
Satu bulan kemudian....
Satu bulan sudah mama Ainun pergi meninggalkan kita semua, tapi sosok Abimanan belum juga ditemukan.
Sedangkan pak Rizal hidup sendiri dirumahnya. Sesekali om Sugi dan lek Ina juga ikut menengoknya. Begitu juga dengan ku yang masih tetap menjaga silahturahmi dengan pak Rizal.
Aku sudah menanyakan sama tetangga rumah, mengenai Abimanan. Alhasil ponsel Abimanan tidak aktif dan tokonya sudah beberapa hari tutup. Tidak satu pun yang mengetahui keberadaan rumah Abim.
****
Jam 20.00 WIB
Aku, Bimo dan Harris berada dalam satu mobil milik Bimo. Karena hari ini Bimo mengajak ku untuk ikut menemaninya yang sedang mengisi suatu acara disalah satu masjid.
Dalam perjalanan pulang!! Aku duduk terus menatap kearah jendela. Sesekali memandang kearah langit yang sudah gelap dihiasi oleh bintang dan bulan. Sedangkan mobil melaju dengan cepatnya.
Mobil yang melaju cepat, tiba-tiba saja terhenti pada saat lampu merah.
Aku yang masih fokus memperhatikan kearah luar. Melihat sosok Abimanan yang sedang lewat.
"Mas..mas..aku lihat mas Abim!" Kata ku dengan heboh.
Bimo pun tersentak kaget ketika mendengar ku berkata demikian.
"Kamu yakin itu Abimanan?"
"Iya mas! Aku gak salah!" Jawab ku dengan percaya diri.
Aku memang yakin sekali, yang ku lihat adalah Abim. Walaupun langit sudah terlihat gelap dan hanya lampu jalan saja yang meneranginya.
Sosok Abimanan masih terlihat jelas dimata ku.
"Harris, coba nanti kamu berhenti didepan ya?"
"Ok boss."
Lampu merah telah berganti menjadi hijau. Mobil pun kembali jalan. Kemudian Harris memberhentikan mobil dipinggir jalan sesuai perintah Bimo.
Kami bertiga turun dan segera mencari Abim digelapnya malam. Mata ku terus mencari, tapi tidak ketemu dengan Abim. Begitu pula dengan Bimo.
Bimo tetap sabar menemani ku mencari kesana kemari tapi tetap saja tidak ada. Hingga lima belas menit lamanya akhirnya kami bertiga kembali ke mobil.
Harris akhirnya melajukan mobilnya kembali kearah rumah. Suasana menjadi hening, tak ada obrolan yang dibahas diantara mereka.
Ditempat lain...
Abim memang melintas dijalan yang tadi kami bertiga lewati. Hanya saja saat kami sampai, Abim sudah tidak ada ditempat. Abim berjalan menyusuri jalan-jalan tanpa punya tujuan.
Abim baru saja sembuh dari sakitnya. Selain berdagang hidupnya hanya bertemankan dengan kesepian!!
Rasa rindunya pada sang buah hati dan orang tua harus ia tahan. Abim belum mempunyai keberanian untuk menampakkan wajahnya dihadapan mereka. Takut akan penolakan terhadap dirinya membuat ia menahan rasa bersalah terus menerus!
Keesokan paginya...
Abim kebetulan mulai mengantar pesanan pelanggan didaerah rumah Bimo.
Ia kebetulan melintas didepan rumah dan melihat Aisyah dan Sisil yang sedang menyiram tanaman.
Abim pun berhenti dan melihat kearah anak-anaknya. Tanpa ia sadari, senyum merekah diwajahnya.
Aisyah yang iseng menyemprotkan air ke Sisil. Sontak Sisil pun terkejut dan membalasnya.
Keduanya bukan menyiram bunga, bermain air.
__ADS_1
"Adek, awas ya!" Ancam kakaknya bercanda.
"We ..we..we..." Ledek Aisyah dan mencoba menghindar dari Sisil agar tubuhnya tidak terkena air.
Aisyah terus berlari, pandangannya kearah Sisil. Tiba-tiba saja ia berlari kearah Abim yang sedang berdiri dan menabraknya.
Abim lalu memegang tubuh Aisyah yang hampir saja terjatuh ketika menabrak ayahnya.
Spontan Aisyah menengokkan kepalanya, kearah orang yang sedang berdiri.
Aisyah terdiam dan melihat ayahnya. Sedangkan Sisil matanya terus fokus kearah ayah dan adiknya.
Suasana yang ramai karena candaan mereka berdua kini menjadi hening.
.
.
Bimo keluar dari rumah dan melihat anak-anak. Bimo terkejut saat melihat disisi Aisyah ada Abim yang berdiri.
"Pak Abim!" Sapa Bimo yang masih mengingat wajah Abim.
Abim yang dipanggil tersenyum dan mengangguk saja. Sedangkan Aisyah tersadar dari lamunannya dan berlari ke sisi abinya. Kemudian Aisyah mengandeng tangan abinya.
Abim hendak pergi tapi Bimo menahannya. Bimo berjalan mendekat kearah Abim.
" Pak Abim, bisa kita bicara sebentar!"
Bimo mengajak Abim untuk berbicara didalam rumahnya. Mengenai kematian mama Ainun yang harus Abin ketahui.
"Ada apa ya?"
"Sebentar saja. Mari silahkan!"
Bimo berjalan duluan sambil mengandeng tangan Aisyah. Lalu diikuti oleh Sisil dibelakangnya.
Mata Abim melihat kedekatan Aisyah pada abinya. Matanya juga melihat sekeliling rumah Bimo yang bagus dan megahnya. Kehidupan mereka kini jauh lebih baik.
Itu semua tidak disangka oleh Abim. Malah kini nasib Abim yang berubah menjadi lebih buruk.
"Kak, tolong panggil bunda kesini." Suruh Bimo pada Sisil.
Sisil dengan cepat langsung memanggil aku yang sedang berada didapur. Menyiapkan masakan yang baru saja selesai.
"Bun, dipanggil sama Abi kedepan." Ucap Sisil dan wajahnya jutek sekali.
"Ada apa kak!"
"Ayah!"
"Haaa.." Sahut ku terkejut! Apakah aku salah mendengarnya.
"Iya bun! Tuh Abi yang panggil ayah masuk kerumah!"
Aku langsung berjalan kedepan dan melihatnya. Mata ku melihat sosok Abim yang sedang duduk dan dihadapannya ada Bimo juga Aisyah.
Bimo tersenyum kepada ku, ketika melihat ku datang. Lalu aku duduk disampingnya.
Pikiran ku melayang jauh, memikirkan kenapa Abim bisa ada disini? Aku memang mencarinya tapi tidak menyuruhnya datang kesini!!
Apalagi disini ada anak-anak yang tidak begitu menyukai kehadirannya!!
"Sayang, maaf kalau aku harus mengajak pak Abim kemari. Ada hal yang harus kita bicarakan dengannya."
__ADS_1
Aku hanya tersenyum saja, tanpa membalas perkataan suami ku! Tapi ada baiknya bisa bertemu dengan Abim. Abim harus tau apa yang sebenarnya terjadi pada orang tuanya.
Disisi lain..
Abim memandang kebersamaan antara suami istri itu. Sungguh bahagia sekali! Kebahagian yang dulu pernah ia rasakan, tapi kini telah menjadi milik orang lain.
Kedua buah hatinya yang dulu dekat dengannya, kini hanya memandang cuek kehadirannya!
Sungguh malang nasibnya! Harus melihat orang yang ia sayangi dulu.. kini menjadi milik orang lain.
Hatinya terluka bagai ditusuk dengan pisau! Sakit..sakit .. sekali!
Tau begini , aku tadi gak usah terima ajakannya! Ucapnya pelan dalam hati yang sedang cemburu!
.
.
Mbok Darmi datang membawakan tiga gelas air minum dan ditaruhnya diatas meja.
"Terima kasih mbok!" Ucap Bimo sopan.
Mbok Darmi sekilas melihat majikannya dan tersenyum! Lalu berlalu pergi!
"Silahkan pak Abim diminum!" Suruh Bimo kepada Abim.
"Terima kasih!" Jawabnya datar!
"Begini, sebelumnya saya mohon maaf kepada pak Abim!! Saya dan istri saya mau memberitahukan yang sebenarnya dan bukan maksudnya untuk ikut campur. Satu bulan yang lalu istri saya bolak balik kerumah sakit dan melihat keadaan Bu Ainun yang sedang kritis.
"Apa!" Teriak Abim dan sangat terkejut!
"Iya mas itu yang sebenarnya terjadi. Aku udah coba cari kamu! Tapi apa? Mama itu sekarat! Mama terus cari kamu! Apa kamu gak bisa apa sekali tengok mereka! Tanya keadaan mereka? Sakit atau nggak?"
"Lalu sekarang dimana mama!"
"Mama dikuburan!" Sahut ku dengan kesal dan menangis!
Bimo mendekap ku dengan erat. Kehangatan tubuhnya membuat ku merasa lebih baik. Sedangkan Abim terdiam, tapi air matanya jatuh!
"Itu tidak mungkin! Mama baik-baik saja! Tidak mungkin...!"
"Terserah pak Abim,
tapi itulah yang sebenarnya terjadi!"
"Aaaaaaaaaa..." Teriak Abim karena kehilangan mama Ainun.
Spontan anak-anak mendengarnya, kemudian mereka melihat kearah ayahnya yang sedang frustasi.
"Apa sekarang pak Abim mau kami antarkan ke makam. Jika mau kami siap mengantarnya."
"Baiklah."
Abim berdiri kemudian melangkahkan kaki keluar. Diikuti oleh ku dan Bimo, tapi saat kami mau pergi anak-anak memanggil kami berdua.
"Abi ..bunda" Panggil bersamaan.
Kami berdua berhenti melangkah dan melihat kearah anak-anaknya.
"Abi sama bunda, mau pergi dulu ya! Kalian berdua dirumah saja temanin kakek."
Aisyah dan Sisil mencium tanganku dan Bimo ketika akan pergi. Tapi pada ayahnya tidak!! Untung saja Bimo selalu mengingatkan mereka berdua.
__ADS_1
"Adek ..kakak! Abi tidak suka begitu!!"
Dengan sekali perkataan dari abinya. Aisyah dan Sisil sudah mengerti. Lalu mereka berdua mencium tangan ayahnya. Padahal dalam hati keduanya, enggan sekali!!