Sebuah Keputusan

Sebuah Keputusan
Copet????


__ADS_3

Suasana malam itu, begitu menyenangkan. Bisa melihat kedua anakku tersenyum.


Terima kasih Ya Allah, aku dan anak-anak masih dikelilingi oleh orang-orang yang masih peduli dan dan menyanyangi mereka. Membuat mereka tersenyum dan merasakan kebahagian walaupun bukan dari ayahnya.


Batin ku tersenyum lebar.


"Mas, terima kasih banyak. Aku gak tau bagaimana lagi bisa membalas budi baik mas Bimo. Biarlah Allah yang membalas semua kebaikan mas Bimo dengan caranya sendiri."


"Aku ikhlas. Jadi jangan jadikan ini sebagai beban buat kamu. Aku tau kamu wanita yang kuat, hebat, percayalah Allah SWT pasti akan memberikan kebahagian yang baik buat kamu, Manda!"


"Iya mas!"


.


.


Dari arah yang berlawanan Abim terus merasa tidak nyaman dengan melihat kebersamaan mereka. Abim langsung bangun dari tempat duduknya, tapi langkahnya ditahan oleh Reyna. Reyna memegang tangan Abim.


"Kamu mau kemana mas?"


"Aku tunggu diluar!"


"Kamu pergi karena melihat mantan istri kamu dan anak-anak dengan lelaki yang dirumah sakit itu kan? Kamu cemburu, iya kan!"


Abim tidak memperdulikan kata-kata Reyna, kemudian ia pergi kearah kasir untuk membayar makanannya!


Diikuti oleh Reyna dari belakang!


****


Karena sudah jam delapan malam, mama Atika memutuskan untuk pulang. Kami semua pun beranjak dari tempat duduk.


Bimo langsung membayar semua makanan yang dipesan olehnya dikasir. Mengeluarkan kartu kreditnya dari dalam dompet milik Bimo.


Setelah selesai mereka semua pergi keparkiran, Aisyah terus berjalan dengan memegang tangan Bimo. Mereka berdua memang begitu dekat.


Setelah sampai diparkiran, semuanya naik kedalam mobil. Kemudian Bimo pun menjalankan mobilnya untuk mengantar mereka semua pulang kerumah mama Atika.


Dalam perjalanan Bimo menyetel sebuah lagu islami. Alunan musik itu menghibur kami semua yang berada didalam mobil.


.......................................


...KUPU-KUPU CINTA...


by. Sigma


Pertemuan ini


Menjadi suatu berarti


Di kala diri menepi


Untuk warna-warna hati


Ruang-ruang jiwa


Hanya untuk Maha Kuasa


Syair-syair cinta


Tercipta karena Dia


Kupu-kupu cinta


Terbanglah tinggi menuju jalan-Nya


Hinggaplah engkau di bunga yang indah


Terbang bersama hembus angin cinta


Ya Illahi Robbi


Tiada lain hanyalah nama-Mu


Satukan cinta ini dalam bingkai


Untaian ridho-Mu


Ruang-ruang jiwa (pertemuan ini)


Hanya untuk Maha Kuasa (menjadi suatu berarti)


Syair-syair cinta (di kala diri menepi)


Tercipta karena Dia, hoo (untuk warna-warna hati)

__ADS_1


Kupu-kupu cinta


Terbanglah tinggi menuju jalan-Nya


Hinggaplah engkau di bunga yang indah


Terbang bersama hembus angin cinta


Ya Illahi Robbi


Tiada lain hanyalah nama-Mu


Satukan cinta ini dalam bingkai


Untaian ridho-Mu


Kupu-kupu cinta


Terbanglah tinggi menuju jalan-Nya (hoo-oo)


Hinggaplah engkau di bunga yang indah (hoo-oo)


Terbang bersama hembus angin cinta (di bunga yang indah)


Ya Illahi Robbi (hoo-oo)


Tiada lain hanyalah nama-Mu (hoo-oo)


Satukan cinta ini dalam bingkai


Untaian ridho-Mu


Pertemuan ini


Menjadi suatu berarti


Di kala diri menepi


Untuk warna-warna hati


................................


Aisyah dan Sisil tertidur seketika mendengar alunan musik yang begitu merdu dan syahdunya. Sedangkan kami bertiga mengobrol tentang apa saja.


Ketika ditengah perjalanan, Bimo memberhentikan mobilnya. Spontan aku pun kaget, ketika mobil berhenti secara tiba-tiba.


Mata Bimo terus fokus melihat kearah depan. Ada sekelompok orang yang sedang memberhentikan mobil didepannya.


"Itu!! Tampaknya ada orang yang butuh bantuan?"


Pandangan ku, menengok kearah depan. Ku lihat dua orang yang sedang dikeroyok oleh sekelompok orang.


"Kalian tunggu disini aja?"


Brakkk (Suara pintu mobil yang ditutup oleh Bimo)


Spontan aku kaget, melihat Bimo turun dari mobil dan berjalan mendekati orang-orang itu.


"Manda, itu bagaimana, Bimo? Mama takut, cepat kamu telepon polisi!" Suruh mama yang panik.


Jantung ku terasa mau copot, rasa takut ku teramat sangat. Aku binggung bagaimana cara menyelamatkan Bimo.


Sedangkan Bimo sudah sampai dihadapan mereka. Ku lihat dari kejauhan, Bimo sedang melawan mereka.


Beberapa pukulan mengenai wajah dan tubuh Bimo. Hingga Bimo pun terjatuh.


Mama dan aku berteriak dengan kencang dari dalam mobil. Anak-anak terbangun dan melihat kearah depan.


"Bun, aku takut!" Kata Aisyah dan memeluk tubuh mama Atika yang berada disampingnya. Karena aku duduk didepan.


"Berdoa saja, semoga om Bimo baik-baik saja."


Muncul ide, untuk membunyikan sirine polisi didalam ponsel ku. Ku keraskan nada suaranya, hingga terdengar sangat kencang.


Aku memberanikan diri, keluar dari mobil. Dengan mengantungi ponsel disaku baju ku. Aku berjalan perlahan mendekati mereka.


"Manda masuk sana." Ucap mas Bimo.


Aku tidak memperdulikan kata-kata Bimo. Langkah kaki ku semakin mendekatinya.


Ketika aku semakin mendekat, suara sirine itu berbunyi sangat kencang dihadapan penjahat itu.


"Polisi." Teriak kencang sekali, salah satu penjahat itu.


Mereka semua lari kocar-kacir, meninggalkan para korban.

__ADS_1


Aku langsung berlari mendekati Bimo yang wajahnya penuh luka lebam. Aku pun berdiri pas dihadapan Bimo. Untuk pertama kalinya, aku menatap wajah Bimo yang penuh luka.


Kami berdua saling bertatapan.


Seketika lamunan kami berdua, hilang. Ketika mendengar suara yang tidak asing lagi memanggil nama kami berdua.


"Mas Bimo." Panggil Reyna ketika melihat Bimo dan aku. Tapi mama Bimo saja yang keluar dari mulut Bimo.


"Manda." Panggil Abim ketika melihat ku.


"Terima kasih. Karena mas Bimo sudah membantu kami." Ucap Reyna yang berdiri didekat Bimo.


"Sama-sama. Kalian berdua tidak apa-apa?"


"Mereka mengambil dompet kami berserta isinya." Kata Abim yang berdiri dengan menahan rasa sakit diseluruh tubuhnya.


"Sebaiknya kalian lapor polisi. Biar semua kehilangan kalian. Bisa cepat ditindak!"


"Iya." Sahut Abim!


"Tiba-tiba saja Reyna berkata. Bukannya tadi ada suara mobil polisi! Tapi kok belum datang?"


Kepala Reyna menengok kesana kemari. Matanya terus mencari polisi, tapi tidak muncul juga.


"Polisinya gak ada, itu cuma suara sirine hp ku." Jawab ku.


"Oh.."


Aisyah berlari kearah Bimo dan memeluknya. Rasa khawatir terhadap Bimo terlihat jelas diwajah Aisyah.


"Om Bimo gak kenapa-kenapa kan?" celetuknya spontan dihadapan mereka semua.


"Iya. Om baik-baik saja. Kita pulang yuk!"


Kemudian Bimo mengalihkan pandangannya kearah Reyna dan Abim.


"Maaf, saya tidak bisa mengantar kalian berdua kekantor polisi. Kasihan anak-anak ini sudah larut malam." Ucap Bimo.


Abim mendengar perkataan Bimo. lalu menolehkan wajahnya kearah samping. Seraya ia enggan mendengar bualan Bimo!


"Iya nggak apa-apa, mas! Sekali lagi terima kasih, karena sudah menolong kita dari penjahat tadi."


"Sama-sama! Kalau begitu saya permisi! Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!" Sahut Reyna.


Reyna melihat kepergian Bimo. Menatapnya dari belakang.


Lelaki yang sopan dan peduli! Sungguh beruntung kamu Manda, tapi keberuntungan mu tidak akan bertahan lama! Kita lihat saja. Ucap pelan Reyna dan tidak didengar oleh Abim.


Ketika membalikkan badannya, Reyna masih melihat Abim yang berdiam diri saja! Sambil merasakan sakit di seluruh tubuhnya.


"Mas, kita kekantor polisi! Semoga aja polisi bisa menemukan penjahat itu dan uang kita segera kembali."


Dalam otak Reyna yang dipikirkan hanya uang, tanpa memikirkan kondisi Abim sama sekali. Padahal kondisi Abim memprihatinkan. Banyak luka lebam di sekujur tubuhnya. Bahkan untuk menanyakan tentang kondisi Abim baik-baik saja atau tidak? Ia tidak memperdulikannya!


Reyna kembali masuk kedalam mobil. Lalu disusul Abim. Abim kemudian mengendarai mobilnya menuju rumah.


Sebenarnya Abim merasakan sakit yang teramat sangat! Tapi untuk sampai rumah dan menjaminkan keselamatannya. Abim pun memaksakan dirinya untuk sampai rumah.


****


Dirumah mama Atika


Jam 21.00 WIB


Bimo telah sampai mengantar semuanya dirumah mama Atika. Aku, mama dan anak-anak turun dari mobil.


Lalu Arif keluar dari rumah hendak bertemu dengan Bimo. Ketika Arif melihat wajah Bimo yang penuh dengan luka lebam. Akhirnya bertanya dan menyuruhnya untuk turun dari mobil.


Bimo pun akhirnya menyetujui dan turun dari mobil. Bimo masuk kedalam rumah mama Atika denga mengucapkan salam.


Bimo menceritakan semua yang terjadi pada diri Abim dan Reyna saat itu.


Arif dan Widya ikut mendengarkan, sedangkan anak-anak dan mama sedang berada didalam kamar.


Aku membersihkan luka lebam diwajah Bimo dengan air hangat.


.


.


Jantung Bimo berdegup kencang ketika aku mendekatinya. Ada suatu getaran yang dirasakan oleh Bimo. Sedangkan aku masih biasa saja.


...Happy Reading...

__ADS_1


Terima kasih semuanya, yang tidak bisa ku sebutkan satu persatu.


Semoga kita dalam keadaan sehat selalu dan dalam lindungan Allah SWT. Amiin ya robalallamin. 🤲


__ADS_2