Sebuah Keputusan

Sebuah Keputusan
Kesal


__ADS_3

Tiada Manusia Yang Sempurna


Jika Allah Ta'alla Maha Pengampun,


kenapa diri ini seolah tidak ingin


memaafkan kesalahan orang lain?


Kita malah mengungkitnya, dengan memberi


syarat. Dengan banyak alasan.


F.AJP.Creations


...------------...


Dirumah sakit


Aisyah sudah sampai dirumah sakit.


Sejak tadi Ais hanya terdiam, pikirannya melayang kemana-mana. Moodnya sedang tidak bisa diajak kerja sama. Bawaannya ingin marah-marah saja.


"Coass Ais, dipanggil sama dokter Sammy diruang IGD." Ucap suster kepala.


"Ya suster. Terima kasih." Sahutnya.


Kemudian menutup semua berkas laporan pasien dan dibawanya keruang IGD. Disana dokter Sammy telah menunggu sejak tadi.


"Ketika sampai, mata Ais tertuju pada dokter Sammy yang saat itu sedang memeriksa pasien.


Ais pun menghampiri dokter dan berdiri mendekat.


"Coass perhatikan ini." Suruh dokter Sammy kepada Aisyah.


Aisyah memperhatikan dokter yang sedang memeriksa penyakit pasien. Matanya terus fokus tapi pikirannya lagi-lagi kelain arah.


"Coass, catat semua yang tadi kamu lihat dan segera kirim laporannya kesaya." Ucap dokter dan berlalu pergi.


Aaaaaa..fokus Ais. Batinnya.


Apa yang dilihatnya barusan, tidak dapat masuk kedalam otaknya. Bagaimana mau mencatat!


Sekarang Ais benar-benar bingung.


Akhirnya Ais kembali memeriksa pasien dan segera mencatat semuanya.


Dari tadi Ais mencatat, entah kenapa banyak yang salah. Beberapa kertas yang sudah ia robek ada dimejanya.


"Kenapa dengan ku. Menyebalkan..." Ucapnya pelan tapi didengar oleh temannya.


"Kenapa sih coass, dari tadi ngomel mulu."


"Kesal." Sahutnya asal.


Ais menyelesaikan tulisannya dan kemudian dan ketika selesai memberikan dokter Sammy.


.


.


Sedangkan dirumah

__ADS_1


Sisil berada didalam kamar dengan Yudha. Terjadi percekcokan diantara mereka dan aksi saling diam.


Sisil marah pada Yudha, karena tidak pernah bercerita soal janjinya pada orang tuanya.


Sedangkan Yudha sekarang tidak bisa mengambil keputusan karena ia sendiri sangat mencintai istrinya, tapi tidak berani menentang apa kata orang tuanya.


Sisil juga marah sekali dengan keputusan yang orang tua Yudha inginkan. Padahal yang menjalani rumah tangga adalah anaknya.


Orang tua Yudha sangat menginginkan keturunan dari Yudha. Tapi apa mau dikata takdir berkata lain. Sisil kini tidak akan bisa mempunyai keturunan.


Sedangkan orang tua Yudha menyuruh Yudha menikah lagi, terserah mau poligami atau menceraikan Sisil.


Dan lebih gilanya lagi orang tua Yudha menginginkan Yudha menikah dengan Aisyah adiknya Sisil. Setelah tadi ibu Sulis melihat dan bertemu untuk pertama kalinya. Karena dulu waktu Sisil menikah belum berjumpa dengan Aisyah.


Bukan hanya Sisil yang marah, tapi Abi Bimo dan bunda Manda sangat syok sekali mendengarnya. Apalagi bunda sebagai orang tua dari Sisil dan Aisyah sangat murka.


...------------...


Jam 01.00 WIB


Malam semakin larut, tapi bunda belum bisa tidur. Sholat malam juga sudah. Kini bunda keluar kamar dan berjalan kedapur untuk mengambil air.


Ketika bunda mengambil air didalam kulkas. Bunda tersentak kaget, ketika mendengar suara dan ada yang memanggilnya.


"Bunda." Panggil Sisil.


Bunda menengokkan wajahnya kearah Sisil.


"Astagfirullah allazim, bikin kaget aja. Belum tidur?"


"Belum Bun, gak bisa tidur!"


"Iya bun! Aku akan kuat!"


"Eheemmm."


Abi Bimo datang dan melihat keduanya yang saling memberi kekuatan. Abi Bimo mendekat.


"Abi juga akan memberi kekuatan untuk kamu sayang. Kamu gak sendiri."


"Abi." Teriak Sisil dan mendekap tubuh Abi Bimo.


"Menangislah, jika dengan menangis bisa membuat mu lebih baik!" Kata abi Bimo.


Sisil tampak tenang dihadapan orang tuanya. Apalagi Abi Bimo yang selalu menyanyangi Sisil dan Aisyah.


"Oh iya kak, sudah malam. Sebaiknya kakak istirahat. Besok Abi punya kejutan untuk kakak!"


"Iya Abi. Kalau gitu aku permisi! Bunda.."


"Iya cantik, manis." Sahut bunda.


Sisil berlalu pergi kekamarnya, begitu juga dengan Abi dan bunda. Kembali melanjutkan tidurnya hingga pagi.


****


Dirumah Sakit..


Jam 08.00 WIB


Aisyah berjalan kekantin bersama kedua temannya. Disana mereka mengobrol banyak.

__ADS_1


"Ais, ada apa sih? Enggak biasanya banget." Tanya Airin.


Aisyah mendengar tapi tidak menjawab, ia hanya mengaduk-aduk saja makanannya diatas meja.


"Kangen kali sama koko!" Balas Lela.


"Entahlah apa yang dipikirkan Aisyah. Tapi saran ku. Jangan kejadian semalam terulang lagi." Kata Airin.


Aisyah salah mendiagnosa pasien yang diperiksa dokter Sammy. Sehingga ia mendapat amarah karena kelalaiannya dari dokter Sammy.


Aisyah menatap wajah teman-teman dan hanya tersenyum! Sebenarnya memang Aisyah sangat rindu tapi demi janjinya pada kedua orang tuanya. Ais harus patuhi.


Selain itu yang membuatnya tambah tidak bersemangat karena masalah kakaknya. Ais sungguh merasa iba.


Dari kejauhan Vano terus melihat wanita yang sangat ia cintai. Tampak wajah tak bersemangat dari Aisyah, ingin rasanya Vano mendekat dan menghiburnya.


Kedua temannya juga melihat Vano yang sedang berdiri. Memandang terus kearah Ais, tapi Ais tidak mengetahuinya.


"Ais, ku ketoilet dulu ya?"


"Heemm."


Kini hanya tinggal Ais sendiri. Dalam kesendiriannya, ia mengambil ponsel yang ada di sakunya kemudian membuka galeri dan memandang fofo Vano.


"Seandainya kau ada disini, mungkin kamu akan selalu menghibur ku. Membuat ku tertawa. Ko, aku lagi sedih.. aku mau cerita banyak." Ucap Ais pelan tapi terdengar oleh Vano yang berdiri tidak jauh dari Aisyah duduk.


Vano pun berjalan mendekat dan berdiri pas dihadapan Aisyah. Aisyah tersentak kaget dan melihat Vano yang berdiri dihadapannya.


"Koko." Ucap Ais menatap mata Vano tanpa berkedip.


Sesungguhnya ada perasaan senang, orang yang sedang ada didalam pikirannya ada dihadapan Ais.


"Assalamualaikum." Ucap Vano pada Aisyah.


"Wa.. waalaikumsalam."


Vano pun duduk dihadapan Ais. Sedangkan Ais hanya diam dan terus menatap lelaki yang kini duduk dihadapannya.


"Jangan menangis, wajah mu terlihat jelek. Aku akan selalu ada untuk mu. Tetaplah tersenyum." Ucap Vano dan tersenyum lebar.


Ais hanya terdiam terus. Tapi dalam hatinya, ia bahagia. Ini adalah obat untuknya. Kekuatan untuknya.


Bibirnya seakan ingin mengucapkan sepatah kata untuk Vano, tapi tidak bisa karena janjinya pada orang tuanya.


"Jangan seperti semalam, kita mengobati pasien. Jangan sampai salah, itu akan berakibat fatal."


Tanpa disadari Aisyah, Vano sudah lebih dahulu tau tentang masalah yang menimpa kekasihnya.


Koko tau, dari siapa? Batin Aisyah yang bertanya-tanya!


"Aku akan terus berjuang untuk tetap bisa bersama mu. Tetaplah jaga hati mu untuk ku. Percayalah. semuanya sedang ku usahakan."


Vano berucap tapi tidak bisa dipahami oleh Aisyah. Menurut Aisyah perbedaan agama lah yang membuat mereka harus berpisah.


"Cantik, tetaplah semangat."


Vano terus bicara tapi Ais masih saja diam. Kemudian Ais bangun dan berlari keluar.


"Ais.." Panggil Vano.


Aisyah berlari dan menjauhi Vano. Keinginan Ais untuk bersama Vano bagai mimpi.

__ADS_1


__ADS_2