Sebuah Keputusan

Sebuah Keputusan
Ketidakberdayaan


__ADS_3

Dirumah sakit..


Jam 17.10 WIB


Abi sudah dalam penanganan dokter. Keadaannya masih kritis.


Bunda, Sisil, Kenzi dan Aisyah masih menunggu diluar IGD.


Sisil dan bunda saling berpelukan dan menangis. Sedangkan Ais dan Kenzi duduk agak menjauh dari keduanya.


Ais terduduk dilantai. Rasanya kedua kakinya lemas tidak berdaya. Membayangkan abinya yang lemah tak berdaya.


.


.


.


Satu jam menunggu akhirnya dokter Andrew keluar dan diikuti oleh dokter Vano dibelakangnya.


Kami semua yang menunggu akhirnya keluar menghampiri keduanya.


"Pasien, sudah membaik! Sekarang bisa dipindahkan keruang rawat. Tapi tolong jangan biarkan pasien terlalu lelah beraktifitas atau lelah berpikir!" Perjelas dokter Andrew.


"Terima kasih dok." Sahut Aisyah yang sudah lebih tenang mendengar kabar bahwa Abi Bimo sudah lebih baik.


Bunda pun dapat bernapas lega mendengar bahwa Abi sudah baik-baik saja.


"Ok, coass Ais. Sebaiknya pasien dipindahkan keruang rawat."


"Baik dok. Terima kasih." Ucap Ais.


"Kalau gitu saya permisi dokter Vano." Pamit dokter Andrew dan tangannya menepuk pundak dokter Vano.


Dokter Vano hanya tersenyum melihat kepergian dokter Andrew, teman kerjanya.


Kini tinggal hanya tinggal mereka berlima yang sedang berdiri diluar ruangan IGD.


"Bun, aku mau pulang ambil pakaian Abi." Ucap Ais.


"Baju bunda bawa juga!" Sahut bunda dan berjalan masuk keruang IGD ditemanin oleh Sisil.


"Kak, aku ikut ya." Kata Kenzi.


"Gak usah. Kakak ada urusan, Kamu disini aja."


Aisyah melarang Kenzi ikut dengannya, padahal Kenzi ingin ikut kakaknya. Kenzi curiga bahwa kakaknya Ais tidak akan langsung pulang kerumah. Tapi, Kenzi binggung alasan apa yang dipakai untuk tetap bersama kakaknya!


"Ko, terima kasih ya. Maaf, aku buru-buru."


Aisyah lalu pergi meninggalkan Kenzi dan Vano. Aisyah berjalan dengan cepatnya. Ia ingin bertemu dengan Yudha dan orang tuanya.


Aisyah tidak bisa tinggal diam saja. Keluarganya terus diinjak-injak oleh keluarga Yudha.


Sifat Aisyah seperti Abi Bimo. Jika sudah ada yg berani mengusik kentertraman keluarganya maka ia akan marah.


.

__ADS_1


.


Vano melihat kepergian Ais dan hanya diam saja tidak mengejarnya. Tapi Kenzi merasa kesal, karena ia tidak bisa mencegah Kepergian kakaknya.


"Dokter siapanya kakak? Salah sudah ..nanti saja dijelaskan. Sekarang dokter ikut aku."


Kenzi menarik tangan dokter itu. Lalu membawanya pergi untuk mengikuti Aisyah.


"Kita mau kemana?"Tanya Vano penasaran!


"Ikutin kak Ais!"


"Ok. untuk apa?" Tanya lagi Vano.


"Aduh...nanyanya sambil jalan aja dok. Kakak keburu jauh. Sekarang kita naik apa?"


Vano akhirnya mengikuti apa kata Kenzi. Lalu mengambil mobilnya yang terparkir diparkiran.


Setelah itu mengemudikan mobilnya tanpa tau arah tujuan.


"Kita mau kemana?" Tanya Vano dan menengokkan kepalanya kearah Kenzi yang sedang duduk disebelahnya.


"Kerumah kak Yudha."


"Lalu apa hubungannya Yudha dengan Aisya?"


"Kak Yudha suami kak Sisil. Kak Sisil baru saja sembuh dari sakitnya. Kini atas permintaan orang tua kak Yudha. Kak Yudha tidak akan menceraikan kak Sisil asal kak Yudha mau menikah dengan kak Aisyah untuk jadi istrinya.." Ucap Kenzi.


"Apa.." Teriak Vano ketika kaget mendengar apa yang dikatakan eh adiknya Ais. Lalu ia membangun setir mobil kearah kiri jalan. Disana Vano memberhentikan mobilnya!


"Dok.. kenapa kita berhenti? Buruan kita jalan!"


"Yaa.. kak Ais gak maulah dan Abi juga gak setuju. Makanya Abi marah dan membiarkan kak Sisil bercerai dari kak Yudha."


"Baguslah ..lelaki gak punya pendirian. Seharusnya dia bisa memimpin keluarganya. Bukan dengan seperti itu caranya berbakti dengan orang tua."


Vano terus menyetir dengan fokus kearah jalan tapi pikirannya hendak menghajar pria yang hendak menikahi kekasih hatinya.


****


Dirumah orang tua Yudha.


Aisyah sudah sampai dirumah orang tua Yudha. Aisyah berdiri didepan pintu sambil tangannya memencet bel.


Lama sekali ia menunggu dipintu depan sampai akhirnya ada yang membukakan pintu rumah.


Cekrek..


Seorang asisten rumah tangga yang membukakan pintu untuk Aisyah.


"Ada yang bisa saya bantu mbak."


"Saya mau ketemu sama Yudha ada?" Ucap Aisyah yang sudah tidak sabar.


"Ada mbak, mari silahkan masuk."


Aisyah berjalan mengikuti asisten rumah tangga. Asisten rumah tangga itu berjalan

__ADS_1


kearah ruang tamu dimana ada orang tuanya Yudha dan Yudha sedang duduk dengan santainya.


Aisyah sudah sampai diruangan itu dan melihat ketiganya sedang duduk dengan santainya sambil menikmati minuman dan makanan yang ada dimejanya.


"Heem!" Aisyah berdehem, kemudian ketiganya melihat kearah Aisyah yang sedang berdiri.


Wajah Bu Sulis tersenyum lebar ketika melihat Aisyah ada dihadapannya. Tidak menyangka sama sekali bahwa Ais akan datang kerumahnya.


"Maaf Bu, pak. Ini ada mbak ini mencari mas Yudha."


"Iya bik sudah sana buatkan minum." Suruh Bu Sulis.


"Silahkan duduk Aisyah. Saya tidak menyangka bahwa kamu akan datang kesini." Ungkap Pak Zein.


"Saya gak lama kesini. Saya hanya ada perlu dengan Yudha."


"Ada perlu dengan saya. Ada apa?" Jawab Yudha.


Aisyah berjalan mendekat kearah Yudha. Tatapan mata Aisyah sangat tajam. Seolah tidak sabar lagi untuk membeli amarahnya.


Sedangkan Yudha hanya menatap mata Aisyah yang sedang berjalan kehadapannya.


Plakkkk....


Sebuah tamparan yang sangat keras mendarat diwajah Yudha. Wajah Yudha dalam sekejap langsung memerah.


Aisyah juga merasakan sakit dibagian tangannya akibat terllau keras menampar wajah Yudha.


"Aisyah. Apa yang kamu lakukan terhadap anak saya." Teriak Bu Sulis.


"Ini pantas buat kamu Yudha. Seharusnya kamu bisa menemani kak Sisil dalam suka maupun duka. Tapi apa.. kamu malah terus menyakiti kak Sisil. Lelaki macam apa kamu ini?" Tangis Aisyah pecah dan memukul Yudha dengan kedua tangannya.


Pak Zein dan Bu Aisyah yang melihat anaknya dipukul oleh Aisyah tidak bisa tinggal diam.


Lalu ..Plakkkkk..


Aisyah memegang wajahnya yang dirasa sakit akibat tamparan dari Bu Sulis.


"Dengar ya.. bukan saya suka sama kamu dan bukan berarti juga saya gak bisa marah." Bentak Bu Sulis.


"Aisyah.." Panggil Vano yang baru saja masuk.


"Kak.." Teriak Kenzi.


Mereka berrdua berdiri didekat Ais. Vano tampak marah karena melihat perempy yang dihadapan Aisyah ini telah memakinya.


"Sayangnya memang tidak mengenal kalian. Tapi yang saya tau bahwa perlakuan kalian semua tidaklah baik." Kata Vano.


"Ayok kak, pulang." Ajak Kenzi dengan menarik tangan Ais.


Aisyah hanya terdiam ketika melibat Vano membelanya. Tapi tangannya masih mengelus-elus pipinya yang dirasakan sangat sakit.


"Yudha, saya hanya pesan sama kamu sebagai sesama lelaki. Asal kamu tau, saya dan Aisyah saling mencintai. Saya gak akan membiarkan kamu atau pun orang tua kamu untuk mengambil Aisyah dari saya. Dan saya akn terus berjuang untuk kebahagiaan kami nantinya."


Aisyah tertegun melihat Vano mengungkapkan isi hatinya. Ada perasaan senang dalam dirinya. Mendengar sang kekasih terus memperjuangkan cintanya. Tapi apakah mungkin semua itu terwujud.


"Ayok Ais, sebaiknya kita pulang." Ajak Vano.

__ADS_1


"Ingat Yudha.Saya akan buat perhitungan sama kamu. Jika terjadi apa-apa mengenai keluarga besar saya. Maka saya akan berhadapan dengan kamu. Orang yang bakal saya cari pertama kali adalah kamu."


Setelah selesai kini Aisyah, Kenzi dan Vano berjalan keluar rumah. Kini mereka pulang bertiga.


__ADS_2