
Di TPU....
Bimo dan aku pergi untuk mengantar Abim kemakam mama Ainun. Aku dan Bimo menaiki mobil sedangkan Abim menggunakan motornya.
Saat tiba dimakam mama Ainun. Lagi-lagi Abim tidak tahan menahan rasa sesalnya. Ia bersujud dihadapan makam mama Ainun.
"Maa.. maaf! Maaf! Hiks..hiks.." Teriaknya kencang.
Hanya kata maaf yang keluar dari mulutnya selebihnya hanya isak tangis sesalnya! Semua sudah terlambat bahkan untuk meminta maaf saja, mama Ainun tidak dapat mendengarnya. Semua percuma karena Abim hanya berteriak dimakamnya saja.
Aku dan Bimo melihat lelaki yang dulunya angkuh, kini memohon dan bersimpuh dimakan mamanya. Rasa sesal Abim telah terlambat!!! Mama Ainun telah dipanggil Yang Maha Kuasa.
Bimo berusaha mendekat dengan Abim. Bimo ingin membujuk Abim agar bisa kembali pada orang tuanya walaupun hanya tinggal pak Rizal seorang.
"Pak Abim... Jangan menangisi mama Ainun yang sudah tenang dialam sana. Sekarang hanya tinggal makam yang diatasnya terukir namanya dibatu nisan."
"Saya belum meminta maaf atas semua kesalahan yang saya perbuat!!" Kata Abim.
"Beribu kali kamu meminta maaf didepan makamnya, itu percuma!! Lebih baik mendoakannya supaya Bu Ainun bahagia disana. Karena Bu Ainun tidak bisa mendengar lagi. Satu hal lagi.. sebelum terlambat dan menyesal masih ada bapak. Bapak yang perlu anda perhatikan dan segeralah meminta maaf. Dan tidak lupa meminta maaf pada Allah!!"
Bimo mengatakan apa yang ingin aku sampaikan. Semuanya sudah terlontar dari mulut Bimo. Kini aku hanya diam..biarlah suami ku yang menjelaskan saja, karena jika aku yang berkata-kata hanya cacian yang aku sampaikan untuknya.
Rasa kesal ku sudah sampai ke ubun-ubun. Rasanya ingin mengutuk saja dirinya yang dulu keras kepala. Tapi untungnya ada Bimo yang masih bisa merendam amarah ku.
"Apa bapak mau memaafkan kesalahan ku dan menerima ku kembali? Apa itu semua mungkin?" Ucapnya dan melihat kearah ku.
"Kalau Allah saja bisa memaafkan, kenapa kita sebagai manusia tidak bisa saling memaafkan! Pak Abim coba saja! Jika satu kali pak Abim datang lalu ditolak, jangan menyerah! Maju lagi dan mencoba terus. Pak Rizal pasti terketuk pintu hatinya!"
Bimo hanya bisa menasehati sebagai seorang pembawa syiar agama! Selebihnya itu urusan pak Rizal dan Abim!
"Maaf pak Abim, Saya harus segera pulang." Ucap Bimo karena memang masih ada urusan lagi.
"Baik terima kasih!"
"Assalamualaikum!" Ucap ku dan Bimo ketika pergi.
Aku dan Bimo pergi meninggalkan malam sedangkan Abim masih ada. Dalam perjalanan pulang, aku dan Bimo tidak banyak bicara!
****
Dirumah...
Jam 11.30 WIB
Aku dan Bimo sudah berada dirumah. Saat sudah berada didalam rumah, Bimo memanggil ku.
"Sayang, aku mau bicara dengan anak-anak dan kamu? Bisa tolong kamu panggilkan anak-anak!"
__ADS_1
"Iya mas!"
Aku berjalan memanggil anak-anak yang sedang berada didalam kamar. Sedangkan Bimo menunggu diruang tamu!
Tok tok..
Cekrek...
Aku pun masuk kedalam kamar dan melihat keduanya yang sedang asyik bermain bersama.
"Bunda udah pulang?" Tanya Aisyah.
"Iya sayang! Kalian berdua dipanggil abi!"
"Iya bun."
Kami bertiga berjalan bersama keruang tamu. Disana telah menunggu Bimo sambil menikmati segelas teh panas buat mbok Darmi.
Kami bertiga duduk dikursi..
"Abi panggil kita berdua ada apa?" Tanya Sisil.
Dengan senyum yang khas, Abi Bimo menjelaskan keanak-anak.
"Kalian mau tau kenapa Abi panggil kesini?"
"Bunda, maaf kalau Abi mencoba menasehati anak-anak! Abi harap bunda gak marah!"
"Enggak abi, selama itu benar! Bunda gak akan marah!" Jawab ku singkat.
"Begini! Abi tau hubungan kalian berdua dengan ayah Abim kurang baik! Ayah Abim pernah membuat kalian berdua serta bunda juga. Tapi alangkah baiknya, jika kalian berdua bisa memaafkan kesalahan ayah Abim. Begitu juga dengan bunda. Mungkin ini sulit, tapi apa salahnya belajar untuk bisa memaafkan. Kalau Allah saja bisa memaafkan kesalahan umatnya. Kenapa kita tidak bisa memaafkan kesalahan sesama manusia!"
Anak-anak dan aku terdiam, hanya mendengar apa yang Bimo katakan.
Memang sulit untuk bisa memaafkan kesalahan orang yang telah membuat hati kita terluka. Apalagi dengan cepat, mungkin hanya butuh waktu saja untuk bisa memaafkannya!
Semua yang Bimo katakan tidaklah salah. Itu semua benar, hanya prakteknya saja sulit. Karena hati ku dan anak-anak pernah tersakiti olehnya!
"Maaf mas, aku sudah memaafkannya. Hanya saja .."
Aku terdiam tidak melanjutkan kembali perkataan ku! Aku memang sudah memaafkannya hanya ada luka yang masih kurasakan saat ini dan semua itu butuh waktu!
"Maaf mas, aku mau kekamar dulu."
Aku berdiri dan berjalan kekamar. Sedangkan Bimo tidak menyusul. Bimo melanjutkan pembicaraannya kepada anak-anak.
Aisyah dan Sisil hanya terdiam. Mereka berdua tidak tau harus mengatakan apa? Saat ini mereka berdua memang belum bisa menerima kehadiran ayahnya. Itu semua karena ulah ayahnya.
__ADS_1
Seandainya saja, waktu itu Abim bisa menempatkan posisi sebagai seorang ayah yang sayang dan perhatian kepada kedua buah hatinya. Mungkin keadaannya akan berbeda. Walaupun hubungan Abim dan aku sedang bermasalah.
"Kakak .. adek.. Abi hanya ingin memberitahukan bahwa hubungan kalian sampai kapan pun akan tetap ada. Hubungan antara ayah dan anaknya. Dan kalian sampai kapan pun tidak bisa menghilangkan kenyataan itu."
"Ayah itu gak sayang kami! Ayah gak peduli sama kami! Aku gak mau sayang sama ayah!" Sahut Aisyah kesal lalu pergi begitu saja.
Sisil memandang Abi Bimo dengan tatapan sinis. Tapi Bimo hanya tersenyum. Mungkin untuk saat ini perkataannya memang belum bisa diterima. Tapi Bimo yakin suatu saat perkataanya akan didengar oleh anak-anak!
"Maaf Abi, aku mau kekamar!" Kata Sisil dengan wajah datar dan pamit kepada Abi Bimo.
"Iya nak!"
Bimo yang duduk sendiri akhirnya menyusul ku dikamar.
****
Dirumah orang tua Abim
Setelah dari makam, Abim bergegas kerumah orang tuanya. Ia ingin mengikuti saran dari Bimo!
Abim telah berdiri pad didepan pintu masuk rumahnya! Tangannya sudah siap untuk mengetuk pintu, tapi ketika akan mengetuk pintu, Abim merasa ragu!
Beberapa kali ia mengulanginya! Hingga sampai pada akhirnya, Abim memutuskan untuk pergi saja dari rumah orang tuanya tanpa bertemu dengan pak Rizal.
Tapi ketika akan melangkahkan kakinya, pak Rizal membuka pintu dan melihat ada yang datang!
Pak Rizal memandang lelaki yang selama ini, ia rindukan. Menatap wajahnya yang tidak asing lagi.
Mereka berdua saling pandang! Tapi tidak berani untuk menghampirinya.
.
.
Setelah cukup lama berdiri, akhirnya Abim memberanikan untuk menghampiri pria tua itu. Mencoba untuk mencium tangannya, tapi ditolak oleh pak Rizal. Seketika Abim terkejut, karena tangannya dihempaskan oleh pak Rizal!
Abim bersujud dikaki pak Rizal. Memohon maaf atas semua salah dan khilafnya. Tapi pak Rizal malah mundur dan menjauh dari Abim.
"Pak.. maafkan kesalahan Abim! Abim menyesal tidak mendengarkan bapak." Ucapnya pelan tapi didengar oleh pak Rizal!
"Pergi! Anak ku telah tiada! Teriak pak Rizal yang kecewa!
"Pak! Pak.. maaf!"
Pak Rizal pergi meninggalkan Abim sendiri. Pak Rizal sangat kecewa terhadap anaknya.
Sedangkan Abim hanya diam meratapi kesedihan. Mama Ainun telah tiada, anak-anak menjauhi dirinya. Kini pak Rizal tidak mau mengakui bahwa Abim adalah anaknya!
__ADS_1