
Dirumah mama Atika....
Jam 10.00 WIB
Hari ini ada acara syukuran, dirumah mama. Mama mengadakan acara syukuran tujuh bulanan Widya.
Mama sengaja mengundang pengajian ibu-ibu, para tetangga, orang tua Widya dan sanak saudara. Banyak yang membantu mama. Padahal semua diserahkan oleh catering untuk makanan dan snacknya, jadinya mama tidak terlalu repot.
Tetangga yang datang kerumah mama, ada yang membawa kue, buah bahkan amplop yang berisi uang.
Mama sangat baik dengan tetangga, jadi para tetangga begitu juga terhadap mama.
Mama Atika juga mengundang orang tua Bimo untuk datang keacara mama.
.
.
Ibu-ibu pengajian, orang tua Bimo, keluarga serta orang tua Widya mulai berdatangan. Mereka duduk ditempat yang telah disediakan.
Acara dimulai dan Salah seorang ibu membacakan susunan acara.
Acara pertama adalah kata sambutan dari yang punya hajat mama Atika mewakilkan dari Widya dan Arif.
Pengajian.
Siraman. Siraman atau mandi merupakan simbol upacara sebagai pernyataan tanda pembersihan. ...
Memasukkan telor ayam kampung ke dalam kain calon ibu oleh sang suami. ...
Memasukkan kelapa gading muda. ...
Memutus lawe / lilitan benang / janur. ...
Ganti busana. ...
Rujakan.
Setelah acara demi acara telah dilaksanakan. Yang terakhir adalah pembagian nasi box dan Snack untuk para tamu.
Ibu-ibu pengajian satu persatu mulai pulang. Kini hanya tinggal orang tua Bimo, orang tua Widya seta keluarga yang masih ada.
Abi, Arif dan Bimo berbincang bersama. Ada saja yang mereka perbincangkan.
.
.
Tak lama kemudian orang tua Widya pun pulang. Para saudara juga ikut pulang satu persatu. Tinggal ummi, abi, Bimo yang masih berbincang bersama dengan mama dan Arif.
Sedangkan aku masih sibuk membereskan semuanya. Sisil dan Aisyah baru saja datang dari rumah setelah semua orang sudah pada pulang.
"Assalamualaikum." Ucapnya bersamaan.
"Waalaikumsalam." Jawab kami bersamaan yang sedang berada didalam.
Anak-anak mencium tangan semuanya yang sedang duduk.
"Om Bimo! Ada disini?" Tanya Asiyah ketika melihat Bimo ada.
"Iya dek.. Kok gak kesini dari tadi kemana aja kalian berdua?"
"Dirumah!" Jawab Aisyah!
__ADS_1
Ummi memperhatikan Aisyah yang begitu dekat dengan Bimo. Betapa manjanya anak kecil itu. Seperti ayah dan anak.
"Aisyah kok begitu. Om Bimo kan capek!" Kataku ketika melihat Aisyah begitu manja dan duduk dipangkuan Bimo.
"Enggak ya, om!" Jawab Aisyah.
"Adek sama kakak makan dulu yuk." Suruh ku karena keduanya memang belum makan siang.
Sisil beranjak dari tempat duduknya kemudian ia mengambil makan dimeja makan.
"Ummi, Abi dan mas Bimo Ayuk makan dulu. Sudah disiapkan dimeja. Mari silahkan."
"Ayo mas, kita makan dulu. Nanti kita lanjutkan berbincang-bincang!"
Semuanya mengambil makanan dimeja makan dan menikmati makan bersama. Baru kali ini ku rasakan kebersamaan.. Semuanya tersenyum bahagianya.
****
Jam 15.35 WIB
Setelah melaksanakan sholat ashar bersama. Kami semua berkumpul bersama.
Abi memulai pembicaraannya terlebih dahulu.
"Saya selaku orang tua dari Bimo mau membicarakan maksud dan tujuan kami, yang bukan hanya sekedar tamu undangan diacara ibu Atika sekeluarga. Bimo sudah menceritakan sedikit banyak mengenai niatnya pada kami. Yaitu niatnya memperistri Amanda."
Deg deg..
Spontan jantung ku berdetak kencang tidak menyangka. Tentang apa yang dikatakan oleh abi. Aku mencoba mencubit tangan ku, Kalau saja ini hanya mimpi.
Aaaaww. Ucap ku pelan.
Ini tidak mimpi, sakit! Mas Bimo mau? Tidak mungkin, lagian mas Bimo tidak pernah mengutarakan isi hatinya pada ku! Batin ku.
"Saya tidak menyangka kalau nak Bimo ini menaruh rasa pada Manda. Karena memang perkenalan Bimo dan Manda itu cukup singkat. Tapi saya kenal siapa Bimo. Saya bersyukur sekali, kalau nak Bimo mempunyai niat baik buat Manda. Mama mendukungnya tapi semua itu kembali lagi sama Manda."
Semua orang tertuju pada ku. Menanti sebuah jawaban?? Aku sendiri binggung harus memutuskan apa? Sakit hati dan luka itu masih membekas dihati bahkan belum sepenuhnya hilang. Kegagalan dalam rumah tangga membuat ku takut akan memulai suatu hubungan. Apalagi disini ada anak-anak!!!
Hening
Hening
"Bagaimana ndok, mereka semua menunggu jawaban kamu??" Kata mama.
Aku menunduk, binggung harus memberikan jawaban apa. Tiba-tiba saja Bimo mengatakan sesuatu!
"Sudah .. aku akan memberikan waktu untuk Amanda berfikir. Ini keputusan yang sulit apa lagi Manda pernah gagal dalam membina suatu hubungan dan ditambah ada anak-anak! Jadi biarkan saja Manda berfikir kembali." Ungkap Bimo panjang.
"Bagaimana Manda?" Kata Ummi.
"Sebelumnya terima kasih kepada abi, ummi dan mas Bimo. Yang sudah mempunyai niat baik untuk ku. Terima kasih! Ehmm... jujur!! Abi, ummi dan mas Bimo, masih mau menerima segala kekurangan ku dan dengan statusku seperti ini! Itu diluar dugaan. Terima kasih juga kalian memberikan kesempatan untuk ku berpikir dan menjelaskan kepada anak-anak!"
Air mata ini jatuh membasahi pipi ku, tapi kali ini tangisan ku bukalah kesedihan melainkan tangis kebahagian.
Bimo memberikan tisue yang berada didekatnya kepada ku. Lalu aku menerima dengan tangan ku dan mengelap air mata ku ini.
"Baiklah kalau itu keputusan mbak Manda, saya mewakilkan mama dan juga mbak Manda. Semoga mas Bimo dan keluarga menerima keputusan mbak Manda. Insyaallah mbak Manda akan memberikan keputusan yang tebaik buat dirinya dan anak-anak! Amiin!" Kata Arif dengan pelannya.
"Baiklah, kalau itu keputusan kamu untuk saat ini, Abi sama ummi akan menunggu keputusan kamu selanjutnya." Sahut Ummi!
"Bu Atika, Arif kami mohon pamit dan terima kasih atas jamuannya!"
"Sama-sama, Abi dan ummi. Nak Bimo, Terima kasih sudah mau berkunjung kerumah kami yang kecil ini!"
__ADS_1
.
.
.
Setelah kepergian ummi, Abi dan Bimo. Mama dan Arif menanyakan tentang jawaban ku.
"Bagaimana mbak dengan mas Bimo?"
"Bagaimana apanya, Rif? Bukannya jawabannya nanti!" Ungkap ku.
"Iya mbak! Maksud ku bagaimana mas Bimo itu?"
"Sebenarnya sih mas Bimo baik, sopan dan agamanya yang pasti!"
"Mama udah kenal siapa Bimo, jadi mama berharap sih kamu bisa jadi sama Bimo dan membuka diri untuk Bimo. Tapi bagaimana dengan anak-anak ya, kakak sama adek mau menerima Bimo apa nggak ya?" Kata mama yang ragu apakah anak-anak dapat menerima Bimo.
Kalau dilihat Aisyah begitu dekat dengan Bimo tapi apakah Sisil juga sama. Bukannya anak-anak selalu mendapatkan cerita yang buruk tentang bapak tiri dan ibu tiri yang jahat dari mantan mertua ku. Batin ku terus berpikir.
"Itu dia ma, yang sedang aku pikirkan. Nanti aku akan mencoba berbicara perlahan dengan anak-anak!"
Untung saja anak-anak sedang tidak ada disini jadi mereka tidak mendengar obrolan orang tua tadi. Biarlah nanti aku saja yang menjelaskan kepada mereka. Mengenai hasilnya kuserahkan kepada Allah. Karena hasil akhir ada ditangan Allah SWT, manusia hanya bisa berdoa dan berusaha jadi yang menentukan hasilnya Allah!
****
Dirumah..
Jam 19.00 WIB
Ketika anak-anak sedang pergi mengaji. Aku membaca Alquran didalam kamar.
Dert..dert..
Ponsel ku berbunyi. Ku menyudahi membaca Alquran dan ku ambil ponsel yang tergeletak diatas kasur!
Panggilan video call pun tersambung!
"Assalamualaikum!" Ucap salam ku dan melihat wajah mas Bimo, kepalanya terbalut peci dan baju Koko berwarna putih.
"Waalaikumsalam! Maaf Manda, apa aku menganggu kamu!"
Aku memang masih memakai mukena sehabis sholat magrib dan belum sempat ku ganti karena langsung membaca Alquran!
"Ada apa mas?"
"Mengenai tadi, maaf kalau aku langsung membicarakan dengan mama tanpa memberitahukan kepada kamu mengenai perasaan ku sebenarnya!"
"Ehmm...soal itu. Tidak mengapa mas."
"Itu saja yang ingin ku sampaikan kepada kamu!"
"Iya mas! Mas Bimo sedang apa?" Tanya ku karena Bimo begitu rapih sekali ketika dirumah.
"Aku sedang mengajar seorang yang mau menjadi mualaf! Kenapa?"
"Oh aku kira mas Bimo mau kemana?"
"Ya sudah Manda, selamat malam dan Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!"
Aku pun mengakhiri panggilan video call tersebut. Kali ini perasaan ku campur aduk. Bahagia tapi ada rasa takut yang terus menghantui ku dalam berumah tangga! Apakah karena kegagalan ku dalam berumah tangga yang menyebabkan sebuah trauma!
__ADS_1
...Happy Reading...