
Dirumah Sakit..
Jam 19.30 WIB..
Aku baru saja selesai melaksanakan empat rakaat. Ku lepaskan mukena yang ku pakai.
Lalu kembali duduk disamping putri ku, Aisyah. Menatap wajahnya yang sudah mulai tersenyum. Sudah tiga hari, Aisyah dirawat. Kondisinya sudah semakin membaik.
Tapi, Abim belum juga datang menjenguknya! Untungnya sikecil tidak menanyakan tentang ayahnya.
Syukur alhamdulilah, aku masih dikelilingi oleh teman, keluarga dan orang tua yang selalu mendukung ku. Termasuk Ainun dan Rizal.
"Bun.."Panggil Aisyah yang sedang memainkan game diponselnya.
"Adek kangen sama ayah!"
"Adek, mau bertemu sama ayah. Maaf ya, ayah belum sempat menengok adek dirumah sakit. Mungkin besok!" Jawab ku berusaha menenangkan Aisyah agar tidak terlalu kepikiran bahwa ayahnya belum sempat datang!
Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki mendekat, membuka gorden yang menutup, sebagai pembatas antar pasien.
"Assalamualaikum!" Ucap salam Arif dan seorang lelaki yang tidak asing lagi.
"Waalaikumsalam!" Aku dan Aisyah menjawab salam.
"Mas Bimo!"
"Manda!" Kata Bimo.
Arif melihat keduanya yang saling kenal, tidak menyangka bahwa aku mengenal teman yang datang bersamanya!
"Kalian berdua saling kenal, mbak?" Tanya Arif melihat kearah ku.
"Ehmm.. iya, Rif! Kalau kamu sama mas Bimo, kok kebetulan banget bisa kesini?"
"Aku sama mas Bimo, kebetulan teman mengaji tiap bulannya. Dan hari ini adalah jadwal mengaji bulanan, jadi aku sempatkan mampir sebentar bersama mas Bimo!"
"Oh jadi seperti itu!"
Bimo pun mendekati Aisyah, kemudian ia mengelus pucuk rambut Aisyah. "Syafakillah ya sayang!"
"Terima kasih ya om." Kata Aisyah yang tersenyum menatap Bimo.
"Iya manis!"
.
.
Seketika Abim datang dan berdiri diantara mereka.
Aisyah spontan berteriak dengan kencang ketika melihat ayahnya ada dihadapannya. "Ayah."
Terjadi kedekatan antara ayah dan anak yang sudah lama tidak bertemu. Asiyah memang sangat dekat dengan Abim. Mereka berpelukan cukup lama.
"Mbak, kita keluar dulu sebentar." Ucap Arif yang ingin memberikan waktu untuk Abim da Aisyah.
__ADS_1
"Baiklah."
"Ayok mas Bimo! Ajak Arif kemudian pergi bersama keluar ruangan.
.
.
Setelah kepergian Arif dan Bimo. Ku lihat betapa bahagianya Asiyah bertemu dengan ayahnya. Ia banyak bercerita tentang segala hal.
Aku hanya terdiam melihat kebersamaan mereka berdua.
Memang perasaan ku terhadap Abim belum bisa begitu saja hilang dari hatiku. Tidak semudah itu melupakan orang yang pernah spesial dihati.
Akhh..sudahlah itu semua hanya masa lalu. Aku harus bisa. Dia bukan lagi milik ku!! Batin ku yang kemudian meneteskan bulir-bulir air dari mata ku.
"Saya ingin bicara dengan mu." Ucap Abim yang mengangetkan ku. Lalu aku pun menghapus air mata dengan tangan ku.
"I.. iya mas. Silahkan!"
"Puas kamu! Melakukan semua ini sama saya."
Aku tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Abim. Aku pun bertanya balik kepadanya? "Puas. Apa maksudnya?"
"Kamu itu yang menyebabkan rumah tangga kita hancur! Kamu juga yang menyebabkan saya pisah dari anak-anak. Kamu juga yang membuat saya dibenci sama orang tua."
Deg..deg...deg
Jantung ku berdetak tak beraturan. Mencoba memahami perkataan Abim. Menunduk dan terdiam.
"Saya sudah pernah bilang sama kamu, sebelum kita pisah. Saya memang pernah melakukan kesalahan dan akan memperbaiki semuanya. Kalau saya mau jahat, maka saya akan jadi lebih bejat! Kalau saya mau baik, saya akan baik sekalian dan memperbaiki semuanya. Dan mengucapkan berulang kali untuk kamu pikirkan. Jadi jangan salahkan saya jika saya menghilang dan pergi menjauh!! Saya kerja capek untuk siapa? Untuk anak istri saya! Tapi sekarang Semua udah hancur setelah kita berpisah. Sejak saat itu saya sudah bertekad untuk menjauh dan melupakan semuanya."
"Sekarang kamu tanggung semua akibatnya, kamu yang menginginkannya. Kalau anak-anak tanya siapa yang salah. Kamu harus jelaskan. Bukan saya yang salah. Tapi kamu yang minta pisah!!! Kamu yang menyebabkan semua ini!!" Ucap Abim berulang kalinya dengan emosi dan berkata tanpa perasaan.
Aku menahan tangis! Jangan sampai air mata ini terjatuh dihadapannya. Aku harus kuat!! Jangan dia menganggap aku sebagai perempuan lemah. Batin ku.
"Ini uang, jangan lihat dari berapa besarnya. Mungkin ini sedikit membantu. Satu hal lagi jangan pernah jadi tukang ngadu!"
Abim memberikan uangnya pada ku dengan menaruhnya ditangan ku. Lalu pergi meninggalkan ku tanpa mengucapkan salam.
Aku memegang uang tersebut ditangan ku. Memang saat ini membutuhkan uang untuk biaya rumah sakit. Tapi bukan dengan cara seperti ini! Ia memberikan pada ku setelah ia puas memaki dan menghina ku.
Aku mengejarnya yang hendak pergi.
"Mas."
Abim membalikkan badannya kearah ku. Melihat ku dan bertanya. "Ada apa lagi?"
Aku maju mendekatinya, tangan ku maju dan memberikan uang yang tadi ia berikan untuk ku.
"Aku memang butuh uang untuk biaya rumah sakit Aisyah. Tapi kalau kamu tidak iklas memberikannya. Sebaiknya tidak usah memberikan sepeserpun untuk anak-anak. Insyaallah aku masih bisa membiayai mereka."
"Ok. Kalau itu yang kamu mau!" Ucapnya lalu pergi.
Setelah Abim pergi. Kaki ku terasa lemas tidak kuat untuk berdiri. Aku duduk dikursi. Kebetulan suasana ruang tunggu sepi dari pengunjung karena sudah malam.
__ADS_1
Aku duduk sebentar. Menangis karena dari tadi tidak bisa meluapkan kekesalan pada lelaki yang menjadi bagian dari hidup ku dulu.
Hiks. hiks..
Mengingat semua yang telah Abim katakan barusan.
Apa aku mengambil sebuah keputusan yang salah? Karena mementingkan ego ku! Batin ku yang binggung.
"Mbak, udah jangan sedih!" Kata Arif yang mengetahui aku menangis.
Aku melihatnya, ternyata Abim dan Bimo sudah berdiri dihadapan ku.
"Siapa nangis. E.. enggak kok" Jawab ku mengelak.
Bimo, Arif dan aku kembali ketempat Aisyah. Disana, ternyata Aisyah sedang tertidur.
"Mbak, aku pamit ya!" Kata Arif yang mencium tangan ku ketika mau pergi.
"Iya Rif, terima kasih ya."
"Aku juga permisi dulu." Kata Bimo sambil menyerahkan amplop.
"Apa ini mas?"
"Kamu terima ya. Mudah-mudahan bermanfaat!"
"Baik mas, terima kasih!" Kata ku.
"Assalamualaikum." Ucap salam keduanya dan pergi.
"Waalaikumsalam."
****
Malam semakin larut, tetapi aku belum bisa tertidur pulas. Ketika sudah mulai memejamkan mata, bayang-bayang perkataan Abim tadi masih terngiang ditelinga ku. Jadinya aku terbangun lagi.
Apa aku menjadi seorang istri yang tidak becus, hingga suami ku selingkuh? Apa aku juga yang menyebabkan rumah tangga ku hancur? Anak-anak menjadi kehilangan semua haknya gara-gara aku. Apakah aku penyebabnya? Ucap ku dalam hati.
Apakah aku mengambil sebuah keputusan yang salah???
Ingin rasanya berteriak. Melepaskan kegundahan hati. Tapi tidak bisa!
Aku menundukkan kepala. Kepala ku agak pusing akibat memikirkan setiap perkataan Abimanan.
Lalu aku mencoba berdiri dan berjalan kearah kamar mandi. Kemudian mengambil wudhu.
Ku bentangkan sajadah dan mulai ku pakai mukena.
Ku laksanakan sholat tahajud. Memohon petunjuk atas semua cobaan yang sedang ku alami ini dan semoga ada jalan keluarnya.
...💦💦💦💦...
Terima kasih untuk kalian yang sudah membaca cerita ku. Tanpa kalian aku bukanlah apa-apa.
Setelah selesai membaca cerita ini, jangan lupa kasih like, rate, fav dan komentarnya. Atau juga bisa kasih hadiahnya atau vote.☺️☺️
__ADS_1
Biar author tambah semangat nulisnya!!!
...Terima kasih...