Sebuah Keputusan

Sebuah Keputusan
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Dirumah Orang tua Abimanan


Jam 10.00 WIB


Aku melangkahkan kaki bersama mama Atika, pergi kerumah orang tua Abim. Perasaan cemas melanda ku. Untungnya ada kekuatan disampingku.


Berjalan memasuki pagar rumah. Melangkah maju terus kedalam.


Kami berdua mengucapkan salam saat diambang pintu. "Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam!" Jawab dari dalam rumah.


Pak Rizal yang sedang berada dikamar, lalu berjalan keluar menghampiri kami yang masih berdiri diluar pintu.


Betapa terkejutnya pak Rizal, ketika melihat kedatangan kami berdua. Tidak menyangka bahwa kami akan datang!


"Mari silahkan masuk!" Suruh pak Rizal dan bersalaman kepada kami.


Aku dan mama masuk kedalam, kemudian duduk dikursi. Tampak begitu sepi, lalu dimana anak-anak. Mata ku terus mencari keberadaan mereka berdua.


"Maaf pak dimana anak-anak?" Tanya ku tidak sabar.


Pak Rizal terdiam, ada rasa bersalah dalam benaknya! Cucu kesayangannya telah terbaring sakit diatas tempat tidur.


"Pak, pak kok diam? Ada apa?" Tanya mama Atika yang mengangetkan pak Rizal dari lamunannya.


Pak Rizal berbicara dengan terbata-bata! Tidak tau harus berkata apa? "Ehm..anu.."


"Ada apa pak? Yang jelas dong?" Kata mama Atika dengan nada keras.


"Sebaiknya, kamu lihat aja kedalam!"


Aku langsung bangun, ketika pak Rizal menyuruh ku untuk melihat anak-anak! Berjalan kesana kemari, mencari keberadaan anak-anak. Sampai disalah satu kamar.


Deg..deg..


Betapa terkejutnya aku, ketika melihat anakku sedang terbaring lemah. Ditemanin oleh Sisil dan mama Ainun disampingnya!


Ku berlari mendekati Aisyah. Ku sentuh tubuhnya yang terasa panas. Lalu ku panggil namanya berulang kali.


"Aisyah, Aisyah.. sayang ini bunda!"


Mata Aisyah membuka sedikit, lalu tersenyum dan memanggil ku. "Bunda." Seketika ia kembali tertidur.


Tanpa pikir panjang, aku langsung membawa Aisyah dalam gendongan ku, pergi keluar kamar. Ku rasakan panas yang teramat, ketika aku memeluknya. Dalam benak ku, hanya satu membawanya kerumah sakit.


"Ma, cepat. Kita pergi kerumah sakit." Kata ku spontan yang membuat mama Atika binggung ketika melihat ku keluar dengan mengendong Aisyah.


"Kak, cepat ikut bunda."


Aku tidak mau meninggalkan anak ku disini mulai sekarang, tanpa seizin ku. Makanya aku mengajaknya ikut serta.


"Kalian berdua mau naik apa?" Tanya mama Ainun spontan.


"Naik apa saja yang penting sampai." Sahut ku kesal.


"Ya sudah biar bapak anter."


.


.


Kami akhirnya pergi kerumah sakit dengan menaiki mobil pak Rizal. Tidak jauh jarak rumah sakit, kurang lebih dua puluh menit untuk sampai.


Pak Rizal mengemudikan mobilnya sangat cepat. Matanya tetap fokus pada jalan. Ia sangat takut jika terjadi sesuatu pada cucunya. Hal itu nantinya akan ada imbasnya ke pak Rizal dan mama Ainun.


Mama Ainun hanya diam, memandangi cucunya yang sedang sakit. Dari tadi Aisyah hanya tidur saja. Jantungnya berdegup begitu kencang.

__ADS_1


"Ma, adek udah kasih obat belum?" Tanya ku spontan dan mengangetkan mama Ainun dalam lamunannya.


"U - udah!"


"Kapan? Terus panasnya dari kapan? Kasih obat apa?"


"Tadi jam tujuh pagi mama kasih obat. Kalau panas dari kemarin. Tapi panasnya gak seperti sekarang. Tapi itu juga udah mama kasih obat."


Mama Atika mengerutkan keningnya atas apa yang mama Ainun katakan. Lalu menggelengkan kepalanya dan berkata. "Sudah sabar, ndok! Semoga Aisyah gak apa-apa!"


****


Dirumah Sakit..


Aisyah sudah mendapatkan perawatan medis diruang IGD. Semuanya menunggu diluar termasuk aku. Perasaan cemas terus menggeluti kalbu ku.


.


.


Dokter pun keluar dari ruang IGD, kemudian ia berkata. "Siapa ibunya pasien!"


"Saya dok?"


Aku pun maju dan berdiri mendekati dokter! Aku pun berkata. "Bagaimana keadaan anak saya dok?"


Dokter menjawab. "Untungnya pasien segera dibawa kerumah sakit dan mendapat perawatan. Karena demamnya sangat tinggi sekali, hampir saja pasien tidak sadarkan diri!"


"Apa dok? Sampai separah itu?" Tanya mama Ainun panik.


Ia tidak menyangka, kalau kejadiannya bakal seperti ini. Ia benar-benar menyesal sekali, telah menyakiti cucunya!


"Iya bu. Apa sebelumnya ia telah mengalami suatu tekanan yang membuatnya menjadi sakit?"


Semua orang melihat kearah mama Ainun. Mama Ainun menundukkan wajahnya, karena semuanya tau ia penyebab Aisyah sakit.


"Dok, apa Apakah Aisyah akan dirawat atau bisa berobat jalan saja?"


"Kalau melihat kondisinya, untuk sementara ini biarkan dia dirawat, sampai kondisinya pulih!"


" Baiklah kalau gitu dok! Apa saya boleh masuk dok?"


"Silahkan, tapi sebelumnya ada yang mengurus administrasi!"


"Oh iya dok! Terima kasih"


Dokter pun pergi. Setelah itu, aku bergegas mengurus administrasi rawat inap. Ketika aku hendak berjalan terdengar kata-kata keluar dari mulut Sisil.


"Ini semua gara-gara nenek! Seandainya nenek, izinin adek pulang! Ga akan seperti ini!"


Aku membalikkan badan ku dan melihat Sisil yang sangat marah. Ia berlari kearah ku dan memelukku dengan erat.


"Bunda, jangan pernah tinggalin aku sama adek. Aku akan ikut kemana pun bunda pergi. Ayah udah pergi... Aku gak mau bunda pergi juga! Aku janji akan bantu bunda cari uang!"


Hiks..hiks..hiks..


"Iya nak, bunda gak akan tinggalin kalian! Bunda janji!" Balas ku.


Suasana haru mewarnai lorong rumah sakit. Ternyata ada luka yang begitu mendalam atas perceraian ku, dihati anak-anak! Kehilangan sosok seorang ayah membuat mereka tersisihkan dan tersakiti!


Disaat orang lain bisa merasakan kasih sayang orang tua yang lengkap tapi anak-anak ku tidak bisa. Mereka memang tidak pernah bilang, akan kerinduannya terhadap ayah. Tapi mereka bisa merasakan kehilangan sang ayah yang perlahan menghilang.


****


Jam 15.35 WIB


Akhirnya Aisyah mendapat ruangan rawat inap dikelas tiga. Tapi kali ini dirumah sakit yang berbeda. Ruangan dan fasilitas tetaplah sama. Karena memang kelas tiga. Yang terpenting adalah kesehatan Aisyah segera sehat dan dapat pulang kerumah.

__ADS_1


Aku masih menunggu Aisyah disampingnya. Sedangkan semuanya menunggu diluar ruang rawat!


Mama Ainun datang bersama Sisil, kemudian mama beekata.


"Mama mau bicara sama kamu, Manda. Bisa keluar sebentar! Aisyah, biar Sisil dulu yang menemani."


Aku pun langsung mengikuti mama Ainun keluar ruangan.


Diluar ruangan rawat, kami berkumpul. Sebenarnya aku tidak ingin membicarakan masalah ini sekarang, tapi kalau mama Ainun membahasnya. Itu suatu kebetulan sekali.


Mama Ainun membuka pembicaraan terlebih dahulu. "Sebelumnya mama dan bapak minta maaf atas kejadian yang menimpa Aisyah. Itu bukan maksud kami membuat Aisyah menjadi sakit. Mama kesal, takut, akan nasib dan masa depan anak-anak..."


Mama Ainun terhenti sejenak. Air matanya mengalir deras.


hening


hening


"Tenang, ma!" Ucap pak Rizal sambil mengelus tangan mama Ainun agar tenang.


Hiks..hiks..


"Mama cuma punya satu anak! Tapi dia telah mengecewakan kami! Harapan kami pada Abim telah hancur! Sekarang harapan mama cuma pada anak-anak! Kalau kamu menikah lagi, bagaimana dengan anak-anak. Bapak tirinya jahat! Nyiksa anak! Terus anak-anak terlantar!"


"Astaghfirullah allazim ma, sejelek itu pikiran mama! Ma.. denger ya! Mama, atau bapak atau siapa pun! Enggak ada yang boleh nentuin hidup aku. Aku mau menikah atau nggak! Itu urusan aku! Lagian .. mama gak boleh bilang kalau semua bapak tiri atau ibu tiri itu jahat! Banyak kok.. yang bahagia. Mereka rukun-rukun aja dengan anak tirinya. Bahkan sampai sekarang!" Ungkap ku kesal.


Mama Ainun dan pak Rizal terdiam. Mendengar semua kekesalan ku. Untungnya suasana ruang tunggu lagi sepi. Hanya orang yang berlalu lalang saja, lewat disekitar kami.


"Ma, aku mau kerja! Mau cari nafkah! Buat siapa? Kalau bukan buat aku sama anak-anak! Buat kebutuhan sehari-hari! Kalau aku ngandelin dari dagang saja. Hasilnya gak seberapa, ma? Bukan aku gak mensyukuri rezeki yang Allah kasih! Coba kalau kaya gini, Aisyah sakit! Butuh biayanya Siapa yang mau bayar? Abim.... mama Ainun... atau siapa? Kalau bukan aku, ma? Apa aku harus kasih perincian satu persatu kemama mengenai biaya hidup ku dan anak-anak! Coba ma, jawab? Jangan diam aja!" Teriak ku kencang.


"Mama minta maaf! Mama menyesal!" Kata mama menunduk malu atas perbuatannya.


Air matanya terus mengalir! Ia menangis sampai sesegukan.


Pembicaraan ku tidak sampai disitu saja, aku mengungkap semua tentang masalah direstoran. Menceritakan semuanya. Agar nantinya tidak ada masalah!


.


.


Obrolan pun akhirnya berakhir. Mama Ainun dan pak Rizal meminta maaf atas kesalahannya kepada ku dan mama Atika.


Mama Ainun bersedia membayar rumah sakit Aisyah, sebagai permintaan maafnya kepada ku.


Aku sudah memaafkan mama Ainun dan pak Rizal. Aku menerima maaf mama Ainun, walaupun tanpa harus membayar perawatan rumah sakit Aisyah.


Bukan aku menolak, karena bisa membayar rumah sakit. Tapi aku enggan jika suatu hari nanti ada masalah, nantinya mereka akan mengungkit tentang pemberiannya.


.


.


.


.


Malam pun semakin larut, Sisil pulang dengan mama Atika! Begitu juga dengan mama Ainun dan pak Rizal.


...Happy Reading...


Maaf ya, kalau cerita aku masih banyak kekurangannya! Silahkan koment dalam segi perbaikan.. biar nantinya aku bisa memperbaikinya!


like, fav, rate dan komentarnya


vote atau hadiah juga boleh


...Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2