
Keesokkan paginya, jam delapan pagi. Aisyah telah bersiap-siap untuk pergi. Semua yang akan dibawanya telah dimasukkan kedalam bagasi mobil.
Sedangkan bunda masih ada perasaan tidak rela melepaskan kepergian anaknya. Entah apa yang dirasakan oleh bunda.
Abi bersikap bisa saja. Sudah mencoba untuk menjelaskan semuanya kepada bunda. Tapi naluri seorang ibu pasti ada yang dirasakan mengenai kepergian anaknya yang secara mendadak. Hanya saja tidak dimengerti.
Aisyah berjalan kekamar orang tuanya. Membuka pintu dan masuk kedalam kamar.
Matanya memandang bunda yang sedang duduk sendirian dikursi sambil memeluk album foto Aisyah waktu kecil.
Matanya sembab akibat menangis. Suaranya terdengar agak serak.
"Bun..aku minta maaf. Kalau kepergian ku membuat bunda sedih. Tapi percayalah ini adalah jalan yang terbaik. Aku akan baik-baik saja. Bunda tidak usah sedih. Aku pasti kembali. Aku akan akan membuat Abi sama bunda bangga." Ucap Aisyah yang menangis dan berlutut dikali bunda.
Bunda terdiam, tapi air matanya terus mengalir deras ketika mendengar anaknya berkata-kata.
"Bunda.. ayok lihat aku. Sini! Ini aku Aisyah yang masih sama. Aisyah kecil .."
Aisyah tidak dapat melanjutkan pembicaraannya lalu memeluk tubuh bunda dengan sangat eratnya. Pelukan itu sangat erat seakan tidak ingin dilepas begitu saja.
Bunda lalu melihat wajah Aisyah dan menghapus air mata anaknya dengan jari jemarinya.
"Kak.. nanti kita telat." Panggil Kenzi kepada kakaknya.
"Jangan pergi..jangan!" Bunda bersuara dan tidak rela melepaskan kepergian anaknya itu.
"Bunda doakan aku, semoga aku dapat mengejar mimpi ku."
Aisyah pun berdiri setelah mencium tangan, pipi dan kaki bunda. Langkah kakinya berjalan keluar dan menjauh dari bunda.
Bunda ingin bangun dan mendekap terus tubuh anaknya. Tapi kakinya serasa lemas tak mampu untuk berdiri.
Bunda hanya melihat dari jendela kamarnya. Melihat kepergian Aisyah yang menjauh dan semakin menjauh.
Aisyah pergi setelah berpamitan kepada Abi. Sisil dan Kenzi ikut mengantarnya sampai bandara.
Dalam perjalanan menuju bandara. Tidak ada perbincangan sedikit pun diantara mereka bertiga. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Tapi saat dalam perjalanan ...
Duaarrrr....
Mobil yang dinaikin mereka, tiba-tiba saja mengalami kecelakaan.
Mobil truk dari arah berlawanan menabrak mobil Aisyah, Sisil dan Kenzi. Dikarenakan kecepatan mobil truk yang cukup kencang dan ketika kakinya menginjak rem ternyata rem blong dan akhirnya lepas kendali.
Mobil truk pun mengalami lepas kendali dan akhirnya menyebabkan kecelakaan.
.
.
Orang-orang datang melihat kecelakaan tersebut. Dan dengan cepat menyelamatkan para korban.
Sopir truk dan kenek juga berhasil diselamatkan dan langsung dibawa kerumah sakit.
Aisyah, Kenzi dan Sisil beserta sopir pribadinya mengalami kecelakaan dan segera dilarikan kerumah sakit terdekat.
Dirumah sakit..
Keempat korban langsung dibawa keruang IGD. Sedangkan polisi berhasil melacak identitas para korban dengan barang-barang Yanga dan ditkp.
Polisi juga berhasil menghubungi Abisan bunda melalui nomor ponsel dari Sisil.
Ditempat lain..
Bunda yang masih memiliki perasaan cemas dan khawatir yang teramat dalam. Lalu tanpa sengaja menyenggol gelas yang berada didekatnya.
__ADS_1
Prankk..
Gelas pun terjatuh..
Abi yang mendengar langsung berlari dan melihat kearah suara.
"Bunda.." Panggil Abi yang melihat bunda sedang jongkok sambil mengambil pecahan gelas dengan tangan kanannya.
Bunda yang merasa dipanggil lalu melihat Abi yang berdiri.
Abi mendekati bunda dan ikut membantu membersihkan pecahan gelas tersebut.
"Ada apa bunda. Kenapa tidak hati-hati!"
"Abi..apa mereka baik-baik saja? Perasaan bunda tidak enak sejak kepergian Ais. Apalagi.."
Bunda tidak melanjutkan pembicaraannya! Terdiam lalu tanpa disadari menangis.
Bunda ingin mengatakan sesuatu tapi tidak bisa mengungkapkan tentang apa yang mau dikatakannya! Hanya saja bahwa bunda tidak rela kalau Ais pergi.
Abi yang melihat bunda sedih lalu memeluk tubuh bunda dengan eratnya! Memberi kekuatan pada istrinya.
Dert..dert..
Suara dering ponsel Abi berbunyi. Lalu Abi bangun dan mengambilnya.
Abi melihat nomor yang tidak dikenalnya. Nomor siapakah ini? Batinnya!
Lalu menerima panggilan telepon tersebut.
Terjadilah percakapan ditelepon tersebut. Tanpa disadari ponsel pun tergelincir dari tangan abi. Sehingga terjatuh dilantai.
Bunda terkejut ketika mendengar suara ponsel yang jatuh dilantai. Kemudian melihat Abi ya v terdiam dengan tatapan kosong.
"Abi..ada apa?"
Abi kemudian tersadar setelah mendengar suara bunda yang memanggil. Tapi kakaknya terasa tidak kuat untuk berpijak. Spontan lemas dan terduduk dilantai akhirnya.
Abi tidak bisa menjawab. Mulutnya terasa
terkunci. Sebuah tetesan jatuh dipipi Abi. Matanya hanya memandang wajah istrinya yang sejak tadi terlibat cemas.
"Bi..cepat katakan. Apa yang terjadi.. cepat? Aaaaaa."
"Mereka kecelakaan!" Jawab Abi pelan.
Bunda mendengar yang Abi katakan dan bunda semakin menangis histeris!
.
.
Satu jam kemudian Abi dan bunda menghubungi Vano untuk bertemu dirumah sakit dimana Sisil, Aisyah dan Kenzi beserta sopirnya dirawat.
Dengan diantar oleh om Yusuf akhirnya Abi dan bunda pergi kerumah sakit.
Perasaan takut terus melanda bunda. Bunda sangat cemas dan khawatir dengan keadaan ketiga anaknya.
Om Yusuf mengemudi dengan sangat kencangnya.
****
Dirumah sakit..
Jam 11.00 WIB.
Sisil, Kenzi dan sopir pribadi keluarga Abi Bimo sudah berada diruang perawatan. Tapi keadaan berbeda dialami oleh Aisyah.
__ADS_1
Aisyah mengalami luka yang sangat parah. Sekarang berada diruang ICU dengan keadaan koma.
Dokter sudah berusaha semampunya. Sekarang semuanya hanya tinggal mukjizat dari Allah.
Tak lama kemudian Abi, bunda serta om Yusuf dan Vano datang kerumah sakit secara bersamaan.
Vano yang sudah mengetahui dimana Aisyah, Sisil, Kenzi dan sopir pribadi abi dirawat kemudian mereka datang keruang rawat terlebih dahulu.
Dikamar rawat ..
Siail dan Kenzi berada dalam satu kamar. Sedangkan sopir abi. diruangan berbeda.
Semuanya sudah berada didalam kamar. Semuanya terkejut melihat kondisi Sisil dan Kenzi. Apalagi bunda sampai menangis histeris.
Bunda langsung mendekat kearah anaknya.
"Kenzi.. Sisil.. " Panggil bunda.
Kenzi dan Sisil masih dalam pengaruh obat. Kesadarannya belum begitu pilih. Mereka berdua masih tertidur.
"Abi..maaf. Aku mau melihat keadaan Aisyah." Ucap Vano yang tidak sabar.
"Abi nanti menyusul. Kamu duluan saja." Sahut Abi.
"Kalau begitu biar om temanin ya!" Kata om Yusuf.
"Baiklah."
Mereka berdua berjalan keluar kamar. Abi dan bunda tidak ikut.
Dalam perjalanan menuju ruangan ICU tidak ada perbincangan diantara mereka berdua. Kebisuan menemani mereka.
Ruangan ICU
Sesampainya disana, tiba-tiba saja langkah kaki Vano terasa berat. Rasanya ia tidak ingin melangkah masuk. Ada perasaan takut didalam dirinya.
Om Yusuf seketika melihat Vano ya g berhenti secara tiba-tiba.
"Ada apa?" Kata om Yusuf.
"Sampai disini, entah kenapa." Jawab Vano singkat tidak bisa melanjutkan pembicaraannya.
"Kamu tunggu disini. Biar om saja yang masuk."
Tapi belum masuk kedalam. Ada dokter yang berlari masuk ke ruangan ICU secara tiba-tiba!
Jantung Vano langsung berdetak kencang. Takut sesuatu hal buruk terjadi pada diri kekasihnya. Ingin rasanya bertanya tentang keadaan kekasihnya tapi rasa takut terus melandanya.
Om Yusuf memberanikan diri bertanya dengan seorang suster jaga.
"Permisi suster. Saya keluarga pasien yang bernama Aisyah. Apakah benar diruangan ini?"
"Iya pak..Pasien yang bernama Aisyah sedang mengalami masa kritis. Para dokter sedang menanganinya."
"Apa?" Teriak om Yusuf spontan.
Suster melihat reaksi dari om Yusuf yang panik.
Sedangkan Vano yang mendengar keadaan Ais mendadak ikut terkejut juga.
Kemudian ia melangkah mendekat kearah suster.
"Suster ceritakan apa yang terjadi?"
"Begini, keadaan mbak Aisyah cukup parah dari kedua saudaranya. Banyak mengalami luka dibagian kepala. Kondisinya cukup memprihatinkan ketika sampai sini. Dokter sudah melakukan yang terbaik."
"Suster saya ingin ketemu dengan dokter yang merawat Aisyah."
__ADS_1
"Sabar ya pak..dokter sedang melakukan tindakan kepada pasien." Ungkap suster.
Vano dan om Yusuf hanya bisa menunggu diluar ruangan ICU. Sampai dokter keluar dan memberi kabar kepada mereka.