
Dirumah..
Aku telah sampai dirumah. Karena lelah aku langsung masuk kekamar dan beristirahat. Seluruh tubuh ku terasa sakit, akibat perlawanan ku tadi terhadap Adlan. Lelaki yang tidak tau malu.
Sedangkan Bimo, masih berada diruang tamu. Katanya ada yang menunggunya disana.
****
Diruang tamu, kakek Aryan dan Harris sudah menunggu sejak tadi.
Bimo yang bertemu kakek diruang tamu lalu menuntun kakek untuk beristirahat dikamar yang telah dipersiapkan oleh mbok Darmi.
Sedangkan Harris masih duduk santai menikmati segelas kopi panas buatan mbok Darmi.
.
.
"Ris, bisa kau temanin aku." Ajak Bimo yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Adlan dan mbok Darmi.
"Mau kemana emangnya?" Tanya Harris yang binggung!
"Mau kerumah!"
Bimo sudah tidak sabar ingin menanyai Adlan, kenapa dia tega berbuat tidak pantas pada istrinya! Bimo bisa menahan emosi dan amarahnya jika dirinya atau orang terdekatnya tidak diganggu. Maka sebaliknya jika ada yang menyakiti orang terdekatnya, ia akan maju terlebih dahulu!
Bimo hanya berpamitan pada mbok Darmi, karena Bimo tidak tega membangunkan aku yang sedang tertidur pulas dikamar. Kakek Aryan juga sedang berada dikamar.
Dengan menaiki mobil, Bimo dan Harris pergi bersama kerumah orang tua Bimo.
Dalam perjalanan, keduanya berbincang-bincang membahas masalah tadi yang menimpa ku.
****
Dirumah orang tua Bimo..
Bimo langsung keluar mobil dan berjalan cepat. Diikuti oleh Harris dibelakangnya.
Bik Ijah yang melihat Bimo datang, jantungnya berdetak kencang dan ketakutan.
"Bik ..?" Panggil Harris.
Dengan cepat bik Ijah langsung datang kehadapan majikannya. Bik Ijah tidak berani menatap wajah Bimo.
"Maaf mas Bimo .. mas Harris ada apa ya?"
"Bik dimana Adlan?" Tanya Bimo.
"Mas Adlan ada dikamarnya." Jawab bik Ijah
Bimo langsung berjalan kearah kamar Adlan. Sedangkan Harris mengejar Bimo, takut-takut nanti Bimo yang diamuk oleh Adlan.
__ADS_1
Bimo membuka pintu kamar dan melihat Adlan yang sedang duduk memakai kaos dan celana pendek.
Bimo berjalan masuk sambil menampakkan wajahnya yang masam.
Adlan yang mengetahui ada orang yang datang tanpa mengetuk pintu kamarnya, seketika membalikkan badannya. Awalnya ia ingin marah, tapi ketika melihat yang datang adalah Bimo. Adlan pun mengurungkan niatnya.
"Mas Bimo ada apa? Tumben masuk gak ketuk pintu dulu?" Tanya Adlan yang hanya basa basi dan bersikap cuek seakan tidak terjadi sesuatu.
Bimo duduk dan menatap wajah Adlan. Lalu memulai pembicaraannya. "Jelaskan apa yang terjadi hari ini dirumah ini."
Adlan tersenyum tipis sambil berkata. "Kenapa gak coba tanya Manda aja!"
"Udah!"
"Lalu, untuk apa lagi kesini?"
"Adlan, saya ngomong baik-baik! Jadi sekarang cepat ceritakan semua yang terjadi!"
Adlan berdiri dan berjalan sambil memulai ceritanya. "Kasihan banget mas Bimo! Dapat istri seorang janda. Udah gitu punya anak pula! Paket komplit!!"
"Adlan jaga ucapan kamu!" Ucap Bimo yang memegang baju Adlan dan siap melayangkan sebuah pukulan kearah Adlan.
Adlan yang melihat Bimo marah, dirinya bersikap masih bisa tenang. Adlan menatap wajah Bimo yang penuh dengan amarah!
Harris datang dan mencoba untuk menenangkan Bimo yang sedang marah. Mengajaknya menjauh dari lelaki yang hidupnya seperti benalu!!
"Bim, tenang!!" Ucap Harris kepada Bimo.
"Bik ..cepat masuk!!" Panggil Harris pada bik Ijah.
Adlan memandang bik Ijah yang baru saja datang. Adlan sudah menyuruh bik Ijah untuk menyimpan rahasia mengenai kejadian tadi siang. Bik Ijah pun diancam jika berani mengatakan yang sebelumnya tentang kejadian tadi.
"Bik, coba jelaskan apa yang bibik lihat tadi?" Kata Bimo.
Bik Ijah binggung, apa yang harus dia katakan! Ingin mengatakan yang sebenarnya tetapi ia takut akan ancaman Adlan. Sekilas ia melihat kearah Adlan lalu menundukkan kembali wajahnya.
"Begini mas...tadi mbak Manda sempat keluar rumah. Pamit sama bibik untuk pergi sebentar. Gak lama kemudian Mbak Manda sudah pulang dengan keadaan menangis dan baju robek. Katanya habis bertemu dengan mantan suaminya. Itu yang bibik tau."
"Bik Ijah, tau kalau berbohong itu dosa! Apa ucapan bibik bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya!! Kalau sampai ketahuan bibik berbohong dan membela penjahat. Yang pertama, saya pastikan bibik akan masuk bui. Kedua bibik akan mempertaggung jawabkan semua perbuatan bibik kepada Allah diakhirat nanti." Gertak Bimo kepada nik Ijah
Bik Ijah yang mendengar perkataan Bimo, takut!! Tapi bik Ijah belum berani mengungkapkan kebenarannya. Bik Ijah hanya diam seribu bahasa sambil didalam hatinya terus berdoa agar diampunin semua salah dan dosanya.
Adlan tersenyum atas kemenangannya!! Akhirnya bik Ijah bisa diajak kerja sama.
Sedangkan Bimo yang mendengarkan pengakuan bik Ijah tidak percaya. Bimo yakin bahwa bik Ijah sedang berbohong.
Spontan Bimo marah kepada Adlan dan memanggil namanya dengan berteriak "Adlan..."
Buuuukkkk...
Sebuah pukulan menghatam pipi Adlan. Bibir Adlan seketika mengeluarkan darah dan luka lebam dipipi. Kemudian Adlan menghapus darah yang keluar dari bibirnya itu dengan tangan kirinya!
__ADS_1
Adlan masih diam dan menahan emosinya. Padahal Adlan sudah tidak tahan lagi, ingin membalas semua yang dilakukan Bimo kepadanya! Bahkan tangannya sudah mengepal dan siap untuk mendaratkan suatu pukulan. Tapi semua itu, ia urungkan!
.
.
Bimo, masih ditahan oleh Harris dan mengajaknya pergi keluar kamar. Bik Ijah takut melihat semua itu. Akhirnya ikut keluar kamar juga.
Audy yang baru saja sampai, seketika melihat kakaknya yang yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Ada apa nih mas? Kok mas Bimo keluar dari kamar ku?"
Bimo tidak menjawab dan berjalan melewati adiknya yang sedang berdiri dihadapannya. Harris pun mengikuti langkah Bimo dari belakang.
Audy yang melihat kakaknya tidak menjawab pertanyaannya, lalu ia menaruh curiga!!
Pasti ada masalah lagi ketika aku pergi!! Mas Adlan apa yang kamu lakukan sampai mas Bimo marah!! Batin Audy yang geram.
Audy berjalan dengan langkah kaki yang cepat kearah kamarnya. Disana ia melihat suaminya yang sedang duduk dengan tenang.
Audy pun langsung bertanya. "Mas, ada apa Mas Bimo dan mas Harris baru saja keluar dari kamar?"
"Enggak ada apa-apa! Kamu tenang saja!" Jawab Adlan sambil berdiri dihadapan Audy.
Audy yang sedang berdiri dihadapan Adlan. Kemudian matanya fokus pada luka lebam diwajah Adlan.
"Mas, kenapa dengan wajah kamu?"
Adlan memegang pipinya yang lebam dan terasa sakit. "Oh ini.. gak apa-apa! Tadi habis dipukul sama preman!"
"Preman??"
"Akh..sudahlah! Gak usah dibahas!!" Jawab Adlan malas.
Adlan kembali duduk dan tidak mau melanjutkan pembicaraan tadi. Audy tidak mendapatkan jawaban yang pasti. Tapi dirinya masih penasaran tentang apa yang terjadi.
Audy pergi keluar kamar dan mencari bik Ijah.
"Bibik..?" Panggil Audy sambil berjalan dan matanya terus mencari keberadaan bik Ijah.
Audy akhirnya melihat bik Ijah yang sedang menyapu dihalaman belakang. Langkah kakinya mendekati bik Ijah.
"Bik.. katakan apa yang terjadi selama aku pergi. Kenapa juga mas Bimo dan mas Harris keluar dari kamar ku?"
Bik Ijah berhenti menyapu, lalu membalas pertanyaan Audy. "Maaf mbak..lebih baik tanya saja sama mas Bimo atau mas Adlan. Permisi mbak, bibik banyak kerjaan."
Bik Ijah berlalu saja dan tidak memberikan jawaban yang diinginkan oleh Audy. Setelah Kepergian bik Ijah. Audy berjalan mencari kakaknya, tapi sayang kakaknya sudah pergi dengan Harris.
Audy geram tidak mendapatkan jawaban. Ia akhirnya menyusul Bimo kakaknya untuk mendapatkan jawaban yang lebih pasti. Audy pergi keluar dengan menaiki mobilnya menuju kearah rumah Harris.
Dalam perjalan kerumah Bimo. Sempat terlintas dipikiran Audy.
__ADS_1
Kenapa dirumah gak ada mbak Manda??? Seharusnya kalau ada pertengkaran antara mas Bimo dan mas Adlan, mbak Manda kan bisa mencegahnya???
Bersambung.....