Sebuah Keputusan

Sebuah Keputusan
Pisah Rumah


__ADS_3

Jiwa Besar Mampukah?


Tak ada yang lebih berat bagi ku


dari sebuah PENGHIANATAN.


Namun sungguh aku tak pernah


membiarkan diriku berpikir,


untuk mencelakai


orang yang pernah bersalah padaku,


sebesar apapun kesalahan dan dosanya.


(Rasail Ibnu Hamz : 1/210)


...💕💕💕...


Aku dan Abim bertengkar dengan sangat hebatnya. Pertengkaran kali ini terjadi karena persoalan yang sama yaitu Reyna.


Aku memutuskan untuk mengambil langkah berpisah dari Abim. Keputusan ku sudah bulat!!


Yang ku pikirkan saat itu adalah perpisahan jalan satu-satunya untuk menyelesaikan masalah. Menghindari pertengkaran rumah tangga yang hampir terus menerus gara-gara orang ketiga.


Mengenai biaya untuk persidangan sudah terlintas di benakku. Belum ada biaya untuk mengurus persidangan, yang penting aku berpisah dulu dari Abim baru setelah itu memikirkan rencana selanjutnya! Pikir ku.


.


.


Sedangkan Abim juga pada keputusannya sendiri sampai kapan pun, tidak akan pernah mau berpisah dan berurusan sampai ke pengadilan. Apalagi sampai mengeluarkan biaya untuk perceraian.


****


Saat pertengkaran terjadi...


Aku yang nekat untuk mengakhiri hidup ku dan mengambil sebilah pisau saat sedang bertengkar dengan Abim.


Lelah dan kesal karena aku terus ditekan oleh Abim untuk menerima orang lain masuk dalam rumah tangga ku dengan Abimanan.


Semua itu tidak mudah bagi ku untuk menerima, mungkin bagi Reyna dirinya mau untuk dipoligami. Tapi bagi ku tidak!!!!


Sudah cukup lama, aku diam dan bersabar. Memberi kesempatan kepada seorang Abimanan, suami ku! Agar bisa tetap mempertahankan aku dan anak-anak dan meninggalkan perempuan itu! Tapi pada kenyataannya, Abim tetap pada keputusannya.


.

__ADS_1


.


.


Abim yang panik karena melihat tangan ku sudah memegang pisau. Lalu dengan cepat merebut paksa dari tangan ku.


Tidak lama kemudian bapak dan ibu mertua ku datang untuk melerai agar tidak terjadi yang tidak diinginkan.


Pisau pun berhasil direbut oleh Abimanan dan dilemparkan begitu saja. Adu mulut pun terjadi antara pak Rizal dan Abim.


Abim kesal dan sangat marah sekali. Amarahnya sudah tidak terbendung lagi. Ditariknya taplak meja. Hingga gelas, piring, dan lain-lainnya yang berada diatas meja terjatuh kelantai semuanya.


Prankk....


(Suara piring dan gelas yang terjatuh kelantai)


"Bunda.." Teriak bersamaan Sisil dan Aisyah yang ketakutan.


Pak Rizal sangat emosi, karena melihat tingkah anaknya yang kelewat batas. Pak Rizal pergi keluar rumah, hendak meminta tolong pada tetangga. Karena kemarahan Abim yang susah dikendalikan.


Mama Ainun berusaha menenangkan anaknya, sedangkan aku hanya terdiam dengan jantung yang berpacu sangat kencang. Aku ingin berusaha menenangkan Abim tapi apa daya, kedua anakku memeluk erat dan menarik tubuh ku sangat kencang, menjauh dari ayahnya yang sedang marah.


Sore itu menjelang magrib. Abim bagai orang yang sedang kerasukan. Susah dikendalikan.


..


Pak Rizal datang dengan para tetangga. Datang masuk kedalam rumah. Melihat mama Ainun yang sedang menenangkan Abim. Sedangkan aku berada diluar rumah bersama dengan anak-anak.


Bapak-bapak masuk satu persatu kedalam rumah. Ada yang menenangkan Abim yang sedang marah. Ada juga yang membersihkan pecahan gelas dan piring.


.


.


Selang setengah jam..


Bapak-bapak berhasil menenangkan Abim. Abim duduk dilantai. Baju yang ia kenakan telah robek, akibat ditarik olehnya. Seluruh tubuhnya basah dengan keringat yang mengalir ditubuh Abim.


"Istifar, pak Abim!" Ucap salah satu bapak yang datang kerumah.


Abim hanya diam. Kemudian ia mengatur napasnya yang mulai terengah-engah akibat kelelahan. Wajahnya hanya menunduk. Malu akan kedatangan tetangga kerumahnya!


Sedangkan Ainun yang sedang duduk didekat Abim, mengelap keringat yang mengucur ditubuh anaknya! Jantungnya masih terdengar kencang sekali.


Tidak lama kemudian, suasana langit mulai gelap. Jam sudah menunjukkan pukul enam sore! Sebentar lagi waktunya adzan Maghrib.


Para tetangga berpamitan untuk kembali pulang kerumah masing-masing! Mama Ainun dan pak Rizal mengucapkan terima kasih kepada tetangga.

__ADS_1


.


.


Setelah kepergian tetangga rumah. Kedua anak-anak masih takut untuk masuk kedalam. Bahkan kedua tangan ku dipegang oleh Aisyah dan Sisil. Jantung mereka juga masih berdetak kencang. Aku masih bisa mendengar detak jantung mereka. Sangat takut. Itu yang mereka rasakan saat itu.


Tiba-tiba keluar Abim dengan membawa tas dan pergi begitu saja. Tanpa pamit atau mengatakan sesuatu kepada ku dan anak-anak!


Setelah kepergian Abim, aku dan anak-anak masuk.


"Assalamualaikum!" Ucap salam mama Atika ketika masuk kedalam rumah.


"Waalaikumsalam!" Ucap secara bersamaan!


"Masuk bu!" Panggil mama Ainun!


Mama ku pun duduk mendekat kearah ku. Lalu dirinya bertanya tentang apa yang terjadi. "Tadi, ada yang memberitahu mama. Tentang yang terjadi disini barusan. Sebenarnya ada apa ndok?"


"Tadi Manda bertengkar dengan Abim, lalu memegang pisau. Saya dan bapaknya melihat mereka bertengkar dan ada pisau ditangan Manda. Akhirnya kami berdua berusaha melerai agar kejadian yang tidak diinginkan terjadi. Malah kenyataannya Abim marah besar. Hingga seperti ini!" Celetuk mama Ainun.


"Kenapa ndok! Pikiran kamu itu pendek! Kasihan anak-anak. Kasihan mama udah tua suruh ngurusin anak kamu!" Omel mama Atika pada ku.


Aku hanya menunduk. Aku tau saat itu, adalah perbuatan yang salah, dengan apa yang aku lakukan. Seharusnya, aku harus bisa lebih sabar menghadapi cobaan seperti sekarang! Allah tidak akan menguji umatnya melebihi kemampuan umatnya!


...✨✨✨✨...


Nabi Shalallahu'alaihi Wasalam bersabda..


yang artinya "Barang siapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu, ia akan diadzab dengan itu dihari kiamat." (HR. Bukhari no 6105, muslim no 110).


...✨✨✨✨...


Dua Minggu, kemudian setelah kejadian hari itu. Abim, tetap tidak memberi kabar kepada ku. Menghilang!!


Aku disini, bersama anak-anak! Dirumah, seperti ada sesuatu yang hilang. Sepi! Hampa! Tapi terasa damai, tidak lagi terdengar suara pertengkaran ku dan Abim!


Sisil yang sudah mengerti mengenai permasalahan ayahnya. Tidak ambil pusing ada ayahnya atau tidak! Sedangkan Aisyah yang awalnya bersikap biasa. Lama-lama sering menanyakan. Dimana ayah aku, bun!


Aisyah memang dekat dengan ayahnya, seringkali bersikap biasa jika ada ayahnya. Tetapi jika tidak ada, ia akan menanyakan ayahnya.


Apalagi itu akan terasa saat melihat anak seusianya pergi dengan ayah dan bundanya! Wajah Aisyah akan langsung sedih kemudian menangis.


Dua anak yang mempunyai sifat yang berbeda. Tapi itulah mereka yang selalu mengisi hari-hari ku yang hampa. Yang selalu membuat aku bersemangat untuk menjalani cobaan hidup yang begitu pahit.


Aku masih bersyukur, setidaknya masih ada anak-anak yang selalu membuat ku tersenyum. Tapi Abim telah kehilangan anak-anak dengan mementingkan egonya. Tanpa melihat kebahagian untuk buah hatinya.


Entah apa yang terjadi pada Abim saat ini. Ia tinggal dimana? Sedang apa? Itu masih saja terlintas dibenak ku. Tapi ku yakin, semua ini lambat laun akan terbiasa hidup tanpa dirinya dan aku harus bisa.

__ADS_1


Saat ini yang ku lakukan adalah berpikir untuk masa depan ku dan langkah apa yang harus ku ambil? Bukan meratapi kesedihan yang terjadi secara terus menerus.


__ADS_2