Sebuah Keputusan

Sebuah Keputusan
Ops... Bertemu lagi!!


__ADS_3

Pagi yang begitu cerah mewarnai pagi itu..


Ku lewati jalan dipagi hari, untuk pergi mencari rezeki mu Ya Rabb..


Dengan menaiki motor, ku lakukan menuju taman didekat stadion.


Ku gelar dagangan ku , dipinggir jalan.


Anak-anak tidak pernah ketinggalan.


Mereka selalu ku ajak, jika hari ini adalah hari Sabtu atau Minggu.


"Nasi kuning, nasi kuning... Buatan bunda paling enak. Ayok dicoba! Pasti ketagihan!" Teriak Aisyah dengan kencang sambil cengengesan!


Ku tersenyum melihat tingkah anak kecil itu. Gayanya membuat aku tersenyum.


****


Jam 09.00 WIB


Luna datang, menghampiri ku yang sedang berjualan. Bersama anaknya Keyra.


"Assalamualaikum." Ucap salam Luna dan Keyra.


"Waalaikumsalam." Jawab kami bertiga.


Aku bersalaman dengan Luna. Diikuti oleh kedua anak ku.


"Key, mau sarapan nasi kuning bunda Manda gak?" Tanya Luna.


Keyra mengangguk saja. Karena ia sedang asyik mainan bersama dengan Aisyah.


Aku pun membuatkan sepiring nasi kuning dan teh manis panas untuk Luna. Lalu ku berikan padanya.


"Ini! Kamu cobain terus komentar nasi kuning buatan aku!"


Luna mencicipinya. Mengunyahnya perlahan, agar bisa merasakan apa rasanya nasi kuning buatan ku. Apakah ada yang kurang atau tidak?


"Sambil mengunyah Luna pun berkata. "Ehmm.. enak juga! Ehmm.. pas! Nikmat! Nanti aku mau ya, dibungkus 5 porsi ya untuk orang dirumah."


"Luna, main bungkus aja! Bagaimana nasi kuningnya? Rasanya?"


"Manda, nasi kuning buatan kamu itu enak banget. Aku berkata bukan untuk memuji kamu, tapi emang kenyataannya enak banget kok!!"


Aku mengerutkan kening ku. Tak percaya?


Tapi syukurlah, kalau emang pas rasanya! Berarti aku tidak akan mengecewakan pembeli. Pikir ku.


"Terima kasih ya!!"


"Sama-sama!" Balas Luna dan melanjutkan makannya serta menyuapin Keyra.


****


Luna menemani ku berjualan hingga siang. Mengajak Aisyah bermain juga. Aku senang mempunyai sahabat seperti dia.


"Mbak mau nasi kuningnya?" Panggil salah seorang pembeli.


Aku tersadar dari lamunan ku. Kemudian melayani pembeli.


"Mau berapa bungkus pak?"


Pembeli itu menjawab. "Satu bungkus aja, makan disini sama air putih hangat!"


"Baik pak, silakan duduk!"


Dengan cepat ku sajikan nasi kuning dan air putih hangat. Ku berikan kepada pembeli tadi.


"Silahkan pak!" Kata ku sambil melihat wajahnya.


"Mas Bimo." Panggil ku terkejut melihat lelaki yang ku kenal.


Memang aku jarang menatap wajah lelaki secara langsung., aku hanya menjaga jarak dari pandangan lelaki. Aku harus tau diri, siapa aku? Apalagi dengan statusku!


"Manda! Sedang apa kamu disini?"

__ADS_1


"Jualan nasi kuning, mas!" Jawab ku dan masih menundukkan padangan ku.


"Sama siapa?"


"Anak-anak! Maaf mas, aku tinggal. Ada pembeli!"


Aku malas berlama-lama berbicara apalagi dengan yang bukan muhrimnya. Untung saja ada pembeli datang, jadi tidak perlu mencari alasan lain untuk menghindar!!


****


Tidak lama kemudian Aisyah datang bersama Keyra dan Luna. Dari kejauhan Aisyah melihat laki-laki yang tidak asing lagi. Lalu berlari untuk menghampirinya.


"Om Bimo!" Panggil Aisyah dan berdiri dihadapannya lalu bersalaman.


"Hai cantik! Dari mana?"


"Habis bermain sama tante Luna dan Keyra!" Jawab Aisyah dengan pelan.


"Mas Bimo!" Panggil Luna heran.


Bimo tersenyum kearah Luna. Mereka berdua mengobrol bersama, entah apa yang dibicarakan mereka bersama. Sedangkan aku melayani pembeli yang ramai datang membeli nasi kuning dan minuman!


.


.


"Bun, habis nasi kuningnya! Alhamdulillah ya bun!" Sisil berkata dengan senangnya bahwa dagangan pertama ku laris manis dan habis dengan cepat!


"Alhamdulillah kak!"


Aku membereskan semua barang-barang kedalam satu tas besar dan ditaruh di bagian depan motor.


"Manda sudah habis semua?" Kata Luna yang melihat ku sedang merapikan semua barang-barang!


"Iya!"


"Kalau begitu sini duduk! Ada yang mau ngajak bisnis bareng!"


"Bisnis apa?"


"Begini Manda, mas Bimo mau pesan nasi kuning untuk ulang tahun sebanyak 100 porsi."


"Apa mas?" Tanya ku kaget dan mata ku melotot seperti tidak percaya.


"Benar Manda! Sabtu depan ada acara ulang tahun keponakan ku. Mamanya lagi cari catering buat nasi kuning. Terus mengundang anak yatim juga!"


"Tapi mas, apa masakan ku cocok?"


"Udah terima aja! Pasti cocok ya, mas!"


Dasar Luna, main cocok aja. Gak tau apa, ini pertama kalinya aku buat pesanan. Semoga aja, cocok. Batin ku sambil menarik napas panjang.


.


.


Setelah perbincangan selesai, kami semua pun pulang.


****


Dirumah..


Jam 13.30 WIB.


Ketika aku sedang menghitung semua total belanja untuk Sabtu nanti. Terdengar suara salam dari arah luar!


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam."


Ku langkahkan kaki menuju pintu. Lalu membukanya. Ternyata mertua ku datang untuk mengunjungi cucunya.


"Masuk ma, pak!"


"Sepi, pada kemana?" Tanya mama dan duduk dikursi.

__ADS_1


"Tidur ma! Sebentar ya ma, pak. Aku buat minum dulu."


.


.


Aku membawa dua gelas air minum dan diletakkan diatas meja.


"Silahkan pak, ma diminum dulu."


.


.


Ketika sedang duduk, mama melihat sebuah kertas yang tadi ku tulis.


"Apa ini Manda?" Tanyanya.


"Oh itu, lagi ngitung-ngitung buat pesanan nasi kuning, ma!"


"Alhamdulillah.. itu rezeki kamu!"


"Manda sebenarnya bapak sama mama gak bisa lihat kamu kerja. Kasihan sama anak-anak! Kami gak tega!" Ungkap Pak Rizal spontan.


"Bunda." Panggil Aisyah yang baru bangun dari tidurnya kemudian mendekati ku yang sedang duduk.


"Asiyah sini sama nenek!"


Aisyah menggelengkan kepalanya , karena tidak mau duduk dekat mama Ainun. Seketika Aisyah memegang kertas yang bagus saja ku tulis dan membacanya.


"Bun, ini apaan!"


"Itu catetan bunda sayang buat pesanan nasi kuning."


"Oh..pesanan nasi kuning om Bimo!" Celotehnya terus melihat-lihat kertas itu.


"Iya."


Spontan saja Aisyah bercerita panjang lebar mengenai tadi pagi aku berjualan dijalan dengan mengajak anak-anak.


Tampak mulai perubahan diwajah keduanya, terutama mama Ainun yang tidak menyukai aku berdagang dengan mengajak anak-anak.


"Pak ajak Aisyah bermain dulu! Mama mau bicara sama Manda." Kata mama dengan ketusnya.


Pak Rizal langsung bangun dan Aisyah pun mengikutinya.


Setelah kepergian mereka berdua mama Ainun langsung berkata. "Manda, kamu ajak anak-anak berjualan. Berani-beraninya kamu? Bagaimana kalau ada apa-apa sama anak-anak?"


"Tenang ma, insyaallah aku bisa jaga mereka berdua. Mama tenang aja."


"Pokoknya mama gak setuju! Apa gaji kamu kerja belum cukup buat kamu sama anak-anak. Jawab?"


"Ma, percaya sama Manda. Manda akan jagain anak-anak dan buat mereka bahagia. Percaya sama Manda!"


Hiks..hiks..hiks. (Tangis mama Ainun pecah seketika)


"Ini semua gara-gara Abimanan."


"Sabar Ma, jangan menyalahkan mas Abim. Semua yang terjadi sudah kehendak Allah SWT! Sekarang kita berjalan saja Kedepan. Jangan menoleh kebelakang terus dan meninggalkan dendam. Doakan saja mas Abim pintu hatinya terbuka dan bisa kembali lagi sama mama dan bapak."


"Kamu bisa. Tapi mama, enggak bisa!"


Mama menangis histeris karena kecewa dan rasa sakit hatinya melebihi sakit hati ku.


Semoga saja mama Ainun tidak berkata yang berazab, kasihan mas Abim jika sampai itu terjadi. Batin ku berkata.


...Happy Reading...


Semoga kalian semua dapat mengambil sisi baik dari cerita ku ini ya.


Maaf kalau cerita ku masih banyak kekurangannya. Semoga kalian dapat memberi komentar dalam segi perbaikan untuk kedepannya.


Terima kasih atas dukungan kalian semua, tanpa kalian aku bukanlah apa-apa.


Jangan lupa setelah membaca klik rate, fav, like, isi kolom komentar. Mau vote atau hadiah. hehehe ..

__ADS_1


...💕💕 Terima kasih💕💕...


__ADS_2