
Lima bulan telah berlalu...
Yudha belum bisa mengambil keputusan untuk menceraikan istrinya Sisil. Tapi tuntutan untuk mempunyai keturunan selalu diminta oleh orang tuanya. Apalagi setelah keputusan yang diambil oleh orang tua dari Yudha untuk meminta Aisyah menjadi istrinya Yudha. Hal itu membuat Yudha semakin serba salah.
Akhirnya Sisil harus pisah rumah dengan Yudha. Walaupun berat untuk melepaskan suami, tapi ini adalah hal yang terbaik.
Vano tanpa sepengetahuan Ais ternyata sudah menjadi seorang mualaf. Ia memang menghindari dari Aisyah karena untuk memantabkan ilmu agamanya.
Aisyah tetap menjaga hatinya untuk Vano seorang. Belum bisa move on dari lelaki yang selalu memberinya kasih sayang dan perhatian.
Banyak lelaki yang sedang mencoba untuk mendekatinya, tapi Ais sellau menjauh.
Kenzi berkumpul bersama lagi dan bersekolah dipesantren milik abinya.
...--------------...
Dirumah...
Jam 15.00 WIB
Ketika mereka semua sedang berkumpul bersama.
Kedatangan Bu Sulis dan pak Zein kerumah Abi Bimo sangat mengejutkan mereka semua.
"Maaf kalau kedatangan kami semua kesini tanpa memberitahu terlebih dahulu." Ucap pak Zein.
"Mari silahkan duduk!" Sahut Abi yang sudah merasakan sesuatu yang tidak enak.
"Mbok tolong buatkan minum untuk tamu." Suruh bunda.
"Baik." Sahut mbok Darmi dan berlalu pergi kedapur.
"Pak Bimo dan Bu Manda perkenalkan ini pengacara saya namanya pak Bastian." Ungkap Bu Sulis memperkenalkan kepada semuanya.
Pengacara untuk apa. Apakah benar-benar mas Yudha akan menceraikan aku. Lalu kata-katanya untuk setia, semuanya bohong belaka! Batin Sisil yang kecewa jika Yudha berniat untuk menceraikannya.
Abi dan bunda memandang sinis keluarga Zein. Mereka sangat tidak tau malu, tidak punya perasaan. Pernikahan bagai mainan buat mereka.
Mbok Darmi datang dan membawakan minuman untuk tamu. Lalu diletakkan diatas meja. "Silahkan minum bapak, ibu, mas."
"Terima kasih." Jawab Bu Sulis garang.
"Maaf kalau boleh tau, maksud kedatangan kalian kemarin ada apa. Apalagi dengan membawa pengacara kesini." Ucap Abi.
"Maaf, sebaiknya aku kekamar saja. Ayok Ken!" Kata Ais dengan mengajak Kenzi.
"Kamu disini saja, karena ini ada hubungannya dengan kamu!" Sela Bu Sulis.
__ADS_1
"Aa ..aku. Maksudnya?"
"Begini ..pak bu! Saya mau mengambil sebuah keputusan untuk kepentingan anak-anak kita bersama. Pertama, saya tidak akan meminta Yudha menceraikannya Sisil tapi asal Sisil mengijinkan adiknya untuk menikah dengan Yudha. Kedua, kalau Sisil keberatan. Maka Yudha akan menceritakan Sisil terlebih dahulu baru menikahi adiknya Sisil. Bagaimana pak?" Ucap Bu Sulis dengan pedenya.
"Apa?" Teriak bersamaan Abi dan bunda.
Ingin rasanya Ais berteriak dengan kencang dan memaki orang tua Yudha. Tapi Ais tidak melakukannya.
Masih ada orang tuanya yang akan membelanya. Memarahi sikap konyol kedua orang tua Yudha yang seenaknya saja mempermainkan pernikahan.
Abi menarik napas panjang. Kemudian Abi berkata dengan langtangnya. "Sampai kapan pun keputusan saya tidak akan berubah. Saya tidak akan mengizinkan Ais menikah dengan suami kakaknya. Dan kalau pun pernikahan Sisil dan Yudha harus berakhir. Itu memang harus berakhir. Sama halnya dengan anda yang tetap mepertahankan keputusan yang anda punya."
"Kamu Yudha sebagai lelaki gak tegas, gak punya pendirian. Ini pernikahan kamu. Mau senang, susah kamu harus bisa atasi berdua. Jangan karena anak saya gagal untuk kasih kamu keturunan, sekarang kamu kasih kenyataan yang pahit untuknya. Saya gak akan pernah maafin kalian semua!" Ucap bunda kesal dan sangat emosi sekali.
Abi berusaha menenangkan bunda yang sangat kesal. Aisyah lalu berdiri mendekat kearah bunda.
"Bunda.. sabar bun!" Ucap Ais dan mengajak bunda untuk tetap tenang.
"Lebih baik kalian pergi saja. Kalau hanya kedatangan kalian bikin masalah!" Omel Kenzi.
"Ken, tenang." Sahut Abi.
Yudha hanya diam dan menunduk saja. Tidak berani menentang apa kata orang tuanya! Perasaan takut terhadap orang tua yang membuatnya tidak bisa mengambil keputusan untuk dirinya sendiri.
Sisil menangis. Baru saja keadaannya benar-benar pulih. Sekarang ia harus mendapatkan cobaaan untuk dirinya dan keluarganya.
Suasana yang tadinya tenang, kini menjadi tegang. Semua orang menjadi bersih tegang. Tak bisa dibicarakan lagi dengan baik. Karena niat mereka tidak lah baik.
"Tenang saja pak Bimo. Saya akan suruh Yudha talak Sisil sekarang juga. Tidak usah khawatir!" Ucap pak Zein ketus.
Pak Bastian mengeluarkan beberapa kertas untuk Yudha dan Sisil tanda tangani, setelah mendapatkan perintah dari Bu Sulis dan pak Zein.
"Ini pak semua sudah siap!" Kata pak Bastian.
"Yudha cepat tanda tanganin dan ucapkan talak." Suruh pak Zein.
Yudha membisu dan tangannya gemetar ketika memegang pulpen.
"Yudha cepat!" Bentak pak Zein.
Yudha tersentak kaget ketika mendengar pak Zein berteriak dengan kencang.
"Sil, maaf. Sil .. saya talak kamu. Mulai hari ini, kamu bukan istri saya lagi." Ucap jelas Yudha walaupun itu semua tidak diinginkan olehnya.
Abi tidak tega melihat anaknya diperlakukan seperti itu. Lalu menghampiri putrinya yang terdiam dan menangis. Tidak sepatah kata pun terucap dari bibirnya Sisil. Seakan pasrah pada keadaan yang sedang menimpanya.
Abi memeluk tubuh Sisil dan memberi kekuatan. "Kamu tidak sendiri sayang."
__ADS_1
Bunda memeluk Aisyah dengan erat. Kenzi juga mendekat pada kakaknya dan memberi kekuatan.
Suasana haru pun terjadi diruangan itu. Tapi tidak berlangsung lama. Karena orang tua Yudha memberikan kertas yang sudah ditanda tangani oleh Yudha. Kertas itu berisi tentang perceraian.
"Ini suruh anak anda yang tidak bisa hamil itu tanda tangan." Ucap Bu Sulis dengan ketusnya.
"Astagfirullah allazim. Cukup! Anda semua keluar dari rumah saya dan jangan pernah injakan kaki lagi disini. Saya akan urus semuanya kepengadilan. Anda tidak perlu khawatir!? Cukup anda menghina putri saya. Keluarrrrr!"
Lagi-lagi Abi marah dan kesal. Karena sudah keterlaluan sekali. Memaki dan menghina Sisil.
"Pak Bimo. Kenapa anda membela terus anak itu. Padahal ayahnya saja tidak peduli. Sadar pak, Sisil itu bukan anak kandung bapak!" Ejek pak Zein.
"Cukup.." Teriak Abi dan seraya ingin mendaratkan sebuah pukulan kewajah pak Zein yang terus saja mengoceh sejak tadi. Tapi sayang, Abi terjatuh kelantai. Karena tiba-tiba saja merasakan sakit dibagian dadanya.
"Abi..." Teriak semuanya bersamaan.
Semuanya mendekat dan berlari kearah Abi. Menolong Abi dan berteriak memanggil namanya.
"Abi bangun! Abi." Teriak bunda yang takut terjadi sesuatu pada Abi.
Aisyah segera menolong Abi Bimo yang ketika itu sudah tidak sadarkan diri.
Sedangkan keluarga Yudha sudah pulang semua.
"Kita harus bawa kerumah sakit. Ken siapin mobil." Suruh Ais cepat.
Aisyah panik, kemudian berjalan mengambil ponselnya yang ada dikursi. Lalu mencoba menghubungi satu orang yaitu Vano.
Panggilan pun tersambung!
"Ko, Abi. Abi..Abi pingsan."
"Ya Ais jangan panik. Cepat kerumah sakit. Aku menunggu disini!" Sahut Vano.
"Iya!"
Lalu kembali mendekat kearah bunda dan Sisil.
"Kak, Bun. Kita bawa Abi kerumah sakit."
"Kak, mobilnya udah siap!" Kata Kenzi.
"Iya, mbok tolong!" Teriak Ais untuk meminta bantuan mengangkat Abi kemobil.
Semua mengangkat Abi masuk kedalam mobil dan ikut mengantar Abi kerumah sakit. Sedangkan mbok Darmi menjaga rumah.
bersambung dibab selanjutnya!!
__ADS_1
...Happy Reading...
Jangan lupa like setelah membaca