Sebuah Keputusan

Sebuah Keputusan
Hilang Ingatan


__ADS_3

Jam 10.00 WIB


Kondisi Aisyah sudah kembali pulih. Sejak tadi pagi Aisyah sudah dipindahkan keruang rawat.


Vano dengan setia menemani kekasihnya. Ingin memastikan bahwa kekasihnya sudah benar-benar lebih baik. Barulah ia bisa meninggalkan untuk melakukan tugasnya kembali.


Sedangkan bunda dan Abi sudah pulang kerumahnya. Kondisi Sisil dan Kenzi juga sudah lebih baik tapi masih dalam perawatan.


.


.


Ais membuka mata perlahan. Jari jemarinya mulai bergerak.


Vano yang merasakan adanya gerakan dari tubuh Ais. Kemudian tersentak bangun dari duduknya. Matanya Vano melihat bahwa kekasihnya sudah membuka matanya perlahan-lahan.


Aisyah melihat terus kearah Vano. Mereka berdua salin beradu pandang.


Vano tersenyum bahagia. Tapi berbeda dengan Aisyah. Wajahnya tampak bingung.


Lalu berkata. "Si..siapa kamu?"


"Aku Vano, Ais." Kata Vano dengan menggenggam tangan Ais.


Aisyah melepaskan tangan Vano. Lalu dengan wajah kesal Aisyah berkata. "Siapa kamu berani pegang tangan ku?"


"Aisyah ini aku Vano. Koko Vano."


"Aku gak kenal. Pergi." Teriak Aisyah.


Cekrek..


"Assalamualaikum." Ucap salam Ayah Abim saat masuk keruang rawat Aisyah.


Aisyah melihat kedatangan lelaki tua dengan tubuh yang kurus. Rambut yang berwarna putih!


"Waalaikumsalam!" Jawab salam Vano dan mencium tangan Ayah Abim.


"Vano. Ada apa ini? Kenapa Aisyah berteriak?"


"Begini yah. Aisyah baru saja sadar dari koma dan melewati masa kritis semalam. Tapi entah mengapa Aisyah tidak mengingat saya." Kata Vano perjelas dengan wajah yang sedikit sedih.


Ayah yang mendengar kaget. Lalu melangkah untuk mendekati Aisyah. Dilihatnya Aisyah yang dari tadi terus memegang kepalanya yang dirasa oleh Aisyah sangat sakit.


"Sayang. Ini Ayah. Apakah Ais dapat mengingat ayah."


Abimanan mendekat kearah putrinya. Melihatnya dari dekat dan coba untuk memeluknya. Tapi ditolak oleh Aisyah!


"Siapa kalian? Aku tidak mengenal kalian. Pergi! Pergi!" Ucap Aisyah sambil berteriak histeris.


"Ais, kamu tidak ingat siapa kami?" Tanya Vano cemas.


Aisyah langsung melepaskan infus yang terpasang ditangannya.


"Aaaaaww." Teriak Aisyah.


"Aisyah tenang.. kami akan menjauh." Kata Ayah Abim.


Tapi baru saja berdiri, tubuhnya sudah langsung jatuh. Aisyah pun tak sadarkan diri lagi.


Vano langsung mengendong Aisyah dan kembali merebahkan tubuhnya. Dengan segera Vano pun memanggil dokter dan suster untuk memeriksa keadaan pasien.


Dengan segera dokter dan suster datang kedalam kamar Aisyah. Aisyah langsung mendapatkan tindakan medis.

__ADS_1


Vano pun menceritakan apa yang terjadi barusan kepada dokter.


Setelah selesai mendiagnosa akhirnya dokter pun menyimpulkan bahwa ..


"Pasien mengalami amnesia ringan. Ini hanya bersifat sementara. Ada luka benturan dikepala tapi tidak terlalu parah. Sebaiknya dibantu dengan mengingat hal kecil tapi tidak terlalu sering. Jika dirasa kepalanya sudah mulai merasa sakit jangan terlalu dipaksakan. Itu saja!"


"Baik dok. Terima kasih!" Ucap Vano pada dokter setelah menjelaskan semuanya!


"Kalau begitu saya permisi dan segera kabarin kalau ada apa-apa lagi!"


"Baik dok!"


Dokter dan suster keluar ruangan Aisyah. Kini tinggal ayah Abim dan Vano yang menemani Aisyah.


Aisyah kembali tertidur setelah dikasih obat penenang.


"Kenapa kejadiannya bisa seperti ini, nak!" Kata ayah Abim melihat putrinya yang sakit.


Ayah Abim sedih, kedua putrinya sedang mengalami cobaan. Ayah hanya bisa mendoakan untuk kesembuhan kedua putrinya.


"Yah, aku bisa minta tolong."


"Ya ada apa?" Sahut ayah Abim.


"Aku mau keluar sebentar. Mau kekantin cari kopi! Apa ayah mau?"


"Baiklah. Ayah akan tunggu disini!"


Vano meninggalkan ayah Abim. Kemudian Vano berjalan keluar untuk mencari makan dan minuman.


Sejak kemarin Vano belum pulang kerumah. Tugasnya sebagai dokter untuk sementara izin dulu.


Pikirannya masih belum bisa tenang. Apalagi sekarang, Aisyah tidak mengingat Vano. Itu membuat Vano menjadi cemas. Takut kalau hubungannya dengan Aisyah akan mengalami kendala yang lebih berat.


Akhirnya Vano memilih untuk memesan dua gelas kopi susu dan roti.


Lumayan untuk mengganjal perutnya yang terasa lapar.


.


.


Vano kembali keruangan Ais dengan membawa dua gelas kopi susu dan satu box roti dengan isi varian rasa.


Cekrek...


Vano masuk kedalam ruangan. Ayah Abim masih duduk lalu matanya melihat kearah Vano yang baru masuk.


"Yah..silahkan ini minum dulu, mumpung masih hangat." Ungkap Vano sambil memberikan gelas plastik yang berisi kopi panas dan roti.


"Terima kasih."


"Apa Ais terbangun yah?" Tanya Vano.


"Belum, masih tertidur pulas sekali. Ayah khawatir bagaimana kalau nanti Ais terbangun. Histeris lagi karena tidak mengenali keluarganya."


"Itulah yah yang aku pikirkan sejak tadi."


Vano terdiam kembali. Apa yang ia pikirkan dan khawatirkan akan menjadi kenyataannya.


Ya Allah tolong sembuhkanlah kekasih hati ku. Aku tidak tega melihatnya dengan keadaan seperti ini. Kembalikanlah dia seperti dulu. Aku berjanji akan menjaganya dan membuatnya kembali tersenyum! Batin Vano sambil matanya melihat kearah Aisyah.


Vano menahan air matanya. Sebenarnya air matanya hendak jatuh kepipinya.

__ADS_1


Ayah menghabiskan kopinya dan mencoba roti yang dibelikan oleh Vano.


"Vano..apa kamu tidak ingin pulang terlebih dahulu?"


"Tidak ayah. Nanti saja. Aku ingin memastikan bahwa Ais baik-baik saja."


Vano memang pulang sejak pertama Ais masuk kerumah sakit. Padahal seluruh tubuhnya sudah bau dengan keringat.


"Ya sudah. Tapi ayah mohon tetap jaga kesehatan. Jangan sampai kamu ikut sakit!"


Vano hanya mengangguk saja dan tersenyum.


.


.


Setelah satu jam lamanya Ayah Abim menemani Vano dan Aisyah dirumah sakit. Akhirnya ayah pamit untuk menjenguk Sisil dan Kenzi.


"Vano, ayah minta maaf tidak bisa menemani lama-lama disini. Salam dari ayah jika Ais sudah bangun. Sekarang ayah mau menjenguk Sisil dan Kenzi!" Kata Ayah sambil berjabat tangan dengan Vano.


"Iya ayah. Terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk menengok Ais."


"Sudah kewajiban ayah. Ayah pergi ya! Assalamualaikum!" Sahut ayah.


"Waalaikumsalam."


Kini tinggal Vano yang menemani Ais. Vano yang mulai lelah. Lama-lama ikut tertidur. Pikirannya mulai terbawa kealam mimpi.


Saat Vano tertidur pulas. Tangan Ais bergerak dan mulai terbangun. Pengaruh obat mulai hilang. Aisyah pun mulai membuka mata perlahan.


Matanya mulai melihat sekeliling. Perlahan Ais ingat bahwa tadi ia sempat meronta hingga akhirnya terjatuh dan tidak sadarkan diri.


Ais memandangi wajah lelaki dengan mata sipit dan kulit putih bersih.


Lelaki yang tampan. Tetapi ia tidak mengenalnya.


Ais terus memandang wajah Vano hingga lama sekali.


Dalam pikirannya terus bertanya-tanya tentang siapa lelaki itu. Apakah dirinya mengenalnya? Siapa dia dan hubungan apa dengan Ais?


Tapi kenapa? Aisyah tidak bisa mengingat siapa lelaki itu? Semakin memaksakan untuk mengingat tentang hubungan lelaki itu dengannya. Kepala Ais semakin sakit.


Aisyah yang sudah merasakan sakit teramat. Kini mulai meronta dan berteriak..


"Aaaaaaaa."


Hiks..hiks..Aisyah menangis karena tidak bisa menahan rasa sakitnya.


Vano yang tertidur pulas akhirnya terbangun karena mendengar Aisyah berteriak.


Lalu spontan mendekat kearah Ais yang sedang menangis dan tangannya memegang kepalanya yang sakit.


"Ais...ada apa?"


Aisyah menengokkan wajahnya kearah Vano. Kemudian berkata. "Siapa aku? Aku tidak ingat!"


"Tidak usah dipaksakan. Perlahan kamu akan ingat kembali tentang semuanya."


Aisyah menurut dan kembali beristirahat. Mengatur napasnya perlahan-lahan.


"Tenang.. semua akan baik-baik saja. Beristirahatlah. Aku akan menunggu mu disini."


Aisyah mulai kembali tenang. Ais mengikuti saran Vano agar dirinya bisa lebih baik dan kembali pulih!

__ADS_1


__ADS_2