Sebuah Keputusan

Sebuah Keputusan
Apa kata Mereka?


__ADS_3

Sudah seminggu aku belum juga memberi jawaban kepada Bimo. Aku menunggu waktu yang pas bersama anak-anak untuk membicarakan dengan mereka. Barilah setelah itu dengan mantan mertua ku.


.


.


Ditaman Safari


Jam 09.00 WIB.


Kebetulan hari ini adalah hari libur ku. Aku sengaja mengajak mereka pergi ketaman safari.


Hari ini ada sesuatu yang ingin ku ceritakan dengan mereka berdua. Bagaimana pendapat mereka mengenai sosok Bimo dan apakah anak-anak setuju jika Bimo menjadi ayah sambung untuk anak-anak.


Aku tidak akan memaksakan kehendak mereka. Apa pun keputusan anak-anak adalah yang terpenting. Aku hanya ingin kebahagian untuk ku, juga untuk anak-anak.


****


Sesampainya ditaman safari, mereka berdua tampak bahagia sekali. Senyum manis merekah terlihat, diwajah mereka berdua.


Canda tawa mewarnai liburan kami kali ini.


.


.


Kami bertiga menaiki bis untuk berkeliling melihat satwa yang bebas berkeliaran.


"Bun, coba lihat. Itu harimau! Ada lagi disana!" Kata Aisyah yang begitu bersemangat memperhatikan hewan dari dalam mobil.


"Ya dek. Kamu senang!"


"Senang banget! Terima kasih ya bun!"


"Ya!"


Kalau untuk Sisil, ia lebih banyak Selvi untuk diunggah dimedia sosial miliknya. Anak yang satu ini memang tidak bisa jauh dari ponselnya. Dikit-dikit yang dipegang dan dicari adalah satu benda itu.


.


.


Tidak terasa sampai pada bis pemberhentian terakhir, menikmati perjalanan melihat hewan berkeliaran bebas dari dalam bis. Selanjutnya adalah menikmati beberapa aktraksi dari hewan-hewan yang lucu dan mengemaskan.


Aku pun mengikuti Aisyah yang sudah tidak sabar untuk menontonnya.


Sedangkan Sisil merasa lelah, ia hanya ingin makan siang. Tapi Aisyah enggan untuk makan. Keduanya saling bertengkar antara kakak dan adik. Tapi untungnya mereka mengerti ketika ku jelaskan.


Sisil akhirnya mengalah untuk mengikuti kemauan adiknya. Barulah nanti makan siang.


****


Semua aktraksi telah ditonton oleh anak-anak. Kini saatnya mengisi perut yang sudah keroncongan.


Aku mengajak anak-anak untuk makan siang, yang lokasinya pun tidak jauh dari restoran.

__ADS_1


Kami bertiga duduk kemudian aku pun memesan makanan dan minuman.


Disaat sedang santai, aku memberanikan diri untuk memulai pembicaraan mengenai Bimo.


Sebelum memulai, aku mengucapkan basmallah dalam hati. Agar aku diberi kemudahan untuk menjelaskan maksud ku kepada anak-anak.


Bismillahirrahmanirrahim


Pesanan pun datang. Pelayan membawa makanan dan minuman untuk kami bertiga. Semuanya diletakkan diatas meja.


Setelah selesai pelayan pun pergi.


Aku melanjutkan pembicaraan ku kepada anak-anak.


"Menurut kalian om Bimo bagaimana?"


"Om Bimo baik, sayang..apa lagi ya!!" Kata Aisyah sambil berpikir lagi tentang Bimo.


"Kalau kakak, jawabannya gak jauh beda dari adek. Tapi sayang dia bukan ayah kita. Coba kalau ayah seperti om Bimo. Alhamdulillah banget.."


Sisil mengatakan dari lubuk hatinya. Sisil telah dewasa jadi mengerti bagaimana perlakuan ayahnya terhadap ku, Sisil dan Aisyah.


Lalu bunda mau tanya. "Menurut kalian apa arti ayah sambung buat kalian?"


"Apa?? Ayah sambung. Emangnya ayah sambung itu apa sih?"


Aisyah belum mengerti arti ayah sambung. Yang ia ketahui adalah ayah tiri. Sambil terus berpikir tangannya tetap memegang sendok dan diisi oleh nasi dan ayam goreng.


"Ayah tiri atau ayah sambung mempunyai arti yang sama."


Suasana yang ramai seketika menjadi hening. Anak-anak terdiam, entah apa yang dipikirkan oleh mereka. Aku hanya terus memperhatikan keduanya.


Mereka menunduk, tidak satu katapun terlontar dari mulut mereka. Makanan yang tadinya disantap dengan lahapnya kini hanya dimainkan oleh sendok dan garpu, tanpa dimakan.


"Ok..kita alihkan pembicaraan yang barusan. Sepertinya kalian berdua tidak setuju kalau bunda menikah lagi. Bukan begitu?"


Tidak ada jawaban lagi. Semuanya tampak sama seperti tadi.


"Hallo sayang, kalian tidak suka bunda menikah lagi. Ok! Bunda gak akan memaksa. Sekarang, lebih baik habiskan makannya. Lalu kita sholat. Bagaimana menurut kalian?"


"Kakak udah selesai!" Ucap Sisil kemudian bangun dari tempat duduknya dan berjalan keluar.


Aisyah menatap kepergian kakaknya. ia mengerti sepertinya Sisil kurang suka jika aku menikah lagi.


"Bun, jangan sedih. Kakak enggak marah sama bunda."


"Ya sayang, bunda gak sedih kok. Kamu tunggu disini. Bunda mau bayar dulu."


Aku pun pergi kekasir untuk membayar makanan dan minuman tadi. Setelah selesai aku dan Aisyah pergi menyusul Sisil yang berada diluar.


Ku lihat Sisil yang sudah menunggu ku dari tadi. Lalu ku berjalan mendekatinya.


"Kakak, ayok kita sholat dulu."


Sisil mengikuti langkah ku. Kami bertiga berjalan menuju musholla yang tidak jauh dari restoran.

__ADS_1


Suasana dimusholla itu cukup ramai. Karena memang waktunya untuk sholat Dzuhur. Untung saja aku membawa mukena.


Kami bertiga mengambil wudhu. Setelah itu sholat secara bergantian. Karena aku hanya membawa mukena satu saja.


.


.


Setelah selesai sholat dzuhur, aku mengajak anak-anak kembali berjalan. Aisyah melihat wahana permainan yang ada disekitar taman safari Indonesia.


Aisyah meloncat kegirangan, ia ingin sekali naik kewahana permainan. Sedangkan Sisil sejak tadi hanya diam.


"Kakak, mau naik permainan tidak?" Tanya ku dan melihat Sisil yang menampakkan wajahnya yang cemberut!


"Enggak!"


"Ya udah Bun, adek aja!" Sela Aisyah yang tidak sabar ingin menikmati wahana permainan tersebut!


Akhirnya aku mengantar Aisyah untuk membeli tiket permainan. Sisil hanya duduk menunggu saja.


.


.


Aisyah puas menikmati semua permainan sendirian. Sedangkan Sisil tidak.


Pada kesempatan itu aku mendekati Sisil dan mencoba untuk mengobrol dengannya.


"Kakak, marah sama bunda?"


Kedua bola mata Sisil menatap ku. Lalu ia berkata dengan pelan. "Enggak bun! Maaf, kalau tadi aku bersikap tidak sopan!"


"Lalu apa boleh bunda tau alasan kakak pergi begitu saja."


Sisil terdiam sejenak kemudian ia melanjutkan pembicaraannya. "Iya bun! Tadi hanya kaget aja. Sebenarnya om Bimo, baik, sopan. Terus agamanya!"


Aku sedikit tenang! Sisil ternyata juga menyukai sosok Bimo. Tapi ..kalau untuk menjadi ayah bagi mereka. Aku belum mengetahuinya!


"Selanjutnya apa?" Kata ku dengan jantung yang berpacu cukup kencang!


"Kakak cuma takut, kalau bunda menikah. Nanti suami bunda gak sayang sama aku dan adek!"


Deg..deg..


Ku dengar kata-kata itu keluar dari mulut anak kecil yang sedikit lagi menginjak remaja. Ketakutan itu adalah hal yang wajar! Sama halnya dengan ku.


"Ehmm... kakak mau mengenal om Bimo lebih dalam dan mau memberi kesempatan sama om Bimo!"


"Kakak tau om Bimo baik, tapi kakak takut!"


Sisil terdiam tidak melanjutkan pembicaraannya! Aku tidak memaksanya lagi. Setidaknya aku akan memberi kesempatan untuk anak-anak lebih mengenal sosok Bimo lebih mendalam!


Cukup aku mengetahui siapa Bimo dimata anak-anak!


****

__ADS_1


Hari semakin sore, akhirnya kami bertiga memutuskan untuk pulang kerumah dengan menaiki taksi.


__ADS_2