Sebuah Keputusan

Sebuah Keputusan
Memberi Semangat


__ADS_3

Dirumah sakit...


Jam 14.20 WIB


Aisyah sudah mengetahui kalau kakaknya Sisil sedang dirawat dirumah sakit. Maka Aisyah dengan cepat langsung pergi kerumah sakit. Rumah sakit dimana Aisyah magang.


Sedangkan dirumah sakit Yudha, serta Abi Bimo, bunda Manda dan ayah Abim menemani Sisil yang baru saja selesai operasi.


Operasi pengangkatan rahim Sisil yang didiagnosa mengalami kanker rahim. Jadi untuk keselamatan dirinya jalan satu-satunya adalah mengangkat rahim.


Flashback on


Sisil dan Yudha sudah mendambakan seorang anak dari rahimnya. Tapi selama setahun menikah, mereka berdua belum dikaruniai anak oleh Allah.


Keduanya menanti dengan sabar. Tapi mertuanya tidak menanti dengan sabar. Sisil selalu mendapatkan omongan yang pedas dari mertuanya dengan berkata-kata yang macam-macam.


Sisil mengabaikan perkataan mertuanya yang menyakiti hatinya. Yang terpenting adalah suaminya ada selalu disisinya. Itu adalah dukungan yang terpenting untuknya.


Tapi lama kelamaan ujian Sisil tak sampai disitu saja. Sisil yang sering mengeluh sakit dibagian perut akhirnya divonis menderita kanker rahim stadium dua.


Sisil mengalami kenyataan pahit yang luar biasa. Tapi Allah memberi kebahagian dengan hamilnya Sisil diaaat yang bersamaan. Akhirnya belum sempat Sisil memberitahukan semuanya kepada keluarga ataupun suaminya, mengenai penyakit yang sedang dideritanya.


Ia tidak tega, melihat kebahagiaan dari wajah suaminya dan keluarga dalam penantian kehamilan Sisil yang cukup lama.


Sisil dinyatakan hamil setelah penantiannya yang panjang selama setahun. Mertua yang tadi membencinya dan selalu mencemoohkan dirinya kini menjadi baik.


Tapi sayang dibalik kebahagiaannya ada juga cobaan yang harus ia hadapi.


Dokter melarang Sisil untuk hamil, karena penyakitnya. Dokter menyarankan untuk Sisil mengangkat rahimnya.


Itu semua membuat Sisil dilema. Keputusan apa yang harus ia ambil agar cobaan bisa ia lewati.


Mempertahankan bayinya, tapi itu tidak mungkin.


Segala doa dan memohon agar Sisil diberi jalan keluar yang terbaik kepada Allah, tidak pernah ia tinggalkan.


.


.


Akhirnya Sisil memutuskan untuk mempertahankan kehamilannya dan menyembunyikan penyakitnya dari keluarga dan suaminya.


Berbulan-bulan semua itu dirahasiakan. Rasa sakitnya ia sembunyikan. Tidak ada yang tau akan keadaan Sisil yang sebenarnya.


Sampai saat terakhir usia kehamilannya yang keempat bulan. Rasa sakit makin dirasakan oleh Sisil.


Akhirnya Sisil pingsan dan tidak sadarkan diri akibat menahan sakitnya. Suaminya yang mengetahui Sisil pingsan segera membawanya kerumah sakit.


Hingga akhirnya Yudha mengetahui kalau Sisil menderita penyakit kanker rahim. Dan jalan satu-satunya adalah harus memilih salah satu.


Yaitu keselamatan Sisil dengan mengangkat rahim yang didalamnya ada janin.


Flashback off


Kini operasi telah selesai. Kondisi pasien Sisil masih tidak sadarkan diri.


Bunda terus saja menangis karena melihat cobaan pada anaknya Sisil.


Tidak tega rasanya. Belum lagi kalau Sisil sadar dan mengetahui kalau janinnya saat ini tidak ada karena rahimnya telah diangkat.


Bunda Manda tidak tega membayangkannya. Rasanya tidak sanggup!


Tapi Abi Bimo selalu memberi semangat dan jangan berputus asa.


"Sudah sayang, jangan sedih. Kita harus kuat. Harus bisa memberi semangat buat kakak. Kita gak boleh sedih didepan Sisil." Ucap Abi Bimo memberikan semangat dan memegang tangan bunda dengan sangat erat!


Bunda melihat wajah Abi Bimo dengan sangat jelas. Wajahnya mulai terlihat keriput, rambutnya mulai memutih tapi kasih sayang dan perhatiannya untuk bunda serta anak-anak tidaklah pernah berubah.

__ADS_1


Abi Bimo adalah lelaki yang selalu ada untuk bunda dalam suka maupun duka. Lelaki yang selalu menemani bunda dalam setiap langkahnya.


Keduanya saling berpelukan dan memberi kekuatan untuk tetap kuat menghadapi semua ujian.


Disisi lain ada om Yusuf, Yudha dan ayah Abim sedang duduk dan terdiam, menunggu keadaan Sisil yang belum sadar pasca operasi!


Tanpa mereka sadari, Aisyah sudah berdiri dihadapan mereka. Matanya berkaca-kaca dan jantungnya terus berdegup kencang. Napasnya terengah-engah akibat berlari karena paniknya.


"Bunda." Ucap Aisyah yang matanya melihat kearah Abi dan bunda.


Semua orang yang duduk, matanya tertuju pada satu orang yaitu Aisyah.


Aisyah lalu berlari kehadapan bunda yang sedang duduk. Kemudian memeluknya dengan erat.


Saat itu pula tangisan bunda memecah. Bunda menangis dihadapan Aisyah.


"Bunda kenapa, cerita sama aku."


"Kakak ..kakak!" Sahutnya terisak-isak!


"Bun, ingat pesan Abi. Sabar bun!" Ucap Abi Bimo mengingatkan, agar kuat dihadapan anak-anaknya.


Bunda melepaskan pelukan dari Aisyah dan menghapus air matanya dengan tisue.


"Dek..adek mau lihat kakak. Siapa tau kakak bisa sadar. Karena dengar suara adek!"


"Iya bun, aku mau lihat kakak! Kakak disana ya? Aku kesana dulu ya."


"Ya dek." sahut Abi dan bunda bersamaan.


Aisyah berjalan keruangan ICU.


Membuka pintu dan masuk kedalam ruangan. Aisyah masuk mengenakan baju khusus diruangan ICU.


Saat masuk, Aisyah tersenyum kepada para suster dan berkata.


"Sore coass, ehmm masih sama. Belum ada kemajuan." Jawab salah seorang suster!


"Maaf sus, kalau boleh saya tau. Kakak saya kenapa?"


"Pasien menderita kanker rahim. Dan kalau dilihat dari data pasien. Pasien sudah menderita sakitnya sudah cukup lama. Saran dokter Rima spesialis pasien memang harus diangkat rahimnya."


"Lalu bagaimana dengan janinnya?" Tanya lagi Aisyah.


"Tidak diselamatkan karena rahim harus diangkat."


"Astagfirullah allazim! Kakak..hiks hiks.." Ucap Aisyah kaget mendengar semua itu.


Aisyah mendekat lalu menangis dihadapan kakaknya. Air matanya sampai jatuh ditangan Sisil yang terpasang selang.


"Coass.. baik-baik saja?"


Aisyah hanya mengangguk saja tanpa menjawab perkataan suster.


Aisyah terus menatap wajah kakaknya yang tersayang.


"Kak..ini aku. Aku ada untuk kakak. Bangun, kasihan kak Yudha diluar sana! Bangun kak!" Panggil Aisyah terus.


Tak lama ada reaksi dari jari jemari Sisil. Ada suatu gerakan pelan. Ais yang melihat langsung tersenyum.


"Suster panggil dokter." Teriak Aisyah kepada suster.


Suster yang mendengar pun segera berlari keluar ruangan.


Sedangkan Aisyah masih terus mengajak berbicara pad kakaknya.


"Kak, ayo semangat. Kakak mau sembuh kan. Aku janji akan nurut kata Abi sama bunda. Aku janji akan luangkan waktu untuk semuanya!"

__ADS_1


Tak lama dokter pun datang dan segera memeriksa keadaan pasien.


.


.


Selesai memeriksa dokter keluar ruangan dan berbicara dengan Aisyah.


"Bagaimana dok keadaan kakak saya."


"Oh itu kakak anda coass." Sahut dokter Rima.


"Ya dok."


"Pasien sudah sadar dan melewati masa kritis. Sekarang tinggal pemulihan saja. Dan setelah ini pasien bisa dipindahkan keruang rawat." Ucap dokter Rima.


"Terima kasih dok!"


"Sama-sama coass Aisyah." Timpal dokter dan saling berjabat tangan.


Setelah kepergian dokter bunda mendekat kearah Aisyah yang masih berdiri didekat pintu.


"Ais.. terima kasih nak."


"Bunda, aku gak lakuin apa-apa buat kakak! Ini semua karena semangat kakak buat sembuh."


"Iya sayang!"


Semuanya tersenyum bahagia. Akhirnya Sisil dapat melewati masa kritis. Sekarang hanya tinggal masa pemulihan saja.


Cekrek..


Seorang suster keluar dari ruangan dan berbicara pada Aisyah!


"Maaf coass. Pasien akan dipindahkan keruang rawat. Jadi tolong pihak keluarga menghubungi bagian kasir rawat inap untuk dipindahkan keruang rawat!"


"Baik sus. Terima kasih."


Suster kembali masuk kedalam ruangan.


"Aku aja yang urus kebagian administrasinya." Ucap Yudha suami dari Sisil.


"Apa perlu ayah temanin, Yudha?" Kata ayah Abim.


"Nggak usah yah. Aku sendiri aja."


"Baiklah." Sahut ayah Abim.


Yudha pergi sendiri untuk mengurus ruangan rawat Sisil.


Sekarang hanya tinggal berempat.


Aisyah duduk mendekat dengan ayahnya. Karena Abi dan bunda selalu bersama.


"Ayah mau minum kopi atau apa. Mari aku temanin?" Ajak Ais.


"Boleh."


"Abi ..bunda. Mau minum atau makan nanti aku belikan?"


"Kamu aja sayang, bunda belum lapar." Jawab bunda Manda.


"Baiklah. Kalau begitu aku temanin ayah kekantin dulu."


"Ya."


Aisyah dan ayah Abim berjalan bersama kekantin. Jarang-jarang keduanya bisa bersama.

__ADS_1


Karena Aisyah tidak begitu dekat dengan ayah Abim. Berbeda jika dengan Abi Bimo. Walaupun sudah besar Aisyah bisa lebih bermanja-manja kepada abinya.


__ADS_2