Sebuah Keputusan

Sebuah Keputusan
Salah Sangka


__ADS_3

...Jangan Putus Asa...


Muslim sejati itu, tidak putus asa


dan putus harapan.


Dia tau bahwa bersama hari ini


masih ada hari esok,


bersama kesulitan ada kemudahan.


Setelah malam ada fajar, dan banyak kenyataan


hari ini adalah hari kemaren.


(Sheikh Dr.Yusuf Qardhawi)


...πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•...


Diwarkop..


Jam 17.30 WIB.


Abim berhenti sebentar diwarkop, untuk minum kopi sebentar menghilangkan kepenatannya.


Sudah seminggu ini, Abim tidak bisa pulang cepat kerumah. Sehabis pulang kerja, ia pergi kerumah temannya untuk mencari pinjaman. Alhasil.. belum juga dapat!


Ia semakin pusing, harus mendapat pinjaman kemana lagi. Kontrakan harus tetap dibayar, sedangkan gajian masih jauh.


Seandainya aja mama masih dekat dengan ku. Mama pasti bisa membantu ku ketika sedang kesusahan. Tapi kini!! Batin Abim yang sedang berpikir...


****


Dirumah Reyna ..


Ia sudah menunggu kepulangan suaminya dari tadi. Berjalan mondar mandir sejak tadi membuat kakinya pegal. Orang yang dinantikannya belum kelihatan batang hidungnya. Semua itu membuatnya kesal!!


"Kamu kenapa sih dari tadi mondar mandir? Kaya setrikaan aja! Bisa duduk gak?" Tanya Mbak Dita yang sedang duduk.


"Bagaimana gak pusing. Aku tuh udah ditagih sama bu Mujiasih untuk bayar kontrakan, tapi udah seminggu ini uangnya belum ada. Terus sekarang mas, Abim pulangnya telat terus. Sampai rumah gak bawa kabar baik!"


"Mungkin Abim lagi usaha untuk cari pinjaman! Emang kamu gak punya simpanan apa, nanti kalau Abim gajian digantiin?"


"Mbak kan tau, gajian aku buat apa? Buat biaya makan sehari-hari, pengobatan ibu. Belum lagi, kalau mbak minta duit sama aku untuk anak-anak sekolah."


"Iya mbak tau, mbak cuma bisa nyusahin kamu terus! Mas Andi gak bisa cari nafkah. Dia sendiri pengangguran! Gak seperti dulu!"


Hening..


.


.


Setelah dua jam bermain dirumahnya, mbak Dita dan anaknya pulang kerumahnya.


Tinggal Reyna dan ibunya berada dirumah menanti kedatangan Abimanan.


****


Dirumah..


Sudah seminggu, orang tua Abim menginap dirumah ku. Aku tidak pernah keberatan mereka berdua berada dirumah ku. Malah sebaliknya, aku merasa senang.


.


.


Aku yang baru saja selesai mandi, lalu duduk. Memegang ponsel dan melihat beberapa chat yang masuk kedalam wa.


Ada pesan dari Luna ada apa ya? Kata ku.


Luna


Assalamualaikum.


Udah belanja buat pesanan mas Bimo, besok?


^^^Aku^^^


^^^Waalaikumsalam. Udah beres.^^^


Luna


Alhamdulillah.


Ada yang bisa aku bantu?

__ADS_1


^^^Aku^^^


^^^Bantu doa aja, supaya pesanan pertama ku sukses. Amiin🀲^^^


Luna


Amiin.


Kalau begitu aku juga bantu pinjamkan mobil ku, bagaimana?


^^^Aku^^^


^^^Ehmm..^^^


^^^Boleh😊^^^


Luna


Baiklah sampai besok


...-----...


Aku menghampiri mama Ainun dan pak Rizal yang sedang menikmati sore hari diteras rumah. Ikut duduk bersama mereka!


"Ma, pak sudah makan belum?"


"Udah, kamu makan dulu saja sana!" Suruh mama Ainun.


"Iya ma, nanti saja."


Derrrttt derttt..


Dering ponsel ku berbunyi lalu mengangkatnya. Lalu aku pamit kepada keduanya, untuk mengangkat panggilan tersebut!


πŸ“ž "Assalamualaikum. Ini aku Bimo!"


πŸ“ž "Waalaikumsalam! Iya mas Bimo Ada apa?"


πŸ“ž "Maaf Manda, aku belum sempat ketemu dengan Arif. Mau menitipkan uang dpnya!"


πŸ“ž "Nanti aja, mas masalah pembayaran! Kalau gak, nanti juga bisa ditransfer!"


πŸ“ž "Ok, kalau begitu. Aku kirim alamatnya!"


πŸ“ž "Ya mas, terima kasih! Assalamualaikum!"


Mas Bimo mengirimkan alamat rumahnya kepada ku melalui WhatsApp. Setelah itu aku mulai menyiangin semua yang akan digunakan besok.


Diluar rumah kedua orang tua sedang berbincang-bincang. Ternyata tanpa sengaja, mama Ainun mendengar percakapan ku. Lalu membicarakannya kepada suaminya mengenai ku.


"Pak, Manda terima telepon dari siapa ya?"


"Mana saya tau!"


"Tadi mama dengar seperti menyebut nama Bimo. Itu artinya nama lelaki kan pak!" Kata mama Ainun yang sedikit curiga.


"Emang kenapa ma..?" Kata bapak melirik kearah mama Ainun.


"Aku gak mau kalau anak-anak punya bapak tiri gara-gara Amanada nikah lagi! Nasib anak-anak bagaimana? Coba bapak lihat berita? Ih seram banget, ditv ada ayah tiri perkosa anak tirinya, terus ada berita ibu tiri menyiksa anak tirinya. Ihh.. amit-amit pak, ibu gak mau! Pokoknya kalau sampai Manda nikah lagi. Biarin aku yang urus anak-anak!" Kata mama Ainun sambil tangannya mengetuk-ngetuk meja.


Sebenarnya mama Ainun tidak ingin anak-anak punya bapak tiri atau pun ibu tiri, tapi nasib berkata lain. Takdir membuat anak-anak harus merasakan perpisahan dari orang tuanya!


Mama Ainun tidak akan tinggal diam, bagaimana pun caranya ia ingin agar aku tidak menikah lagi. Ia ingin aku tetap mengurus anak-anak dan memberi kebahagian untuk mereka, ketimbang kebahagian ku sendiri.


.


.


Tanpa diketahui oleh mereka berdua, aku tanpa sengaja mendengar percakapan keduanya. Aku pun menarik napas panjang..


Sabar..sabar.. kata ku pelan.


Aku kembali kedapur saja. Melanjutkan pekerjaan yang tertunda.


.


.


"Sudah ma. Gak enak kalau didengar Amanda. Kasihan dia."


"Biar pak, biar dengar sekalian. Kalau gak nanti mama mau ngomong." Ungkapnya sambil celingak-celinguk kearah dalam rumah.


"Ma, jangan suka begitu! Manda juga ingin bahagia. Kita pikirkan perasaan dia! Lagian banyak yang bernasib sama kaya Manda, toh mereka bisa menikah lagi dan merawat anak-anak mereka. Mama hanya khawatir saja."


"Berdoa saja pak, biar Abim cepat sadar dan mau rujuk lagi sama Manda, demi anak-anak!"


Pak Rizal menepuk jidatnya, mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya.

__ADS_1


****


Keesokkan paginya..


Jam 03.00 WIB.


Aku sudah bangun lebih awal. Mulai memasak semuanya. Selang setengah jam kemudian mama Ainun terbangun karena mendengar suara berisik dari arah dapur.


Mama Ainun bangun dan melihat ku yang sedang kerepotan memasak.


"Manda, mama bisa bantu apa?" Tanya mama Ainun basa-basi.


Aku yang sedang mencuci beras, berkata! "Tidak usah mama. Maaf kalau suara berisik membangunkan mama."


"Enggak kok! Memang sudah tidak bisa tidur saja!"


Mama Ainun meninggalkan dapur dan kembali kekamar untuk rebahan kembali ditempat tidur.


Aku masih bergelut dengan pekerjaan ku. Bekerja dengan sangat hati-hati, supaya semuanya selesai dengan baik.


.


.


Tok..tok tok


Jam lima terdengar suara mengetuk pintu. Pak Rizal membuka pintu. Ternyata yang datang adalah mama Atika.


"Assalamualaikum pak! Maaf menganggu! Mau bantuin Manda katanya ada pesanan nasi kuning!"


"Oh iya bu silahkan masuk!"


Pak Rizal menyuruh masuk mama Atika. Mama Atika langsung menuju dapur dan mulai membantu ku memasak.


Dengan cepat mama Atika meracik semuanya. Aku pun melihat mama cara memasak nasi kuning sebanyak itu.


Mama Ainun yang sedang dikamar mendengar ada mama Atika, lalu keluar dari kamar dan ikut membantu.


****


Jam 09.00 WIB


Nasi kuning akhirnya selesai dan sudah dimasukan kedalam box. Nasi kuning yang cantik karena isinya bermacam-macam atas permintaan dari pemesannya mas Bimo.


Luna pun yang datang dan ikut membantu dari jam tujuh membuat pekerjaan semakin cepat selesai.


"Alhamdulillah pesanan kamu sudah selesai!" Ucap mama Atika.


"Ya ma, Alhamdulillah. Oh iya ma! Ini ada lebih,Ama bawa buat dirumah."


"Enggak usah, buat disini saja."


Aku memaksa mama untuk membawanya. Aku sengaja membuat lebih. Supaya bisa dimakan buat sendiri juga.


.


.


Sebelum mengantar kerumah mas Bimo, aku dan Luna sempat berbincang-bincang sebentar Membahas masalah apa saja. Lambat laun Luna menyinggung tentang masalah pribadi ku.


"Manda, aku mau tanya nih?"


"Tanya apa?" Jawab ku pelan!


"Kamu gak kepingin nikah lagi!" Celetuk Luna.


"Ehmm.. kenapa emangnya?"


"Kamu kan masih muda, cantik! Pintar lagi."


Aku terkekeh mendengar perkataan Luna.


Kenapa ya.. yang dibahas soal nikah atau tidak? Kenapa gak tanya perasaan ku sebenarnya, bagaimana? Apa luka itu masih ada atau tidak?


Aku trauma atau gak? Batin ku.


Belum sempat menjawab, mantan mertua ku datang dan tanpa sengaja mendengar apa yang dikatakan oleh Luna. Spontan saja langsung berkata. "Mama yakin, Amanda gak akan menikah lagi! Amanda akan tetap mengurus kebahagian anak-anak. Lagian anak-anak gak mau punya bapak tiri! Apa Manda mau dibenci sama anak-anak, kalau menikah lagi. Cukup bapaknya saja yang edan. Bundanya harus tetap waras!"


Luna hanya mendengar perkataan mama Ainun dengan tersenyum. Ia tidak membalasnya!


"Luna, kita antar pesanannya yuk!" Ajak ku mengalihkan pembicaraan!


"Ayok!"


Aku dan Luna memasukan semua pesanan nasi kuning kedalam bagasi mobil Luna.


Setelah itu aku dan Luna berpamitan kepada pak Rizal dan mama Ainun. Kedua anak juga ikut serta! Karena disuruh oleh neneknya untuk mengawasi ku...

__ADS_1


...Happy Reading...


__ADS_2