Sebuah Keputusan

Sebuah Keputusan
Langkah Awal Vano


__ADS_3

Sebulan kemudian..


Vano sudah lama sekali tidak pulang kerumah orang tuanya. Dengan langkah yang berani, Vano harus meminta restu kepada orang tuanya.


Cekrek ..


Ketika sudah membuka pintu rumah, Vano melangkah masuk kedalam rumah. Dilihatnya papa Sony dan mama Susanti sedang duduk sambil menonton tv. Sedangkan keberadaan adiknya tidak terlibat saat itu.


" Selamat siang Ma ..pa!"


Keduanya menengokkan wajahnya kesamping. Melihat Vano yang sedang berdiri dan dengan wajah yang tersenyum lebar.


Sedangkan wajah kedua orang tuanya tidak ada sedikitpun terlihat senyuman. Yang ada wajah masam.


Papa Sony lalu berdiri dan menghampiri anaknya yang sedang berdiri.


Plakk..


"Tidak tau malu. Masih saja berani menampakkan wajah kesini." Teriak dengan sangat marah dihadapan Vano anaknya.


Vano hanya diam tidak membalas perkataan papanya. Vano menerima semua perkataan pahit yang ditujukan untuknya.


Mama Susanti tidak tega sebenarnya tapi rasa kecewa terhadap anak lelakinya membuat rasa kasihan itu hilang dan tergantikan dengan rasa amarah yang begitu mendalam.


Mama Susanti pun maju dan berdiri pas dihadapan anaknya.


"Kamu bukan bagian dari keluarga kita lagi. Jadi untuk apa kamu kesini. Jangan pedulikan kami lagi. Kami mau sakit atau pun bahagia, bukan urusan mu lagi. Cepat pergi dari hadapan kami. Pergi!"


"Maaf ma.. pa.. kalau Vano telah membuat mama.. papa kecewa. Sekali lagi Vano minta maaf! Tidak ada maksud Vano untuk membuat mama papa sedih!" Ungkap Vano.


Papa Sony kesal, lalu dengan kedua tangannya menarik paksa tangan Vano. Menyuruhnya untuk pergi keluar dari rumah papa Sony.


Karena tubuh Vano yang kekar dan tinggi membuat papa Sony kewalahan untuk mengeluarkan Vano dari rumahnya. Akhirnya papa melepaskan tangannya dari tangan Vano.


Dengan napas yang terengah-engah, papa berhenti sejenak untuk mengatur napasnya.


Vano hanya melihatnya. Kemudian Vano pamit dari rumah kedua orang tuanya karena memang kehadirannya sudah tidak diinginkan lagi dan diharapkan lagi.


Yang terpenting baginya, ia sama sekali tidak pernah membenci ataupun marah kepada orang tuanya! Mungkin suatu saat orang tuanya bisa menerimanya dikemudian hari!


Dengan wajah yang sedih, Vano harus pergi meninggalkan rumah. Padahal langkah kakinya sangat berat untuk melangkah keluar rumah.


Vano terus memandang dari kejauhan wajah kedua orang tuanya yang sangat ia rindukan.


Tapi Vano harus terus melangkah keluar rumah, karena ia sudah tidak diinginkan dirumah ini lagi.


.


.


Vano yang sudah berada didalam mobil terus pergi meninggalkan rumah orang tuanya.


Dalam perjalanan ..kini yang ada dalam pikirannya adalah menyusun rencana untuk masa depannya bersama Aisyah.


Bagaimana agar dirinya bisa membahagiakan Aisyah dimasa depan. Membuat impiannya satu persatu terwujud.


Saat otaknya sedang berputar memikirkan rencana untuk masa depannya. Matanya melihat kesudut jalan. Dimana terdapat Sisil yang sedang bersama Yudha.


Rasa penasaran dari Vano pun ada. Vano memberhentikan mobilnya dipinggir jalan. Kemudian matanya fokus kearah Sisil. Jaga-jaga kalau Sisil diperlakukan tidak-tidak oleh Yudha.


.

__ADS_1


.


Vano menunggu didalam mobilnya sekitar setengah jam, akhirnya apa yang ditunggu oleh Vano pun terjadi juga.


Terjadi perdebatan diantara Sisil dan Yudha sehingga membuat keduanya bertengkar hebat dan menyebabkan Sisil menangis.


Vano pun turun dari mobilnya hendak menolong Sisil. Kemudian berjalan terus kearah Sisil.


Vano yang sudah berada dihadapan Sisil lalu dengan cepat menarik tangan Sisil, supaya lepas dari tangan Yudha.


Yudha segera melihat dengan sorot mata yang mengarah kearah Vano dengan tatapan mata sinis. Lalu melangkah kedepan tepat dihadapan Vano berdiri. Tangannya maju dan mendorong dada Vano dengan sangat kencangnya. Hingga tubuh Vano terdorong kebelakang.


Sisil yang melihat kenekatan Yudha menjadi terkejut! Lalu berteriak dengan sangat kencangnya!


"Sudah cukup..sudah.. hentikan!"


Yudha menghentikan aksinya kepada Vano. Kini matanya beralih kearah Sisil.


"Sil, ayok ikut aku. Kita bisa bicarakan ini baik-baik?"


"Cukup mas, aku sudah memutuskan dan jangan paksa aku!" Jawab Sisil.


"Maaf mbak. Sebaiknya aku antar mbak pulang. Kebetulan aku mau kesana." Sela Vano yang merasa khawatir dengan keadaan kakak Aisyah!


"Gak usah biarkan aku sendiri." Sahut Sisil spontan lalu langkah kakinya meninggalkan mereka berdua.


Vano yang melihat kepergian Sisil lalu pergi meninggalkan Yudha. Vano bergegas naik kedalam mobil. Kemudian melajukan mobilnya mengikuti Sisil yang pergi dengan menaiki taxi.


.


.


Ternyata arah tujuan Sisil adalah rumahnya sendiri.


Kemudian Vano turun dari mobil dan menutup pintu mobil perlahan.


Sisil yang melihat lalu dengan cepat masuk kedalam rumah.


Cekrek...


Setelah Sisil masuk kedalam. Vano mengetuk pintu dan mengucapkan salam.


Sisil yang mendengar hanya menjawab salam dan memanggil adiknya untuk membuka pintu.


"Dek."


Aisyah bergegas membuka pintu dan melihat Vano datang.


"Koko." Panggil Ais.


Vano tersenyum dan masuk kedalam. Aisyah mempersilahkan Vano untuk duduk dikursi.


"Ko..Koko serius mau ketemu sama Abi dan bunda. Sudah pikirkan semuanya?"


"Ya tentu saja, sudah! Makanya aku datang kesini." Jawab Vano santai.


"Ehhm..aku panggil bunda sama Abi dulu ya!"


Aisyah berjalan kekamar orang tuanya. Disana Abi sedang beristirahat.


Tok..tok..

__ADS_1


Cekrek...


"Abi .. bunda. Aku kira sedang tidur."


"Enggak sayang. Ada apa?" Tanya bunda.


"Itu Bun, Abi ada Koko Vano mau ketemu sama Abi dan bunda." Kata Aisyah malu-malu.


"Oh.. secepat itukah." Jawab bunda.


"Bunda ayo kita ketemu dengan pemuda itu." Ajak Abi Bimo kepada bunda.


Kemudian ketiganya melangkah keluar kamar dan berjalan menuju rumah tamu. Disana Vano sudah menunggu sejak tadi dengan perasaan tegang.


Dari kejauhan Vano tersenyum ketika melihat orang tua Aisyah berjalan mendekat kearahnya.


Kemudian Vano memberanikan diri untuk menjabat tangan kedua orang tua Aisyah.


"Silahkan duduk." Suruh Abi.


Ketika semuanya sudah duduk akhirnya Abi memulai untuk berbicara.


"Silahkan jelaskan maksud kedatangan nak Vano kerumah ini."


"Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Abi dan bunda yang sudah memberikan kesempatan kepada saya untuk menjelaskan niat baik saya. Hubungan saya kepada Aisyah Putri Abi dan bunda, ingin dilanjutkan kejenjang yang lebih serius. Kalau boleh dan diizinkan saya berniat ingin memperistri Aisyah!" Kata Vano dengan jantung yang berdetak kencang, tapi ada perasaan lega karena sudah bisa mengungkapkan isi hatinya.


Asiyah yang duduk tidak jauh dari Vano, hanya menunduk dan diam. Memberi kesempatan kepada orang tuanya untuk mengambil sebuah keputusan yang terbaik untuk Aisyah!


"Saya kagum dengan keberanian kamu. Saya acungin jempol atas semua tindakan yang kamu lakukan untuk hubungan kamu dengan Aisyah! Tapi apakah kamu sudah memikirkan masak-masak semua keputusan yang kamu ambil?" Ucap Abi kepada Vano dengan suara lantang.


"Semua keputusan sudah saya ambil. Segala sebab dan akibat sudah saya pikirkan, insyaallah ini semua atas izin Allah."


Vano menjawab pertanyaan Abi Bimo tanpa keraguan. Semuanya telah dipikirkan. Vano hanya berdoa dan berharap jika semuanya akan baik-baik saja!


"Baiklah kalau begitu! Saya sebagai orang tua sambung Aisyah memberikan restu untuk kalian berdua. Hanya pesan saya bahagiakan Aisyah jangan pernah sakiti dia. Jika ada masalah bicarakan lah berdua. Satu hal lagi mintalah restu pada Ayah kandung Aisyah!"


"Alhamdulilah, terima kasih Abi." Sahut Vano dengan senyuman yang terukir diwajahnya.


"Bagaimana dengan kamu bun?" Tanya abi kepada istrinya.


"Bunda setuju aja, kalau Abi setuju. Asalkan adek bahagia. Bunda juga ikut bahagia. Tolong jangan pernah sakiti hati Aisyah!" Ucap bunda menangis karena terharu.


"Yeaaayy akhirnya kak Aisyah akan menikah!" Teriak Kenzi kegirangan.


Suasana yang tegang dan haru kini menjadi ramai dan santai karena mendengar suara teriakan Kenzi.


"Kenzi." Panggil Abi.


"Maaf Abi..hehe.." Sahut Kenzi.


Kenzi pun berlalu pergi. Kemudian Abi melanjutkan pembicaraannya kembali.


"Lalu bagaimana dengan restu orang tua kamu Vano. Apakah mereka merestui kamu dan Aisyah?" Tanya lagi Abi dengan rasa ingin tahu!


"Sepertinya tidak, tapi saya akan terus berusaha."


"Kalau juga tidak direstui bagaimana?" Sela bunda kepada Vano.


"Saya akan tetap menikahi Aisyah walaupun tidak mendapatkan restu!"


"Kami berdua memberikan restu, tapi sebaiknya kalian tetap berusaha." Kata Abi memberi semangat!

__ADS_1


"Iya abi." Sahut Aisyah.


Akhirnya Aisyah mendapat restu dari Abi dan bunda. Sekarang Aisyah dan Vano hanya tinggal meminta restu dari Ayah Abim dan orang tua Vano.


__ADS_2