bangun dari duduknya dan pindah ketempat lain. Diikuti oleh temannya yang lain juga.
Aisyah melihat temannya yang makan bersamanya lalu pindah kemeja yang disebelahnya.
Mey kemudian duduk dihadapan Ais. Wajahnya terlihat cantik, tapi kecantikannya terhapus oleh sifatnya yang tidak bersahabat dengan Aisyah.
"Hai Mey, apa ada yang bisa aku bantu?" Tanya Ais.
"Hemm. Sampai dimana hubungan kamu dengan koko?" Tanya Mey dengan ketusnya.
"Koko sangat serius dan berniat melamar ku."
Aisyah melihat ketidak sukaan dari wajah Mey. Entah apa yang membuat Mey tidak suka dengannya. Tapi untungnya Aisyah masih bersikap tenang.
"Apakah kamu tidak pernah berpikir kalau banyak sekali perbedaan diantara kalian berdua?"
"Banyak sekali perbedaan diantara kita dan ku sadari itu. Maaf apa tujuan Mey kesini. Bisa tolong langsung jelaskan intinya saja." Ucap Ais yang tidak ingin basa basi lagi karena jam istirahat hampir selesai.
"Ok.. intinya tolong jauhin Koko. Jangan pernah dekat lagi dengan Koko. Entah bagaimana pun caranya. Pikirkan saja sendiri."
"Boleh tau kenapa alasannya Mey. Bukan kah kami berdua bisa mengatasi semua perbedaan itu."
"Apakah kamu sadar, semua itu tidak mungkin."
"Maaf Mey, aku harus permisi." Kata Aisyah dan menyudahi semua makanan yang masih ada dimejanya. Tiba-tiba saja selera makannya menjadi hilang.
Aisyah lalu bangun dari duduknya dan pergi begitu saja dengan meninggalkan Mey sendirian.
Teman-temannya hanya bisa melihat kepergian Ais tanpa menghabiskan makanannya.
Mey yang ditinggal Ais hanya bisa merasa kesal. Tegurannya tidak diiyakan oleh Aisyah.
Kini ia pun pergi meninggalkan kantin.
.
.
Sedangkan Aisyah sudah berkumpul bersama teman-teman coass yang lainnya. Perasaannya sangat sedih tapi tidak membuatnya gentar akan hubungannya dengan Vano.
"Ais.. siapa yang tadi dikantin?" Tanya coass Arini.
"Bukan siapa-siapa! Aku permisi dulu!" Jawab Ais kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut dan berjalan untuk melihat kong Rizal yang berada diruang rawat.
****
Jam 13.30 WIB
Aisyah masuk kedalam ruangan kong Rizal. Diruangan itu ada kakaknya Sisil yang menemani sejak pagi tadi.
__ADS_1
Cekrek..
"Assalamualaikum." Ucap Ais saat masuk.
"Waalaikumsalam! Dek.."
"Kak bagaimana keadaan kong?" Tanya Ais sambil berdiri mendekat pada kong Rizal.
"Tadi kondisi kong sudah mulai membaik. Tapi makan belum mau!"
"Iya kak, coba kalau dirumah. Makan gak mau bagaimana bisa sembuh!" Sahut Aisyah.
Keduanya menatap sedih pada kong Rizal yang sudah tua. Disaat usianya yang sudah tua dan butuh mendapatkan perawatan dari anaknya tapi malah kejadiannya seperti ini.
Seharusnya anak dan menantunya bisa merawat kong Rizal yang sudah sepuh.
"Apa Bu Nurlela tidak mau kesini dan menengok kong Rizal?" Tanya Sisil yang kesal melihat tingkah ibu sambungnya.
"Entahlah. Kalau ayah sedang sakit. Mungkin tidak bisa kesini."
"Ayah dari dulu tidak pernah berubah. Dulu kamu sakit, boro-boro mau nengok dan merawat kamu. Sekarang kong Rizal sakit apa coba. Itu orang tua sendiri, dek!"
Sisil memang kesal melihat ayahnya tidak bisa mengutamakan keluarga disaat butuh sosok seorang ayah. Dulu mama Ainun sakit dan sampai meninggal ayah Abim juga tidak sempat untuk merawatnya. Kini disaat sudah bersama kong Rizal, ayah Abim juga tidak bisa merawat kong Rizal.
"Dek, ayah bilang alasan keuangan. Kalau hanya itu gak usah dijadikan alasan."
"Sudah kak. Gak usah diperpanjang! Kakak sudah makan belum?" Tanya Aisyah yang coba mengalihkan pembicaraan.
"Belum. Perut kakak gak lapar!"
"Ya sudah kalau begitu. Aku lanjut tugas dulu, nanti aku kesini lagi."
Aisyah yang sudah keluar kamar dan berjalan terus. Sebenarnya juga kesal dengan sikap ibu Nurlela. Tapi ia sedang malas menanggapinya. Ada yang harus ia selesaikan terlebih dahulu. Hubungannya dengan Abi adalah yang terpenting.
"Ais.. " Panggil Vano yang melihat Aisyah yang lewat dihadapannya.
Aisyah yang merasa dirinya dipanggil menengokkan wajahnya kearah Vano. Lalu tersenyum kepada Vano.
"Koko!"
"Hai.. dari tadi ku cari ternyata ada disini."
"Oh..!" Jawab singkat.
"Ada apa? Hanya oh." Tanya Vano yang melihat Aisyah tampak tidak bersemangat.
"Tidak apa-apa! Aku harus kembali bertugas. Permisi."
Aisyah bergegas meninggalkan Vano. Pikirannya sedang tidak tenang. Aisyah memilih untuk menghindari Vano sementara sampai keadaannya lebih tenang.
Aisyah kemudian melanjutkan tugasnya hingga sore harinya.
.
.
Jam 16.00 WIB.
Ais sudah menyelesaikan tugasnya. Kini ia berjalan sendirian menuju kamar yang dimana terdapat kong Rizal.
Tapi belum sampai tempat yang dituju. Ais bertemu dengan Bu Nurlela.
__ADS_1
Bu Nurlela juga hendak keruangan yang sama dengan Ais. Bu Nurlela yang melihat duluan Ais kemudian memanggilnya.
"Aisyah."
Aisyah menghendaki langkah kakinya dan melihat kearah suara. Dilihatnya Bu Nurlela yang sedang berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri!
Aisyah kemudian berjalan mendekati Bu Nurlela dan mencium tangannya.
"Ibu datang sama siapa?"
"Sendiri. Ayah kamu gak bisa diharapkan lagi. Ibu itu hanya mengurus orang sakit terus. Lama-lama ibu juga bisa ikut sakit." Celetuk Bu Nurlela dihadapan Aisyah.
"Kenapa ibu bisa berkata seperti itu. Bukannya ibu menikahi ayah untuk hidup dalam suka maupun duka."
"Ibu gak pernah berpikir akan hidup sesusah ini. Kalau tau begini mungkin .."
"Sesuatu yang dikerjakan secara tidak iklas maka tidak akan pernah berkah Bu." Kata Aisyah pelan dan masih menanggapi dengan sabar.
"Haaa.. kamu tau apa sih."
Perjalanan mereka berdua sampai dikamar kong Rizal.
Cekrek..
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Jawab Sisil.
Aisyah dan Bu Nurlela masuk kedalam. Sedang Sisil melihat Bu Nurlela dengan tatapan tidak suka.
Sisil tetap menghormati Bu Nurlela dengan mencium tangannya.
"Kak.. aku udah disini. Kakak bisa pulang."
"Mau pulang.. bentar ada yang mau ibu bicarakan dengan kalian berdua." Kata Bu Nurlela.
"Ada apa bu?" Tanya Sisil.
"Ini mengenai ayah kalian. Kalian sudah dewasa dan hidup enak. Apa kalian tidak mau untuk memberikan uang kepada ayah kalian. Ayah kalian sakit dan untuk berobat saja tidak bisa. Sekarang sudah tidak ada pemasukan lagi semenjak ayah kalian sakit."
Aisyah dan Sisil menatap wajah Bu Nurlela heran. Kenapa Bu Nurlela bukannya berusaha untuk membantu ayah Abim tapi malah meminta kepada mereka berdua.
"Sudah selesai bu!" Sindir Sisil.
"Belum... Kalian berdua terus saja memperhatikan suami bunda mu itu. Tapi gak pernah kalian perhatikan ayah kandung kalian berdua yang sedang sakit! Paham. Jika ada maunya, kalian baru datang pada ayah kalian." Omel Bu Nurlela.
Aisyah maju kemudian berkata kepada Bu Nurlela. "Seharusnya yang berhak berkata seperti itu bukan ibu. melainkan ayah. Tapi pada kenyataannya ayah diam, tidak marah ataupun komentar. Jadi .. apa masalahnya buat ibu. Seharusnya aku yang harus marah pada ibu. Karena ibu sebagai seorang istri tidak becus mengurus suami. Paham!!"
Bu Nurlela merasa terpojok dan diam tidak tau harus berkata apa lagi.
"Sudah Ais. Ini rumah sakit. Jangan diladenin!"
Ucap Sisil.
Ais mengepal tangan kanannya. Rasanya saat itu ingin memaki Bu Nurlela terus. Tapi apa daya, Ais harus bisa menahan emosinya. Karena kong Rizal sedang tidur.
Dengan penuh amarah akhirnya Ais meninggalkan kamar itu dan terus berjalan mengikuti langkah kakinya.
like, koment, fav rate
Terima kasih
__ADS_1