
Empat bulan kemudian...
Dirumah sakit...
Aisyah terus disibukan dengan aktifitasnya dirumah sakit. Ia semakin jarang dirumah. Rumah keduanya adalah rumah sakit.
.
.
Hari ini ia sangat kesal dan sangat marah terhadap Vano, bagaimana tidak. Vano nekat datang kerumahnya tanpa sepengetahuan Aisyah!
Dan anehnya, Abi Bimo belum cerita kepadanya mengenai kedatangan Vano kerumah.
"Ais, jangan ditekuk tuh muka. Jelek tau!" Canda Vano agar Aisyah tidak marah.
"Ko, aku tuh lagi serius. Koko malah bercanda."
"Iya udah kamu tenang aja. Abi gak akan marah. Aku kesana baik-baik! Niat ku baik dan diterima dengan baik! Mengenai selanjutnya nanti aku pikirkan lagi!"
"Aneh."
Aisyah geregetan pada Vano, disaat Aisyah khawatir mengenai hubungannya dengan Vano. Malah sebaliknya Vano merasa santai saja.
Vano bukan tidak pusing, ia hanya tidak menunjukkan kekhawatirannya pada Aisyah. Baginya ini adalah masalah besar tapi tidak mau terlalu dipikirkannya.
"Sudah sekarang senyum dan kita praktek."
"Ehhhmm.." Sahutnya berdehem.
.
.
.
"Adek.." Panggil bunda terhadap Aisyah ketika bertemu dilorong rumah sakit.
Aisyah terkejut ketika bertemu dengan bunda dan Sisil. Jantungnya berdegup begitu kencang.
"Bunda kenapa ada disini?"
"Bunda antar kakak periksa kandungan. Oh iya kamu bukannya yang kemarin datang kerumah."
Mata Aisyah langsung melotot dan melihat kearah Vano.
"Betul tante. Saya dokter Vano sekaligus dokter pembimbing coass Aisyah, sekaligus teman dekat putri bunda Manda."
Vano mengatakan dengan pedenya tanpa keraguan. Tapi ia lebih tenang mengungkapkan semua perasaannya walaupun tidak tau bagaimana nantinya!
Aisyah hanya menepuk jidatnya, lelaki yang berdiri disampingnya telah membuatnya sakit kepala.
Sedangkan reaksi Sisil sangat terkejut setelah mengetahui bahwa lelaki yang berdiri dan bertemu direstoran waktu itu adalah teman dekat adiknya.
"Maaf dokter Vano, pasien sudah menunggu." Ungkap seorang suster yang baru datang.
"Oh iya nanti saya akan kesana!" Jawab Vano kepada suster.
"Kalau begitu saya permisi dok!" Ucap suster dan pergi.
"Maaf tante, saya permisi dulu." Kata Vano.
"Aku juga pamit bun, mau lanjut lagi sama dokter Vano. Assalamualaikum!"
__ADS_1
Aisyah mencium tangan bunda lalu diikuti oleh Vano juga. Kemudian Aisyah dan Vano melanjutkan tugasnya.
.
.
Vano dan Aisyah melanjutkannya tugasnya dengan memeriksa banyak pasien hari ini. Hari ini memang giliran Aisyah dengan Vano. Tapi giliran nanti jaga malam, Aisyah akan bertugas mendampingi dokter Sammy dan coass yang lainnya.
****
Jam 16.00 WIB
Tugas Aisyah telah selesai dan kini waktunya pulang kerumah.
"Coas Ais, pulang bareng siapa?" Tanya coass Dewa.
"Paling bareng dokter Vano." Ledek coass yang lainnya.
Berita kedekatan Vano dan Aisyah tidak aneh lagi dikalangan suster dan dokter serta coass. Karena kedekatan mereka sudah lama terjadi. Apalagi hanya satu wanita yang bisa dekat dengan Vano yaitu Aisyah.
Para wanita yang ingin dekat dengannya, Vano malah menghindar dan menjauh. Tidak ingin dekat dengan wanita selain Aisyah.
"Semuanya aku duluan ya!" Ucap Aisyah pamit.
Aisyah keluar dari ruangan, berjalan terus sendirian menyusuri lorong rumah sakit.
Sesampainya diluar pintu depan rumah sakit. Dilihatnya satu orang lelaki yang sedang menunggunya.
Vano yang sudah melihat Aisyah, lalu tersenyum.
"Sore dok."
"Sore. Mau pulang, mari bidadari surga ku." Rayu Vano pada Aisyah yang sedang berdiri berhadapan.
"Gombal deh terus."
Sesampainya diparkiran, mereka berdua masuk kedalam mobil milik Vano. Lalu pergi meninggalkan rumah sakit.
Vano mengantar Aisyah jika dirinya memang sempat.
.
.
Dirumah...
Sesampainya dirumah..
Vano memberhentikan mobilnya pas didepan rumah. Padahal Aisyah sudah melarangnya.
"Ko, terima kasih ya. Koko hati-hati dijalan jangan ngebut!"
"Iya, aku langsung ya." Sahut Vano.
Aisyah turun dari mobil dan menjauh dari mobil Vano. Langkah kakinya melangkah masuk kedalam rumah sambil mengucapkan salam.
"Assalamualaikum."
Dilihatnya tidak ada yang menyahut. Aisyah lalu berjalan kekamar untuk membersihkan diri.
Setelah selesai membersihkan diri selama setengah jam. Kini langkah kaki Aisyah berjalan kedepan. Mencari keberadaan orang tuanya.
Dilihat kedua orang tuanya yang sedang duduk bersama. Kemudian Aisyah pun datang dan duduk mendekat.
__ADS_1
"Bunda.. abi dari mana. Tadi aku pulang gak ada."
"Bukan gak ada! Abi sama bunda tadi dari rumah sebelah! Kita berdua juga lihat kamu pulang." Jawab Aib Bimo.
"Oh.."
"Dek.. kebetulan kamu disini. Kita mau bicara sama kamu." Ucap bunda Manda.
Deg..deg..
Jangan-jangan bunda mau bicara soal aku sama koko. Kalau memang benar, aku harus jawab apa ya? Batin Aisyah yang sedang kalut ketika orang tuanya hendak bicara serius.
"Bicara soal apa ya? Ehmm..kalau boleh aku tau!" Tanya Aisyah yang sedikit takut.
"Ini mengenai lelaki yang bertemu sama Abi beberapa waktu yang lalu. Lebih tepatnya seminggu yang lalu."
Aisyah hanya tersenyum menatap wajah kedua orang tuanya.
"Sampai mana hubungan mu dengan lelaki tadi. Siapa namanya?" Tanya Abi yang membuat sekujur tubuh Aisyah keluar keringat bagai orang habis berolahraga.
"Aku hanya teman kok Abi."
"Kalau teman kok dia bisa nyatain perasaannya sama kamu?" Sindir bunda Manda.
"Ehmm..itu. Sebenarnya ..." Jawab Aisyah binggung.
"Aisyah.. Abi sama bunda tanya. Masih gak mau jawab!" Bentak bunda.
Aisyah terdiam, perasaannya tidak karuan. Aisyah hanya menunduk. Menyusun kata-kata untuk disampaikan kepada orang tuanya agar tidak terjadi kesalahpahaman.
"Aisyah, lihat abi! Jelaskan yang sebenarnya. Kalau dokter itu bisa berterus terang mengenai perasaannya terhadap putri Abi. Kenapa kamu tidak?"
Aisyah mengangkat wajahnya perlahan dan dengan keberanian yang penuh. Mulai mengatakan isi hatinya kepada orang tuanya.
"Abi ..bunda maaf sebelumnya. Aku sama koko pertama kali kenal, waktu aku ditugaskan praktek dirumah sakit yang sama dengan Koko. Dari sekian banyaknya perempuan, Koko lebih perhatian kepada ku. Awalnya aku menghindar tapi entah kenapa? Setelah setahun berjalan, perasaan itu datang tanpa ku sadari dan ku ingin kan. Perhatian Koko tetap sama. Bahkan sampai detik ini. Koko sering mengajak aku untuk serius dalam berhubungan bahkan sampai ikatan pernikahan. Tapi aku selalu menolak dengan alasan berbeda keyakinan. Koko juga sering, meminta untuk bertemu dengan Abi sama bunda. Tapi aku selalu melarangnya. Untuk kali ini, aku juga marah sama koko. Karena aku sama sekali gak tau kalau Koko bertemu dengan Abi."
"Perasaan adek bagaimana, kalau menghindar dari dokter itu? Abi hanya ingin tau aja!"
"Sakit.. sedih. Seperti ada yang hilang." Jawabnya dan mata Aisyah mulai berkaca-kaca seraya akan menangis!
"Menurut kamu bagaimana Bun dengan masalah Aisyah ini?" Tanya Abi.
"Kalau menurut bunda. Maaf sayang, adek harus memutuskan hubungan dengan dokter. Bagaimana caranya terserah adek. Sebelum semuanya terlambat!" Jawab bunda tanpa basa basi.
"Adek..maaf! Abi sama bunda terserah mau di bilang kejam, jahat atau apapun oleh adek. Tapi yang pasti ini demi kebaikan adek juga. Carilah jodoh yang seiman! Itu doang pesan Abi."
"Kalau adek masih nekat, bunda sama Abi akan jodohkan kamu sama anak teman Abi." Ancam bunda.
Mata Aisyah melotot, mendengar semua perkataan bundanya.
"Iya!"
"Sudah sana makan, bunda masak makanan kesukaan ku!"
"Iya nanti saja!"" Jawab Aisyah tidak bersemangat!
"Abi sama bunda sudah selesai berbicara. Sekarang Adel boleh istirahat!" Suruh Ani Bimo.
"Permisi Abi.. bunda. Aku kekamar duku" Kata Aisyah dan bangun dari duduknya. Kemudian melangkahkan kakinya kekamar.
.
.
__ADS_1
Didalam kamar, Aisyah membaringkan tubuhnya. Pikirannya kini sedang memikirkan satu orang yaitu Koko Vano.
Dijodohkan kemudian disuruh menikah! Apa menghindar dari Koko tapi status masih sendiri. Aaaaaaaa gak mau keduanya? Ucapnya sendirian.