Sebuah Keputusan

Sebuah Keputusan
Histeris


__ADS_3

Sudah 5 hari, Aisyah tidak pulang kerumah. Selesai bekerja, Aisyah harus menemani kakaknya yang berada dirumah sakit.


Abi dan bunda hanya sekedar menengok saja kerumah sakit. Karena kesehatan Abi tidak lagi seperti dulu. Abi sekarang mudah terserang penyakit. Maklum usia abi dan bunda yang sudah semakin tua.


Sedangkan Ayah Abim sesekali datang menengok Sisil. Kak Yudha pagi harinya harus melanjutkan kerjanya yang tidak bisa ditinggal.


Kalau mertua dari Sisil sama sekali tidak datang untuk menengok sampai detik ini.


Keluarga bunda dan Abi juga sudah datang menengok Sisil dirumah sakit.


...-------...


Jam 09.00 WIB


Sisil belum bisa menerima kenyataan pahit yang menimpa dirinya.


Bunda dan Abi selalu datang untuk memberikan semangat kepada Sisil walaupun hanya sebentar. Kini keadaan Sisil semakin membaik dan hari ini Sisil diperbolehkan untuk pulang.


"Kak, hari ini kita pulang kerumah ya. Sampai kamu sehat dulu." Ucap bunda.


"Bun, kenapa mertua aku gak datang untuk melihat menantunya? Apakah karena aku sudah gak bisa kasih keturunan buat mas Yudha."


"Kamu gak boleh punya pikiran macam-macam. Mungkin mereka belum sempat." Sahut Abi Bimo.


Air mata Sisil kemudian jatuh dipipinya. Mulai membayangkan tentang mertuanya yang sangat tidak menyukainya karena tidak bisa hamil. Tapi setelah diketahui hamil terjadi perubahan yang cukup dratis dari sikap mertuanya itu!


Sikapnya yang cuek kini menjadi perhatian dan penyayang. Semua itu belum Berlangsung lama dan baru beberapa bulan saja.


Sekarang sikap mertuanya Sisil kembali cuek dan tidak perhatian ketika hilangnya calon penerus keluarga.


Itu sungguh menyakitkan sekali. Semua itu bukan mau Sisil. Semua itu atas kehendak Allah.


Jika bisa memilih atau mengulang kembali waktu. Sisil minta agar tidak dipertemukan lagi dengan Yudha. Lelaki yang menjadi suaminya kini.


Cekrek..


Aisyah datang dan mengangetkan semuanya.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!" Jawab ketiganya.


"Lama banget dek, baru kesininya?" Tanya Abi Bimo.


"Iya tadi urusan sebentar." Jawab Aisyah dan duduk didekat abinya sambil tersenyum.


"Apa itu dek?" Tanya bunda yang melihat ditangan Aisyah membawa sesuatu.


"Oh ini. Bolu talas Bun sama nasi kuning! Bunda, Abi, kakak ayok cobain? Tapi nasinya cuma satu."


Aisyah memperlihatkan paper bag yang didalamnya berisi nasi kuning dan bolu talas dari Vano yang diberikan lewat Airin.


"Kamu beli dimana?"


"Ehhmm.. dikasih sama teman bun!"


Aisyah memakan bolu dari Vano. Perasaannya sungguh senang sekali. Walaupun tidak pernah bisa jalan bareng lagi, ternyata Vano memang tidak bisa jauh dari Aisyah.


Aisyah begitu bahagia. Senyum diwajahnya begitu memancar. pikirannya sedang memikirkan satu orang yaitu koko Vano.


Tanpa disadari Aisyah, ketiganya memperhatikan wajah Aisyah yang tersenyum.


"Adek, makan kok senyum-senyum gak jelas?"


Aisyah tersadar, lalu pandangannya beralih kebunda dan berkata. "Ehmm..gak kok Bun, siapa yang senyum-senyum. Aku tuh lagi makan nih lihat!"


"Makan kok senyum sih dek! Pasti lagi mikirin sesuatu ya!" Ledek Sisil.


"Enggak, aku tuh lagi makan. Masa orang makan mulutnya harus diam."


"Hahaha..."


Ketiganya tertawa melihat Aisyah yang gugup. Sedangkan Aisyah memonyongkan bibirnya karena terus diledek oleh semuanya.


Tok tok..


Cekrek..

__ADS_1


Dokter dan suster masuk kedalam ruangan Sisil.


"Selamat pagi pak, Bu dan mbak Sisil. Ada coass Aisyah juga!" Ucap dokter.


"Pagi dok." Sahut Aisyah dan tersenyum!


"Begini saya hanya menjelaskan bahwa mbak Sisil sudah diperkenankan untuk pulang kerumah, tapi belum bisa untuk melakukan hal berat. Paham!"


"Iya dok, paham!" Sahut abi.


"Nanti suster akan memberikan obat untuk seminggu. Lalu jangan lupa untuk datang kontrol sesuai jadwal yang telah ditentukan!"


"Baik dok terima kasih banyak!"


"Sama-sama pak. Cepat sehat ya mbak Sisil!" Kata dokter memberi semangat.


Dokter dan suster pun keluar dari ruangan setelah selesai menjelaskannya!


Aisyah akhirnya yang mengurus semua administrasi kepulangan kakaknya.


****


Dirumah...


Jam 12.00 WIB


Sisil akhirnya bisa pulang kerumah orang tuanya. Sisil pulang bersama orang tua dan adiknya. Yudha pun sudah mengizinkan Sisil untuk pulang kerumah orang tuanya.


Sekarang Sisil dapat berisi dan tidur nyenyak karena berada didalam kamarnya sendiri.


Sedangkan Aisyah kini juga sudah bisa beristirahat didalam kamarnya. Rasa lelah dan ngantuk kini terbayar sudah saat bertemu dengan kasur dan bantal miliknya.


Abi dan bunda dapat tenang merawat Sisil sampai sembuh.


Jam 18.45 WIB.


Ketika semuanya sedang berkumpul bersama. Kecuali Aisyah yang masih bersiap-siap didalam kamarnya untuk pergi bekerja.


Terdengar suara mobil dan ketukan dari pintu.


"Biar mbok saja yang buka pintu." Kata mbok Darmi dan berjalan kearah pintu.


Mbok Darmi membuka pintu dan melihat yang datang adalah Yudha beserta orang tuanya.


Sebelum kerumah keluarga Bimo, Yudha sengaja datang kerumah orang tuanya. Yudha merasa tidak enak kepada orang tua Sisil. Pasalnya sampai Sisil pulang kerumah orang tuanya, orang tua Yudha belum datang untuk menengok menantunya itu!


"Mari silahkan masuk!" Ucap mbok Darmi.


Ketiganya masuk kedalam rumah dan berjalan keruang tamu.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam!" Jawab semuanya.


Kedua keluarga itu saling bersalaman dan duduk. Kemudian mbok Darmi meletakkan minuman dan cemilan diatas meja.


"Mari silahkan minum pak, Bu dan nak Yudha." Suruh bunda.


Yudha, Bu Sulis dan pak Zen duduk. Terlihat wajah garang dan menyeramkan dari pak Zen dan Bu Sulis.


Tapi sebaliknya senyuman terlihat diwajah Sisil, bunda dan Abi. Mereka sangat senang dengan kedatangan orang tua Yudha.


"Abi ..bunda. Maaf kalau saya gak bilang dulu kalau mama sama bapak datang kesini!" Ucap Yudha memberanikan dirinya!


"Ini merupakan kejutan untuk Sisil karena kami tidak menyangka sama sekali!" Sahut abi yang berkata sangat pelan.


"Sisil kamu gimana keadaannya?" Tanya Bu Sulis ketus.


"Alhamdulilah sudah lebih baik!"


"Baguslah kalau gitu. Maaf pak, Bu! Saya gak suka basa basi. Sejujurnya saya sangat kecewa dengan kejadian ini. Baru kemarin saya dan suami senang sekali karena.."


"Mah hentikan mah..sudah jangan sekarang!" Sela Yudha yang menghentikan pembicaraan Bu Sulis.


"Kenapa mama dan bapak biar plong. Sekarang atau nanti semua jadi jelas." Sahut Bu Sulis kesal karena pembicaraannya dipotong oleh anaknya.


"Maaf sebenarnya ada apa ini? Yudha biarkan ibunya berbicara terlebih dahulu." Kata abi.

__ADS_1


Sisil merasa khawatir, jantungnya mulai berdetak kencang. Napasnya mulai terasa sesak.


"Jadi gini pak, bu! Sebenarnya saya dan suami tidak mau kesini. Ini semua atas permintaan Yudha Karena dia memohon."


Bu Sulis berhenti sejenak untuk mengatur napasnya kembali.


Raut wajah Abi dan bunda terlihat kaget setelah mendengar pernyataan Bu Sulis. Lalu didalam pikiran keduanya terlintas berbagai macam pertanyaan mengenai orang tua Yudha.


Kemudian Bu Sulis melanjutkan kembali perkataannya. "Maaf Sisil kami berdua kesini memang atas ajakan Yudha. Karena kami kecewa dengan kejadian atas kehilangan calon penerus keluarga kami kedepannya. Itu artinya kamu tidak akan bisa mempunyai keturunan lagi. Asal semua tau, sebelum Sisil diketahui hamil, kami dan Yudha sepakat agar Yudha bisa menikah lagi dengan wanita lain atau menceraikan kamu Sisil. Tapi pada kenyataannya, ternyata kamu positif hamil dan harapan kami ada pada kamu! Tapi semuanya hilang lagi. Dan sekarang mau tidak mau Yudha dan kamu harus mengambil sebuah keputusan untuk masa depan keluarga kami."


Prannkk..


Terdengar suara piring terjatuh dari dalam. Pring yang dipegang oleh Aisyah terjatuh ketika mendengar perkataan mertua Sisil.


"Maaf, saya harus kedalam." Ucap bunda dan berjalan kedalam.


Suasana diruang tamu menjadi hening ketika mendengar piring terjatuh.


Air mata Sisil menetes, akibat mendengar semua hal pahit dari mulut mertuanya. Suaminya hanya menunduk saja.


Abi terkejut, tidak menyangka kalau anaknya harus mendapat kenyataan pahit lagi.


Diruang makan..


Terlihat Aisyah yang sedang membersihkan pecahan piring dan dibantu oleh mbok Darmi.


Bunda datang dan melihat keduanya yang sedang jongkok dan membersihkan pecahan piring!


"Astagfirullah allazim dek. Kenapa bisa begini?"


"Aaawwww."


Keluar darah yang cukup banyak dari tangan Ais akibat tergores pecahan beling.


"Adek apa lagi ini!" Ucap bunda yang melihat tangan Aisyah berdarah.


"Sudah mbak Ais, biar mbok saja yang membereskan!"


Aisyah berdiri dan terdiam. Pikirannya sedang memikirkan kakaknya.


Bunda yang melihat tangan Ais, kemudian membersihkan dan membalutnya dengan perban.


"Dek..dek.." Panggil bunda kepada Aisyah tapi Ais masih saja melamun.


Bunda akhirnya mencubit tangan Ais. Aisyah yang terasa sakit akibat dicubit oleh bunda akhirnya berteriak.


"Aaawww..... sakit bunda!"


"Maaf, kamu gak apa-apa?" Tanya bunda.


"Iya bun, aku berangkat aja Bun." Pamit Aisyah kepada bunda dan mencium tangan bunda.


Lalu langkah kaki Aisyah dan bunda keruangan tamu. Disana Ais melihat wajah mertua kakaknya yang dengan tega mengucapkan kenyataan pahit pada kakaknya, padahal kakaknya baru saja kehilangan rahimnya.


Aisyah juga melihat Yudha dengan kesalnya, yang hanya bisa menurut semua keinginan orang tuanya bukan memperjuangkan pernikahannya dan mendukung kakaknya


Disisi lain perempuan tua itu menatap takjub dengan penampilan Ais yang cantik dan modis.


.


.


"Abi aku pamit dulu." Ucap Ais dan mencium tangan abinya.


"Ini baru jam berapa dek. Enggak kelamaan disana?"


"Enggak abi."


Kemudian langkah kaki Ais kearah orang tua Yudha untuk bersalaman.


"Permisi semuanya. Assalamualaikum!" Ucap salam Aisyah dan berjalan keluar rumah.


Bu Sulis terus memperhatikan Aisyah yang berjalan keluar. Karena penampilan Ais menyentuh hati Bu Sulis.


Cantik sekali perempuan itu. Batin Bu Sulis.


Bersambung...

__ADS_1


...Happy Reading...


__ADS_2