Sebuah Keputusan

Sebuah Keputusan
Reyna Lagi..


__ADS_3

Dua bulan kemudian...


Aku sudah berhenti bekerja dikantor Pemda setempat. Bimo menyuruh ku untuk membuka restoran diruko yang ia beli untuk ku. Dan baru akan kumulai.


.


.


.


.


.


Kami semua juga sudah pindah kerumah Bimo, yang ia beli untuk ku dan anak-anak. Rumah yang cukup besar untuk kami berempat tempati.


Sekarang kesibukan hanya mengurus suami dan anak-anak.


"Mas, ayo sarapan dulu. Ajak mas Harris sekalian!" Kata ku yang menyiapkan menu sarapan dimeja makan.


"Gak usah repot-repot, Manda!" Jawab Harris.


Ini bukan yang pertama kalinya bagi Harris untuk makan disini. Sudah berkali-kali. Tapi aku dan Bimo tidak mempermasalahkannya.


"Ayoklah cepat..! Kalau udah selesai. Aku harus kesekolah Sisil dan Aisyah!"


"Memang ada apa, Bim?" Tanya Harris penasaran.


'Itu mas, ambil raport." Jawab ku.


Harris dan Bimo sudah duduk dikursi dan ikut sarapan pagi bersama.


Kami semua akhirnya sarapan pagi bersama-sama.


****


Selesai sarapan keduanya kembali berbincang-bincang sambil duduk didepan.


Aku dibantu dengan mbok Darmi membereskan meja makan dari piring kotor dan gelas.


****


Jam sepuluh tepatnya kami berempat pergi kesekolah Sisil terlebih dahulu, untuk mengambil raport.


Di SMPN..


Kami berempat masuk kedalam sekolah. Sisil dan Aisyah menunggu bersama Bimo diluar kelas. Aku masuk kekelas dan bertemu dengan wali kelasnya.


"Assalamualaikum." Ucap ku ketika masuk kelas.


"Waalaikumsalam. Mari masuk Bu!"


Aku bersalaman kepada Bu Lusi wali kelas Sisil. Kemudian bertanya kepada Bu Lusi mengenai perkembangannya dalam belajar.


"Bu bagaimana perkembangan Sisil dalam belajar dikelas?"


"Sisil banyak peningkatan dari segi belajarnya. Hapalan untuk bahasa Araf, murothal dan baca tulisnya ada kemajuan yang begitu pesatnya. Dipelajaran lain juga iya. Untuk pergaulan dengan temannya juga sudah baik. Kalau dulu diam , dan suka menyendiri tapi sekarang mudah beradaptasi dengan yang lainnya. Selamat ya bu, Sisil jadi juara kelas."


"Serius Bu" Tanya ku tidak percaya.


"Iya Bu Manda."


"Terima kasih Bu. Kalau begitu saya permisi!"


Aku berjalan keluar dan menampakkan wajah yang masam.


"Bagaimana Bun, nilai kakak?"

__ADS_1


Aku menggelengkan kepala, tidak menjawab. Sisil menatap ku seperti akan sedih.


"Bun, Sisil bagaimana raportnya?" Tanya Bimo yang ikut penasaran.


Sebenarnya aku sudah tidak tahan lagi, rasanya ingin tertawa. Tapi ku tahan demi mengerjai Sisil.


Melihat wajah Bimo yang menatap ku cemas, karena dari tadi aku hanya diam. Sedangkan Sisil menunduk kepalanya saja dari tadi.


"Hahahah...bunda gak tahan liat Abi sama kakak!!" Kata ku yang tertawa geli.


"Bundaaa.."


"Iya Abi, maaf!"


.


.


Aku menceritakan semuanya kepada Sisil bahwa Sisil menjadi juara kelas. Seketika raut wajahnya langsung berubah dengan cepat!


Sisil tersenyum bahagia. Ia langsung mengabadikan kebahagiannya disosial media.


Sekarang giliran Aisyah..


Di SDN...


Sisil sedang asyik dengan ponselnya. Kalau Aisyah dan Bimo ikut bersama ku kedalam kelas.


"Assalamualaikum Bu!"


"Waalaikumsalam mari silahkan masuk Bu, pak."


"Ais, nilainya bagus ada peningkatan. Selamat ya, tetap pertahankan prestasinya." Ucap wali kelasnya.


"Terima kasih Bu. Kalau begitu saya permisi. Assalamualaikum."


Aisyah yang sudah mendengarnya sangat bahagia dan teriak kegirangan. Sampai kakinya tersandung dan akhirnya terjatuh.


Untung saja Aisyah tidak menangis. Ia langsung bangun lagi dan berjalan kembali.


Kami berempat melajukan mobil untuk mengajak anak pergi bersenang-senang. Mumpung abinya, sedang tidak ada tugas.


Bimo melajukan mobil kemall.


Dimall.


Kami berjalan bersama-sama, Kedua anak-anak matanya melihat kesana kemari. Mencari hadiah yang akan diberikan oleh abinya.


"Hayoo, kalian berdua sudah ketemu yang dicari." Tanya Bimo yang melihat anak-anak begitu sibuk mencari hadiah dari Abi.


"Aku udah Abi." Kata Sisil yang mengambil tas dan sepatu untuk sekolah nanti.


"Aku juga yang mengambil buku dan tas sekolah."


Bimo lalu membayar semua belanjaan dikasir. Setelah membayar Bimo, aku dan anak-anak kembali berjalan lagi.


Aisyah dan Sisil berjalan sambil bercanda. Hingga Sisil akhirnya menabrak seorang perempuan dewasa.


"Aaaawwa... " Teriak perempuan itu.


Lalu membalikkan badannya dan melihat kearah Sisil.


"Punya mata nggak sih. Ini tuh mall, bukan taman bermain!! Lihat nih bajunya kotor!!" Teriaknya kencang karena coklat yang dibawa Sisil hingga jatuh dibaju perempuan itu.


"Maaf mbak bisa pelan dikit ngomongnya!! lagian mereka juga gak sengaja." Ucap Bimo dan membela Sisil yang dimarahi oleh perempuan itu.


"Mas Bimo. Masih ingat kan sama aku Reyna."

__ADS_1


Seketika raut wajah Reyna yang masam berubah menjadi tersenyum dan ramah.


Bimo hanya diam tidak membalas perkataan Reyna. Lalu aku maju menghadapi pelakor itu. Aku tidak ingin kejadian yang sama terulang kembali. Tidak mau ada lagi Reyna yang sama lagi dan merebut suami ku.


"Maaf mbak, anak saya tidak sengaja. Lagian mbak sendiri juga salah. Kalau jalan seharusnya mata tetap fokus kedepan. Bukan malah sibuk dengan ponselnya."


"Kamu kan!!"


"Apa, masih ingat saya!!"


Aku menatapnya dengan tatapan penuh amarah. Wanita seperti Reyna tidak akan ku biarkan mengganggu kebahagian ku lagi.


'Ayo mas, kita pergi gak ada untungnya ngeladenin pelakor!" Kata ku dengan tersenyum tipis kearah Reyna.


Anak-anak berjalan mengekor dibelakang ku. Kami pun akhirnya berjalan keparkiran. Lalu kami semua naik kemobil. Bimo menjalankan mobilnya untuk pulang.


Dalam perjalanan Bimo terus menatap ku dan tersenyum. Ia tau aku sangat marah ketika Reyna yang marah tiba-tiba saja tersenyum ketika melihat Bimo.


"Ada yang lagi cemburu nih."


"Siapa yang cemburu." Jawab ku ketus.


"Ayo coba siapa?" Ledek Bimo lagi.


Aku hanya diam, tidak melanjutkan lagi obrolan dengan Bimo. Rasanya masih kesal bertemu dengan pelakor itu.


****


Dirumah..


Aku langsung masuk kedalam, begitu juga dengan anak-anak. Bimo yang terus memperhatikan ku, karena sejak bertemu dengan Reyna dimall. Rasanya mood ku sedang tidak enak.


"Bun, kamu baik-baik saja."


"Aku masih kesal, bi! Kesal banget! Kenapa aku harus ketemu dia. Udah gitu.. cara menatap kamu tuh beda banget! Ih.. amit-amit!" Kata ku sambil memukul meja dan jauh-jauh dari pelakor macam Reyna.


"Sini lihat abi!"


"Apa, bi? Aku tuh kesal."


"Bunda sayang, bunda cantik! Jangan ngomel-ngomel aja. Percaya sama abi. Hati Abi ini cuma buat bunda. Abi milik bunda! Bukan yang lain!"


"Abi..apaaan sih."


"Abi lapar mau makan masakan bunda." Kata Bimo yang mencari alasan agar aku tidak terlalu fokus memikirkan hal tadi.


"Ya sudah, Ani tunggu sini ya!"


Aku berjalan kedapur untuk memasak makanan. Sayuran yang ada di kulkas saja yang ku masak. Karena hari ini aku belum berbelanja.


.


.


setengah jam memasak akhirnya masakan matang dan ku letakkan semua dimeja. Mbok Darmi membantu ku merapihkan semuanya!


Ada sayur asam, sambal, tempe goreng, ayam goreng. Jamur krispi dan lalapan.


"Mas, Ayuk makan!" Panggil ku kepada Bimo.


Bimo datang dari kamar! Kemudian duduk dikursi. Mengambil nasi dan ditaruh kepiring. Begitu juga dengan sayur dan lauk ya.


"Kak, adek.. ayo cepat kesini."


Kedua Kakak beradik itu datang dan duduk. Kemudian mengambil piring dan mengambil nasi dan lauknya juga.


Aku hanya duduk dam melihat mereka semua makan. Entah kenapa rasanya tidak berselera lagi, mungkin karena aku masih ingat pada Reyna gay sudah membuat amarah ku memuncak.

__ADS_1


__ADS_2