Sebuah Keputusan

Sebuah Keputusan
Pemakaman


__ADS_3

Aku mulai tersadar dan meminum segelas teh hangat buatan mbok Darmi. Lalu memeluk tubuh suami ku dengan erat sambil menangisi kepergian mama Ainun.


Biar bagaimanapun, mama Ainun pernah dekat dengan ku. Hubungan antara menantu dan mertua dulu. Selama menjadi menantunya dulu memang mama Ainun terlalu banyak ikut campur dalam urusan rumah tangga ku dengan Abim. Maklum karena mama Ainun dan pak Rizal hanya mempunyai satu anak.


.


.


.


Aku menangis sampai terisak-isak, sekarang mama telah pergi meninggalkan kita semua dan kembali kehadapan sang khalik.


"Sudah. Sekarang ajak anak-anak untuk takziah."


Aku hanya. mengangguk. Kemudian berdiri dan pergi mencari kebenaran anak-anak! Ternyata anak-anak sedang bersama kakek Aryan.


Aku menghampiri mereka yang sedang asyik bercerita.


"Adek, kakak kemari!" Panggil ku kepada keduanya!


Tanpa banyak tanya keduanya langsung menghampiri ku.


"Sekarang kita pergi untuk melihat nek Ainun yang terakhir kalinya!"


"Nenek! Hiks..hiks..hiks.."


Suara tangis pun pecah. Anak-anak menangis karena kehilangan neneknya! Aisyah langsung memeluk ku. Sisil hanya duduk dan terdiam tapi wajahnya penuh dengan air mata.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun! Kakek mau ikut myelawat!" Ucap kakek.


"iya kek!"


Bimo datang dan melihat suasana yang haru, lalu berjalan mendekati ku.


"Sudah jangan bersedih! Semuanya pasti akan kembali kehadapan Allah. Gak tua ataupun muda. Hanya tinggal menunggu waktu saja! Semua itu hanya titipan. Jadi doakan saja nenek kalian diterima disisi Allah dan dimaafkan kesalahannya!"


"Iya abi!" Sahut Sisil kemudian menghapus air matanya!


"Sekarang kita pergi untuk bertakziah."


"Mas, aku belum kasih kabar kemama."


Karena terkejutnya, aku sampai lupa mengabari mama Atika.


"Sudah aku kabarin dan jenazahnya akan segera dibawa pulang kerumah. Sebaiknya kita langsung kerumah mama saja!"


Kita berempat langsung pergi kerumah mama Ainun. Dalam perjalanan tidak ada suara sedikitpun. Semuanya sedang sibuk dengan pikiran masing-masing!


Perjalanan masih pagi jadi tidak begitu terjadi kemacetan, kami semua akhirnya sampai dengan cepatnya.


Dirumah orang tua Abim..


Saat sampai dirumah orang tua Abimanan. Bendera kuning telah dipasang, orang-orang pun banyak yang telah berdatangan. Semuanya membantu mempersiapkan pemakaman mama Ainun.


Kami semua berjalan masuk kedalam rumah. Didalam rumah keluarga dari mama Ainun dan pak Rizal menyambut kedatangan kami.


"Manda, maafkan kesalahan mbak Ainun ya?" Kata Lek Ina.


"Iya lek!"


"Jenazah Bu Ainun belum datang, Bu?" Tanya Bimo kepada Lek Ina.


"Belum! Katanya sih lagi dalam perjalanan!"


Nguing.. nguing.. nguing


Terdengar suara sirine mobil ambulans terdengar cukup keras dan semakin lama suaranya semakin terdengar


mendekat. Tak lama orang-orang bangun dan melihat kearah suara!


Jenazah mama Ainun tiba dirumah. Suasana yang tadinya sepi. Kini terdengar suara tangisan dan teriakan memanggil nama mama Ainun, yang terdengar cukup kencang!

__ADS_1


Aisyah dan Sisil berlari sambil menangis melihat neneknya sudah tidak bernyawa lagi!


Aku yang tidak kuat akhirnya jatuh pingsan! Untungnya Bimo selalu dekat dengan ku, segera menangkap tubuh ku yang mulai jatuh.


Bimo membawa ku kekamar dan membaringkan tubuhku diatas kasur. Seorang ibu-ibu masuk dan memberikan minum kepada Bimo.


"Sayang, ayo bangun. Ini minumnya!"


Aku meminum seteguk air putih untuk mengembalikan kesadaran ku yang sempat hilang. Lalu aku duduk bersandar ketembok.


"Dimana adek sama kakak, mas?"


"Mereka berdua ada diluar, mau ku panggil kan!"


"Iya mas!"


Bimo langsung bangun dan berdiri. Langkah kakinya berjalan keluar kamar dan mencari keberadaan anak-anak!


Mata Bimo tertuju pada satu arah. Dimana ada Aisyah yang sedang menangis sendirian! Kemudian Bimo mendekatinya!


"Dek!"


"Abi!" Panggil Aisyah yang sedang sedih! Lalu memeluknya.


Bimo yang melihat Aisyah bersedih kemudian mengendongnya untuk menemui ku didalam kamar!


Sampai didalam kamar Aisyah turun dari gendongan Bimo dan berlari kearah ku!


"Bunda! Hiks.. hiks..hiks!"


Lagi-lagi Aisyah menangis! Matanya sampai bengkak akibat menangis. Biar bagaimana pun sikap mama Ainun dulu, tapi anak-anak begitu menyayanginya. Sekarang hanya tinggal kenangan saja yang masih ada dihati anak-anak.


"Dek, temanin bunda ya. Abi mau bantu untuk mengurus pemakaman nenek Ainun."


Ucap Bimo kepada ku dan Aisyah! Kemudian langkah kakinya menuju kedepan dan ikut membantu untuk mempersiapkan pemakaman.


qJenazah mama Ainun sudah dimandikan dan dikafanin. Kini giliran untuk sholat jenazah!


.


.


Aku berjalan keluar kamar dan melihat jenazah mama Ainun yang sedang disholatkan. Aisyah dan Sisil ikut berdiri disamping ku, memegang tangan ku begitu erat.


Tiba-tiba saja terdengar suara marah-marah dari arah belakang.


"Anak kurang ajar. Dimana kamu? Lihat mama!!! Disaat terakhirnya ingin bertemu anaknya saja tidak bisa. Aaaaaa...!" Teriak pak Rizal histeris!


"Mas tenang mas! Istifar, sabar!" Maafkan kesalahan Abim dan doakan dia! Semoga Abim bisa kembali dan berkumpul sama mas nantinya!" Ucap om Sugi.


"Aku gak sudi dan gak mau kenal sama yang namanya Abimanan! Gak akan!" Ucapnya dengan penuh marah. Tangan pak Rizal sampai memukul meja dengan kencangnya!


Orang-orang yang tadinya fokus kearah jenazah kini mengalihkan pandangannya kearah pak Rizal yang sedang marah.


Pak Rizal tidak dapat mengendalikan dirinya. Ia terus melampiaskan kekecewaannya dengan marah-marah.


"Astaghfirullah allazim." Ucap ku pelan.


Bimo datang dan mendekati ku. Matanya terus mencari arah suara keributan.


"Ada sayang, berisik sekali?"


"Bapak mas! Enggak tau dari tadi marah-marah!"


"Kamu tunggu disini! Mas, mau lihat kesana!"


"Iya mas!"


.


.

__ADS_1


Bimo yang sudah berada dihadapan pak Rizal dan pak Sugi. Serta orang-orang yang berusaha menenangkan pak Rizal tapi belum berhasil.


Perlahan Bimo mendekatinya. Sambil mengucapkan basmallah! "Bismillahirrahmanirrahim!"


"Pak, sabar istifar.." Ucap Bimo sambil memegang tangan pak Rizal dan berusaha untuk memenangkannya.


Mulut Bimo terus membacakan ayat-ayat Alquran ditelingga pak Rizal. Lama kelamaan pak Rizal mulai bisa tenang dan mengendalikannya amarahnya.


Bimo dan om Sugi segera membawa kekamar pak Rizal. Didalam kamar pak Rizal duduk dan menangis.


"Sabar ya pak dan iklaskan semua yang terjadi. Kita manusia hanya bisa berencana tapi semua itu kembali lagi sama Sang Khalik." Ucap Bimo pelan.


Pak Rizal menatap Bimo dan membayangkan wajah anaknya yang durhaka.


"Seandainya anak saya seperti kamu nak Bimo. Pasti saya sebagai orang tua sangat bahagia dan bangga!" Ucap pak Rizal dan menundukkan kepalanya!


Bimo tersenyum dan berkata. "Bapak boleh menganggap saya sebagai anak bapak!"


Mereka berdua berpelukan. Pak Rizal memeluk Bimo seraya memeluk tubuh anaknya yang ia rindukan.


Kemudian pak Rizal melepaskan tangannya dari tubuh Bimo, kemudian ia kembali teringat akan istrinya yang sudah tiada!


"Kapan istri saya dimakamkan?"


"Sholat jenazah sudah selesai. Alangkah baiknya kita mengantarkan almarhumah ketempat peristirahatannya."


"Bapak mau ikut untuk yang terakhir kalinya!"


Bimo pun menuntun pak Rizal sampai depan, dimana jenazah sudah siap diberangkatkan ke liang lahat.


Para lelaki membawa keranda kedalam mobil ambulans untuk selanjutnya dibawa ke pemakaman umum. Iring-iringan kendaraan mengantar mama Ainun sampai ke pemakaman.


Aku, Bimo dan anak-anak menaiki mobil Bimo untuk sampai kesana. Begitu banyak yang mengantar kepergian mama menghadap sang khalik.


.


.


Di TPU


Saat jenazah mama Ainun dimasukkan keliang lahat, terdengar kembali suara tangisan dari sanak saudara yang melihatnya.


Pak Rizal hanya terdiam tapi air matanya terus menetes. Pak Rizal terus melantunkan ayat suci Alquran agar kepergian mama diterima disisi Allah dan dimaafkan salah dan khilafnya.


Sedikit demi sedikit, pak Rizal mulai iklas menerima kepergian mama. Hanya saja, ia belum bisa memberikan kebahagian buat mama Ainun disaat terakhirnya, yaitu bertemu dengan Abim.


.


.


Kini mama Ainun. telah pergi kehadapan Engkau ya Allah SWT, maafkanlah kesalahannya dan terima mama disisi Allah. Amiin. Batin ku mendoakan almarhumah mama Ainun.


Kini mama Ainun telah tiada. Yang terlihat hanya gundukan tanah dan diatasnya ada batu nisan bertuliskan nama mama.


Hanya doa yang bisa kita lantunkan disaat rindu dengan mama Ainun.


Satu persatu para pelayat pergi meninggalkan kuburan. Begitu juga dengan kami berempat yang ikut pergi meninggalkannya makam mama Ainun.


...Happy Reading...


Bagaimana sikap Abim? Setelah mengetahui mama Ainun telah tiada?


Lalu bagaimana dengan Audy yang belum bertemu dengan suaminya?


Sedangkan Reyna sama Adlan, lagi ngapain ya? Mereka berdua??🤔🤔


Ikutin terus ceritanya 🙏


Jangan lupa like, rate, fav dan komentarnya.


Hadiahnya juga boleh, apalagi vote 😘😘

__ADS_1


...Terima kasih...


__ADS_2