Sebuah Keputusan

Sebuah Keputusan
Tertangkap 2


__ADS_3

Kantor Polisi....


Taxi online telah berhenti didepan kantor polisi. Bimo mengeluarkan ongkos untuk membayar taxi tersebut dari dalam kantong celananya.


"Ini pak, ambil saja kembaliannya!" Ucap Bimo kemudian turun dari taxi.


"Terima kasih pak." Sahut sopir taxi tersebut.


Harris pun menyusul turun dan keduanya lalu berjalan masuk kekantor polisi.


Harris bertanya kepada salah satu polisi jaga saat dipintu masuk.


"Permisi pak. Maaf saya Bimo Yudistira dan ini Harris. Saya kesini atas panggilan dari kepolisian mengenai laporan tertangkapnya Adlan dan Reyna."


"Oh iya pak, silahkan masuk saja kedalam. Bapak sudah ditunggu."


"Baiklah. Kalau begitu saya permisi!" Ucap Harris dan Bimo bersamaan.


Keduanya masuk kedalam. Didalam telah menunggu KOMBESPOL Surya Adi Ningrat.


"Assalamualaikum. Selamat siang pak." Ucap Bimo kepada polisi yang sedang duduk.


"Waalaikumsalam. Siang juga pak. Silahkan duduk."


Bimo, Harris serta pak Surya duduk bersama. Terlebih dahulu Harris dan Bimo memperkenalkan dirinya.


"Perkenalkan nama saya Bimo Yudistira dan ini teman saya Harris. Harris ini yang melaporkan kasus tabrak lari yang menimpa istri saya kemarin."


"Oh iya iya! Tersangka telah ditangkap tadi pagi. Satu hal lagi, pak Harris juga menjelaskan bahwa tersangka Adlan ini juga telah dilaporkan di kantor polisi Jakarta karena mempunyai kasus lain. Apa itu benar?"


"Benar pak. Saya kesini hanya ingin memastikan terlebih dahulu. Setelah itu proses hukum akan saya serahkan kepada pengadilan dan nantinya saya juga akan membawa pengacara kesini!"


"Baiklah kalau begitu. Jadi tersangka akan dipindahkan ke Jakarta atau disini?"


Bimo pun menjawab! "Tetap disini saja. Oh iya pak, apa boleh saya bertemu dengan dua orang itu!"


"Tentu saja! Nanti diantar oleh anak buah saya!"


.


.


Bimo dan Harris menunggu diruang tunggu tahanan. Keduanya ingin bertemu bertemu dengan Adlan dan Reyna.


Tak lama Adlan datang dengan dua orang polisi dibelakangnya.


Wajah Adlan datar, tidak senyuman. Memandang dua orang yang sedang duduk menunggunya dan tidak asing lagi baginya.


Adlan duduk berhadapan dengan Bimo dan Harris.


"Ternyata kalian berdua yang telah menjebloskan saya kepenjara."


"Syukurlah kalau anda paham! Sudah cukup kesenangan anda untuk saat ini. Sekarang nikmatilah semua yang anda dapatkan atas perbuatan selama ini." Kata Bimo sambil menahan rasa amarahnya yang hampir meluap-luap.


Adlan, tersenyum lebar. Senyumannya seraya mengejek dua orang yang sedang duduk di hadapannya.


"Kita lihat saja. Siapa yang akan menang kali ini?" Kata Adlan dengan tenang, padahal dirinya sedang diambang kehancuran.


Tangan Bimo mengepal, kesabarannya sedang diuji. Bimo berharap dirinya tidak ikut terpancing emosi.

__ADS_1


"Tertawalah Adlan untuk saat ini, karena sebentar lagi. Senyuman itu hanya milik kami!"


Sindir Bimo.


"Adlan, saya hanya mengingatkan bahwa bukti dan saksi sudah kami miliki. Jadi jangan harap anda bisa menikmati udara bebas diluar sana." Ucap Harris yang memegang semua bukti kejahatan Adlan.


Polisi tiba, obrolan mereka terhenti karena polisi datang dan membawa Adlan masuk kedalam. Kini giliran Reyna yang dibawa untuk bertemu dengan Bimo dan Harris.


Reyna menatap heran kedua lelaki yang duduk dan menatap kearahnya. Kemudian Reyna duduk dikursi yang telah disediakan.


"Mas Bimo!"


"Ya..ini saya Reyna! Sudah lama ya.. kita tidak jumpa. Saya gak menyangka kalau kita dipertemukan ditempat seperti ini." Ucap Bimo datar kepada Reyna.


"Untuk apa mas Bimo datang kesini?"


"Kenapa kamu tega meninggalkan istri saya dirumah sakit. Apa salahnya, terhadap kamu? Apa karena dia lebih sukses daripada kamu, nasibnya lebih beruntung. Jawab?" Teriak Bimo pada Reyna.


A..aku melakukan itu atas suruhan mas Adlan. Maaf mas Bimo. Tolong bebaskan aku! Maafkan aku! Aku mohon mas!" Pinta Reyna terus menerus membujuk Bimo agar mau membebaskannya


Reyna tidak diam begitu saja. Reyna terus merayu Bimo dengan memegang tangannya sambil memohon dan menangis agar kesalahannya dimaafkan dan dibebaskan.


Hiks...hiks hiks...


Bimo yang sadar tangannya telah dipegang oleh Reyna, langsung melepaskan begitu saja.


"Cukup .. berapa banyak tetesan air mata yang mengenai wajah mu tidak akan membuat ku tersentuh. Jika ingin meminta maaf, mintalah pada Allah SWT." Ucap Bimo yang cuek dan tidak meladeni Reyna.


Bimo berdiri lalu pergi meninggalkan Reyna dan diikuti oleh Harris dibelakangnya.


"Mas, tunggu! Dengarkan penjelasan ku!"


Reyna akhirnya pergi dibawa oleh dua orang polisi wanita untuk kembali ke sel.


.


.


Bimo dan Harris sudah keluar dari kantor polisi. Kini mereka berdua sedang menunggu taxi online untuk kembali kebandara.


Lima menit menunggu, taxi online pun datang. Mereka berdua naik.


Sopir pun akhirnya menjalankan mobilnya menuju bandara dengan kecepatan sedang.


Dalam perjalanan terjadi perbincangan antara dua orang tersebut.


"Ris, siapkan pengacara yang terbaik untuk menangani kasus ini. Aku tidak ingin kita kalah dalam kasus ini."


"Ok."


"Satu hal lagi cerita semua mengenai Adlan dan tunjukan semua bukti yang kita punya. Begitu juga dengan Reyna walaupun dirinya hanya terlibat saat kecelakaan Manda. Aku tidak ingin dia lolos. Aku ingin Reyna mendapatkan pelajaran juga dalam hal ini."


"Ok Bim."


"Harris, dari tadi jawabnya ok. Awas kalau gak beres. Ku potong gaji mu."


"Hehehe ...iya Bim!" Sahutnya sambil terkekeh!


Keduanya terus berbincang. Sampai keduanya tidak menyadari, kalau perjalanan keduanya telah sampai di bandara.

__ADS_1


"Pak sudah sampai!" Ucap sopir itu.


Bimo dan Harris menghentikan pembicaraan dan melihat kearah sopir.


"Oh sudah sampai ya pak!" Ucap Harris.


"Iya pak!"


"Berapa ongkosnya pak?" Tanya Bimo dan tangannya mencari dompet yang ada didalam tasnya.


"Delapan puluh ribu."


"Ini pak ambil aja kembaliannya." Sahutnya yang memberikan uang seratus ribu rupiah!


"Terima kasih!"


Bimo dan Hariis keluar dari mobil dan tempat yang mereka cari saat ini adalah masjid atau musholla untuk melakukan sholat ashar yang hampir habis waktunya.


****


Di Jakarta


Dirumah...


Jam delapan malam Bimo dan Harris telah sampai di Jakarta. Harris pulang kerumahnya. Begitu juga dengan Bimo.


Sesampainya di rumah. Orang yang pertama kali dicari adalah istrinya.


Bimo membuka pintu kamarnya dan dilihatnya aku yang sedang duduk sambil mendengarkan headset ditelingga.


Aku tidak menyadari kedatangan Bimo, karena telinga ku sedang memakai headset dan mata ku pejamkan.


Bimo menyentuh tangan ku. Seketika aku tersentak kaget dan membuka mata. Melihat wajah suami yang ku rindukan sejak tadi.


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam, mas kamu udah datang?"


"Iya, lagi dengerin apa sih. Sampai suami datang nggak tau!" Ledek Bimo.


"Ehmm... ini aku lagi dengerin lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an."


"Kamu mau dengerin aku baca ayat-ayat Alquran?"


"Maukah." Jawab ku singkat dan senang sekali.


"Kalau gitu aku mandi dulu. Terus kita sholat berjamaah baru nanti aku baca Alquran."


"Ya mas."


Bimo langsung berjalan kekamar mandi dan mandi untuk menghilangkan keringat setelah seharian beraktifitas diluar.


Barulah setelah itu, Bimo akan sholat isya berjamaah dan membaca Alquran untuk menenangkan hatinya yang sedang kesal. Mungkin dengan cara ini dapat meredam amarahnya sedikit demi sedikit.


...Happy Reading...


Mau like, rate, fav dan komentarnya


Vote atau hadiah boleh😁😁

__ADS_1


Trima kasih atas dukungannya, terus dukung author yaπŸ™πŸ™


__ADS_2