Sebuah Keputusan

Sebuah Keputusan
Licik


__ADS_3

Disalon kecantikan...


Reyna dan temannya Alena sedang pergi kesalon. Mereka berdua menyempatkan diri untuk melakukan perawatan walaupun tidak setiap bulannya.


Reyna memotong rambutnya yang sudah panjang, sekaligus Fasial untuk wajahnya. Begitu juga dengan Alena.


Mereka berdua menghabiskan waktu kurang lebih tiga jam lamanya.


.


.


"Lena, habis ini kita kemana?"


"Pulang lah emang mau kemana?


"Makan dulu yuk, lapar nih!" Ajak Reyna.


"Ok, tapi gak lama ya! Soalnya minta izin mas Dimas cuma bentar."


"Ya Lena cantik. Udah yuk pergi."


Mereka berdua pun pergi untuk mencari restoran terdekat. Yang jaraknya tidak jauh dari


salon tersebut.


Direstoran..


Lena yang sudah duduk kemudian memesan makanan untuk dirinya dan Reyna kepada pelayan.


.


.


Selang waktu sepuluh menit pelayan restoran datang membawa pesanan mereka. Lalu meletakkan dimeja dimana Reyna dan Lena berada.


"Silahkan mbak!"


"Terima kasih pak!" Sahut Reyna.


Reyna mulai menikmati mie ayam baso dan es campur, sedangkan Lena hanya minum es campur saja.


Sambil menikmati es campur tiba-tiba Lena spontan berbicara tentang pernikahan Reyna. "Rey, maaf nih! Kok kamu belum juga menikah secara hukum negara, padahal mas Abim udah pisah lama dengan mantan istrinya."


Uhuk.. uhukk.. (Reyna tersedak ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Lena)


Alena terkejut melihat Reyna tersedak kemudian dengan cepat ia memberikan minum.


"Sudah.. aku gak apa-apa!" Ungkap Reyna.


Uhhh.. ngapain juga sih. Alena pakai bahas masalah pernikahan ku. Malas banget! Batin Reyna kesal sambil mengaduk-aduk es campurnya dengan sendok.


Alena melanjutkan menikmati es campurnya dengan cepat hingga habis tidak tersisa.


.


.


Selesai makan mereka berdua pulang kerumah masing-masing.


****


Dirumah Reyna


Jam 15.00 WIB


Dikamarnya Reyna berjalan mondar mandir. Ia sedang memikirkani mengenai perkataan Alena tadi.


Aku juga heran sama mas Abim. Kenapa juga aku gak dinikahi secara hukum negara. Aku juga pingin diakui secara sah!


Udah gitu, mas Abim kenapa selalu cari alasan buat ngenalin aku keorang tuanya. Aku kan juga pingin dikenalin.


Ungkap Reyna sendirian.


Aaaaaaa... (Teriak Reyna ketika frustasi memikirkan masalah pernikahannya)

__ADS_1


Apa sih hebatnya kamu Manda? Sampai orang tuanya mas Abim bela kamu terus. Cuma karena ada anak-anak. Kamu tuh lebih unggul!


Aku akan bikin orang tuanya mas Abim berpihak pada ku!


Lihat aja nanti!!!


Aku bisa dapatkan mas Abim, aku juga bisa dapatkan orang tua kamu, mas!!


Kata Reyna sambil duduk didepan cermin. Lalu tersenyum licik.


.


.


Cekrek...


Abim membuka pintu rumah dan masuk kedalam.


Aku yang mendengar Abim datang langsung keluar kamar dan menyambut kedatangan Abimanan.


"Mas, kamu udah pulang."


Abim mengangguk saja. Wajahnya tampak letih sekali. Karena hari ini ada kerja bakti dilingkungan tempatnya tinggal.


"Kamu bersih-bersih dulu aja, mas!"


"Iya!"


Sambil menunggu Abimanan membersihkan dirinya! Reyna pun bergegas membuat jus jambu untuk suaminya.


.


.


Abim sudah datang dan duduk bersama Reyna disampingnya. Abim melihat secangkir jus jambu dimeja, lalu meminumnya.


"Beli atau bikin." Tanya Abim yang sudah menghabiskan satu gelas jus jambu.


"Bikinlah masa beli!"


"Mas, sini! Kakinya luruskan. Aku pijit ya!"


"Tumben, pasti ada apa-apa!" Kata Abim spontan.


Sudah lama menikah dengan Reyna, kalau tidak ada yang diinginkan Reyna. Reyna jarang sekali memijit suaminya. Kecuali Abim memaksanya untuk memijitnya ketika benar-benar sudah letih.


"Mau nggak! Sebelum, aku berubah pikiran lagi!"


Abimanan pun meluruskan kakinya dan Reyna mulai memijit kaki Abim.


Ketika memijit, Reyna mulai mulai perbincangan.


"Mas... kamu gak coba ketemu dengan anak-anak. Apa kamu gak kangen?" Tanyanya yang berpura-pura, padahal ia berharap suaminya bisa melupakan anak-anaknya.


"Tumben dek, kamu tanya itu? Aku pikir kamu sudah gak peduli."


"Siapa bilang gak peduli. Kalau gak peduli, aku gak mungkin suruh kamu ketemu sama anak-anak!"


Abim terdiam tapi tangannya tetap memainkan ponselnya. Dalam hatinya memang ingin sekali bertemu dengan mereka. Tapi masih ada rasa kesal pada ibunya anak-anak, membuatnya enggan untuk bertemu.


Reyna tidak sampai disitu saja, ia terus menjalankan niatnya perlahan.


"Ehhmm.. mas! Aku tuh pingin banget! Kenal sama orang tua kamu. Maksudnya bertemu langsung! Sampai saat ini kan belum pernah!"


"Lalu!"


"Yaaa.. pingin minta restunya. Supaya aku bisa merasakan seperti orang-orang rasakan sebagai seorang istri. Punya mertua!! Jadi kalau gak ditanya sama teman-teman ku, aku bisa jawab!"


Abim menaruh ponselnya. Seketika ia terbangun dan duduk, kemudian langsung memeluk tubuh istrinya dengan lembut. Memberikan kecupan hangat dikening Reyna.


"Maafkan, karena aku belum bisa mewujudkan keinginan kamu. Karena aku sudah dihapus dari nama keluarga. Aku sudah membuat mereka kecewa."


Apaaa... kamu sudah dihapus dari nama keluarga. Terus semua harta orang tua kamu?? Tidak..tidak akan ku biarkan jatuh keanak-anak Manda. Ku pastikan semua itu tidak akan terjadi. Batin Reyna yang meluap-luap.


"Kamu yang sabar ya? Aku akan berjuang untuk kamu. Kita mulai dari awal bagaimana? Semuanya kita atasi bersama!"

__ADS_1


Reyna menatap wajah suaminya. Ia tersenyum tipis.


Keduanya pun menghabiskan waktu bersama diperpaduannya hingga larut malam.


****


Keesokan paginya..


Jam 07.00 WIB


Tok tok tok...


Keduanya sedang asyik sarapan. Ketika itu Reyna mendengar suara ketukan pintu dari arah luar. Lalu membuka pintu rumahnya.


Cekrek...


Reyna melihat seorang ibu-ibu. Ia adalah Bu Mujiasih pemilik kontrakan tempat Reyna tinggal.


"Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam bu! Ada apa ya pagi-pagi begini."


"Maaf mbak! Boleh saya bicara didalam."


"Silahkan bu!"


Mereka berdua pun duduk dikursi.


Bu Mujiasih mulai menjelaskan kedatangannya pagi-pagi. "Mbak, maaf nih sebelumnya. Saya sudah menjelaskan dari bulan lalu. Kalau bulan ini saya mau minta double pembayaran kontrakannya sampai bulan depan. Saya lagi ada perlu keuangan. Nah.. kemarin sudah jatuh temponya, tapi saya tunggu-tunggu mbak Reyna belum datang kerumah."


"Iya maaf bu, saya benar-benar lupa. Sekali lagi maaf."


"Iya kalau gitu, saya minta sekarang ada!"


"Sekarang." Sahut Reyna binggung.


Reyna binggung karena ia belum sempat menceritakan kepada suaminya, bahwa bu Mujiasih meminta uang kontrakan dibayar double dibulan ini.


"Bagaimana mbak?"


Abim yang mendengar percakapan mereka dirumah tamu. Lalu bangkit dari duduknya dan menyudahi sarapannya.


"Maaf bu ada apa ya pagi-pagi sekali?" Tanya Abim lalu ikut duduk.


Bu Mujiasih menjelaskan semuanya kepada Abimanan mengenai maksud kedatangannya kerumah pagi-pagi.


Abimanan mendengarkan semua yang diceritakan oleh bu Mujiasih. Lalu berkata.. "Saya turut prihatin atas apa yang menimpa suami ibu. Saya akan usahakan untuk membayarnya double. Tapi mohon maaf, saya minta waktu beberapa hari ini."


"Sampai kapan mas, suami saya harus segera operasi. Saya lagi butuh biaya banyak." Sahutnya tapi masih sabar.


"Saya akan usahakan secepatnya bu."


"Ya sudah mas, mbak! Kalau sudah ada segera antar kerumah. Saya tunggu ya! Saya permisi dulu. Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam." Sahut salam bersamaan.


Setelah kepergian bu Mujiasih, Reyna mendapatkan pertanyaan dari Abimanan. Abim sangat kesal dan marah karena hal sekecil itu, Reyna tidak memberitahunya.


"Coba sekarang kamu pikir, aku mau dapat uang dari mana. Sekarang kan belum gajian. Seharusnya kamu ngomong, punya mulut kan?"


"I- iya mas, tapi kan... aku lupa!"Jawab Reyna memelas.


"Sekarang mana uang yang aku kasih buat bayar kontrakan?"


"Ada."


"Sini cepat. Ambil sana?" Kata Abim memerintahnya dengan nada keras.


Reyna mengambil uang kontrakan dalam laci lemarinya. Lalu memberikan kepada Abimanan.


Abim pun menerimanya dan menyimpan didalam dompetnya dan berkata. "Sekarang kamu cari sisanya."


"Mas, bagaimana aku cari sisanya. Aku sendiri gak tau harus cari kemana?"


Abim lalu pergi meninggalkan Reyna sendiri. Ia malas berdebat pagi-pagi. Apalagi ini waktunya untuk bekerja. Karena ia tidak ingin ada masalah dalam pekerjaannya. Apalagi ia masih dalam pengawasan atasannya.

__ADS_1


...Happy Reading...


__ADS_2