Sebuah Keputusan

Sebuah Keputusan
Hampir Saja


__ADS_3

Abi dan bunda sangat syok setelah mengetahui keadaan Aisyah yang sedang kritis. Keduanya seakan tak percaya dengan keadaan.


Para dokter sudah membantu semampunya. Kini hanya tinggal mukjizat dari Allah SWT. Semoga saja ada keajaiban yang terjadi.


Bunda, Abi om Yusuf serta Vano terus berdoa memohon kesembuhan untuk Sisil, Kenzi, pak Agus. Yang paling utama adalah kondisi Aisyah yang sedang kritis.


Jam 01.00 WIB


Dilorong rumah sakit..


Malam hari itu dingin sekali. Menembus hingga ketulang. Gelapnya malam menemani mereka dilorong rumah sakit. Menunggu kepastian untuk Aisyah tercinta.


Bunda, Abi dan Vano menunggu dengan penuh harap. Agar suatu mukjizat datang kepada Aisyah. Aisyah bisa kembali sadar.


Sedangkan Sisil dan Kenzi serta pak Agus kondisinya sudah mulai membaik.


.


.


Vano tidak bisa tidur, pikirannya cemas terus melanda otaknya.


Abi yang melihatnya langsung menghampiri calon menantunya.


"Vano, terima kasih sudah setia menemani Aisyah." Ucap Abi pada Vano.


Vano tersenyum dan berkata. "Sudah seharusnya, bi! Abi ... apa Abi yakin keajaiban itu ada?"


"Keajaiban itu pasti ada. Kita harus yakin!" Sahut Abi padahal agak terlihat cemas.


Abi melihat jam ditangan kanannya. Setelah itu kembali mengajak ngobrol Vano.


"Vano, Abi tinggal sebentar mau tahajud dulu. Biarkan saja bunda tidur."


"Iya bi!"


Abi bangun dan berjalan mencari musholla untuk melaksanakan sholat tahajud.


Sedangkan Vano duduk, padahal matanya mulai mengantuk. Tapi pikirannya membuat rasa lelah dan ngantuknya hilang.


Ditempat lain para suster dan dokter sibuk menyelamatkan Aisyah yang tiba-tiba saja kondisinya kritis dan sempat jantungnya berhenti berdetak barusan.


Setelah berjalan hampir kurang lebih setengah jam. Dokter pun menyerah, kondisi Ais tidak bisa diselamatkan.


Dokter pun akhirnya keluar dari ruangan untuk memberitahukan kepada pihak keluarga.


Vano terkejut saat melihat seorang dokter keluar ruangan. Jantungnya seketika berdetak kencang. Kekhawatiran pada Ais semakin menjadi.


"Selamat malam dengan keluarga dari Aisyah?"


Tanya dokter pada Vano yang berdiri berhadapan.


Bunda yang tertidur terlelap tiba-tiba bangun saat mendengar nama anaknya disebut.

__ADS_1


Kemudian berjalan perlahan menghampiri Vano dan dokter yang sedang berdiri.


"Dok..semua baik-baik saja kan?" Tanya bunda dan dari matanya keluar cairan bening.


Bunda terus menatap dokter dan menunggu untuk dokter menjawab pertanyaannya! Tapi apa yang terjadi dokter hanya diam seakan sulit untuk menjelaskannya.


Bunda yang melihat tidak bisa menunggu lama, rasa cemasnya semakin menjadi.


"Dok cepat jelaskan apa yang terjadi putri ku?"


"Begini bu! Saya minta maaf.. saya sudah berusaha semampunya. Aisyah telah tiada!" Ucap dokter singkat.


"Tidak.. dokter pasti salah. Vano cepat sembuhkan Aisyah. Cepat!" Teriak bunda spontan kepada dokter dan Vano.


"Bunda tenang. Aku pasti akan menyelamatkan Aisyah!"


Vano memberi kekuatan pada bunda Manda. Bunda Manda terlihat lemas dan terus menangis mendengar bahwa anaknya telah tiada.


Abi datang melihat bunda yang duduk bersama Vano dan mata bunda menangis. Sedangkan dokter yang merawat Aisyah ada didekat mereka.


Abi berjalan semakin mendekat kearah mereka. Ketika sudah berdiri diantara mereka semua. Abi langsung menanyakan apa yang sedang terjadi sebenarnya.


"Vano .. bunda kenapa menangis? Apa yang terjadi."


Vano pun berdiri lalu dengan perlahan mengajak Abi untuk menjelaskan semuanya.


"Abi..tadi dokter menjelaskan bahwa keadaan Aisyah tidak bisa diselamatkan lagi. Itu yang barusan dokter katakan!" Ungkap Vano kepada Abi.


Abi yang mendengar spontan kaget. Kakinya terasa lemas untuk berpijak. Abi seakan tidak percaya.


Abi menatap dokter dan mengatakan. "Putri saya baik-baik saja. Aisyah akan sembuh."


Abi berjalan dengan gontai dan mendekati sang istri untuk mengajak kedalam. Melihat kondisi Aisyah.


"Bunda, ikut Abi. Kita lihat Aisyah!" Ajak Abi Bimo!


"Abi.. Aisyah gak akan tinggalkan kita kan? Aisyah pasti sembuh. Abi katakan? Hiks..hiks.."


"Iya bunda." Sahut abi.


Abi, bunda dan Vano berjalan memasuki ruangan ICU dimana Aisyah dirawat.


Ketika sampai didalam ruangan ICU. Betapa terkejutnya bunda setelah seorang suster menunjukan bahwa pasien yang bernama Aisyah telah pergi.


Mata bunda, Abi dan Vano melihat tubuh Aisyah telah tertutup rapat oleh kain putih.


Bunda yang melihat seakan tak percaya. Kemudian berteriak histeris memanggil nama anaknya.


"Aisyah .. Aisyah bangun.. bangun! Kenapa tinggalkan bunda. Bangun nak?"


Abi membuka kain penutup wajah Ais. Dilihat wajah putrinya yang pucat telah menutup mata.


Abi tidak tahan lalu mundur perlahan. Abi pun ikut meneteskan air mata!

__ADS_1


Kenangan indah semasa kecilnya bersama Aisyah pun kembali terlintas dipikirannya. Gadis kecil yang lucu dan mengemaskan kini telah pergi meninggalkan Abi Bimo.


Brukkk..


Suara tubuh bunda yang terjatuh kelantai. Tidak kuat melihat putrinya telah tiada. Kini akhirnya bunda pun pingsan.


Abi dan Vano berteriak meminta tolong. Para suster datang membantu.


Bunda pun berhasil dibawa keruang rawat bersama Abi. Sedangkan Vano masih bersama Aisyah yang sudah tidak berdaya.


Vano terus menatap wajah kekasihnya yang telah menutup mata rapat. Menggenggam tangan kekasihnya dengan erat. Terus berkata-kata.


"Sayang, kenapa kamu tinggal aku sendirian. Lalu bagaimana dengan ku? Apa aku bisa hidup tanpa mu? Lalu bagaimana rencana kita? Aaaaaa.."


Vano frustasi! Keinginannya, impiannya telah sirna. Gadis yang ingin ia nikahi telah pergi kehadapan sang khalik.


"Kenapa .. kenapa!" Teriak lagi Vano.


Vano berjalan mondar mandir untuk menghilangkan rasa sedihnya yang teramat. Lalu mencoba membangunkan sang gadis dengan terus menyebut namanya. Memohon sebuah keajaiban datang untuknya. Dengan kembali memasang alat-alat yang baru saja terlepas dari tubuh Ais.


"Aisyah cantik, Soleha ku, bidadari ku. Semoga ada keajaiban untuk mu. Bismillahirrahmanirrahim. Ya Allah SWT hanya Engkaulah yang bisa membolak-balikan semua!"


Vano terus membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an yang ia pelajari sejak menjadi seorang mualaf!


.


.


Setengah jam telah berlalu. Seakan harapannya semakin tipis. Vano mengeluarkan air mata. Berusaha untuk iklas.


Tiba-tiba saja sebuah suara detak jantung terdengar melemah tapi mulai beraturan dan terlihat dimesin.


Seketika Vano pun terkejut dan berteriak.


"Dok..suster.. cepat!"


Dokter dan suster masuk kedalam dan melihat apa yang sedang terjadi. Kemudian menolong Aisyah dengan memeriksanya.


Setelah selesai memeriksa, dokter pun menjelaskan pada Vano.


"Anda yang memasang kembali alat-alat yang tadi sudah dilepaskan?"


"Iya dok. Saya hanya berusaha agar kekasih saya mempunyai suatu keajaiban dan itu pun terjadi atas izin Allah."


"Itu benar. Selamat! Aisyah melewati masa kritis. Besok kita lihat perkembangan selanjutnya! Oh iya apa anda seorang dokter juga?"


"Iya saya dokter juga." Sahut Vano.


"Dokter saya permisi sebentar ingin mengabarkan berita bahagia ini pada orang tua Aisyah." Pamit Vano.


"Baiklah kalau begitu. Selamat!"


"Terima kasih!"

__ADS_1


Vano akhirnya berjalan keluar untuk menghampiri Abi dan bunda. Abi dan bunda harus mengetahui berita bahagia ini.


Vano melangkah dengan cepat! Wajahnya yang sedih kini sudah kembali tersenyum bahagia.


__ADS_2