
Seminggu kemudian...
Jam 11.46. WIB
Aku tidak marah pada Bimo. Apa yang Bimo katakan semua memang benar, hanya saja aku butuh waktu untuk tetap berhubungan baik dengan Abim. Karena biar bagaimana pun Abim adalah ayah kandung Aisyah dan Sisil. Sampai kapan pun aku harus membicarakan masalah yang ada hubungannya dengan anak-anak apalagi mengenai masa depan anak-anak!
Mengenai anak-anak, aku akan memberi pengertian kepada mereka berdua! Sama seperti aku, mereka juga butuh waktu untuk bisa menerima ayahnya Abimanan.
Sedangkan Abim hidup dengan kesendiriannya, bertemankan dengan kesepian. Tanpa anak, istri, orang tua ataupun keluarga.
Hari-harinya diisi dengan berdagang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan mengisi waktu kesendiriannya.
.
.
Setelah beberapa hari yang lalu Abim pergi dan bertemu dengan orang tuanya untuk meminta maaf atas semua salah dan dosanya. Tapi apa yang ia dapatkan, adalah sebuah penolakan dari pak Rizal.
Abim merasa putus asa! Bahkan sampai saat ini, Abim enggan untuk meminta maaf lagi. Takut akan sebuah penolakan.
Tapi hidupnya semakin tidak tenang, karena rasa bersalah terus menghantui hidupnya.
Apalagi setelah mengetahui kematian mama Ainun, Abim terus dibayang-bayang rasa bersalah karena belum sempat meminta maaf pada mama Ainun.
Tidurnya semakin tidak nyenyak, seakan mama Ainun selalu datang dalam mimpi Abim ketika sedang tidur.
Akhirnya Abim semakin prustasi, karena dihantuin rasa takut dan bersalahnya!
Abim yang sedang duduk diatas motor dan berhenti dipinggir jalan. Karena pikirannya sedang tidak fokus ketika mengendarai motornya! Hampir saja ia menabrak pejalan kaki tapi untungnya sempat menghindar!
Ketika itu Bimo sedang melintasi jalan dan melihat Abim yang sedang berhenti dipinggir jalan! Akhirnya Bimo memberhentikan mobilnya dipinggir jalan. Kemudian keluar dari mobil dan berjalan mendekati Abim.
"Assalamualaikum!" Sapa Bimo pada Abim yang wajahnya terlihat semerawut.
"Waalaikumsalam!" Sahut Abim dan menengokkan wajahnya kearah Bimo yang sedang berdiri!
Bimo memajukan tangan kanannya untuk berjabat tangan dengan Abim.
Kemudian Abim turun dari motor dan berdiri. Dan keduanya saling berjabat tangan!
__ADS_1
"Apakah pak Abim baik-baik saja?" Tanya Bimo.
"Seperti yang anda lihat, apakah saya baik-baik saja atau tidak?"
"Bagaimana kalau kita bicara sebentar!"
Bimo mengajak Abim untuk berbicara. Mereka berdua berjalan bersama untuk mencari tempat duduk yang ada didekat situ.
Mereka duduk dikursi dibawah pohon rindang. Kemudian Bimo memulai pembicaraannya terlebih dahulu.
"Ada apa dengan pak Abim? Sepertinya pak Abim hari ini kurang bersemangat?"
"Saya ditolak oleh bapak! Setiap malam saya juga bermimpi tentang mama Ainun. Sebenarnya saya menyesal dan ingin meminta maaf, tapi karena penolakan bapak kepada saya. Saya jadi ragu apa semua kesalahan saya bisa dimaafkan. Jujur saya terus dibayang-bayangi rasa bersalah setiap harinya. Kepada anak-anak, Manda, bapak sama mama!"
Bimo mendengarkan apa yang Abim utarakan kepadanya! Sungguh miris nasib Abim sebenarnya. Tapi semua itu adalah hasil perbuatannya dimasa lalu. Kini ia menerima semua akibat perbuatannya.
"Kalau memang benar pak Abim menyesal dan ingin meminta maaf dengan sungguh-sungguh. Seharusnya jangan menyerah atas penolakan dari mereka semua. Karena memang disini adalah ujiannya. Kuat tidak pak Abim menjalani cobaan seperti ini!"
Abim mendengarkan perkataan Bimo. Kepala Abim hanya menunduk kebawah. Otaknya sedang memikirkan apakah harus maju atau mundur? Tapi dirinya belum siap untuk ditolak lagi!
Sesungguhnya saat ini Abim sangat butuh dukungan. Dukungan untuk memberinya semangat untuk tetap maju dijalan kebenaran! Tapi semua orang yang ia sayangin
"Iya saya mendengarkan apa yang anda barusan katakan. Tapi coba anda ada diposisi saya! Apakah anda akan melakukan hal yang sama? Itu semua gak mudah!"
"Saya memang belum pernah merasakan apa yang anda rasakan! Tapi saya mengerti apa yang anda rasakan! Semua itu tidak mudah. Tapi apakah anda akan menyerah begitu saja! Itu artinya anda tidak bersungguh-sungguh untuk meminta maaf!" Ucap Bimo supaya Abim tidak mudah menyerah.
"Aaaaaaaaaaa!" Teriak Abim frustasi.
"Mari ikut saya! Biar hati anda tenang"
Bimo berdiri dan berjalan kearah arah masjid yang letaknya tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Abim mengikuti langkah Bimo dari belakang.
Sesampainya dimasjid, Abim binggung. Kenapa juga Bimo harus mengajak Abim kemasjid.
"Pak Abim maaf, kalau anda tidak keberatan. Maukah anda mengambil wudhu disana."
"Untuk apa?"
__ADS_1
"Sholat pak, ini waktunya sholat dzuhur! Mungkin dengan sholat hati bapak, jadi lebih tenang! Sekalian mendoakan almarhumah ibu anda!"
Abim menurut saja. Karena yang dikatakan oleh Bimo adalah benar.
Abim berjalan kearah belakang. Disana Abim mengambil wudhu. Bimo pun ikut mengambil wudhu.
Adzan Dzuhur berkumandang, terdengar suara adzan begitu jelas sampai ketelingga. Orang-orang satu persatu datang untuk melaksanakan sholat berjamaah di masjid.
Abim dan Bimo masuk kedalam masjid. Abim dan Bimo duduk diatas sajadah dan siap melaksanakan sholat.
****
Selesai sholat Abim dan Bimo berjalan keluar masjid bersama. Kemudian keduanya kembali ketempat yang tadi.
"Maaf pak Abim. Saya tidak bisa menemani anda lagi disini. Maaf kalau kata-kata saya, kurang berkenan dihati bapak. Sekali lagi saya minta maaf! Cuma satu saran saya, jangan menyerah!"
"Kenapa anda begitu baik kepada saya. Disaat orang lain menjauhkan saya, tapi anda datang bagai malaikat! Malah memberi saya semangat untuk terus maju! Padahal kalau dipikir saya ini adalah mantan suami dari istri anda sekarang! Apakah anda tidak cemburu jika nantinya saya dekat dengan anak-anak atau pun istri anda?"
Bimo tersenyum... Apa yang dikatakan Abim memang benar.. Kalau untuk masalah cemburu pasti ada, apalagi Abim adalah ayah kandung dari Sisil dan Aisyah! Pasti nantinya akan ada hal yang harus dibicarakan Abim dan aku mengenai anak-anak!
"Saya percaya sepenuhnya pada istri saya dan mengenai saya baik kepada anda. Karena saya tidak ingin, kalau anda menyesal setelah ajal menjemput disaat terakhir anda."
Deg..deg..
Abim yang mendengar, sesaat hatinya menjadi tergugah. Apa yang Abim katakan benar.
Ya Allah tolong kuatkan aku dan mantabkan hati ku. Agar aku bisa meminta maaf pada orang-orang yang telah ku sakiti! Batin Abim.
"Terima kasih anda telah baik kepada saya." Ucap Abim.
"Sama-sama. Kalau begitu saya permisi! Assalamualaikum!" Sahut Bimo, kemudian pergi dan meninggalkan Abim sendirian.
Abim dengan cepat naik kemotor. Kemudian ia melajukan motornya kearah rumah pak Rizal.
Kali ini Abim bersemangat sekali! Tidak seperti tadi.
Ia terus melajukan motornya dengan kecepatan yang tinggi! Hanya berhenti dilampu merah saja. Kemudian melaju kembali dengan sangat cepat!
Semoga saja niat Abim dapat terlaksana dan bisa kembali berkumpul bersama pak Rizal yang kini hidupnya sendiri.
__ADS_1