Sebuah Keputusan

Sebuah Keputusan
Abi Bukan Ayah-2


__ADS_3

Dikantor...


Jam 07.35 WIB


Bimo mengantar anak-anak terlebih dahulu kesekolah. Barulah mengantar aku kekantor.


.


.


Mobil Bimo baru saja sampai dikantor. Bimo meminggirkan mobilnya dipinggir jalan.


"Mas, terima kasih ya!" Kata ku dan mencium tangannya.


"Hanya itu!"


Sekilas, aku kaget mendengar kata yang baru saja ia ucapkan. Bola mata ku melotot! Melihat tingkahnya yang aneh dan memandang ku.


"Apaan sih!" Jawab ku malu.


Aku membuka pintu saja dan hendak turun dari mobil. Tapi tangan ku ditarik pelan oleh Bimo.


"Mau kemana sih, buru-buru?"


"Mau kerjalah, mas. Emang mau kemana?"


"Ya sudah.. kerja yang benar dan fokus ya! Nanti aku akan usahakan jemput!" Katanya dan tiba-tiba saja, sebuah kecupan mendarat di kening ku!


Sontak aku kaget dan bengong, melihatnya!


Tidak menyangka suami ku sekarang lebih perhatian dan romantis.


"Ehmm.. bengong deh! Apa mau lagi?"


Lamunan ku tersadar ketika mendengar Bimo, menggoda ku lagi!


"Apa sih! Udah ah.. aku turun. Hati-hati ya mas! Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam."


Aku turun dari mobil dan berjalan kekantor. Ku lihat Bimo sudah kembali menjalankan mobilnya dan pergi!


Didalam kantor, aku keruang kerja ku dan duduk dikursi. Mulai merapikan semua yang akan digunakan untuk bekerja.


"Hey, pengantin baru udah masuk?" Tanya Rico.


"Iya mas!"


"Cutinya dikit amat sih?" Kata Angga.


"Cuti dapet tiga hari!"


"Selamat ya, Manda!" Ucap yang lainnya.


"Iya terima kasih!" Kata ku dan tersenyum kearah mereka semua.


Teeeeetttt..


Bel berbunyi itu artinya bel untuk memulai pekerjaan. Aku dan yang lainnya mulai untuk bekerja dihadapan kertas dan laktop.


****


Jam 15.45 WIB


Aku pulang sendiri dengan menaiki mobil online yang telah dipesan oleh Bimo. Karena Bimo tidak bisa menjemput. Bimo ada urusan mendadak yang tidak bisa ia tinggalkan. Bimo pergi bersama Harris.


Dalam perjalanan pulang, aku melihat sosok lelaki yang sudah lama tidak ku jumpai. Itu adalah Abimanan mantan suami ku.


Aku melibat dari dalam mobil. Ketika lampu merah, mobil berhenti pas didekat motor Abim.

__ADS_1


Tapi apa itu mungkin mas Abim? Enggak mungkin dia? Kata ku pelan tapi ragu, apakah itu benar dirinya atau bukan!


Abim menaiki motornya, rambutnya terlihat gondrong walaupun tertutup dengan helm. Penampilannya, sungguh acak-acakan. Dibagian depan dan belakang motor penuh dengan beberapa dus belanjaan. Seperti habis dari pasar.


.


.


Tak lama kemudian lampu berubah warna menjadi hijau, mobil dan motor kembali melaju dengan cepat. Begitu juga dengan mobil yang ku naiki.


Dirumah..


Aku turun dari mobil. Lalu berjalan masuk kerumah mama.


"Assalamualaikum, ma!" Kataku yang baru masuk kedalam rumah dengan membuka pintu depan.


"Waalaikumsalam, sudah pulang ndok!"


Aku mencium tangan kanan mama dan melihat anak-anak sedang menonton TV acara kesukaannya.


"Adek sama kakak asyik banget nonton TV, sampai gak tau kalau bunda ada disini."


Keduanya langsung menengokkan kepalanya kearah ku. Mereka juga berteriak bersamaan. "Bunda."


Keduanya langsung bangun dari duduknya dan mencium tangan ku. Kemudian duduk kembali dan melanjutkan menonton tv.


"Bun, Abi mana?" Tanya Aisyah yang baru menyadari kalau Bimo tidak ada.


"Abi ada urusan, jadi bunda pulang sendiri."


Mata ku mencari Widya, tapi tidak ada. Sudah beberapa hari ini aku tidak melihat Widya.


"Ma, Widya kemana?" Tanya ku.


"Widya pulang kerumah orang tuanya. Mau melahirkan disana, katanya!"


"Mama sendirian dong?"


.


.


Karena hari semakin sore, aku mengajak kedua anakku pulang.


"Ayok pulang dulu yuk, bunda mau mandi. Terus masak buat makan malam!"


Anak-anak mendengar kata ku. Mereka berdua bangun dan berpamitan kepada mama.


Kami bertiga pulang kerumah dengan berjalan kaki. Hanya beda beberapa blok saja dengan rumah mama.


Sampai dirumah, aku langsung pergi kekamar mandi. Membersihkan diri dari keringat setelah beraktifitas seharian. Anak-anak langsung melaksanakan sholat ashar.


Setelah selesai mandi, aku melaksanakan sholat ashar terlebih dahulu baru pergi kedapur untuk memasak.


****


Jam 19.00 WIB..


Sudah jam segini, Bimo belum pulang juga. Ia hanya mengirimkan sebuah pesan kepada ku, bahwa pulangnya agak telat.


Anak-anak menunggu kedatangannya. Perutnya sudah terasa lapar, tetapi bersih keras menunggu abinya.


.


.


"Bun, abi pulang kan?" Tanya Aisyah yang sedikit agak takut. Mungkin takut akan abinya tidak kembali.


"Pulang, emang kenapa dek."

__ADS_1


"Aku takut Abi gak kesini lagi! Takut Abi pergi ninggalin kita, seperti ayah!" Jawab Aisyah khawatir.


"Enggak! Abi pasti pulang. Insyaallah Abi gak akan pernah ninggalin seperti ayah Abim!"


"Iya bun."


Sedang asyik mengobrol tentang Bimo, ternyata Bimo datang bersama Harris. Kemudian masuk kedalam rumah.


"Assalamualaikum." Ucap bersamaan.


"Waalaikumsalam." Jawab bersamaan juga.


Anak-anak langsung berdiri dan mencium tangan Bimo dan Harris. Aku pun demikian mencium tangan suami ku.


"Silahkan duduk mas Harris." Kata ku dan diikuti oleh Harris.


"Bun, tolong buatkan minum untuk Harris." Suruh Bimo.


Aku langsung berjalan kedapur, sedangkan Bimo mandi dan mengganti pakaiannya.


Aku membawa dua gelas air minum dan roti bakar ke meja depan.


"Silahkan mas, diminum." Kata ku yang melihat Harris sedang asyik dengan ponselnya.


"Iya makasih ya!"


Aku pergi kedalam untuk mengajak anak-anak bermain dikamar.


Bimo telah selesai dan berjalan keluar kamar. Mereka berdua asyik mengobrol. Aku menyiapkan piring, sendok dan gelas untuk makan bersama.


Setelah selesai semua, aku berjalan kedepan dan melihat keduanya yang masih saja asyik mengobrol! Entah apa yang dibahas oleh keduanya!


"Mas!" Panggil ku pelan.


Bimo bangun dari duduknya kemudian berjalan kearah ku yang sedang berdiri!


"Mas, ajak mas Harris makan dulu! Aku udah masak terus anak-anak juga nunggu kamu makan. Mereka gak mau makan kalau gak sama kamu!"


"Ya sudah, kita makan. Aku panggil Harris dulu ya." Katanya dan berjalan menghampiri Harris untuk mengajak makan malam bersama.


.


.


Harris untuk pertama kalinya makan bersama kami. Dengan sayur dan lauk yang ku masak barusan.


Bimo begitu lahap makannya. Apalagi dengan anak-anak sampai tidak ada yang tersisa dipiring.


"Alhamdulillah. Terima kasih Manda. Masakannya enak dan lezat! Gak kalah sama masakan restoran." Puji Harris kepada ku.


"Mas Harris bisa aja."


Aku dibantu oleh Sisil untuk membereskan piring-piring bekas makan, kemudian membawanya kedapur untuk dicuci. Sedangkan Bimo dan Harris kembali berbincang-bincang didepan.


.


.


Malam semakin larut akhirnya Harris pamit untuk pulang. Aku sedang berada dikamar bersama anak-anak. Menemani mereka yang sedang belajar.


"Bun.." Panggil Bimo dari luar kamar.


Aku menghampirinya Bimo dan menanyakan da apa memanggil ku! "Ada apa mas?"


"Harris pamit mau pulang!"


"Oh..."


Aku dan Bimo mengantar kepergian Harris sampai depan pagar.

__ADS_1


Harris tidak bisa menginap disini, biasanya kalau dirumah Abi dan ummi, Harris suka menginap. Karena tidak ada kamar kosong untuknya!


...Happy Reading...


__ADS_2