
Sebelumnya mama Atika, Bimo dan aku sengaja datang kerumah mama Ainun dan pak Rizal. Mama, Bimo dan aku ingin menjelaskan maksud Bimo untuk melamar ku.
Biar bagaimana pun, hubungan aku dan anaknya memang sudah berakhir tapi pak Rizal dan mama Ainun tetap kakek dan nenek dari kedua anakku. Jadi mereka berdua berhak tau.
Bimo menjemput ku dirumah mama, kemudian pergi dengan mobilnya.
Anak-anak tidak ikut, karena mereka sedang mengaji.
.
.
.
Perjalanan tidak memakan waktu yang lama. Karena malam jalan tidak begitu macet. Jadi kami cepat sampai kerumah orang tua Bimo.
Bimo memakirkan mobilnya dipinggir jalan. Dan kami bertiga pun turun dari mobil. Lalu ketiganya berjalan kaki.
Sampai didepan pintu rumah. Kami mengucapkan salam.
"Assalamualaikum."
Mama Ainun yang sedang berada didalam mendengar suara lalu langkah kaki berjalan dan membukakan pintu.
"Waalaikumsalam!"
Mama Ainun kaget ketika melihat kami datang, apalagi dengan mengajak Bimo.
"Mari silahkan masuk, tumben nih Bu ada apa malam-malam begini!" Tanya mama Ainun heran dan menatap kami.
"Iya ada yang mau kami bicarakan dengan ibu dan bapak." Sahut mama Atika.
Kami bertiga duduk dikursi. Kemudian mata ku mencari pak Rizal yang tidak ada.
"Bapak dimana, ma?"
"Oh bapak.. ada! Sebentar mama panggilkan."
Kata mama dan berjalan masuk kedalam kamar untuk memanggil bapak.
__ADS_1
Ternyata pak Rizal keadaannya sedang kurang sehat, jadi pak Rizal beristirahat dikamar.
Pak Rizal datang kemudian duduk, wajahnya tampak pucat.
"Pak, maaf.. aku gak tau kalau bapak sedang sakit?" Kata ku yang tidak tega melihat keadaan bapak yang sering sakit-sakitan tetapi anaknya sama sekali tidak datang untuk menengoknya.
"Udah beberapa hari. Udah kedokter juga untuk berobat tapi sekarang udah mendingan. Hanya tinggal lemas saja." Jawab pak Rizal!
Mama Ainun datang dengan membawa minuman beserta cemilan. Kemudian diletakkan di atas meja.
"Mari silahkan diminum."
"Jadi merepotkan saja." Kata mama Atika.
"Akh..tidak hanya air putih dan pisang goreng saja."
Mama Atika memulai terlebih dahulu. "Begini bu..pak kalau kedatangan kami semua tidak memberitahu terlebih dahulu! Saya selaku orang tua Manda ingin menjelaskan kalau nak Bimo ini punya niatan yang baik untuk Amanda. Saya mohon maaf kalau hal ini terlalu cepat. Saya memberitahu ini karena kita pernah menjalin silaturahmi yang baik bahkan sampai saat ini! Jadi jangan karena anak-anak kita sudah tidak saling berhubungan, kita tidak lagi dekat! Bukan itu yang saya harapkan."
"Dengan nak Bimo?"
"Iya bu.. pak!" Jawab ku dan melihat wajah kedua orang tua itu.
.
.
Hilang sudah harapan ku untuk melarang Manda menikah lagi agar bisa tetap membesarkan anak-anak sendirian. Abim ini semua gara-gara kamu, bagaimana nasib anak-anak nantinya. Mungkin sekarang Bimo mau menerima anak-anak, tapi nanti kalau Bimo dan Manda sudah mendapatkan anak. Kedua cucuku akan ditelantarkan. Batin mama Ainun yang cemas.
"Ma.. mama baik-baik saja?" Kata ku.
"I-iya. Mama tidak apa-apa!"
"Bu.. pak sebelumnya saya minta maaf. Kalau keinginan saya untuk menikahi Manda terlalu cepat. Saya hanya tidak ingin nantinya menimbulkan fitnah atau salah paham buat aku ataupun Manda. Dan nama keluarga jadi jelek. Aku punya niat ingin memperistri Amanda dan itu juga sudah atas izin keluarga Manda dan anak-anak tidak ketinggalan."Ucap Bimo menjelaskan maksudnya.
"Rencananya besok keluarga Bimo mau datang kerumah, saya mau mengundang bapak ibu.. kerumah saya. Kita kumpul-kumpul saja, makan bareng!" Kata mama Atika.
"Bagaimana, ma.. pak..?" Tanya ku pada keduanya!
"Mama sama bapak bisa apa? Kami hanya mantan mertua kamu, yang nggak punya hak untuk melarang kamu mencari kebahagian untuk kamu. Tapi disisi lain, ada kekhawatiran kami untuk anak-anak. Kami takut, kalau nanti suami kamu tidak menyanyangi anak-anak dengan tulus. Anak-anak sudah ditelantarkan oleh ayahnya yang be**t. Lupa segalanya lupa kewajibannya sebagai seorang ayah dan seorang anak untuk orang tuanya. Abim durhaka .. mama benci dia!"
__ADS_1
Mama Ainun berkata-kata dari mulutnya. Lukanya belum hilang akan kekecewaan terhadap anak semata wayangnya. Anak yang diharapkan bisa menjadi kebanggaan untuk orang tuanya! Tapi kini semua harapan itu telah hilang!
Mama Ainun menangis dihadapan kami semua. Meluapkan segala unek-uneknya.
"Sudah Bu tenang, doakan saja Abim kembali ke ibu dan bapak lagi. Bisa memperbaikinya kesalahannya." Ungkap mama Atika.
Mama Atika tau bagaimana rasanya dikecewakan oleh anak sendiri walaupun mama belum pernah merasakan tapi hati seorang ibu lebih peka dan bisa merasakan.
"Bu.. pak.. tenang saja dan tidak perlu khawatir. Memang saya baru dikenal oleh Amanda, bapak dan ibu. Tapi mama dan Arif sudah mengenal keluarga saya dan diri saya pribadi sudah lama sekali! Bahkan bukan satu atau dua tahun! Jadi percayalah dan beri saya kesempatan untuk membahagiakan anak-anak serta Manda. Kebahagian yang pernah hilang dari mereka."
Bimo mengatakan dengan suara yang pelan dan tenang. Penuh wibawa dan tanpa emosi. Menjelaskan dengan kata-kata yang bisa dimengerti! Itulah Bimo!!
Mama Ainun dan pak Rizal menatap wajah Bimo. Lelaki yang baru dikenalnya itu memang sudah terlihat baik sejak pertama kali bertemu. Lelaki yang sopan, baik, ramah dan suka menolong! Itu adalah Bimo dan berbanding terbalik dengan Abim putranya.
"Baiklah mama memberi restu. Bagaimana dengan bapak?"
Bapak pun menjawab. "Bapak juga memberi restu semoga kalian berbahagia. Hanya satu pesan bapak! Jangan kecewakan anak-anak. Sayangi mereka berdua seperti anak kandung kamu, Bimo!"
"Ya pak .. ma! Terima kasih atas kesempatan mama dan bapak! Insyaallah amanat kalian berdua akan saya jalankan!"
Mama Ainun kemudian berkata lagi. "Mama hanya minta dua permintaan sama kamu dan Manda! Pertama kamu mau kan, menengok mama sama bapak, karena kami berdua sudah kehilangan anak. Dan yang kedua sayangi anak-anak. Jangan terlantarkan mereka!"
"Iya pak ..ma..jangan khawatir. kita akan tetap kesini dan menengok mama sama bapak! Iya kan mas?" Kata ku dan menengok kearah Bimo.
Bimo menganggukkan kepalanya. Aku merasa senang melihat Bimo sangat pengertian dan tidak melarang ku untuk dekat dengan mantan mertua ku. Bimo lah yang mengajarkan untuk tetap saling menjaga silahturahmi kepada siapa pun termasuk mantan mertua ku ataupun Abimanan. Tetapi tetap pada batasannya.
Kami semua meminum air yang telah disediakannya oleh tuan rumah. Barulah setelah itu kami semua berpamitan.
"Bu ..pak kak sudah . mejelaskan maksud kami semua kesini. Sekarang kami mohon pamit pulang, apabila ada kata-kata yang kurang berkenan di hati bapak dan ibu. Kami semua mohon maaf yang sebesar-besarnya!"
Pak Rizal perkataan mama Atika. "Kami juga.. minta maaf kalau ada salah untuk ibu, Manda dan keluarga. Maaf juga kalau kedatangan kalian hanya disuguhkan dengan makanan dan minuman seadanya."
"Tidak apa-apa, pak." Sahut Ku.
Kami semua bersalaman dan mengucapkan salam ketika keluar rumah. Kami bertiga masuk kedalam mobil.
Bimo menyalakan mesin mobilnya dan melajukan kendaraannya untuk mengantar kami pulang kerumah.
...Happy Reading...
__ADS_1