Sebuah Keputusan

Sebuah Keputusan
Begini Ya Rasanya?


__ADS_3

Dirumah Sakit...


Hari ini waktunya Aisyah jaga malam. Sudah beberapa hari ini Ais menghindar dari Vano.


Berbagai alasan ia berikan untuk Vano. Entah sampai kapan ia harus main kucing-kucingan dengan Vano. Menghindar dan menghindar!


Kerja serasa malas, makan tidak *****. Hanya bisa melihat dari kejauhan.


Rasanya hidup ini terasa hampa. Kerinduan ini membuat Aisyah merasakan sakit yang teramat.


Begini rasanya! Tidak enak! Menyakitkan! Kalau bisa memilih ingin rasanya Aisyah tidak mengenal Vano dan tidak pernah merasakan cinta dari lelaki itu.


.


.


Saat sedang mencatat, tiba-tiba saja terdengar suara panggilan dari ponselnya.


Dert..dert..


Dilihatnya ponsel yang tergeletak dimeja. Ternyata panggilan dari Koko Vano.


"Berisik banget. Angkat tuh telepon." Kata Lela yang dari tadi mendengar suara dering ponsel milik Ais yang tidak diangkat.


Aisyah yang mendengar segera mematikannya. Untuk saat ini, aman! Tapi nanti, tidak tau lagi harus berkata apa pada Vano.


Sedangkan Vano terus menaruh curiga pada diri Aisyah. Pasalnya, tidak biasanya Aisyah bersikap seperti ini.


Bukan Vano namanya, kalau tidak mencari tau kenapa Aisyah menghindar darinya.


Aisyah terus fokus melanjutkan pekerjaannya dan menyibukkan dirinya dengan pekerjaan. Agar dirinya tidak teringat dengan Vano.


Jam 05.00 WIB


Saatnya sholat shubuh, Aisyah pergi bersama dengan Lela pergi kemusholla untuk melaksanakan sholat shubuh.


Dalam sholat Aisyah minta agar lebih dikuatkan lagi, agar bisa melaksanakan apa yang disuruh oleh orang tuanya. Melupakan lelaki yang saat ini dicintainya.


Setelah selesai sholat, Aisyah dan Lela berjalan bersama.


"Ais, kamu yakin gak mau berjuang demi dokter Vano?"


"Entahlah!" Jawabnya tidak yakin.


"Aku perhatikan, kamu sendiri.. dari hari kehari semakin tidak bersemangat."


"Sok tau! Udah yuk ah." Jawabnya.


Padahal Lela tau apa yang dirasakan oleh sahabatnya itu. Tapi Aisyah mencoba untuk menyimpannya sendiri.


Kemudian langkah kaki mereka berdua kembali berjalan sampai keruangan para coass berkumpul! Mereka kembali melakukan tugasnya.


****


Jam 07.30 WIB


Aisyah berjalan bersama ketika keluar dari rumah sakit. Tanpa disadari Aisyah ternyata Vano sudah menunggu diluar.


Vano ternyata berdiri dihadapan Aisyah. Aisyah yang melihat menjadi binggung, jika sudah begini dirinya tidak bisa menghindar.


"Pagi dok.." Sapa Lela pada dokter Vano.


"Pagi." Jawab Vano yang terus menatap Aisyah.


Aisyah hanya terdiam dan menunduk. Perasaan takut mulai menghantui diri Aisyah.


Janjinya untuk menghindari Vano, sepertinya hari ini akan dilanggar.


Lela terus menatap Aisyah dan Vano. Akhirnya Lela memberi kesempatan kepada mereka berdua untuk berbicara dan menyelesaikan masalah.


"Ups..Ais..dokter. Sepertinya aku ada keperluan mendadak. Kalau gitu aku duluan ya." Ucap Lela dan berlalu pergi meninggalkan keduanya.


Kini hanya tinggal berdua.


Kalau sudah begini, Aisyah binggung harus bagaimana? Mencari alasan rasanya sudah tidak mungkin lagi.


"Senang rasanya bisa berdekatan dengan mu."

__ADS_1


"A..aku harus pulang." Jawab Aisyah mencoba menghindar.


"Sebentar. Kita bicara dikantin."


Aisyah berjalan duluan dan Vano dibelakangnya.


Sesampainya dikantin. Mereka berdua duduk saling bersebelahan.


Biasanya jika sudah duduk bersama maka mereka akan saling bicara. Tapi kali ini berbeda.


Hanya kebisuan yang terjadi diantara mereka. Tidak terdengar satu kata pun keluar dari bibir mereka.


Keduanya sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Akhirnya terjadilah aksi saling diam yang cukup lama.


.


.


Setelah terdiam sekitar dua puluh menit, tiba-tiba terjadi sesuatu dengan Vano. Vano memegang dadanya seakan sakit sekali.


Mulai terdengar suara erangan kesakitan yang teramat. Aisyah kemudian menolehkan wajahnya kesamping dan melihat lelaki yang berwajah mulus dan mata sipit itu sedang kesakitan.


"Koko...Koko kenapa?"


"Aku juga gak tau, tiba-tiba aja sakit!"


Aisyah menjadi panik karena melihat Vano yang tiba-tiba saja merasakan sakit.


"Ko, Koko. Jangan buat aku takut." Teriak Aisyah sambil tangannya memegang tangan Vano.


"Ha haha haha." Vano tertawa tanpa merasa bersalah. Vano melihat Aisyah dan merasa senang. Karena bisa melihat Aisyah yang begitu khawatir terhadapnya.


Berarti memang perasaan Aisyah terhadap Vano, memiliki rasa yang lebih terhadapnya sampai detik ini.


Vano merasa sedikit lebih lega, setidaknya Aisyah menghindar darinya pasti punya satu alasan.


.


.


"Haha.."


"Enggak lucu!" Kata Aisyah dan berlalu pergi meninggalkan Vano.


Vano berjalan dan menyusul Aisyah yang terus berjalan menjauh darinya.


"Ais tunggu dengar penjelasan aku. Ok aku salah."


Aisyah tidak memperdulikannya, langkah kakinya terus berjalan.


Ketika sampai dipinggir jalan untuk memberhentikannya angkot. Tangan Vano meraih tangan Aisyah.


"Lepaskan ko!" Ucap Aisyah kesal


"Iya maaf! Aku salah! Tadi suasana begitu canggung dan tidak seperti biasanya! Kamu hanya diam saja. Aku sangat rindu suara mu, aku sangat rindu saat duduk bersama mu, aku juga rindu tawa mu. Tapi.."


"Tapi lupakan semua yang terjadi diantara kita! Aku akan menikah." Ucap Aisyah terpaksa.


"Dengan siapa. Jangan bercanda! Itu semua bohong kan?" Bantah Vano tidak percaya!


"Jauhi aku! Koko akan dapatkan wanita yang lebih baik dari aku! Wanita yang seagama dengan koko! Maaf! Aku harus pergi!"


"Aisyah, ini gak benar! Aku gak bisa! Aku mohon kita lalui ini bersama! Aku mohon!"


Aisyah tidak kuat mengucapkan itu. Hatinya bagai tercabik-cabik. Jiwanya meronta tidak terima! Rasanya air mata ini sudah ingin mengalir deras tapi masih ditahan. Jangan sampai Vani melihatnya menangis.


Aisyah pun berlari pergi meninggalkan Vano. Berlari dan berlari terus, hingga menjauh dan sangat jauh. Sampai Vano tidak bisa mengejarnya dan menemukannya!


Langkah kaki Ais terhenti ketika melihat angkot yang lewat dihadapannya. Kemudian naik kedalam angkot. Didalam angkot, Ais baru bisa menangis tapi tidak bersuara.


Untung saja angkot itu sepi, jika tidak Ais akan malu sekali untuk meneteskan air matanya, yang sejak tadi ditahan olehnya.


Angkot melaju begitu cepat. Vano pun sudah tidak terlihat lagi.


****

__ADS_1


Dirumah..


Saat sudah sampai dirumah, ia langsung masuk kekamar. Tidak mencari atau menanyakan kedua orang tuanya.


Pikirannya kini sedang kesatu orang. Orang yang tidak pernah ia sakiti.. sekarang Aisyah harus menyakitinya untuk kebaikan bersama.


Aisyah membaringkan tubuhnya yang lelah dan mengantuk. Lama-lama Aisyah tertidur pulas hingga berjam-jam lamanya.


Dert.. dert...dert..


Sampai suara dering ponselnya yang berbunyi berulang-ulang tidak terdengar olehnya.


Jam 13.00 WIB


Aisyah membuka mata perlahan dan melihat jam yang terpasang ditembok.


"Sudah jam satu." Ucapnya pelan


Aisyah bangun dan berjalan kearah kamar mandi untuk mengambil wudhu.


Setelah selesai Ais bergegas untuk melaksanakan sholat dzuhur.


.


.


Selesai sholat kini langkah kakinya menuju dapur dan ditangannya memegang ponsel.


Didapur Ais melihat mbok Darmi dan berjalan mendekatinya.


"Mbok." Panggil Aisyah.


"Mbak Ais, sudah ada dirumah toh!"


"Iya emang aku udah pulang. Tadi langsung masuk kamar! Kenapa mbok?"


"Oalah. Mbok pikir belum pulang! Itu kan mbak Sisil lagi dirumah sakit!"


"Kenapa?"


Aisyah tersentak kaget ketika mendengar kakaknya berada dirumah sakit? Pantas saja ketika sampai dirumah tidak melihat kedua orang tuanya!


"Bunda sama abi dimana? Apa sama kakak?"


"Iya sejak semalam!"


"Ya udah, aku telepon bunda dulu!" Ucap Aisyah lalu membuka kunci dalam ponselnya.


Aisyah melihat panggilan masuk banyak sekali. Ada dari Vano, om Yusuf, dan abi!


Aisyah pun akhirnya menghubungi bunda untuk menanyakan apa yang terjadi.


Panggilan pun akhirnya tersambung dengan bundanya.


📞 "Hallo, Assalamualaikum bunda."


📞 "Waalaikumsalam.. hiks hiks.. kakak hiks hiks!"


📞 "Bun, apa yang terjadi sama kakak? Bun, jawab aku?"


📞 "Kakak keguguran hiks..hiks.." Ucap bunda dan tidak melanjutkan pembicaraannya! Bunda hanya menangis, tidak kuat melihat apa yang terjadi pada diri anaknya!


📞 "Hallo bun?"


Panggilan pun terputus. Aisyah panik, lalu mengirim sebuah pesan kepada om Yusuf untuk menanyakan kakaknya berada dirumah sakit mana?


Kemudian Aisyah berlari kekamar untuk melakukan mandi dan bersiap-siap pergi kerumah sakit dimana kakaknya dirawat.


Bersambung...


...Happy Reading...


Jangan lupa selesai membaca kasih like rate fav dan vote atau gift juga boleh


karena dukungan kalian sangat berarti untuk author biar tambah semangat!


...Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2