
Setelah seminggu dirawat dirumah sakit akhirnya kong Rizal pulang kerumah bunda Manda dan Abi Bimo.
Abi dan bunda tidak merasa keberatan dengan kehadiran kong Rizal dirumah. Malah sebaliknya Abi dan bunda menyambut hangat kedatangan kong Rizal.
Memang kong Rizal hanya mantan mertua bagi bunda, tapi hubungan baik tetaplah harus dijaga. Itu yang Abi selalu katakan kepada semuanya.
Sedangkan ayah Abim hanya sesekali menengok kong Rizal dirumah sakit. Ayah menyadari bahwa dirinya belum bisa memberikan yang terbaik bagi kong Rizal diusianya kini.
Kalau Bu Nurlela, dirinya merasa lega bahwa beban hidupnya kini berkurang. Tidak lagi menanggung hidup mertuanya.
.
.
Dirumah..
Jam 09.00 WIB
Hari ini adalah hari Minggu dimana, Aisyah dapat bernapas dengan lega setelah berhari-hari sibuk dengan aktifitasnya.
Masalah Aisyah berkurang satu. Kong Rizal sudah sembuh dari sakitnya dan mau untuk tinggal bersama kedua orang tuanya.
Hanya tinggal memikirkan tentang hubungannya dengan lelaki yang kini sedang dekat dengannya yaitu Vano.
Entah bagaimana lagi ia memikirkan hubungannya yang lambat laun menjadi semakin banyak cobaan.
"Es...es..es.. " Teriak pedagang es Doger yang lewat didepan rumahnya.
Aisyah yang melihat dari dalam kamarnya langsung berlari keluar rumah untuk mengejar penjual es doger.
Adiknya ya g sedang duduk sambil membaca buku sepintas melihat kakaknya berlari tanpa melihat adiknya.
Cekrek..
Aisyah lalu membuka pintu, kemudian berteriak memanggil penjual es doger dengan kencangnya.
"Bang..beli!"
Penjual es Doger yang mendengar suara panggilan lalu melihat dan memberhentikan gerobaknya.
"Es neng?"
"Iya bang! Buatkan lima ya!" Kata Aisyah yang berdiri pas dihadapan penjual es Doger.
Penjual es Doger dengan cekatan membuat lima es doger. Setelah selesai diberikannya kepada Aisyah satu persatu kedalam tangannya Ais.
"Ken..tolong bantu kakak bawa es nih."
Kenzi yang mendengar namanya dipanggil langsung bergegas menghampiri kakaknya. Kemudian dengan tangannya membawa dua gelas es doger kedalam.
Aisyah yang masih berdiri diluar, merogoh kantong celananya untuk membayar es tersebut.
"Pak berapa semuanya?"
"Dua puluh lima ribu rupiah!" Jawab pedagang es doger.
"Ini ambil aja kembaliannya!" Ucapnya lalu memberikan uang tiga puluh ribu rupiah.
"Terima kasih!"
Aisyah yang sudah membawa tiga gelas es Doger dengan berjalan perlahan masuk kedalam rumah. Kemudian meletakkan es doger dimeja.
"Kak..ini ada es doger."
"Ya bentar." Jawab Sisil dari dalam kamarnya.
__ADS_1
Lima menit kemudian, Sisil pun datang dan segera ikut bergabung bersama kedua adiknya.
"Kok sepi pada kemana dek?"
"Abi sama bunda lagi dikamar kong." Jawab Kenzi sambil menikmati es doger yang nikmat rasanya.
"Dek bagaimana hubungan kamu sama Vano?" Tanya Sisil yang penasaran.
Sisil melihat keadaan Aisyah yang sudah tidak masam lagi. Jadi dengan keberaniannya, Sisil bertanya pada adiknya.
"Baik. Oh iya aku lupa, kalau hari ini ada janji dengan teman."
Aisyah langsung bergegas bangun dari duduknya. Aisyah sengaja menghindari pertanyaan kakaknya.
Hanya saja belum tau apa yang harus ia jawab jika bertanya tentang hubungannya dengan Vano. Karena memang hubungannya dengan Vano tidak sedang baik-baik saja.
"Kak esnya masih ada." Kata Kenzi yang melihat dua gelas es Doger masih ada dimeja.
"Ambil aja!" Sahutnya dengan cepat melangkahkan kaki kekamar kong Rizal untuk berpamitan.
Cekrek..
Aisyah masuk kedalam kamar dan melihat kong Rizal yang tertidur. Dengan pelan langkah kakinya mendekati kedua orang tuanya.
"Abi ..bunda. Ais pergi dulu ya." Bisiknya.
"Mau kemana?" Tanya bunda Manda.
"Ehmm..aku mau keluar sebentar cari udara segar. Sendiri kok!" Jawabnya dengan melebarkan senyum dibibirnya yang manis.
"Baiklah nak hati-hati!" Ucap bunda Manda.
Aisyah lalu mengangkat tangan kanannya untuk bersalaman dengan tangan Abi dan bunda.
"Assalamualaikum."
Setelah berpamitan dengan orang tua, adik dan kakaknya. Kini Aisyah pergi untuk memrefreskan pikiran juga hatinya agar pikirannya kembali tenang dan bisa kembali berpikir dengan jernih.
.
.
.
Tanpa terasa Aisyah yang pergi dengan menaiki sopir pribadi ayahnya. Kini berhenti di suatu tempat yang baru pertama kalinya didatanginya.
Tempat itu adalah rumah orang tua dokter Vano. Aisyah hanya mencoba untuk berusaha agar orang tua Vano bisa lebih mengenal langsung sosok Aisyah.
"Apa salahnya mencoba. Hasil akhirnya kuserahkan pada mu Ya Allah. Amiin." Ucap Ais pelan.
"Pak terima kasih ya. Bapak langsung pulang aja." Suruh Aisyah pada sopir pribadinya.
"Baiklah mbak. Kalau begitu saya permisi! Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Jawab Ais dan langsung membuka pintu mobil.
Ketika turun dari mobil, Aisyah memandang rumah yang tidak begitu besar tapi berbentuk minimalis modern jadi terlihat begitu bagus dengan pemandangan indah karena banyak tanaman bunga dihalaman rumahnya.
Melangkah maju dengan jantung yang semakin kencang berdetak tak beraturan. Tangannya membawa oleh-oleh untuk tuan rumah yang baru saja Aisyah beli dijalan barusan.
Otaknya terus berputar untuk menyiapkan segudang kata-kata yang akan disampaikan saat bertemu dengan orang tua Vano.
Saat berdiri didepan pintu. Aisyah menarik napas panjang supaya dapat mengumpulkan keberanian dihadapan orang tua Vano.
Tok.. tok..tok
__ADS_1
Tiga ketukan mendarat di pintu rumah orang tua Vano.
Tak lama pintu terbuka dan keluarlah seorang perempuan paruh baya yang usianya kini kira-kira menginjak lima puluh tiga tahun.
Aisyah tersenyum manis dan lebar kepada mama Susanti.
"Selamat siang!" Ucap Ais.
"Hemm..Cari siapa." Jawabnya dengan ketus.
"Perkenalkan aku Aisyah. Tante pasti mamanya Vano ya!"
"Ada apa? Tidak usah basa basi."
Lagi-lagi mama Susanti tak tersenyum sedikit pun padahal Aisyah sejak tadi berkata dengan ramahnya.
"Oh iya. Ini ada oleh-oleh sedikit. Semoga Tante suka." Ucap Aisyah tak menyerah dan menyodorkan oleh-oleh tersebut kepada mama Susanti.
Tapi apa yang terjadi bukannya menerima pemberian Aisyah. Mama Susanti malah memaki Aisyah dengan kasarnya, serta membuang jauh pemberian Aisyah.
Aisyah spontan terkejut dan diam seribu bahasa. Hatinya sungguh menangis melihat perlakuan perempuan paruh baya itu.
"Dengar baik-baik. Jangan coba menyogok kami dengan memberikan apapun! Hati saya gak tersentuh sedikit pun. Sampai kapan pun saya gak akan sudi menerima kamu sebagai menantu kami. Kalau kamu sampai nekat, maka kamu gak pernah bahagia dalam rumah tangga kamu. Karena tidak akan mendapatkan restu dari kami." Ungkap mama Susanti saat itu.
Papa Sony yang sedang berada didalam lalu keluar karena mendengar suara ribut.
"Mama ..ada apa ini?" Tanya papa Sony ketika melihat seorang gadis berdiri didekat pintu.
"Pa..coba lihat perempuan tidak tau malu ini kesini!" Kata mama Susanti sangat kesal.
"Maaf kalau kedatangan saya menganggu tante dan om. Saya tidak.bermaksud demikian!" Kata Aisyah memberanikan diri.
"Kalau kamu emang peduli. Cepat jauhi Vano. Bagaimana pun caranya! Paham!" Kata papa Sony.
Mama Susanti bergegas kedalam. Mengambil pisau yang tergeletak dimeja Lalu kembali keluar rumah dan tepat berdiri dihadapan Ais.
Kedua bola mata Aisyah membelalak tajam kearah mama Susanti yang berdiri sambil memegang pisau ditanganganya.
"Ma..apa yang mama lakukan?" Teriak papa Sony panik.
"Dengar pa.. pokoknya sampai kapan pun mama gak akan merestui hubungan mereka berdua. Jika sampai itu terjadi maka Vano akan melihat mayat mama dipemakaman." Ancam mama Susanti dengan pisau yang hampir melukai nadinya itu.
Apa..batin Aisyah kaget.
Ais berusaha membujuk mama Susanti dengan berdiri mendekati tapi apa yang terjadi.
Aisyah terkena sayatan ditangannya, akibat tindakan mama Susanti yang begitu nekat. Papa Sony yang ikut membantu kewalahan.
"Baiklah tante jauhkan pisau itu. Aku akan menjauh dari hidup Vano."
"Kamu mencoba mengertak ku." Sahut mama Susanti.
Mama Susanti semakin nekat dan tidak main-main atas tindakannya. Kemudian dengan kencang menyayat tangannya dengan pisau hingga mengeluarkan darah segar.
"Tante.." Teriak Aisyah.
Mama.." Teriak papa Sony.
"Baiklah tante. Aku janji akan menjauhi Koko. Aku janji." Isak Aisyah tidak tega.
"Baiklah aku pegang janji mu. Sekarang pergi menjauh dari kami semua termasuk Vano. Pergi. Pergi sana..pergi!" Usir mama Susanti.
Aisyah berjalan menjauh dan terus menjauh dari rumah itu. Dengan tangan yang terus mengeluarkan tetesan darah segar.
Aisyah sudah tidak bisa merasakan sakit ditangannya. Kini ia rasakan jauh lebih sakit kehilangan Vano yang perlahan akan Aisyah tinggalkan.
__ADS_1
Air matanya terus menetes. Pikirannya terus memikirkan alasan apa yang akan ia katakan kepada orang tua dan kekasihnya. Dalam waktu singkat semua berubah.
Impiannya tentang pernikahan dengan Vano hanya bagaikan mimpi saja. Bagi mimpi disiang bolong yang tidak akan pernah menjadi kenyataan.