Sebuah Keputusan

Sebuah Keputusan
Kemarahan Ainun


__ADS_3

Tidak ada kebaikan dalam ucapan


Kecuali dengan perbuatan..


Tidak ada kebaikan dalam ilmu..


Kecuali dengan pengamalan..


Tidak ada kebaikan dalam sedekah..


Kecuali dengan ketulusan..


Tidak ada kebaikan dalam harta...


Kecuali dengan kedermawanan...


Tidak ada kebaikan dalam persahabatan..


Kecuali dengan kesetiaan..


Tidak ada kebaikan dalam hidup...


Kecuali dengan mengumpulkan bekal..


...💦💦💦💦💦💦💦💦...


Dirumah orang tua Abim..


Jam 13.00 WIB.


Setelah orang tua Abim mengetahui semua perbuatan yang dilakukan oleh anaknya!


Mama Ainun mencoba menghubungi anaknya dengan menggunakan ponsel miliknya. Tampak raut amarah diwajah keduanya. Bagaimana tidak anak yang ia banggakan! Menjadi seperti orang yang lupa diri! Tidak mendengarkan apa yang dikatakan orang tua.


"Pak, bagaimana ini! Susah! Gak bisa dihubungin!" Kata Ainun yang sudah mencoba beberapa kali untuk menghubungi Abim tapi tidak bisa.


"Kerja ma! Bapak udah gak sabar untuk mendatangi Abim ditempatnya bekerja!" Sahut pak Rizal.


Pak Rizal sudah mempunyai rencana sejak dulu. Karena saking kesalnya Rizal pada anak semata wayangnya, yang tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang tua. Telah menelantarkan kedua cucunya. Seharusnya dimasa tua, mereka bisa melihat kebahagian tumbuh kembang cucunya, tapi kini mereka berdua harus menderita.


Pak Rizal meneteskan air mata, tidak kuat menahan tangis ketika memikirkan nasib kedua cucunya!


"Sudah ma, kamu istirahat saja. Nanti kita coba hubungin Abim. Setelah ia pulang kerja!"


Ainun menjawab dengan nada lesu tidak bersemangat memikirkan cucunya. "Iya pak, aku sedang memikirkan nasib Aisyah dirumah sakit! Mau makan rasanya tidak enak!"


Hiks hiks .. (Tangis Ainun pecah seketika mengingat kejadian anaknya yang tega pada cucunya)


Mama Ainun bangun dari duduknya kemudian mengambil sebuah tas yang ada didekatnya. Ia pergi keluar rumah.


Pak Rizal yang melihat istrinya pergi tanpa memberi tau mau kemana? Kemudian mengikuti dari belakang.


"Ma, mau kemana?" Kata Rizal menatap wajah istrinya.


"Aku mau ketempat kerja, anaknya sakit. Mana tanggung jawabnya sebagai seorang ayah yang selama ini selalu mengatakan ingin tanggung jawab dan menebus kesalahannya!" Omel Ainun yang sudah diubun-ubun!


"Ma, ayok masuk! Aku anter! Malu dilihat orang kamu seperti ini!


"Ya baiklah!"


Mama Ainun menuruti apa kata suaminya untuk masuk kedalam! Didalam rumah Ainun duduk, tapi perasaannya penuh kesal dan amarah!

__ADS_1


Pak Rizal Menganti baju dan celananya dengan kemeja dan celana panjang. Karena barusan ia hanya mengenakan baju Koko dan sarung.


****


Jam 14.30 WIB


Mama Ainun dan pak Rizal pergi ketempat kerjanya Abimanan dirumah sakit! Dengan mengendarai mobil, mereka pergi berdua!


Pak Rizal mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.


.


.


Rumah Sakit...


Perjalanan mereka berdua akhirnya sampai dirumah sakit tempat Abim dan Reyna bekerja. Perjalanan yang cukup singkat yang hanya memakan waktu kurang lebih empat puluh lima menit untuk sampai ditempat tujuan.


Setelah memarkirkan mobil diparkiran, keduanya turun dan berjalan menuju lobi.


Mata mama Ainun melihat kesegala penjuru, siapa tau bisa menemukan anaknya! Tapi ternyata tidak ada.


Pak Rizal menghampiri perempuan yang menunggu dilobi dan bertanya. "Permisi mbak, saya mencari Abimanan yang bekerja dirumah sakit ini!"


"Oh pak Abim! Hari ini beliau tidak masuk, pak!"


"Kenapa mbak?" Sela Ainun.


"Menurut keterangan, pak Abim sedang cuti bu!"


"Terus kalau Reyna, pelakor itu!"


"Ma, sabar!" Ucap pak Rizal menenangkan istrinya. Pak Rizal sebenarnya kesal pada anaknya! Tapi ia masih menahannya!


"Mbak, boleh minta alamat mereka?"


"Kalau lebih tepatnya saya gak tau, tapi saya akan menuliskan alamatnya dikertas!"


Kemudian dituliskan alamat Abim dan Reyna tunggal, kemudian diberikan oleh pak Rizal.


Pak Rizal menerima secarik kertas yang bertuliskan alamat rumah Reyna! Kemudian ia berkata! "Terima kasih!"


"Sama-sama, pak!"


****


Dengan cepat mereka berdua meninggalkan rumah sakit untuk pergi ke alamat yang dituju!


Mama Ainun meminta secarik kertas dan melihatnya!


"Pak, ini alamatnya! Membinggungkan! Gak jelas!"


Pak Rizal menjawabnya sambil mengemudikan setirnya! "Nanti kita bisa tanya"


.


.


Perjalanan pun sampai disekitar alamat yang dituju. Mereka berdua memarkirkan mobilnya dipinggir jalan. Kemudian mulai bertanya-tanya keorang-orang sekitar!


Setelah setengah jam bertanya akhirnya, mereka berdua berjalan masuk kesebuah gang.

__ADS_1


"Oalah pak, rumahnya masuk gang! Pantes saja kita dari tadi nanya! Pada gak tau!"


"Ya, ma! Kita jalan saja!"


Cukup jauh dari tempat mereka berdua parkir! Belum lagi jalanan yang berbelok-belok!


Setelah lelah mencari dan bertanya, belum mendapatkan hasil! Mereka berdua balik lagi ketempat mereka parkir mobil.


"Pak, bagaimana ini! Dari tadi tuh cuma muter-muter gak jelas! Mana pak keluar gang!"


"Iya ma, sepertinya nyasar!"


Ainun menepuk jidatnya, ia tidak menyangka kalau ia akan kesasar. Keduanya berdiri disebuah warung, kemudian menanyakan kepada penjual mengenai jalan menuju jalan raya utama.


"Permisi pak, kami mau keluar dari gang menuju jalan raya utama." Tanya Ainun.


Penjual warung itu menjawab. "Bapak dan ibu masuk dari gang mana? Soalnya banyak tembusannya pak!"


"Bentar! Ini alamat kami masuk gang!" Perjelas Ainun sambil memberikan secarik kertas yang bertuliskan alamat!


"Oh ini! Wahh.. nyasarnya jauh banget sampai sini."


"Ma..maksudnya bagaimana pak?" Tanya pak Rizal.


"Begini pak, Bu. Dari pada nyasar lagi. Kalau boleh saya kasih saran. Lebih baik naik ojek saja bayar lima ribu rupiah."


Mama Ainun pun menjawab. "Ya sudah! Tapi dimana ojeknya?"


"Disana!"


"Terima kasih pak!" Ucap bersamaan.


"Sama-sama!"


Mereka berdua akhirnya pergi naik ojek menuju tempat awal mereka memarkirkan mobilnya! Batu saja turun dari ojek dan membayar. Tiba-tiba saja pak Rizal melihat Abim yang sedang berjalan mau menyeberang jalan!


Pak Rizal menyeberangi jalan, disusul mama Ainun dari belakang. Mama Ainun yang melihat Abim berada diseberang jalan, segera mendahului pak Rizal.


Kini mama Ainun berdiri pas dihadapan Abim, putra semata wayangnya. Menatap wajah Abim dengan penuh amarah. Lalu maju mendekatinya.


Plakkk .....(Sebuah tamparan mendarat di pipi Abim)


Abim hanya diam tanpa membela dirinya. Ia tau apa kesalahannya pasti membuat kecewa kedua orang tuanya. Ia sudah berusaha untuk mempertahankan rumah tangganya dan memperbaiki tapi semua telah gagal.


"Abim, kamu tega sama cucu mama! Aisyah dan Sisil gak bersalah. Tapi kenapa kamu tega menghancurkan masa depan mereka." Omel mama Ainun tidak terkendali sambil memegang baju Abim dan menariknya sangat kencang.


Pak Rizal melerai mama Ainun agar tidak terlalu emosi. Apalagi ini ditempat umum.


"Sudah ma, hentikan. Malu, ini ditempat umum." Katanya.


"Ingat baik-baik Abimanan. Jika kamu tidak mau merubah semua keputusan kamu. Mama akan mengeluarkan dari keluarga. Mama gak akan berikan sepeser pun harta mama buat kamu. Kamu sudah mati bagi mama!" Teriaknya karena kesal.


Hikss hiks..


Mama Ainun seketika terjatuh, semua telah terucap untuk anak semata wayang yang ia telah banggakan sejak dulu. Tapi malah membuatnya kecewa.


"Sudah ma, kita sebaiknya pergi saja." Ajak Rizal.


"Ingat Abim, jika terjadi sesuatu sama mama. Bapak tidak akan memaafkan kamu. Bapak akan tuntut kamu."


Pak Rizal takut istrinya sakit karena memikirkan anaknya yang telah membuat kecewa. Anaknya yang bisa dijadikan tumpuan dihari tua nanti. Tapi hilang semua harapan dimasa tuanya.

__ADS_1


__ADS_2