Sebuah Keputusan

Sebuah Keputusan
Izin


__ADS_3

Dirumah ..


Jam 19.00 WIB


Ketiganya telah sampaai dirumah. Kenzi membuka pintu rumah dan masuk kedalam diikuti oleh Aisyah dan Vano.


"Aku mau ambil baju dulu. Koko mau minum apa?" Tanya Ais yang menampakkan wajah kesal sejak tadi.


"Enggak usah, kamu lanjut aja!" Jawab Vano dengan tersenyum.


"Ya udah!"


Aisyah lalu pergi kekamar orang tuanya untuk membereskan baju yang akan dibawanya kerumah sakit. Disana Ais memasukkan baju Abi dan bunda secukupnya.


Setelah itu kembali keluar dengan menenteng tas ditangan kirinya.


Ais melihat Vano dan Kenzi Yaang sedang duduk bersama sambil mengobrol dengan santainya.


Ternyata Kenzi cepat akrab dengan Vano sejak pertemuannya dirumah sakit.


"Heem.." Dehem Ais dan menatap kedua orang lelaki itu.


"Kak Ais, aku ikut lagi ya." Kata Kenzi.


"Ya, udah nanti pulang bareng kak Sisil ya. Kakak nanti temenin bunda."


"Asyik.." Teriak Kenzi.


"Koko belum dibuatin minum, Ken?"


"Udah tadi sama mbok Darmi." Sahut Kenzi.


"Oh, ya udah kita berangkat yuk!" Ajak Ais karena hati sudah semakin malam.


Ketiganya menuju mobil dan pergi dengan cepat menuju rumah sakit. Ais dan Vano tidak ada pembicaraan, keduanya hanya terdiam. Malah Vano lebih banyak berbincang dengan Kenzi.


****


Dirumah sakit


Ketiganya berjalan cepat keruangan dimana Abi dirawat.


Cekrek..


Aisyah membuka terlebih dahulu. Kemudian mengucapkan salam ketika memasuki ruangan.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam!" Jawab serentak yang ada didalam ruangan.


Aisyah melihat Abi sudah sadar dari pingsannya. Ditangan Abi masih terpasang selang infus.


Kemudian mata Aisyah melihat om Yusuf duduk didekat abinya. Sambil memberi semangat agar Abi Bimo lekas sembuh dari sakitnya.


"Vano, kamu disini."


Om Yusuf ternyata sudah mengenal Vano terlebih dahulu. Dan om Yusuf terkejut saat kedatangan Vano.


"Om Yusuf! Iya saya dokter disini!" Sahut Vano.


Aisyah menengok kearah Vano dengan herannya. Ternyata antara Vano dan om Yusuf sudah saling mengenalnya.


Vano yang sudah mengenal om Yusuf kemudian mencium tangan om Yusuf, Abi dan bunda. Diikuti juga oleh Aisyah dan Kenzi.

__ADS_1


"Kamu kenal dengan dokter itu?" Tanya Abi penasaran!


"Iya jelas. Sangat kenal. Vano itu mualaf dan dia sekarang tinggal dipesantren milik kamu, Bim!"


Semua kaget dan semua mata tertuju pada lelaki yang bernama Vano itu.


Vano hanya tersenyum ketika semua orang mengarah pandangannya kepada Vano.


"Mualaf. Maksudnya om Yusuf apa?"


Aisyah merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh om Yusuf.


Ada perasaan senang jika benar Vano sekarang adalah seorang mualaf. Berarti cintanya terus diperjuangkan oleh Vano sesuai Janjinya pada Ais.


"Iya Ais, Vano menjadi mualaf sekitar kurang lebih empat bulan ini. Tapi kami sudah saling kenal sekitar satu tahun ini. Awalnya Vano ini hanya ingin tahu tentang agama Islam. Lama-lama akhir tertarik untuk mendalami tentang islamjuga. Iya kan, Vano?"


"Iya om."


"Selain itu." Sela Abi pada Vano.


Vano yang ditanya pada Abi kaget. Pasalnya ia memang belum mendapat restu dari abinya Ais.


"Apa maksud kamu, Bim?" Tanya om Yusuf


"Dokter itu suka pada anak ku." Ungkap Abi Bimo pada sahabatnya.


"Oh."


Vano hanya tersenyum ketika namanya, lagi-lagi disebutkan.


"Waahh ternyata cowok keren dan ganteng ini kekasihnya kakak ku. Pastas saja, dari tadi terus membela kakak ku yang cantik." Kata Kenzi dengan hebohnya karena tidak menyangka sama sekali.


Obrolan mereka terhenti ketika Kenzi mengatakan sesuatu. Aisyah yang mengetahui itu lekas membungkam mulut adiknya dengan tangannya.


"Aaaaa. Kenzi apaaan sih. Sakit tau."


Aisyah berteriak ketika tangannya dicubit sangat kencang oleh adiknya.


"Kalian berdua apa-apaan sih. Abi lagi sakit juga." Ucap Sisil yang berusaha menasehati keduanya!


"Kalian minta antar sama om Yusuf ya."


"Iya bun!" Jawab Kenzi.


"Maaf saya mau permisi pamit. Abi Bimo semoga lekas sembuh."


"Eheeem." Dehem om Yusuf menggoda Vano.


Vano bersalaman dengan semuanya. Dan berjalan keluar ruangan.


"Aku permisi keluar sebentar." Pamit Ais dan ingin berbicara pada Vano. Kemudian langkah kakinya mengejar dengan cepat.


Setelah kepergian Aisyah. Kenzi, Sisil dan om Yusuf pamit. Kini Abi dan bunda kembali beristirahat.


****


Jam 21.00 WIB


Aisyah terus mencari keberadaan Vano, ternyata ia berada diruangannya. Lalu masuk kedalam ruangan itu.


Cekrek...


"Assalamualaikum."

__ADS_1


"Waalaikumsalam! Ais.. masuk sini!" Kata Vano dengan senangnya karena Akhirnya ia bisa mengobrol berdua. Karena sejak tadi Ais hanya terdiam saja walaupun bersama.


"Ko, terima kasih untuk hari ini. Pokoknya makasih banget. Tapi.."


"Tapi apa?"


"Ah sudahlah...aku pamit. Cuma mau bilang itu aja."


"Tunggu, nggak mau cerita soal Yudha." Kata Vano dengan menarik tangan Ais dan melarangnya pergi.


Aisyah yang dipegang tangannya. Lalu menghempaskan tangan Vano. Ais merasa enggan jika berpengan tangan dengan lelaki. Walaupun itu teman dekatnya!


"Ok maaf."


"Bukannya Koko sudah tau siapa Yudha. Lelaki tidak punya pendirian itu."


"Tau, sebaiknya jangan pernah berhubungan dengan keluarganya. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa. Paham!'


Aisyah menengokkan wajahnya kearah Vano, kini mereka saling memandang. Ada senyuman bahagia diwajah keduanya. Setelah sekian lama tidak berbincang bersama. Kini mereka bisa bersama.


"Ais, aku akan segera melamar kamu. Kali ini, aku harus siap. Jangan sampai Yudha atau lelaki lain mendahului."


Aisyah melotot ketika mendengar Vano berkata dengan lantangnya. Bahwa dirinya akan dilamar oleh lelaki yang selama ini dinantikannya.


"Ko, om Yusuf bilang kalau Koko tinggal dipesantren milik abi. Maksudnya?"


"Jadi begini..." Ungkap Vano.


Vano mulai menceritakan tentang semuanya..


Flashback on


Ketika berada dirumahnya. Kedua orang tua Vano dan adiknya menentangnya. Tidak setuju akan Keputusan yang Vano ambil.


Orang tua Vano sangat kecewa akan keputusan Vano. Tapi karena tekad Vano yang sudah bulat, maka Vano memutuskan untuk pergi dari rumah. Meninggalkan orang tua dan adiknya.


"Pa..ma..maaf. Kalau keputusan yang aku ambil salah bagi papa sama Mama. Tapi percayalah, aku yakin dengan keputusan ku." Ungkap Vano percaya diri bahwa keputusan yang ia ambil tidak akan salah.


"Pergi dari rumah ini dan jangan pernah berhubungan dengan kami lagi. Mulai detik ini, kamu bukan lah bagian dari kami." Kata papa Steve.


"Baik pa!" Balas Vano


Alin hanya menangis ketika kakaknya sudah mengambil keputusan. Melihatnya pergi meninggalkan rumah dan keluarga!


Vano pergi dari rumah setelah berpamitan dengan orang tua dan adiknya.


.


.


.


.


Sampai akhirnya Vano pergi tanpa arah dan tujuan. Hingga akhirnya Vano menyelamatkan om Yusuf dari copet.


Hingga akhirnya om Yusuf sering bertemu dan berbincang-bincang tentang agama Islam kepada Vano.


Akhirnya om Yusuf mengundang Vano untuk belajar diponpes. Disana om Yusuf memperkenalkan lebih banyak tentang agama Islam, selain memberikan tempat tinggal.


Vano tidak mengetahui bahwa ponpes tersebut milik abi Bimo. Karena om Yusuf belum sempat mempertemukan Vano dan Abi Bimo!


Flashback off

__ADS_1


__ADS_2