Sebuah Keputusan

Sebuah Keputusan
Restu


__ADS_3

PENIKMAT RINDU


Aku hanyalah si penikmat rindumu


Bagai angin yang membawanya padaku


Menyebar sebagai saraf di kepalaku


Yang memaki sanubari akan dirimu


Kepada awan yang senantiasa bersama langit


Kepada angin yang tertiup setiap saat


Lewat rasa dingin yang tercipta


Sampaikan rasa ini kepadanya


Mungkin langit terlalu bisu


Untuk mengabarkan segalanya tentangmu


Senyumu meracuni seluruh jiwaku


Hingga hatiku dan benakku selalu ingat tentangmu


( Ananda Kheisyha P.H.N )


...🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵...


Dirumah orang tua Bimo...


Jam 19.00 WIB.


Ketika ummi sedang berbincang-bincang dengan Abi. Bimo menghampiri keduanya yang sedang santai.


''Abi .. ummi. Serius banget ngobrolnya. Apa sih yang di perbincangkan?"


Abi tersenyum dan menatap wajah ummi. Keduanya saling pandang dan tersenyum bersamaan.


Bimo curiga, hal apa yang membuat mereka berhenti bicara dan hanya tersenyum saja kearah Bimo.


"Abi sama ummi kenapa, apa ada yang salah dengan penampilan ku."


Abi dan ummi melihat kearah Bimo. Keduanya secara bersamaan berkata. "Enggak ada Kok!"


"Lalu!"


"Kamu udah seperti polisi aja, tanya kita berdua ya, Abi!"


"Habis ummi sama Abi mencurigakan banget!!"


"Hahahaha... Tuh lihat ummi, anaknya tau aja kalau kita lagi ngomongin calon istrinya." Kata Abi sambil tertawa!


"Jadi benar dong aku, kalau ummi sama Abi lagi ngomongin aku!"


Ummi pun menjawab! "Iya Bim! Ummi lagi membicarakan Amanda saat ummi bertemu kemarin."


"Jadi pendapat ummi sama Abi bagaimana?"


"Ya ampun, anak ummi ini udah gak sabar pingin tau pendapat ummi sama Abi."


Bimo memang tidak sabar, ingin rasanya cepat menghalalkan aku. Maksud Bimo baik, karena tidak ingin menimbulkan fitnah.


"Menurut ummi, Amanda adalah gadis yang baik. Hanya sayang statusnya. Tapi ummi akan beri kesempatan buat dia ketemu sama Abi juga adikmu. Bagaimana?"


"Bimo terkejut tidak menyangka akan respon kedua orang tuanya! Baiklah ummi aku akan mengajak Manda kesini."


"Heitsss.. Bim! Sabar.. masih ada lagi waktu untuk bertemu dengan Manda. Jangan terlalu terburu-buru! Satu hal lagi, kamu jangan terlalu dekat dengannya. Tolong jaga jarak! Kalian bukan muhrim!"


"Iya ummi!"


Setelah perbincangan mereka bertiga. Bimo melanjutkan untuk beristirahat dikamar. Didalam kamar Bimo membaca Alquran sebentar dan kemudian dilanjutkan dengan sholat Isya.


Tok. tok..


Bi Ijah mengetuk pintu kamar dan menunggu majikannya sampai menyuruhnya masuk kedalam.


"Iya.. masuk!"

__ADS_1


Bi Ijah masuk kedalam dan melihat Bimo yang baru saja selesai sholat. "Mas Bimo, maaf diluar ada tamu mau minta ajarin ngaji!"


"Siapa bik?"


"Gak kenal mas! Tapi sepertinya baru pertama kali masuk Islam."


"Iya baik, sebentar lagi saya turun! Terima kasih!"


Bik Ijah pergi keluar kamar dan melanjutkan pekerjaannya kembali. sedangkan Bimo membereskan sajadah yang terbentang dilantai barulah setelah itu keluar kamar.


Sampai diruang tamu, mata Bimo mengarah pada seorang lelaki yang usianya sekitar empat puluh tahun. Bimo pun mendekatinya.


"Bim, sini duduk. Ada yang cari kamu?"


Bimo tersenyum kearah lelaki tersebut dan keduanya saling bersalaman.


Bimo Kemudian duduk dikursi. Lalu berkata. "Mas namanya ..?"


"Kevin! Saya ingin jadi mualaf mas!" Ucap Kevin!


"Alhamdulillah, kalau boleh saya tau kenapa anda mempunyai keinginan untuk jadi mualaf?"


"Saya mencintai seorang gadis muslim. Untuk menikah dengannya saya harus menjadi seorang mualaf." Katanya dengan sangat serius sekali.


"Niat mas ini bagus sekali, tapi alangkah baiknya jika didasari atas dasar keinginan dari hati. Bukan dari pasangan atau syarat untuk menikahi perempuan itu. Kalau memang atas keinginan sendiri atau panggilan dari hati. Maka untuk kedepannya akan menjadi pedoman anda dalam memimpin istri dan anak anda kejalan Allah SWT."


"Iya mas, saya yakin dengan keyakinan saya. Kapan saya bisa mulai belajar?"


"Kapan saja anda siap! Saya selalu ada." Jawab Bimo santai.


"Baiklah Saya siap kapan pun untuk mulai belajar."


"Baiklah."


Keduanya berbincang cukup lama. Bimo mengajarkan dan mengenalkan tentang Islam. Kevin mendengarkan dan menyimaknya. Jika ada pertanyaan ia pun dengan cepat menanyakan langsung dengan Bimo.


****


Malam semakin larut tapi Bimo belum bisa tertidur pulas. Akhirnya Bimo menyempatkan untuk mengirim sebuah pesan. Tapi semua itu ia urungkan. Akhirnya dengan mimpi yang indah Bimo Puna akhirnya terlelap.


Keesokan paginya...


Jam 07.30 WIB..


Panggilan video call pun tersambung dengan ku. Aku melihat wajah Bimo yang penuh dengan keringat.


"Assalamualaikum, mas!"


"Waalaikumsalam! Sedang apa, Manda?" Tanya mas Bimo sambil meminum segelas susu.


"Aku baru saja selesai menyapu. Ada apa mas?"


"Kamu nanti siang bisa ketemu sama ummi dan abi!"


"Abi dan ummi mas Bimo, ada apa ya mau ketemu dengan ku?"


"Hanya makan siang saja. Mengenai tempatnya ku beri tau nanti ya!"


Disaat yang bersamaan Aisyah mendengar kemudian ia bertanya kepada ku! "Bun, itu om Bimo ya?"


"Iya sayang!"


Aku memberikan ponsel kepada Aisyah karena ia ingin sekali ngomong dengan Bimo.


Aisyah dan Bimo saling mengobrol seperti obrolan anak dan ayahnya. Bahkan sampai membuat Aisyah tertawa.


"Bun, adek sedang video call sama siapa?"


"Sama om Bimo, kak!"


Sisil meminum susunya kemudian ia berkata. "Aku kira dari ayah, tapi ayah gak mungkin ya bun!"


Aku hanya tersenyum mendengar ocehan Sisil, aku tau dari lubuk hatinya. Ia pasti merindukan sosok ayah. Ayah yang tidak bisa memberikan kasih sayang kepada anaknya!


Sudahlah, aku hanya bisa berdoa. Semoga saja Allah memberikan suatu keajaiban untuk Abim dan bisa kembali menyanyangi mereka lagi.


"Bun, ini!"


"Sudah?"

__ADS_1


Aisyah sudah selesai mengobrol dengan Bimo dan panggilan video call tersebut sudah selesai!


"Dek, minum susunya!"


Aisyah meminum susunya dan berbisik kepada kakaknya yang duduk disamping Aisyah.


Keduanya sedang asyik mengobrol, sepertinya sangat rahasia.


"Ayo, apa yang kalian sembunyikan dari bunda?"


"Ehmm... gak ada!"Jawab Aisyah sambil menggelengkan kepalanya!


"Kakak juga enggak! Udah ya bun, mau berangkat dulu!"


Sisil pergi terlebih dahulu kemudian disusul oleh Aisyah yang berjalan dibelakang. Keduanya berlari menuju kerumah mama Atika.


Setelah kepergian anak-anak aku pun berangkat untuk bekerja. Seperti biasa aku pergi dengan menaiki motor.


****


Dikantor...


Jam 12.00 WIB.


Mas Bimo sudah mengirimkan sebuah pesan kepada ku untuk bertemu dengan ummi dan abi. Untung saja tidak terlalu jauh jaraknya dari tempat ku bekerja. Jadi aku hanya berjalan kaki saja untuk sampai kesana.


Sudah saatnya jam istirahat makan siang. Aku pun bergegas keluar. Dengan cepat ku berjalan keresto yang dituju.


Diresto..


Aku mencari dimana orang tua mas Bimo.


Dimana ya abi dan ummi mas Bimo. Aku kan gak mengenalnya. Batin ku yang terus mencari.


Dari arah depan. Tidak jauh dari tempat ku berdiri ada seorang perempuan yang melambaikan tangan kearah ku.


Ummi Dwi. Ucapku pelan.


Kemudian aku melangkah maju kedepan. Sekarang aku berdiri pas dihadapan keduanya.


"Manda." Panggil ummi kepada ku.


"Assalamualaikum ummi..dan..?" Kata ku kemudian mencium tangan kedua orang itu.


"Waalaikumsalam." Ucap keduanya bersamaan.


"Manda sini duduk." Ajak ummi.


"Maaf ummi, aku sedang menunggu seseorang. Tapi aku belum mengenalnya."


Keduanya pun tertawa bersamaan. Aku menatap mereka dengan heran. Kenapa keduanya bisa tertawa. Apa ada yang salah dengan ku.


"Manda, yang mau ketemu kamu. Ya.. kami berdua!" Ucap abi.


Mata ku melotot tidak percaya, ternyata orang yang ku tunggu adalah ummi Dwi yang ku temui waktu dipanti asuhan adalah orang tua Bimo.


Aku pun duduk diantara mereka. Kemudian mereka berdua menjelaskannya kepadaku.


"Jadi ummi dan abi adalah orang tua mas Bimo."


"Iya!"


"Kata mas Bimo. Ummi.. sama Abi.. mau ketemu dengan ku. Maaf ada apa ya? Apa ada yang salah dengan ku?" Tanya ku kikuk.


"Enggak ada kok. Gak ada yang salah. Hanya kami ingin mengenalmu saja."


"Hanya itu?"


"Iya. Kamu mau pesan apa? Silahkan, jangan sampai kamu tidak makan siang!"


"Apa aja, terserah sama Abi dan ummi."


"Baiklah."


Abi memesan makanan dan minuman untuk kami semua. Sambil menikmati makan siang Abi dan ummi memberikan beberapa pertanyaan untuk ku. Aku pun menjawab apa adanya.


Terlintas dipikiran ku, untuk apa mereka menanyakan semua sampai sedetail itu kepada ku. Apakah ini semua ada hubungannya dengan anaknya.


...Happy Reading...

__ADS_1


Jangan lupa like, rate, fav..koment..


...Terima kasih untuk semuanya...


__ADS_2