Sebuah Keputusan

Sebuah Keputusan
Ummi Dwi


__ADS_3

Dua bulan kemudian..


Setelah kejadian itu Abim tidak lagi Berani menampakkan wajahnya. Lagi-lagi ia menghilang.


Sedangkan Bimo memberi waktu untuk ummi dan abi untuk lebih mengenal ku.


Pak Rizal sudah lebih sehat. Mama Ainun masih setia mendampingi pak Rizal.


****


Siang ini matahari begitu teriknya menyinari bumi. Panasnya begitu terasa sampai kelulit.


Aku dengan motor ku mengantar pesanan yang disuruh Bimo kealamat yang dituju.


Bimo menyuruh ku untuk mengantar pesanan nasi box dan Snack untuk anak kepanti asuhan.


Panti Asuhan Kinaryosih...


Perjalanan ku terhenti ketika Samapi dialamat yang dituju.


Aku pun memarkirkan motor diparkiran. Kemudian bertanya kepada seorang lelaki tua yang sedang berdiri tidak jauh dari ku.


"Assalamualaikum pak. Maaf saya Manda mau mengantarkan pesanan mas Bimo!"


"Waalaikumsalam. Mbak Manda sudah ditunggu didalam. Mari saya bantu! Mbak Manda ikuti saya saja, nanti biar ini yang lain yang bawa!"


"Baik pak, terima kasih!" Jawab ku. Aku pun mengikuti langkah kakinya kearah dalam.


Aku masuk kedalam ruangan yang begitu besar. Disana ada anak-anak yang sedang bermain dan juga beberapa pengurus. Tapi aku tidak melihat sosok Bimo.


Lelaki tua itu mengajak ku untuk bertemu dengan salah seorang perempuan yang usianya tidak muda lagi. Usianya tidak jauh berbeda seperti mama Atika.


"Maaf ummi ini ada mbak Manda sudah datang!" Ucap lelaki tua itu.


Aku tersenyum dan seperti biasa aku selalu mencium tangan orang yang lebih tua.


Ummi menatap ku dari atas sampai bawah. Dalam benak ummi,


Pantas saja, anak ku sampai menyukai mu. Kamu cantik dan anggun. Sopan lagi.


"Maaf ummi, apa ada yang bisa saya bantu lagi?"


Seketika lamunan ummi menjadi buyar karena mendengar kata-kata ku. Kemudian Ummi melihat sekelilingnya! Lalu ummi berkata "Mari ikut ummi!"


Aku pun mengikuti langkahnya. Sampai langkah kaki ummi berhenti disebuah meja panjang. Disana ada berapa orang dewasa sedang menata nasi box dan Snack yang ku bawa tadi diatas meja.


"Bu Laras, bisa tolong kesini sebentar." Panggil ummi.


Bu Laras menghampiri kami berdua yang sedang berdiri.


"Ada apa ummi?"


"Bu Laras kenalkan ini Manda, Manda yang membuat nasi box dan Snack disini?"


"Manda ini Bu Laras pengurus panti asuhan. Kamu gak keberatan kalau membantu sebentar disini?"


Aku dan bu Laras saling berjabat tangan. Bu Laras memandang ku dari atas sampai bawah sama seperti ummi yang memandangku seperti itu!


Aku melihat diriku sendiri. Apakah penampilan ku ada yang salah.


Kenapa ummi dan bu Laras memandang ku dari atas sampai bawah? Apa ada yang salah dengan penampilan ku! Tanya ku dalam hati.

__ADS_1


"Manda, kenapa diam?" Tanya Ummi.


Aku tersadar dari lamunan ku. Kemudian aku pun menjawab pertanyaan ummi. "Enggak apa-apa, ummi!"


Aku pun mengikuti bu Laras untuk membantu membereskan nasi box dan Snack.


****


Jam 13.00 WIB


Acara sudah dimulai, tapi sejak tadi aku tidak melihat sosok Bimo disini! Ummi juga menyuruh ku untuk tetap disini!


Semua yang disuruh bu Laras juga sudah ku kerjakan!


Kini aku hanya duduk sambil mendengarkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dilantunkan.


.


.


Sedangkan ummi sedang duduk berdekatan dengan bu Laras. Keduanya berbincang sebentar!


"Ummi, maaf! Manda itu perempuan yang disukai oleh mas Bimo!"


"Iya, menurut kamu bagaimana?"


"Baik, cantik! Juga sopan.. Coba kalau orang lain ummi, sudah anter catering! Dibayar langsung pulang. Tapi Manda malah menawarkan dirinya membantu disini!"


"Iya kamu benar! Tapi aku belum puas mengenalnya! Lain kali aku akan mengenalnya lebih dalam!"


Semoga saja pilihan Bimo adalah yang terbaik. Sebenarnya ummi juga suka sama kamu Manda. Batin ummi!


.


.


Ummi menghampiri aku yang sedang berdiri, dan sudah selesai membereskan semuanya.


"Manda, bisa kita bicara sebentar!"


"Iya ummi ada apa?"


"Ini buat kamu!" Ucap ummi sambil memberikan sebuah amplop berwarna putih!


"Maaf, ini apa ya!"


"Ini uang sebagai tanda terima kasih!"


Aku memandang ummi heran. Masalahnya uang pembayaran nasi box sudah dibayar oleh Bimo!


"Maaf, ummi untuk pembayaran nasi box sudah dibayar oleh mas Bimo!" Kata ku kemudian mengembalikan amplop itu!


Ummi menolaknya dan kembali memberikan pada ku. "Ini karena kamu sudah membantu pengurus disini sampai acaranya selesai!"


"Oh, soal itu! Aku iklas. Lagian tadi aku kan menawarkan diri untuk membantu! Jadi sebaiknya tidak usah."


"Bukannya kamu butuh uang juga untuk anak-anak kamu. Maaf kamu bukannya janda kan?


Aku tersenyum mendengar ummi mengatakan itu. "Ya ummi. Aku memang janda. Aku juga butuh uang untuk menghidupi mereka! Tapi apa seorang janda tidak boleh bersedekah dan saling membantu?"


Ummi tertawa mendengar apa yang ku katakan. Ia tidak menyangka bahwa aku berkata seperti itu!

__ADS_1


"Ya tentu saja boleh! Enggak ada larangannya. Ngomong-ngomong kamu kenal Bimo dimana?"


"Aku kenal mas Bimo dirumah mama. Mas Bimo teman mengaji Arif! Arif adik ku, ummi!"


Mendengar kata Bimo, aku jadi bertanya-tanya kenapa ummi bisa mengenal Bimo! Tapi aku enggan bertanya langsung!


"Maaf ummi, kalau sudah tidak ada lagi yang dikerjakan saya permisi!"


"Baiklah, kamu hati-hati!" Kata ummi dengan memasukkan kembali amplop kedalam tasnya.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!"


Sebelum pergi keluar, aku juga berpamitan kepada bu Laras dan yang lainnya!


****


Dirumah....


Jam 18.35 WIB


Aku baru saja selesai melaksanakan sholat magrib bersama anak-anak.


Kemudian anak-anak bersiap-siap untuk pergi mengaji.


"Kalian kalau ngaji jangan bercanda ya?"


"Adek, enggak, bun. Bun tolong test adek dong. Adek ada hapalan surat pendek!"


"Ayo coba surat Al-Ikhlas!"


Aku mulai mengetest hapalan Aisyah. Dimulai dari surat Al-Ikhlas.


Bismillahirrahmanirrahim...


qul huwallāhu aḥad


allāhuṣ-ṣamad


lam yalid wa lam yụlad


wa lam yakul lahụ kufuwan aḥad


"Pintar, adek. Bunda kasih jempol!"


Hehe...hehe..


Asiyah tersenyum karena aku memujinya. Semakin hari kedua anakku, semakin ada kemajuan dari segi apapun.


Sholatnya tidak pernah ketinggalan, pelajaran selalu mereka bisa ikuti.


Perkembangan hari demi hari tidak pernah ku lewati sedikit pun. Karena masa itu tidak akan pernah kembali lagi.


Sesibuk apapun aku, aku selalu menyempatkan diri untuk mengajak mereka bermain dan belajar.


Sayang ... kasih sayang dari seorang ayah tidak pernah lagi mereka dapatkan. Semoga aja pintu hati ayahnya terbuka dan bisa membahagiakan anak-anak.


Walaupun aku dan Abim berpisah, setidaknya mereka akan tetap mendapatkan kasih sayang yang sama dari ayah dan bundanya.


...Happy Reading...

__ADS_1


__ADS_2