Sebuah Keputusan

Sebuah Keputusan
Izin 2


__ADS_3

Dirumah..


Jam 11.15 WIB


Setelah dirawat selama tiga hari dirumah sakit. Akhirnya Abi diizinkan pulang dari rumah sakit semalam. Kini kesehatan Abi sudah lebih membaik.


Sekarang Abi juga sudah bisa menerima Vano. Hubungan yang dulu tidak mendapat restu, akhirnya kini mendapat restu dari orang tua.


Perbedaan agama yang menghalangi hubungan Ais dan Vano kini sudah tidak lagi ada.


Hanya tinggal meminta restu dari kedua orang tua. Vano yakin bahwa suatu saat hubungannya akan berjalan lancar dan mendapat restu dari orang tuanya.


.


.


Dirumah...


Abi sedang duduk dan menonton tv sambil menikmati segelas susu dan roti. Bunda masih menemani Abi dan duduk disampingnya.


"Abi.. makan siang dulu ya." Suruh bunda.


"Nanti saja Bun, Abi mau makan roti saja." Sahut Abi Bimo.


Dalam duduknya Abi terus berpikir tentang anak gadisnya yaitu Aisyah. Abi melihat keseriusan Vano terhadap Aisyah.


Keseriusan Vano sama seperti keseriusan Abi pada waktu zaman Abi memperjuangkan bunda. Itulah yang membuat Abi tersentuh pada Vano. Semoga saja pilihan Aisyah tidaklah salah. Apalagi sekarang Vano telah menjadi mualaf.


"Bun, menurut bunda. Vano itu orang yang bagaimana?" Tanya abi Bimo pada istrinya yang sedang duduk disampingnya.


"Kalau menurut bunda dari awal bunda bertemu dengannya. Vano, pemuda yang sopan, baik hanya agama yang membuat perbedaan diantara mereka."


"Sekarang hubungan mereka berdua sudah tidak ada yang menghalanginya! Karena Vano sudah menjadi seorang mualaf bun!"


"Iya Abi. Tapi ..bagaimana dengan dengan keluarganya Vano? Apakah keluarga Vano mau menerima Aisyah. Itu juga akan jadi penghalang buat mereka. Bunda gak mau kalau mereka menikah juga, Aisyah akan dibenci oleh keluarga Vano, apalagi oleh orang tuanya!"

__ADS_1


Abi terdiam sesaat. Mulai mencerna setiap kata-kata bunda. Memang apa yang dikatakan oleh bunda adalah benar.


Mungkin masalah agama sudah beres, tapi bagaimana dengan keluarganya yang berbeda keyakinan dengan Vano dan Aisyah. Apa keluarganya mau menerima Aisyah.


Abi kembali memikirkan kebahagian anaknya.


"Sudahlah Abi, tidak usah dipikirkan lagi. Kita serahkan pada yang maha kuasa. Kita hanya bisa berdoa dan berharap. Semuanya kembali lagi pada sang khalik. Bunda gak mau Abi sakit. Sekarang Abi tidak usah banyak berpikir."


"Ya bun! Terima kasih, bunda selalu menemani Abi disaat suka maupun duka."


Bunda yang mendengar perkataan Abi Bimo menjadi menangis. Seharusnya yang berkata seperti itu adalah bunda bukan Abi. Karena memang Abi yang sudah membuat hari-hari bunda lebih berarti!


.


.


Tanpa disadari oleh keduanya, ada sosok yang sedang memperhatikan mereka berdua. Berdiri dan matanya terus memandang kearah kedua orang tuanya yang saling memberi semangat satu sama lain. Itu adalah Aisyah!


Aisyah tersenyum dan merasa ikut berbahagia dengan kedekatan Abi dan bundanya.


Aisyah sadar, apa yang Abi dan bunda pikirkan adalah untuk kebaikan dirinya dimasa depan.


Apa yang orang tuanya katakan barusan, memang benar kenyataannya. Bahwa hubungannya dengan Vano tidak akan berjalan mulus kalau tidak mendapat restu dari orang tua Vano.


Aisyah harus berjuang dan berdoa agar perjalanan cintanya dengan Vano dapat melewati semua cobaan dan halangan yang menerpa cinta mereka.


Aisyah kemudian berjalan perlahan menghampiri kedua orang tuanya yang sedang duduk bersama.


Abi dan bunda melihat kedatangan Ais yang berjalan menunduk saja.


"Dek, kok jalan lihat kebawah saja? Memangnya ada apa dibawah?" Kata abi.


Aisyah mengangkat wajahnya dan melihat kearah Abi. Lalu berkata "E..enggak abi. Enggak ada apa-apa!"


Aisyah pun duduk didekat kedua orang tuanya. Aisyah yang sudah duduk dikursi kemudian mengatur napasnya ketika ingin mulai berbicara tentang hubungannya dengan Vano.

__ADS_1


"Ada apa sayang! Apa ada yang ingin kamu katakan?" Ucap bunda yang ingin tau apa yang mau dibicarakan oleh Aisyah.


Dari wajah bunda terlihat rasa penasaran dan keinginan tau yang lebih mendalam. Sepintas ada dipikiran bunda adalah apa yang hendak dibicarakan oleh Aisyah tidak jauh pasti membahas soal Vano, lelaki yang selama ini dekat dengan Aisyah.


"Katanya mau bicara, kok diam saja?" Sela Abi.


Aisyah dengan jantung yang terus berdegup sangat kencangnya. Mulai merasa kebingungan. Bagaimana memulai pembicaraan tentang Vano.


Disudut bibirnya, merekah senyum yang lebar. Disaat itu pula Aisyah memberanikan diri untuk mengutarakan isi hatinya terhadap kedua orang tuanya.


"Abi .. bunda. Aku ingin mengatakan sesuatu mengenai isi hati ku. Ini mengenai Koko Vano. Dia adalah lelaki yang pertama yang berhasil mengisi hati ku. Koko juga yang selalu mengisi hari-hari ku dengan penuh warna. Ada dalam suka maupun duka. Tapi aku sadar ada banyak perbedaan diantara kita. Aku sadar kalau hubungan kita akan banyak cobaan. Menurut Abi sama bunda bagaimana?" Ungkap Aisyah walaupun belum semuanya diungkapkan.


"Kalau bunda lihat sosok Vano baik, tanggung jawab hanya bunda takut kalau nanti hubungan kalian banyak rintangan." Jawab bunda Manda dengan perasaan ketakutan yang mendalam untuk anaknya.


"Bun.. semua orang akan mengalami yang namanya ujian hanya saja bagaimana cara mereka mengatasinya. Dan hasil akhir dari ujian itu berhasil atau tidak! Enggak Aisyah, Sisil, Kenzi ataupun masih banyak orang diluar sana yang sedang mengalami cobaan ujian. Jadi kita biarkan mereka berdua untuk menyelesaikan. Kini Vano sudah menjadi seorang mualaf, kita kasih kesempatan untuk Vano. Abi hanya minta Vano bisa membahagiakan kamu?" Kata Abi dengan bijaksana dan matanya terus mengarah kepada Aisyah yang sedang menderita petuah orang tuanya!


"Terima kasih bunda..abi! Tanpa dukungan dan restu Abi sama bunda. Itu semua gak ada artinya!"


"Iya sayang! Kapan kamu ajak Vano untuk bertemu dengan kita?" Tanya Abi Bimo pada anaknya yang kala itu terkejut saat menyuruh Vano untuk datang.


"Ehmm..kapan ya? Mungkin nanti!" Jawab Aisyah sambil tertawa cengengesan.


Aisyah menarik napas panjang karena kedua orang tuanya sudah memberikan lampu hijau untuk hubungannya dengan lelaki pilihan hatinya.


Kini hanya berjuang untuk mendapatkan restu dari orang tua Vano. Semoga saja semua itu tidak ada berjalan lancar!


Aisyah yang sudah selesai berbicara kepada orang tuanya, akhirnya pamit untuk pergi kekamarnya.


"Abi .. bunda. Aku permisi pamit mau kekamar."


"Iya nak!" Jawab Abi.


Sedangkan bunda hanya menganggukkan kepalanya melihat kepergian anaknya kekamar.


Dalam hati bunda ada kekhawatiran yang mendalam mengenai hubungan Aisyah dengan Vano. Bunda sangat khawatir kepada Aisyah karena kegagalan dalam rumah tangga juga dialami oleh Sisil.

__ADS_1


Bunda hanya ingin anak-anaknya tidak mengalami suatu kegagalan dalam berumah tangga, tapi pada kenyataannya sekarang bunda harus melihat dan ikut merasakan sakitnya cobaan yang dialami oleh Sisil.


__ADS_2