Sebuah Keputusan

Sebuah Keputusan
Ternyata???


__ADS_3

Dirumah Sakit..


Jam 20.00 WIB


Dengan wajah yang cukup lelah. Aisyah terus berjalan sendirian dilorong rumah sakit. Tangannya membawa tas dan beberapa laporan yang harus ia kerjakan dirumah.


Malam ini, Aisyah tidak bersama dengan Ririn dan Lela. Karena mereka berdua ada tugas malam.


Sesampainya diluar, matanya terus mencari mobil angkutan umum, untuk ia naiki sampai restoran yang ditujunya.


Ketika sedang berdiri sambil menunggu. Datang motor Kawasaki berhenti pas didepan Aisyah yang sedang berdiri.


Aisyah pun kaget dan melihat kearah lelaki yang duduk diatas motornya. Wajahnya tidak terlihat karena memakai helm.


Vano kemudian membuka helm tersebut dan tersenyum kepada Aisyah.


"Koko.. ngapain disini?"


"Tunggu kamu lah, memangnya ngapain lagi?"


"Ayok naik, aku antar pulang!"


Vano menyuruhnya tapi ditolak oleh Aisyah. Aisyah masih berdiri saja, tidak mau mengikuti apa kata Vano. Takut kalau nanti Abi Bimo melihatnya.


"Kenapa? Takut? Tenang aja, aku turunin kamu jauh dari rumah deh!" Bujuk Vano terus, supaya bisa mengantar Aisyah pulang. Karena Vano tidak tega melihat perempuan cantik pujaan hatinya pulang sendiri!


"Lagian.. aku gak pulang kerumah. Aku mau kerestoran."


"Ya udah nanti aku antar tuan putri cantik kemana pun!"


"Ya udah. Tapi turunin aku jauh ya!" Sahut Aisyah.


"Heemm."


Mereka berdua pergi dengan menaiki motor Kawasaki milik Vano.


Malam begitu dingin, angin malam mulai terasa disekujur tubuh Aisyah sampai menembus tulangnya.


"Ko, pelan-pelan ya! Aku dingin."


Vano yang mendengar Aisyah berkata seperti itu, mulai memberhentikannya motornya dipinggir jalan.


"Ko, kita kok berhenti!"


"Iya! Kamu pakai jaket ya!" Ungkap Vano lalu turun dari motor.


Aisyah pun turun dari motor dan melihat Vano yang melepaskan jaketnya dari tubuh yang kekar dan besar itu.


Vano memberikan jaketnya kepada Aisyah untuk dipakainya.


"Ini pakai."


"Koko pakai apa? Aku gak usah, nanti Koko kedinginan!"


"Kalau aku bilang pakai, ya dipakai. Ngerti nggak dan jangan suka bantah!" Paksa Vano agar Aisyah mau memakai jaket miliknya.


Setelah memakai jaket milik Vano, akhirnya mereka berdua melanjutkan perjalanan menuju restoran.


****


Direstoran ..


Vano memakirkan motornya diparkiran. Tapi wajah cemas Aisyah sangat takut, takut akan orang tuanya melihat.


Benar saja, apa yang dikhawatirkan Aisyah terjadi. Tapi bukan orang tuanya yang melihat melainkan Sisil.


Dari kejauhan Sisil melihat adiknya, begitu juga dengan Aisyah. Mereka saling melihat dan terdiam.


"Gawat." Ucap Aisyah pelan.

__ADS_1


Vano yang mendengar Aisyah berkata lalu melihat kearah Aisyah.


"Ada apa Ais?"


"Ko, Koko pulang ya! Aku pergi.. Assalamualaikum!"


Aisyah pergi dengan terburu-buru meninggalkan Vano sendirian. Bahkan Aisyah lupa karena masih mengenakan jaket Vano.


Vano yang sudah ditinggal, hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah aneh Aisyah. Kini Vano pun pergi dari parkiran.


.


.


Bunda Manda melihat Aisyah masuk, kemudian tersenyum dan berkata.


"Ais, kamu udah disini!"


"Assalamualaikum! Ya bunda, baru aja!" Sahutnya lalu mencium tangan orang tuanya.


"Ya udah. Kita masuk yuk!" Ajak Abi Bimo.


Mereka masuk kedalam dan berjalan ketempat yang sudah dipesan oleh Sisil dan Yudha.


Setelah semuanya duduk, aku memanggil pelayan restoran untuk membawakan makanan dan minuman yang telah dipesan.


Sambil menunggu semuanya berbincang. Dari tadi Sisil yang ingin sekali bertanya pada Aisyah berkali-kali menatap Aisyah.


Disaat ada kesempatan, Sisil langsung duduk dan mendekat kearah adiknya.


"Dek, tadi itu siapa?"


"Hanya teman kak." Sahutnya.


"Jangan-jangan macam dek. Ingat pesan Abi." Ancam Sisil yang tidak mau kalau adiknya membuat malu keluarga.


"Itu jaket siapa? Perasaan kamu gak pakai jaket tadi pagi."


"Oh ini, punya aku." Sahutnya mencari alasan.


Tak lama kemudian, pelayan datang dan menaruh semua makanan dan minuman diatas meja.


Perbincangan antara kakak adik itu pun akhirnya terhenti.


Aisyah dapat bernapas lega. Karena Sisil tidak jadi melanjutkan obrolannya.


Kini semuanya menikmati makanan yang sudah ada.


.


.


Tanpa mereka semua sadari malam sudah semakin larut. Jam sudah menunjukkan jam sepuluh. Tidak terasa waktu kebersamaan mereka harus berakhir.


Yudha berdiri dan berjalan kekasir. Membayar semua makanan dan minuman yang mereka pesan.


Semuanya beranjak pulang, setelah selesai. Aisyah ikut mobil dengan orang tuanya. Sedangkan Sisil bersama Yudha dalam satu mobil.


Mobil melaju begitu cepatnya. Karena sudah malam jalanan tidak macet. Hingga sampai rumah dengan lancar.


Sesampainya dirumah, mereka semua masuk kedalam kamar dan beristirahat masing-masing.


.


.


Aisyah yang berada dikamar. Masih belum tidur, ia harus mengerjakan tugas yang dibawanya pulang tadi.


Abi Bimo yang kebetulan lewat dikamar Aisyah, tiba-tiba saja mengetuk kamarnya.

__ADS_1


Tok tok tok..


"Masuk.."


Cekrek..


Abi Bimo masuk kedalam dan melihat Aisyah yang masih duduk dengan beberapa berkas dan laktop.


"Abi boleh masuk."


"Masuk aja Abi."


Abi Bimo masuk dan duduk didekat Aisyah. Mata Abi Bimo melihat kesibukan Aisyah dirumah.


"Sudah malam masih sibuk juga."


"Iya Abi, ini tuh harus selesai besok. Abi, aku boleh nanya sesuatu." Ucap Aisyah.


"Soal apa?"


"Menurut abi, seorang mualaf masuk Islam itu apa? Apakah karena alasannya perempuan atau panggilan dari Allah."


"Tumben anak Abi yang satu ini pertanyaan seperti itu?"


"Abi aneh. Ditanya malah balik nanya lagi!" Jawab Aisyah yang sudah tidak sabar menunggu jawaban dari Abi Bimo.


"Ok, Abi jawab.



Awalnya karena senang bisa berbincang dengan muslim


Senang bisa mengenal ajaran Islam seperti sholat, pergi haji, dan lain sebaginya.


Ajaran tentang keesaan Allah dan solusi dalam menghadapi setiap masalah sudah tertuang dalam Al-Qur'an


Mendapat hidayah


Selebihnya lagi karena ketertarikan pada lawan jenis. Tapi yang pasti, intinya mereka semua yang ingin mengenal lebih dalam ajaran agama Islam harus dari hati dan semua karena Allah SWT."



"Oh seperti itu! Terus menurut abi, misalkan.. aku punya teman berbeda agama dengan ku. Sikap Abi bagaimana?" Tanya Aisyah yang mulai lebih fokus ke pertanyaan intinya!


"Kok tanya Abi. Bukannya dari awal adek masuk sekolah, seharusnya sudah tau mengenai perbedaan agama."


"Hehehe..iya ya!" Jawab Aisyah.


"Ada apa? Apa semua ini ada hubungannya sama adek?"


Abi Bimo mulai curiga, tapi kecurigaannya masih dalam batas wajar.


Aisyah yang ditanya malah jadi binggung harus menjawab apa? Ia hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Sudah malam, istirahat. Abi tinggal dulu ya!"


"Abi.. ehmm. Kalau ada lelaki yang suka pada ku dan mengajak ku serius. Bagaimana?"


Aisyah pun kembali bertanya dengan memberanikan dirinya kepada Abi Bimo, padahal Abi Bimo hendak pergi keluar kamar.


"Itu hal yang bagus. Segera temui Abi. Tapi sebelumnya ia harus seiman!"


"Haaaa..hanya, jika seandainya saja kok abi! Selamat malam abi!"


Aisyah, sudah tau jawaban abinya. Tapi setidaknya Aisyah tau apa jawaban abinya.


Abi Bimo sudah pergi dari kamar Aisyah. Kini Aisyah melanjutkan pekerjaannya.


Abi Bimo sebenarnya menaruh curiga, pada Aisyah. Tapi ia enggan untuk bertanya. Ia hanya ingin jika Aisyah sendiri yang berterus terang kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2