SEKOLAH HANTU

SEKOLAH HANTU
BAB 15 SEBUAH RASA


__ADS_3

Keesokan harinya, seperti biasa aku berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki dari rumah ke jalan raya. Baru setelahnya aku melanjutkan dengan naik Angkot. Ada yang spesial hari itu karena di dalam Angkot aku bertemu dengan Cindy, kebetulan Angkot yang aku naiki memang juga menuju ke sekolah teman SMP-ku itu. Di dalam Angkot terjadilah perbincangan di antara kami berdua.


"Gimana sekolah barumu, Im?" tanya Cindy.


"Yah, begitulah, Cin. Aku harus beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Kamu gimana?" tanyaku.


"Alhamdulillah. Benar kata kamu, Im. Aku lebih cocok di sekolah yang sekarang karena anaknya seru-seru," jawab Cindy.


"Kalau aku sih masih canggung dengan lingkungan yang sekarang," jawabku.


"Kenapa? Temenmu banyak anak pejabat dan orang kaya, ya? Cuek aja, Im. Mereka nggak akan lihat seberapa kaya orang tuamu atau setinggi apa jabatan orang tuamu. Tapi, yang mereka lihat bagaimana kita memperlakukan mereka. Lagipula Imran yang kukenal kan memiliki banyak talenta. Aku yakin setelah mereka tahu bakatmu, mereka juga bisa menerima kamu dan senang memiliki teman seperti kamu," tutur Cindy.


"Iya, Cin. Makasih banyak ya atas nasihatmu. Ngomong-Ngomong kamu masih sering berkomunikasi dengan teman-teman SMP kita?" tanyaku.


"Alhamdulillah, sebagian masih sesekali bertemu. Cuma Gatot saja yang sudah lost contact," jawab Cindy dengan nada lemah.


"Kapan-Kapan kumpul bareng, yuk! Aku sudah kangen sama mereka," cetusku dengan bergairah.


"Iya, Im. Setuju. Ngomong-Ngomong kamu ntar mau aktif di Pramuka, nggak?" tanya Cindy.


"Ya iyalah, Cin. Itu kan Ekskul favoritku dan juga Ekskul Pramuka wajib diikuti oleh semua siswa. Iya kan?" ujarku.


"Iya, sama. Di sekolahku juga diwajibkan. Tapi, aku emang ingin tetap aktif di Pramuka biar banyak pengalaman dan bisa punya banyak teman dari sekolah lain. Kamu sudah tahu belum, tiap acara Jambore tingkat Kabupaten, sekolahmu dan sekolahku selalu bersaing menjadi juara umum?" ucap Cindy dengan berapi-api.


"Oh ya? Aku baru tahu hal itu," jawabku.


"Iya. Aku dapat info dari seniorku di Pramuka, bahwa SMA Pejuang dan SMA 14 adalah dua sekolah yang setiap tahun bergantian menjadi juara umum pada event Jambore tingkat Kabupaten. Kamu aktif di Pramuka, ya? Biar kita bisa bisa ketemu lagi pas ada acara Jambore di bumi perkemahan Cidaki," ujar Cindy.


"Oke siap, Cin. Aku akan aktif di Pramuka kalau begitu. Ngomong-Ngomong cara Jamborenya masih lama, kan?" tanyaku.


"Biasanya sich pertengahan bulan Agustus sekalian memperingati hari Pramuka. Berarti sekitar satu bulan lagi diadakannya," jawab Cindy.


"Wah! Sudah mepet berarti, ya?" ujarku.

__ADS_1


"Iya. Oh ya, Im kapan-kapan aku juga pengen main ke sekolahmu," ujar Cindy.


"Ngapain, Cin? Mau jenguk aku?" tanyaku menggoda Cindy.


"Ih, ngapain aku jenguk kamu. Aku mau ketemu pamanku saja. Aku mau.menagih janjinya, katanya dia mau membelikan buku saku Pramuka buatku," jawab Cindy.


"Ealah kirain kamu masih mau berusaha mendapatkan cintaku, setelah kutolak berkali-kali," godaku lagi.


"Ueeeek ... Aku mendadak mual, Im. Kamu kok malah jadi error begini sih semenjak sekolah SMA?" ujar Cindy berbalik membullyku.


"Emang pamanmu jadi guru di sekolahku tah?" tanyaku.


"Bukan guru, Im. Pamanku jadi Satpam di sekolahmu," jawab Cindy tegas.


"Satpam???" Aku bergumam.


"Iyaaaa Satpam. Kenapa, Im? Ada yang aneh?" tanya Cindy dengan mata menunjukkan kebingungan melihat reaksiku.


"Oh tidak! Tidak apa-apa. Berarti Satpam di sekolahku itu pamanmu, ya? Panteeeeesan agak aneh seaneh keponakannya," Aku berkata dengan pelan.


"Wadaaaaaaw!!! Aduh! Ampuuuun, Ciiin. Sakiiiit!!" teriakku menahan sakit akibat cubitan Cindy.


"Kamu bilang aku dan pamanku sama-sama aneh, kan?" bentak Cindy dengan tetap menahan cubitannya di pahaku.


"Pliiis!!! Lepasin cubutanku, Cin. Oke deh, kamu dan pamanmu sama-sama cakep," jawabku sambil merintih sakit.


"Nah, gitu dong!" jawab Cindi sambil melepas cubitannya di pahaku.


Aku merasa lega sekali setelah lepas dari cubitan nenek lampir ini.


"Jahat banget kamu, Cin!" ucapku dengan wajah memelas kepada Cindy.


"Salah sendiri mengolok-olok aku dan pamanku. Pamanku itu orangnya supel, asyik,dan dia itu pandai memainkan alat musik. Kamu kalau kenal baik sama dia pasti senang. Dia orangnya nggak ngebosenin," cerocos anak perempuan di depanku ini.

__ADS_1


Jujur, saat itu aku berpikir apa ada yang salah denganku, ya? Karena menurutku Satpam yang bertugas di sekolahku orangnya memang aneh dan nyeremin. Sedangkan, menurut cerita ibuku dan Cindy orangnya supel dan asyik. Sepertinya kalau aku bertemu dengan Satpam itu lagi, aku harus mengajaknya mengobrol lebih lama supaya aku bisa mengetahui karakter sebenarnya dari Satpam sekolahku tersebut.


"Cin, aku sudah mau sampai. Sampai ketemu lagi, ya?" ucapku pada Cindy.


"Oke, salam buat pamanku, ya?" ucap Cindy.


"Oke. Aku sampein salammu. Pak, kiri, ya?" ucaoku kepada Cindy dan kepada Sopir Angkot yang sedang duduk di depan kemudi.


"Oh, iya Mas!" jawab Pak Sopir sambil mengurangi laju Carry yang ia bawa dan menepikan kendaraannya. Kendaraan yang aku naiki pun merapat ke trotoar, aku menjulurkan uang pas kepada sopir serta memberikan salam perpisahan menggunakan tanganku kepada Cindy. Cindy membalas salamku dengan menggunakan tangan dan senyum sumringahnya. Aku pun turun dari mobil Carry tersebut. Tepat saat mobil angkutan kota meninggalkan aku, aku baru sadar bahwa di sebelahku sudah ada Arini yang akan menyebrang jalan bersama teman-temannya.


"Kamu, Rin?" sapaku pada anak perempuan yang baru ditinggal ayah angkatnya itu.


Arini menatapku sejenak kemudian mengalihkan pandangannya lurus ke depan kembali. Ia pun melangkah ke depan menyebrangi jalan raya bersama teman-temannya diikuti olehku. Entah mengapa anak SMP kelas dua ini sepertinya kurang senang bertemu denganku pagi itu. Aku yang penasaran dengan tingkahnya pun menarik tangannya ketika kami sudah berada di sebrang jalan.


"Apaan sih, Im, pakai narik-narik tanganku?" protes Arini.


"Kamu kenapa, Rin? Kok tingkah lakumu jadi aneh begini?" tanyaku.


"Apanya yang aneh, Im? Aku mau kumpul sama teman-temanku. Nggak pantas anak SMP kayak aku berteman dengan anak SMA seperti kamu!" jawab Ariny ketus.


"Emang kenapa, Rin? Kemarin lusa bukankah kita bareng bertiga?" tanyaku.


"Oh ... Itu kan kebetulan kamu dan Bondan bantuin aku. Aku kan sudah bilang terima kasih pada kalian berdua. Beres, kan?" ucap Arini masih dengan nada ketus.


"Nggak Rin. Kamu ini pasti menyimpan sesuatu. Masa dalam dua hari kamu sudah berubah drastis?" Aku berusaha mendapat penjelasan Arini yang masuk akal.


"Sudah-Sudah. Aku telat nih!" jawab Arini sambil menarik tangannya kuat-kuat. Aku pun melepaskan kepergian Arini yang terlihat marah itu.


"Rin! Nanti siang pulang bareng" teriakku dari kejauhan.


Arini menoleh dan melengos sambil berlari mengejar teman-temannya. Aku menatap kepergian Arini dengan rasa nyeri di dadaku. Tiba-Tiba ada yang menyentuh pundakku dari belakang. Tangannya terasa dingin sedingin perasaanku saat itu.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Es campur bikin ngiler


Update pagi-pagi bikin ser ser ser


__ADS_2